Falling in LoVe With You!

Falling in LoVe With You!
Koma



Dua hari sudah Yoona tak sadarkan diri pasca dilakukan operasi. Operasi yang dilakukan cukup berhasil, membuat Yoona lolos dari Dewa maut. Namun, hal itu tak membuatnya segera sadarkan diri. Yoona kini di rawat di ruang ICU dalam keadaan koma.


Chris merasa iba melihat Handoko yang masih setia mendampingi putrinya di rumah sakit. Bahkan pamannya itu tak memperdulikan kondisi kesehatannya sendiri. Padahal kesehatan Handoko semakin menurun karena terus memikirkan nasib Putri kesayangan itu, hingga membuatnya tak selera makan jika tak di paksa oleh Chris.


"Om, sebaiknya Om istirahat saja di rumah, biar Chris yang jagain Yoona. Om harus jaga kesehatan, jangan sampai sakit," ucap Chris menasehati pamannya itu


"Om gpp Chris, Om baik-baik saja. Om ingin jagain Yoona sampai ia siuman," jawab Handoko menitikkan air matanya


"Chris paham, Om khawatir dengan keadaan Yoona. Tapi gimana bisa Om jagain Yoona jika kondisi Om saja sedang tidak Fit," Oceh Chris yang blak-blakan terhadap Paman nya itu


Di tengah perdebatan antara Om dan Keponakannya itu, keduanya terdiam sejenak dan menoleh ke sumber suara, ketika mendengar seseorang mengetuk pintu


Tok... tok...tok.... terdengar pintu ruang ICU itu di ketuk, tak lama muncul Hansel dari balik pintu, membawa paper bag yang berisikan makan siang untuk Handoko dan Chris yang sudah berjaga semalaman itu.


"Siang Om, Chris, ini aku bawain makan siang untuk kalian. Om dan Chris, kalian pasti belum makan siangkan. Makanlah dulu, biar Yoona aku yang jagain," ucap Hansel menyerahkan paper bag tersebut


"Wah, kebetulan sekali kami memang belum makan siang, terimakasih ya bro," ucap Chris meraih paper bag itu dari tangan Hansel


"Ayo Om, kita makan dulu. Isi bensin, biar ada tenaga untuk jagain Yoona," ucap Chris membujuk Handoko


"Heum..." Handoko menghela nafasnya pelan, "Kamu makan saja duluan Chris, Om tidak lapar!" ucap Handoko yang tak selera makan.


Bagaimana Handoko bisa selera makan, jika melihat anak semata wayangnya masih tak sadarkan diri. Setiap kali Handoko makan akan terasa hambar, walaupun makanan itu sangat lezat dan mahal.


Handoko hanya berharap putrinya segera sadarkan diri. Handoko begitu rindu sikap manjanya Yoona, padanya.


"Cepatlah sadar sayang, papa mohon," gumam Handoko di sertai butiran bening yang telah lolos dari pelupuk matanya


Hansel mendekati Handoko dan mengelus punggung lelaki paruh baya itu, mencoba menenangkan hatinya.


"Yang sabar ya Om, Kita berdoa saja semoga Yoona bisa segera siuman dan berkumpul kembali bersama kita," ucap Hansel bijak


Handoko hanya mengangguk dan terisak. Handoko bahkan tak malu menangis di depan calon menantunya itu. Ya, pria yang kerap kali menunjukkan wajah angkernya di hadapan orang-orang yang belum mengenalnya, kini wajah Handoko meleot dan sendu ketika di hadapkan dengan kondisi putrinya saat ini.


Chris tak ingin melihat kondisi Om nya itu ikut terbaring di rumah sakit karena kondisinya yang semakin ngedrop. Chris kembali membujuk Handoko agar mau mengisi perutnya yang kosong sejak tadi malam tak di isi makanan.


"Ayolah Om, Om harus makan, Om harus sehat supaya bisa jagain Yoona terus. Kalau Om sakit, gimana bisa jagain Yoona nanti," bujuk Chris


Tak ada jawaban dari Handoko, seperti mencerna ucapan Keponakannya itu


Tak mendapatkan jawaban dari Handoko, Chris bertanya lagi pada pamannya itu


"Gimana Om, maukan? tanya Chris yang tak mau di tolak


Handoko mengangguk setuju, mereka berdua kemudiaan makan di ruang khusus untuk mereka makan


Hansel duduk di kursi kecil samping ranjang Yoona, di tatapnya wajah cantik itu dan di genggamnya erat tangan Yoona


"Tolong cepatlah bangun Beo!" batin Hansel lirih


Tring...tring....


Tring...tring....ponsel Hansel berdering lagi meminta perhatiannya untuk segera di angkat. Hansel merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Di tatapnya layar ponselnya itu tidak ada tertera nama si penelpon hanya nomor ponsel nya saja yang tertera disana. Dengan malas, Hansel menggeser tombol hijau di layar ponselnya


"Halo selamat siang bos, kami telah menemukan orang yang menabrak bos cantik," ucap seseorang yang di utus Hansel


"Bagus, kalian tau apa yang harus kalian lakukan kan!" ucap Hansel berbisik


"Siap bos, tau bos!" sahut orang tersebut


"Bagus, lakukan dengan baik, setelah itu kabari aku!" ucap Hansel tegas lalu mematikan ponselnya secara sepihak


Hansel tersenyum menyeringai, "Kamu dengar itu Beo, orang yang mencelakai mu, akan segera mendapatkan balasannya,"


"Aku tak akan membiarkan orang itu bebas di luar sana. Aku akan buat dia menyesal seumur hidupnya karena telah membuatmu celaka seperti ini!" batin Hansel dengan tangan mengepal


🌼🌼🌼🌼🌼


Sementara di rumah orang tuanya Luna. Luna terlihat asik menikmati makan siangnya bersama papa dan adiknya


"Gimana pekerjaan kamu di kota N, Lun?" tanya Papa nya Luna


"Semuanya lancar kok Pah nggak ada yang perlu di khawatirkan," ucap Luna tersenyum sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya


"Baguslah kalau begitu, Papa senang dengar nya,"ucap Papa Luna


Hening, tak ada lagi pembahasan diantara ayah dan anak itu. Hanya terdengar dentingn sendok dan garpu yang saling bertautan


Selesai makan, Luna segera membereskan semua piring kotor yang ada meja makan dan membawanya ke dapur. Di letakkan nya piring-piring kotor itu di atas wastafel untuk di cuci. Berhubung di rumah itu tak pakai assisten rumah tangga. Terpaksa Luna yang mencuci semua piring kotor tersebut


 


Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu,. hari sudah mulai sore. Luna yang besok harus kerja, mau tak mau ia harus pulang ke apartemen nya. Luna bersiap-siap untuk kembali pulang ke apartemen tercintanya, ia pulang sendiri karena adiknya tidak mau ikut ke apartemennya.


Luna meminta pak Ujang untuk memanaskan mobilnya terlebih dahulu sebelum mereka kembali pulang.


Tanpa Luna ketahui, ternyata dirinya sudah menjadi target incaran oleh polisi dan anak buah Hansel.


Setelah berpamitan dengan Papa dan adiknya, Luna masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh pak Ujang. Pak Ujang melajukan mobilnya meninggalkan kediaman orang tua Luna.


Perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu, membuat Luna bosan. Ia memilih untuk memejamkan matanya, berharap setelah bangun, ia sudah sampai di apartemen nya.


Suasana hening, sangat mendukung Luna untuk segera pindah alam ketika baru saja memejamkan matanya.


Di parkiran apartemen, anak buah Hansel dengan setia menunggu target mereka datang