Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 13 : Sebuah Foto



Hanan menyodorkan setumpuk proposal pada Alyssa.


"Tolong antarkan ini ke ruang kepala sekolah! Proposal - proposal ini harus segera ditandatangani. Setelah itu kita baru bisa mengadakan rapat. " kata Hanan. Alyssa mengernyitkan dahi melihat setumpuk proposal di depannya. Apa ia kuat membawa proposal sebanyak itu sendiri?


"Bukannya itu tugas sekretaris? " tanya Alyssa. Sebenarnya ia agak ragu menanyakannya. Siapa tahu reaksi Hanan selanjutnya? Bisa saja ia marah dan memaki Alyssa karena membantah. Namun, nyatanya tidak seperti yang dibayangkan Alyssa.


"Nindy sedang ke toilet. Aku tidak mau tahu berapa lama perempuan berada di sana dan untuk apa, tapi masalahnya proposal ini harus segera disahkan. Kamu bisa menggantikan Nindy sebentar, kan? Aku sedang ada urusan lain. Pembina OSIS tadi memanggilku dan aku harus segera ke sana. " jawab Hanan. Alyssa mengangguk dengan terpaksa.


Hanan bergegas keluar dari ruang OSIS. Sementara Alyssa masih berdiri di sana, mengumpulkan niat untuk membawa setumpuk proposal yang pastinya berat itu. Tak sampai satu menit kemudian, ia sudah keluar dari sana dengan membawa setumpuk proposal ditangannya.


Alyssa berjalan sambil terus menebar senyum di sepanjang jalan menuju ruang kepala sekolah. Namun, di tengah jalan ia bertabrakan dengan seseorang sampai semua proposal ditangannya jatuh berserakan.


"Ah, astaga! " Alyssa panik melihat semua proposalnya jatuh ke lantai. Ia mendongak dan mendapati Langit yang tengah berdiri di hadapannya, memasang muka datar. Tak ketinggalan headphone yang selalu dikalungkan dilehernya.


"Kamu lagi?! " Alyssa keheranan. Langit masih diam dengan ekspresi datarnya.


"Ah, kenapa akhir - akhir ini aku sering sekali ditimpa sial! " Alyssa memegangi kepalanya sambil memejamkan mata sejenak.


"Baiklah, tidak apa - apa. Kita sama - sama tidak sengaja. Sekarang, cepat bantu aku! " ujar Alyssa sambil berjongkok untuk memunguti proposalnya.


"Kamu punya tangan? " tanya Langit retoris.


"Tentu saja. Aku punya dua tangan. Apa kamu tidak bisa melihatnya? " jawab Alyssa tanpa mendongak.


"Kalau begitu, artinya kamu masih bisa melakukannya sendiri. Selama kamu tidak butuh bantuan orang lain, maka lakukanlah sendiri. " ujar Langit. Alyssa mendongak karena terkejut mendengar perkataan Langit.


"Apa susahnya membantuku sebentar? Hanya beberapa proposal, tidak banyak. " kata Alyssa.


"Benar, hanya beberapa proposal, tidak banyak. Jadi, lakukanlah sendiri! " ujar Langit sambil berlalu pergi.


"Aku berdoa agar tidak bertemu denganmu lagi! Aku bosan bertabrakan dengan orang angkuh sepertimu. Jika cerita membosankan ini dijadikan buku, maka pembacanya juga akan bosan karena aku terus saja bertabrakan dengan orang yang sama. Manusia paling menyebalkan di dunia! " gerutu Alyssa. Langit menghentikan langkahnya karena mendengar setiap kata yang diucapkan Alyssa. Ia berbalik badan, lalu berjalan menghampiri Alyssa. Ia ikut berjongkok, menyamakan posisinya dengan Alyssa.


Posisi itu bertahan sedikit lama. Jantung Alyssa berdegup lebih kencang dari biasanya. Kini jaraknya dengan Langit sangat dekat karena mereka sama - sama berjongkok. Posisi mereka seperti orang yang hendak melamar. Satu kaki agak diangkat, dan satunya lagi lututnya dibiarkan menyentuh tanah. Setelah beberapa saat bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, Langit akhirnya membuka suara.


"Ulangi doamu tadi! " titah Langit dengan suara lembut.


"Aku berdoa agar tidak bertemu denganmu lagi. " jawab Alyssa cepat. Langit tersenyum sinis.


"Kalau begitu, doamu akan segera terkabul. " ujar Langit. Ia kemudian bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Alyssa yang kini tengah mencoba mencerna perkataan Langit. Ah, Langit selalu saja meninggalkan teka - teki sebelum pergi!


"Astaga, aku terlambat! " Alyssa segera tersadar setelah melamun beberapa saat. Ia segera memunguti semua proposalnya, lalu bergegas pergi menuju ruang kepala sekolah.


☁☁☁


"Silakan duduk! " Bu Gina mempersilakan. Alyssa segera duduk di depan Bu Gina. Ia meletakkan proposal - proposal yang dibawanya di atas meja.


"Yang mana yang harus ditandatangani? " tanya Bu Gina. Alyssa meraih salah satu proposal, lalu menunjukkan tempat tanda tangan pada Bu Gina. Bu Gina mengangguk paham, lalu mulai menandatangani proposalnya. Setelah selesai, Bu Gina beralih pada proposal lain untuk menandatanganinya juga.


Sementara mata Alyssa sibuk berkeliling, menjelajahi setiap sudut ruang kepala sekolah. Pandangan matanya berhenti saat melihat sebuah kotak mirip kardus dengan warna hitam yang terletak di sudut ruangan. Alyssa penasaran karena ia melihat sebuah pigura yang menyembul dari dalam kotak hitam itu.


"Maaf Bu, saya boleh menanyakan sesuatu? " tanya Alyssa dengan hati - hati.


"Silakan, " jawab Bu Gina tanpa mengalihkan pandangannya dari proposal yang sedang ia beri tanda tangan.


"Kotak hitam itu, isinya apa? " Alyssa memberanikan diri untuk bertanya. Bu Gina mengangkat kepalanya, melihat ke arah kotak hitam yang dimaksud Alyssa.


"Oohh, itu foto - foto lama. Aku berniat membuangnya karena sudah tidak berguna. Lagipula, aku juga tidak punya cukup tempat untuk memajangnya. " jawab Bu Gina sambil kembali memusatkan perhatiannya pada proposal di atas meja.


"Kenapa tidak disimpan saja, Bu? Bukannya setiap foto biasanya menyimpan banyak kenangan? " Alyssa memberi saran. Bu Gina menghentikan kegiatannya ketika mendengar perkataan Alyssa. Bibirnya seperti dibungkam secara tak sengaja dan tersihir untuk diam selama beberapa saat.


"Bu Gina? Ibu tidak apa - apa? " tanya Alyssa saat melihat Bu Gina terdiam dan melamun.


"Ah, aku tidak apa - apa. " Bu Gina menggeleng sambil kembali melanjutkan kegiatannya.


"Maaf Bu, jika ada perkataan saya yang menyinggung perasaan Bu Gina. Saya benar - benar tidak sengaja. Tadi saya sedikit lancang. " Alyssa menyesali perkataannya.


"Tidak, tidak ada yang salah. Aku tidak merasa tersinggung. Aku tidak apa - apa. " ujar Bu Gina sambil menggelengkan kepalanya, berniat meyakinkan supaya Alyssa tidak merasa bersalah. Alyssa mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Baiklah. Semua sudah selesai ku tandatangani. Apa masih ada lagi? " tanya Bu Gina sambil tersenyum. Alyssa menggeleng cepat.


"Emm, maaf, Bu. Kalau ibu mengizinkan, saya bersedia membantu membuang kotak itu. " Alyssa menawarkan.


"Tapi, bagaimana dengan proposalnya? Siapa yang akan membawanya kembali ke ruang OSIS? " tanya Bu Gina.


"Nanti teman saya yang akan mengambilnya. Kebetulan, saya juga ingin pergi ke belakang sekolah. Jadi, saya bisa sekalian membuang kotak itu. " jawab Alyssa.


"Baiklah kalau begitu. Kamu boleh membawanya sekalian. Buang di tempat sampah ya, jangan dibuang sembarangan! " pesan Bu Gina. Alyssa mengangguk patuh. Ia kemudian mengambil kotak hitam itu, lalu berpamitan pada Bu Gina dan bergegas keluar dari sana.


Alyssa berjalan cepat menuju halaman belakang sekolah. Di sana terdapat sebuah balok panjang tempat membuang sampah. Jika sudah terkumpul banyak, sampah - sampah itu akan diambil oleh pihak pengelola sampah dan akan disalurkan ke tempat pembuangan akhir. Nantinya, sampah - sampah itu akan dipilah kembali. Dari hasil pemilahan itu, ada yang akan ditimbun, didaur ulang, dan ada juga yang dibakar jika barangnya sudah tidak layak didaur ulang dan tidak cocok untuk ditimbun.


Alyssa bersiap membuang kotak hitam itu, namun perhatiannya seketika teralih pada sebuah pigura yang menyembul dari dalam kotak. Alyssa tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Ia meraih pigura itu dan melihatnya. Matanya membelalak saat mengetahui isi fotonya.


Foto dalam pigura itu menampilkan dua orang gadis yang tampak sangat akrab. Mereka berpelukan sambil tersenyum bahagia. Satu orang gadis tampak mengenakan bandana merah, dan yang satu lagi rambutnya pendek sebahu. Kedua gadis itu tidak asing lagi bagi Alyssa.


Gadis berambut pendek sebahu itu adalah Bu Gina. Wajahnya tak banyak berubah. Sedangkan gadis yang mengenakan bandana merah itu tak lain adalah Bu Anggi. Wajahnya persis seperti yang Alyssa lihat saat ia memasuki dunia masa lalu Bu Anggi lewat buku tak berjudul yang dipinjamkannya.