Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 15 : Siapa Nama Teman Kecil Itu?



Sudah beberapa hari ini Alyssa tidak bertemu seseorang. Lebih tepatnya, tak pernah lagi bertabrakan. Siapa lagi jika bukan manusia menyebalkan itu?


Alyssa tak pernah lagi melihatnya di perpustakaan untuk sekadar menumpang wifi seperti hari - hari sebelumnya. Ia juga tak melihatnya di kantin, ataupun di lorong - lorong kelas. Sudah lama Langit tidak menampakkan batang hidungnya di depan Alyssa. Kemana perginya si orang aneh itu?


Seharusnya Alyssa senang karena kini doanya dikabulkan. Seharusnya ia merasa tenang karena setidaknya ia tak perlu lagi buang - buang waktu untuk berdebat dengan Langit. Namun, ia justru merasa ada yang kurang.


Kosong. Hanya itu yang ia rasakan sekarang. Meski seringkali ia dibuat kesal karena bertabrakan dengan Langit disaat terburu - buru, ia tak merasa keberatan. Bahkan ia merasa bersemangat ketika berdebat dengan Langit. Namun, mengakui hal itu sepertinya sangat sulit.


"Ah, kenapa doaku cepat sekali terkabul! " sesal Alyssa. Lalu, tak berapa lama kemudian...


"Hei, tunggu! Kenapa aku jadi memikirkan dia? Sangat tidak penting. " ujar Alyssa ketika sadar bahwa ia baru saja menyesali doanya tempo hari. Dia pernah berdoa agar tidak bertemu dengan Langit lagi, bukan?


Namun, kini ia justru menyesali doanya. Hanya saja, sangat sulit untuk mengakuinya. Bahkan pada dirinya sendiri. Entah kenapa ia terus saja membohongi dirinya sendiri jika sudah menyangkut soal Langit.


"Alyssa, cepatlah! Pelajaran olahraga akan segera dimulai. Kau mau terus mematung di kelas atau berganti baju? " teriak Dira di ambang pintu. Alyssa tersadar dari kesibukan berpikirnya. Ia segera melepas bandana merahnya, lalu meraih baju olahraganya di laci dan bergegas menuju ruang ganti.


Koleksi bandana milik Alyssa tidak seperti bandana pada umumnya. Jika biasanya bandana berbentuk lebar, miliknya justru kecil seperti bando. Di atasnya juga ada variasi bentuk seperti pita.


 


☁☁☁


 


Hari ini, guru olahraga tidak bisa mengajar seperti biasa karena ada keperluan mendadak. Hal itu menjadi kesenangan tersendiri bagi Alyssa dan teman - teman sekelasnya. Bahkan beberapa teman laki - laki di kelasnya sampai melompat kegirangan ketika mendengar kabar ini.


Namun, kelasnya tetap diwajibkan untuk melakukan pemanasan dan lari keliling lapangan supaya badan menjadi bugar. Setelah itu, mereka boleh kembali ke kelas dan bebas melakukan apa saja. Bermain ponsel, bercengkrama, tidur, makan di kelas, dan lain - lain. Asal tidak mengganggu ketenangan kelas lain yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran.


Alyssa memutuskan untuk menepi di bawah pohon cemara yang berada di tepi lapangan setelah selesai berlari. Ia membetulkan posisi ikat rambutnya yang mengendur. Ia kemudian duduk sambil meluruskan kakinya. Tangannya dikibas - kibaskan karena ia merasa gerah. Sementara ketiga sahabatnya kini tengah asyik berswafoto di ujung lapangan.


Tiba - tiba saja, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Alyssa yang terkejut segera menoleh dan mendapati Zidan di belakangnya.


"Zidan? " kata Alyssa sambil berdiri, menyamakan posisinya dengan Zidan. Ia adalah sahabat dekat Zafran dan juga Langit. Alyssa sering melihat mereka bersama. Baik di perpustakaan, kantin, maupun di tempat lain. Namun, kini hanya Zafran dan Zidan yang sering ia lihat. Tidak ada Langit.


"Ini untukmu, " Zidan memberikan sebuah bandana warna biru yang mirip dengan miliknya di rumah.


"Eh, untukku? " tanya Alyssa heran. Pasalnya, Alyssa tidak begitu mengenal Zidan. Ia hanya tahu namanya dari Dira. Lalu kenapa tiba - tiba Zidan memberinya bandana?


"Jangan ikat rambutmu lagi. Lebih bagus jika tergerai. " kata Zidan dengan ekspresi datar. Alyssa menerima bandana itu dengan masih diselimuti rasa heran. Ia hendak bertanya, tapi Zidan sudah terlanjur berbalik badan dan berlalu pergi meninggalkannya. Tentu saja Alyssa tidak bisa mencegahnya pergi.


 


☁☁☁


 


Ia membuka kotak itu dengan cepat. Di dalamnya terdapat sebuah bandana warna biru, persis seperti yang tadi diberikan oleh Zidan. Apakah Zidan adalah teman masa kecilnya yang ia cari selama ini?


Alyssa meraih sebuah foto yang dicetak polaroid di bawah bandana. Foto itu menampilkan wujud Alyssa semasa kecil bersama seorang anak laki - laki. Anak itulah yang dulu suka menarik ikat rambut Alyssa dan menggantinya dengan bandana. Anak itu tidak suka rambut Alyssa diikat. Ia lebih suka melihat rambut Alyssa tergerai. Sampai sekarang, Alyssa masih menyimpan bandana biru pemberiannya.


Alyssa mengamati foto itu dengan lekat. Dulu, sewaktu wisuda TK, Alyssa mengajak anak laki - laki itu berfoto. Venna yang mengambil foto mereka dengan ponselnya. Sampai di rumah, Alyssa langsung mendesak ibunya untuk segera mencetak foto itu.


Mungkinkah anak laki - laki itu adalah Zidan? Namun, sepertinya mereka tidak mirip sama sekali. Alyssa menepuk dahinya berkali - kali, merutuki kebodohannya. Mengapa ia sampai lupa nama anak laki - laki itu? Mengapa kini ia tidak bisa mengingatnya?


Alyssa meraih bandana biru pemberian Zidan dari tasnya. Ia meletakkan bandana itu di kotak tempat ia menyimpan koleksi bandananya. Sekarang bandana itu menjadi satu - satunya bandana warna biru di antara warna merah dan pink.


Sedangkan bandana biru pemberian teman masa kecilnya ia letakkan kembali ke tempat semula, tak ketinggalan fotonya. Ia mengembalikan kotak itu di dalam lemari. Setelahnya, ia berlari kecil menuju ruang keluarga. Di sana ada Venna yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Ibu, " panggil Alyssa.


"Hm, " jawab ibunya tanpa menoleh. Ia memusatkan perhatiannya pada acara televisi yang tengah ia tonton.


"Apa ibu masih ingat nama temanku semasa TK dulu? " tanya Alyssa serius.


"Riana, Novi, Tania, Tika, Bella... " Venna mengabsen nama - nama yang ia ingat tanpa menoleh ke arah Alyssa yang kini duduk di sampingnya.


"Bukan itu, Bu. Temanku yang dulu sempat aku ajak berfoto saat wisuda. " jelas Alyssa.


"Temanmu yang laki - laki itu? Yang dulu suka menarik ikat rambutmu dan memberimu bandana warna biru? " tanya Venna dengan keterangan yang detail. Alyssa mengangguk dengan mata berbinar. Akhirnya ibunya paham juga yang ia maksudkan.


"Ibu masih ingat, kan? Siapa namanya, Bu?" desak Alyssa penasaran.


"Yang temannya itu kau atau Ibu? " Venna balik bertanya.


"Tentu saja aku. Aku tidak mungkin menanyakan nama teman ibu. " jawab Alyssa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Lalu, kenapa bertanya pada ibu? Ibu kan bukan temannya. Jika kau benar - benar temannya, kau pasti ingat namanya dan tidak perlu bertanya pada orang lain. " ujar Venna.


"Tapi ini hal mendesak yang harus segera ku ketahui, Bu. Tidak bisakah ibu menyebutkan namanya? Ibu saja hafal nama teman - teman perempuanku semasa TK. Masa yang ini lupa? "


"Lupa bagaimana maksudmu? Kau saja tidak pernah memberitahu pada ibu siapa namanya. Kau hanya sibuk menceritakan kejahilan teman laki - lakimu itu. Setiap pulang sekolah kau selalu bilang pada ibu tentang dia. Seperti kebiasaannya yang suka menarik ikat rambutmu, menarik kursimu supaya kau terjatuh dan untungnya itu gagal, menyembunyikan pensilmu, bukumu, semuanya. Apapun selalu kau ceritakan pada ibu. Tiap kali ibu menanyakan namanya, kau selalu menjawab bahwa ibu tidak perlu mengetahuinya. Kau selalu bilang itu rahasia. Sekarang kau bertanya pada ibu disaat sedang butuh? Ada - ada saja. "


Alyssa melongo mendengar penuturan panjang dari ibunya. Ia jadi menyesal karena dulu tidak mau memberitahukan nama si anak laki - laki itu pada ibu. Jika saja dulu ia memberitahukannya, sekarang pasti ibunya masih ingat.