Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 3 : Berita Duka



Hari ini cuacanya mendung. Mentari bersembunyi di balik awan, entah mengapa tidak berani menampakkan sinarnya. Alyssa mendongak, menatap langit yang dipenuhi warna hitam kelabu, seolah sedang berduka entah sebab apa.


Alyssa mempercepat langkahnya, menerobos kerumunan yang melingkar memenuhi papan mading sekolah. Alyssa penasaran akan apa yang menarik perhatian para siswa untuk berkerumun, namun ia kalah oleh keramaian. Tidak ada celah lagi, semuanya penuh sesak. Alyssa sampai berjinjit - jinjit karena tidak sabar mengetahuinya.


Bel tanda masuk akhirnya berbunyi dengan nyaring. Satu - persatu kerumunan mulai menyingkir, kembali ke kelas masing - masing untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Alyssa masih setia berdiri di sana, menunggu orang terakhir pergi dan bergegas mendekati papan mading.


Pandangan matanya menyapu setiap inci papan mading, mencari sesuatu yang menjadi magnet para siswa untuk berkerumun tadi. Sorot mata Alyssa akhirnya berhenti pada satu titik. Sebuah kertas tipis yang sengaja ditempel di sana dengan jarum berukuran kecil.


Kini kedua matanya membulat sempurna. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Tangannya menyentuh kertas itu dengan gerakan lemas. Kepala Alyssa serasa berputar, otaknya tengah berpikir keras. Apa ia sedang bermimpi dan masih berbaring dengan mata terpejam di atas ranjang tidurnya yang empuk?


Tidak. Alyssa ingat betul tadi pagi ia berangkat sekolah dengan naik bus, seperti biasa. Setelah memastikan bahwa yang ia lihat bukanlah mimpi, Alyssa menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak percaya hal ini terjadi begitu cepat.


Ia menatap papan mading itu dengan nanar. Batinnya sangat terpukul, membuat sebuah memori terlintas secara tiba - tiba di dalam ingatannya.


"Bagaimana jika lain kali itu tidak ada? Bagaimana jika sebelum itu aku sudah pergi?"


Alyssa mulai meneteskan air matanya saat melihat kembali sebuah tulisan yang tertera di kertas tipis itu.


Berita duka


Anggita Mayasari, pustakawati SMA Negeri 1 telah meninggal dunia


Alyssa hampir limbung ke belakang jika saja Dira tidak segera datang dan menahannya.


"Aduh, Alyssa! Kamu kenapa? Jangan pingsan di sini. Walaupun aku anak silat, aku tidak akan kuat membopongmu sampai ke UKS. " omel Dira. Alyssa diam, tidak berniat menjawabnya. Dira menoleh ke papan mading dan segera menyadari apa yang sedang terjadi.


"Kamu sudah baca beritanya, Al? " tanya Dira. Pertanyaan itu sungguh retoris. Tentu saja Alyssa sudah membacanya. Memangnya apa yang sedang dilakukannya di sana selama lima menit terakhir?


"Aku tahu kamu pasti sangat terpukul dengan berita ini. Tapi, kita tidak bisa melakukan apapun. Ini sudah takdir. " kata Dira, berusaha menenangkan Alyssa.


"Sudahlah, ayo kita kembali ke kelas! Teman - teman sudah menunggu di sana. " ujar Dira setelah tidak mendengar jawaban apapun dari Alyssa.


"Kamu duluan saja ke kelas. Aku masih ada satu urusan penting. " kata Alyssa jujur. Dira menghela napas, lalu mengangguk patuh. Ia segera kembali ke kelasnya. Sementara Alyssa mulai berjalan cepat menuju ruang OSIS.


Benar saja. Orang yang ia cari ada di sana, sedang menandatangani sebuah proposal.


"Hanan, " panggil Alyssa. Orang yang ia panggil segera menoleh ke arahnya.


"Apa kita tidak ada rencana untuk mengadakan galang dana? " tanya Alyssa.


"Kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa persetujuan dari kepala sekolah. Beliau bilang kita cukup datang melayat saja, tidak perlu galang dana. " jawab Hanan sambil tetap fokus pada proposalnya.


"Bukankah itu perlu? " tanya Alyssa lagi.


"Aku tidak berani mengambil keputusan apapun di luar kebijakan kepala sekolah saat ini. Jika kamu mau, bicaralah padanya. Aku sedang sibuk mengurus rapat kita besok lusa bersama kepala sekolah untuk membahas kegiatan kemah pekan depan. " ujar Hanan.


Alyssa menghela napas panjang setelah mendengar jawaban yang tidak ia inginkan sebelumnya.


☁☁☁


Ruang kepala sekolah adalah satu - satunya ruangan di sekolah yang paling horor bagi para siswa. Mereka takut berhadapan dengan kepala sekolah yang super garang.


Mimpi apa Alyssa semalam hingga ia harus turun tangan menghadapi kepala sekolahnya?


Pintu lebih dulu terbuka sebelum Alyssa sempat mengetuknya.


"Alyssa? Ada perlu apa kamu ke sini? Bukannya bel sudah berbunyi dari tadi? " tanya Bu Gina, kepala sekolahnya. Tidak mustahil jika seorang siswi berprestasi seperti Alyssa dikenali kepala sekolah. Bahkan semua guru di sekolah pun mengenalnya.


"Saya ingin bertemu Bu Gina. Saya punya satu usul, Bu. " jawab Alyssa.


"Maaf sebelumnya jika saya lancang, Bu. Apa tidak sebaiknya kita menggalang dana untuk keluarga Bu Anggi? " tanya Alyssa dengan hati - hati.


Bu Gina menggeleng cepat. "Tidak perlu. Kita cukup datang melayat saja. "


☁☁☁


"Siapa suruh kamu bicara sama kepala sekolah tergalak sedunia itu? Ditolak juga kan usulmu akhirnya? " ledek Nindy sambil mengaduk minumannya dengan sedotan.


"Kenapa ya, niat baikku bisa ditolak begitu saja? " tanya Alyssa heran.


"Bu Gina sepertinya memang tidak suka pada Bu Anggi. Aku sering melihat Bu Anggi menyapanya, tapi Bu Gina justru diam saja dan tidak menghiraukan sama sekali. Kejam sekali, kan? " Dira menanggapi.


"Tidak apa - apa, Al. Yang penting kamu sudah berusaha. Nanti sepulang sekolah kita tetap akan datang melayat, kan? Jadi jangan sedih seperti itu. " hibur Yasmin.


Alyssa menghela napas panjang lagi.


☁☁☁


Suasana pemakaman Bu Anggi sangat ramai. Puluhan siswa yang berniat datang untuk melayat kini memadati area liang lahat Bu Anggi. Awan pun ikut bersedih atas kepergiannya, hingga ia menurunkan hujan gerimis yang tak lain adalah bentuk tangisnya.


Beberapa siswa sudah mulai menaikkan payungnya, melindungi kepala mereka dari air hujan. Kecuali Alyssa, yang memilih membiarkan rintik air hujan membasahi rambut hitamnya.


Sayup - sayup Alyssa mendengar suara tangis yang memilukan dari seorang anak kecil. Ia mengedarkan pandangannya, mencari di mana sumber suara itu berasal. Matanya segera menemukan seorang anak kecil yang tengah menangis sambil memeluk boneka teddy bear miliknya.


Tidak ada yang mencoba menenangkan anak kecil itu. Alyssa iba padanya. Ia mendekat ke arahnya secara perlahan, lalu berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan si anak kecil.


"Kenapa menangis? " tanya Alyssa lembut.


"Ibuku meninggalkanku. Dia pergi untuk selamanya. " jawab anak kecil itu sambil terus menangis. Ia menunjuk ke arah di mana Bu Anggi dimakamkan, membuat Alyssa segera tahu bahwa anak kecil itu tak lain adalah anak semata wayang Bu Anggi yang pernah diceritakan padanya saat ia berkunjung ke perpustakaan.


"Tidak. Ibumu tidak pergi meninggalkanmu. Dia tidak jauh. Dia ada di sini. " Alyssa menunjuk dada anak itu.


"Di mana? " anak itu bertanya.


"Di hatimu, " jawab Alyssa sambil tersenyum.


"Kakak berbohong. Hati tempatnya bukan di sini. Tapi di sini, " anak itu menunjuk ke arah perutnya di bagian kanan.


Alyssa tersenyum lebar. Anak ini pintar sekali rupanya. Ia bisa tahu di mana letak hati yang sebenarnya, yaitu di bagian kanan rongga perut, di bawah diafragma.


"Siapa namamu? " tanya Alyssa sambil tersenyum.


"Maya, " jawab anak itu dengan singkat.


"Maya? Seperti nama belakang ibumu, ya?" tebak Alyssa.


Anak kecil yang ternyata bernama Maya itu mengangguk cepat.


"Kata ibu, dulu nama itu adalah nama panggilannya. Dia sangat suka nama panggilan itu. Dia memberiku nama kesukaannya karena dia sangat menyayangiku. " tutur Maya.


Alyssa tersenyum lagi.


"Kenapa kakak tersenyum di hari pemakaman ibuku? Apa kakak tidak sayang ibuku seperti aku? " tanya Maya dengan polosnya.


"Bukan begitu. Di zaman sekarang, senyuman banyak digunakan seseorang untuk menutupi kesedihannya. "