
Hari ini sekolah libur. Alyssa memutuskan untuk berkunjung ke rumah Bu Anggi dan menemui anak semata wayangnya, Maya. Kemarin Alyssa hanya melayat sebentar karena hari sudah sangat sore. Ia naik taksi online sendirian. Ia mendapat kesempatan keluar rumah dengan bebas karena orang tua dan adiknya sedang pergi ke rumah nenek. Jika tidak, mereka pasti akan melarangnya.
Alyssa masih hafal alamat rumah Bu Anggi karena baru kemarin ia berkunjung ke sana untuk melayat. Sebelumnya ia tidak pernah tahu Bu Anggi tinggal di mana. Taksi yang ia tumpangi berhenti tepat di depan gerbang besi rumah Bu Anggi yang sudah berkarat.
Ia turun setelah membayarkan sejumlah uang pada sopir taksi. Alyssa mendekat ke arah gerbang sambil menggenggam erat sebuah plastik berisi sekotak kue bolu kukus cokelat bertabur keju yang tadi ia beli di toko roti.
Rumahnya terlihat sangat sepi dari luar. Senyap, tidak ada suara sama sekali. Namun, Alyssa melihat sebuah motor ninja biru terparkir di halaman rumah Bu Anggi yang tidak begitu luas. Berarti ada orang di dalam.
Alyssa masuk ke halaman karena gerbangnya tidak ditutup. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Terlihat jelas taman kecil di halaman yang tidak terawat. Rumput liar tumbuh meninggi seolah tak pernah dipotong. Beberapa pot yang ditanami bunga juga semuanya layu, seolah tak pernah disiram. Apa Bu Anggi sesibuk itu di sekolah hingga tak sempat merawat taman rumahnya sendiri?
Alyssa tidak memperhatikan kondisi halaman rumah saat ia melayat kemarin karena ia tidak bisa memikirkan apapun selain kematian Bu Anggi yang tiba - tiba. Terlebih lagi Bu Anggi seolah sudah memiliki firasat bahwa dirinya akan pergi, sesuai perkatannya saat di perpustakaan sehari sebelum ia tiada.
Alyssa memencet bel yang terletak di samping pintu rumah saat sudah puas mengamati halaman depan. Tidak ada sahutan. Ia memencet belnya lagi, lalu tak berapa lama pintu terbuka. Menampilkan wujud Maya, anak kecil yang tampak menggemaskan dengan pipi tembam dan rambut yang dikuncir dua ke samping. Tak lupa boneka teddy bear yang selalu ia bawa ditangannya.
"Kakak yang kemarin itu, ya? " Maya mengamati wajah Alyssa dengan saksama. Alyssa mengangguk mengiyakan.
"Kakak mau apa kemari? " tanya Maya dengan ekspresi lugunya.
"Kakak sengaja datang untuk bertamu. Kakak juga bawa oleh - oleh untukmu. " jawab Alyssa sambil memberikan plastik itu pada Maya. Maya menerimanya dengan senang hati, lalu mempersilakan Alyssa masuk ke ruang tamu.
Halaman depan rumah Bu Anggi memang tidak begitu luas, tapi bagian dalamnya patut dipuji. Hampir mirip dengan rumah - rumah yang biasa dijadikan lokasi pembuatan film. Furnitur di dalam rumahnya didominasi kayu, seperti tangga dan meja.
Alyssa terkejut ketika mendapati seorang lelaki yang tak asing tengah duduk di salah satu sofa ruang tamu. Lelaki itu sama terkejutnya dengan Alyssa. Namun, ia dengan cepat membuang muka seolah tak peduli.
"Kakak duduk dulu, ya! Maya mau bilang bibi dulu supaya kakak juga dibuatkan teh. " kata Maya. Alyssa duduk setelah Maya mempersilakannya.
"Tidak perlu, Maya. Kakak sudah minum tadi di rumah. " tolak Alyssa dengan halus.
"Kakak tadi bilang sengaja datang kemari untuk bertamu. Kata ibu, tamu itu seperti raja. Bibi juga selalu membuatkan minuman kalau ada tamu yang datang. " jelas Maya.
"Baiklah kalau begitu, " ujar Alyssa akhirnya. Maya segera berlalu pergi, meninggalkan Alyssa berdua bersama lelaki itu. Alyssa bahkan belum mengetahui namanya.
Lelaki itu tidak mau menatapnya sama sekali. Sifatnya selalu angkuh, seperti ketika ia bertabrakan dengan Alyssa sebanyak dua kali tempo hari.
"Hai, aku Alyssa! " sapa Alyssa sambil mengulurkan tangan, berniat memperkenalkan diri. Lelaki itu melihat tangan Alyssa yang terjulur ke arahnya, tapi lagi - lagi ia segera membuang muka.
"Langit, " jawabnya singkat. Alyssa mengangguk - angguk saat ia mendengar jawabannya, lalu menarik tangannya kembali karena lelaki bernama Langit itu tidak mau menjabat tangannya.
"Kamu, kenapa bisa ada di sini? " tanya Alyssa, berniat mencairkan suasana karena sedari tadi tidak ada yang membuka suara.
"Urusanmu? " Langit balik bertanya dengan ketus. Alyssa menggeleng.
"Jika bukan, jangan ikut campur dan jangan ingin tahu. " tegas Langit.
"Aku bertanya begitu supaya kita jadi lebih akrab. " ungkap Alyssa jujur.
"Aku tidak mau akrab denganmu. " jawab Langit ketus. Alyssa menghela napas. Lelaki satu ini memang aneh. Sulit sekali berbicara dengannya.
Di saat yang sama, Maya datang bersama seorang wanita paruh baya yang sedang membawa nampan berisi segelas teh. Wanita yang dimaksud 'bibi' oleh Maya itu segera meletakkan gelasnya di meja depan Alyssa.
"Diminum dulu tehnya, Neng! " bibi yang belum diketahui namanya oleh Alyssa itu mempersilakan. Alyssa mengangguk ramah.
"Terima kasih.. " ucap Alyssa sambil tersenyum lebar. Tanpa ia sadari, Langit kini tengah mencuri pandang ke arahnya. Ia mengamati senyum Alyssa yang tulus selama beberapa saat, lalu kembali memalingkan wajahnya karena takut Alyssa mengetahui apa yang baru saja dilakukannya.
Bibi itu segera pamit dari sana untuk kembali ke belakang.
"Itu bolu kukus cokelat dengan taburan keju. Kesukaan kakak. " jawab Alyssa.
"Ini untuk kakak atau untukku? " tanya Maya lagi.
"Untuk Maya, "
"Kalau ini untukku, kenapa kakak memberi makanan kesukaan kakak? Seharusnya kakak memberiku makanan kesukaanku. " ujar Maya. Alyssa mengerutkan kening. Gadis kecil ini rupanya lebih pintar dari yang ia kira. Padahal, saat ini ia masih kelas TK.
Alyssa tersenyum. "Kakak bawa ini karena kakak belum tahu makanan kesukaan Maya."
"Kakak ini bagaimana, sih. Kak Langit aja langsung tahu makanan kesukaan Maya, padahal baru sekali bertamu ke sini seperti kakak. "
"Memangnya, makanan kesukaan Maya apa? " tanya Alyssa.
"Es krim. " jawab Maya riang.
"Baiklah. Besok kalau bertamu lagi, kakak bawakan es krim untuk Maya. " kata Alyssa sambil membelai rambut Maya dengan lembut. Langit menatap apa yang kini sedang dilakukan Alyssa.
"Oh ya, Maya sampai lupa. Maya kan belum tahu nama kakak. Nama kakak siapa?" tanya Maya penasaran.
"Alyssa, " jawab Alyssa singkat.
"Nama kakak cantik sekali. Seperti orangnya. " Maya memuji. Alyssa membelalakkan matanya mendengar pujian itu.
"Benarkah? Memangnya kakak cantik? " tanya Alyssa, memastikan.
"Kakak cantik sekali, seperti ibunya Maya yang sudah tiada. " ungkap Maya tulus.
"Ah, tidak juga. Ibunya Maya lebih cantik. Benar begitu, kan? " ujar Alyssa.
"Tidak. Kalian sama cantiknya. Kakak tetap cantik walaupun tidak berdandan, seperti ibu. Apalagi jika kakak berdandan, pasti lebih cantik dari ini. " puji Maya lagi.
"Sudahlah. Jangan bilang seperti itu. Maya juga cantik, seperti ibunya Maya. "
"Kakak berkata begitu karena tersipu, kan? Lihat, pipi kakak sampai merah begitu. " goda Maya.
"Eh, mana? Tidak, kok. " Alyssa mengelak.
"Lihat saja sendiri, masa Maya bohong. "
"Maya tidak bohong, hanya salah lihat. "
"Tidak, kak.. Pipi kakak benar - benar memerah sekarang. "
"Hei, tidak. Merah apanya, memangnya pipiku bunglon yang bisa berubah warna? "
"Tapi memang begitu kenyataannya. Lihat, pipinya semakin memerah. "
"Tidak.. "
Langit tersenyum diam - diam mendengar perdebatan Maya dan Alyssa. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Alyssa. Si gadis ceroboh yang hobi menabraknya.