Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 8 : Buku



Alyssa benar - benar datang ke perpustakaan besoknya, saat bel istirahat pertama dibunyikan. Banyak siswa dan siswi yang berada di sana hari ini, tapi suasana tetap tenang karena semua sibuk membaca buku. Ada juga beberapa siswa yang hanya menumpang memakai wifi perpustakaan untuk sekadar bermain game, tapi mereka tak lupa memasang earphone supaya tidak menimbulkan keributan.


Alyssa juga melihat Zafran di sana, bersama kedua sahabatnya yang sudah tak asing lagi baginya. Yang satu namanya Zidan. Alyssa baru tahu namanya beberapa Minggu lalu saat Dira memberitahunya. Yang satu lagi, orang aneh yang ia temui di rumah Bu Anggi. Siapa lagi jika bukan makhluk super cuek itu, Langit.


Pandangan mata Alyssa sempat bertemu dengan sorot mata Langit yang tajam. Namun, Alyssa segera memalingkan mukanya. Ia tidak mau membuang waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting saat ini.


"Alyssa? " Alyssa menoleh saat seseorang memanggil namanya. Rupanya pustakawan bernama Rusly lah orangnya.


"Bagaimana Anda bisa tahu nama saya? " tanya Alyssa sambil mengerutkan keningnya. Ia merasa belum memperkenalkan diri pada Pak Rusly sebelumnya.


"Saya melihat absensi pengunjung perpustakaan paling sering. Di sana tertera nama Alyssa Kania lengkap dengan tanda tangan. Di buku lainnya saya menemukan sebuah foto yang sepertinya sengaja diselipkan di sana. Ada namanya juga di sebaliknya. Saya jadi tahu itu kamu, yang berkunjung kemarin untuk mencari buku time travel. " jawab Pak Rusly sambil menunjukkan daftar absensi dan menyerahkan sebuah foto pada Alyssa. Alyssa menerima foto yang dicetak polaroid itu dari tangan Pak Rusly.


"Oh, ternyata Bu Anggi menyimpan foto saya. " kata Alyssa pelan sambil tersenyum.


"Kemarin saya mampir ke pasar loak, dan tidak sengaja menemukan buku ini. Sepertinya sesuai dengan yang sedang kamu cari. " Pak Rusly menyodorkan sebuah buku usang pada Alyssa. Alyssa membaca judulnya.


Rahasia Perjalanan Waktu


Alyssa tersenyum puas. Judulnya sesuai dengan yang sedang ia cari.


"Saya akan coba mencarikan buku yang berkaitan dengan itu di sini. Perpustakaan di sini sepertinya memiliki buku yang lengkap. " kata Pak Rusly sambil mulai mencari buku di barisan rak - rak yang tersusun rapi.


Alyssa segera duduk di salah satu kursi yang kosong. Tak jauh darinya, Langit tengah memperhatikan gerak - gerik Alyssa sedari tadi. Ia sempat mencuri dengar perbincangan Alyssa dengan Pak Rusly karena ternyata ia sudah mematikan headphonenya meskipun masih ia kenakan ditelinga.


"Saya menemukan buku ini di salah satu rak. Buku ini mengkaji teori perjalanan waktu lewat sudut pandang sains. Sedangkan buku yang saya beli dari pasar loak itu sepertinya lebih mengarah ke fantasi. " Pak Rusly meletakkan buku yang dibawanya ke atas meja. Alyssa mengalihkan pandangannya ke buku itu. Ia membaca judulnya.


Time Travel Theory


"Terima kasih, Pak. Boleh saya pinjam kedua buku ini? " tanya Alyssa.


"Tentu saja. Kamu boleh membawanya pulang, bahkan saya berniat memberikan buku yang saya beli di pasar loak itu padamu. Sepertinya kamu lebih membutuhkannya daripada saya. " jawab Pak Rusly. Alyssa mengangguk. Ia bergegas keluar dari perpustakaan karena ingin segera membaca kedua buku itu. Namun, saat ia baru saja keluar dari sana, tangannya tiba - tiba dicekal oleh seseorang. Alyssa hampir saja berteriak karena terkejut.


"Apa yang sedang kamu lakukan? " tanya seseorang yang tadi mencekal tangannya, tapi sekarang sudah dilepas. Alyssa menoleh sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit.


"Harusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang sedang kamu lakukan? " tanya Alyssa pada lelaki di hadapannya itu. Dia adalah Langit, yang kini headphonenya sudah ia turunkan dari telinga ke leher. Menurut Alyssa, Langit tampak keren jika seperti itu. Alyssa segera menepis pikiran tidak pentingnya setelah menyesali pujiannya pada Langit meski hanya ia gumamkan dalam hati.


"Kamu bertanya apa yang sedang kulakukan? Baiklah, biar kujawab. Tadi aku sedang berjalan, lalu kamu tiba - tiba datang entah dari mana dan mencekal pergelangan tanganku. Yang tadi itu sakit! " kata Alyssa dengan kesal.


"Hanya begitu saja sudah sakit? Padahal tadi aku tidak serius mencekalnya. Kamu saja yang mengada - ada. " Langit membela diri. Alyssa tidak berniat melanjutkan perbincangan mereka karena sudah terlanjur kesal. Ia bergegas pergi, tapi lagi - lagi Langit mencekal pergelangan tangannya.


"Aku belum mendapatkan jawabanku. Kamu harus memberi jawaban yang aku butuhkan saat ini juga. Sebelum itu, kamu tidak boleh pergi. " titah Langit. Alyssa menghela napas menghadapi sifat aneh dari manusia di hadapannya ini.


"Sebenarnya jawaban apa yang kamu inginkan dariku? " tanya Alyssa.


"Apa maksud dari kedua buku ini? " Langit mengambil alih kedua buku yang dibawa Alyssa. Alyssa terkejut karena Langit bisa meraihnya dengan mudah hanya dalam sekali rebut. Padahal, kedua buku itu sama - sama tebal dan pastinya berat.


"Tidak ada. Aku hanya ingin membacanya. " jawab Alyssa. Ia segera merebut kedua buku itu kembali, tapi dengan cepat Langit menaikkan tangannya sehingga Alyssa tidak bisa meraih buku itu.


"Kelihatannya kamu sangat tertarik mempelajari isi dari kedua buku ini. Kamu menyukai fantasi? " tanya Langit dengan nada mengejek.


"Memangnya kenapa jika aku menyukainya? " Alyssa balik bertanya.


"Fantasi seringkali membuat seseorang lupa diri. Setelah membaca buku fantasi atau menonton filmnya, orang - orang pasti akan sibuk berkhayal. Mereka akan sibuk berangan - angan tentang sesuatu yang mustahil. Meski mereka tahu sesuatu itu mustahil, tapi justru mereka ingin hal itu terjadi. Kamu juga begitu, bukan? " tebak Langit.


"Kamu tidak tahu apa - apa. " kata Alyssa kesal sambil berjinjit untuk merebut kedua buku yang tadi. Namun, gagal. Ia tidak bisa meraihnya karena terlalu tinggi. Ia tidak sampai.


"Alyssa Kania. Siswi yang berkunjung ke perpustakaan hampir setiap hari. Meraih juara paralel setiap tahun. Bendahara OSIS di SMA Negeri 1. Siswi yang belum pernah mendapat poin buruk apalagi dihukum. Desa tempat tinggalnya tak jauh dari Perumahan Citra Indah. Siswi yang sering mengenakan bandana warna merah dan terkadang juga warna pink. Siswi yang tak pernah lupa mengikat rambutnya ketika praktek olahraga berlangsung. Kamu masih akan bilang aku tidak tahu apa - apa? " Alyssa terkejut hingga ia melongo heran. Bagaimana bisa Langit mendikte semuanya sampai sedetail itu?


"Bagaimana kamu tahu? Apa selama ini kamu membuntutiku? Apa kamu sengaja memata - mataiku? " tanya Alyssa dengan nada mendesak.


"Memangnya aku tidak punya pekerjaan lain selain membuntutimu? Mana mungkin aku melakukannya. Itu sangat buang - buang waktu. " Langit tertawa sinis. Alyssa memicingkan matanya tajam pada Langit.


"Kenapa menatapku seperti itu? " tanya Langit kesal.


"Kamu ini sejenis intelijen atau apa? " Alyssa asal menebak.


"Bukan urusanmu. Ambil ini. Aku tidak membutuhkannya. Lagipula, aku tidak ingin menjadi orang gila hanya karena berkhayal akan fantasi. " Langit mengembalikan kedua buku itu pada Alyssa dengan kasar. Alyssa sampai hampir terjatuh karena buku itu terlalu berat.


Langit berlalu begitu saja. Tidak berniat sedikitpun untuk membantu. Alyssa mendengus kesal sambil menggerutu sepanjang jalan.