
Zafran masuk ke dalam apartemen milik Langit tanpa memberi salam dan tanpa mengetuk pintu. Ia sudah hafal pinnya di luar kepala. Untung saja Langit tidak pernah mengganti pin pengunci apartemennya.
"Kalian sudah pulang rupanya? Padahal tadi aku lebih dulu mampir ke lokasi penyelidikan. " kata Zafran sambil merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang terletak di ruang paling depan. Di sana juga ada televisi yang layarnya lebar. Langit dan Zidan juga ada di sana. Zidan sedang memainkan ponselnya sambil mengenakan headphone, sedangkan Langit sepertinya habis melamun.
"Sudah kubilang kan, mana sempat keburu telat. " ujar Langit.
Zafran menyambar remote televisi yang ada di atas meja. Ia berniat menyalakan televisi itu, tapi dengan cepat Langit mencegahnya.
"Jangan coba - coba menyalakan televisi, ya! Aku belum membayar pajak bulan ini. Kita bahkan belum menerima gaji. " larang Langit. Zafran memonyongkan bibirnya.
"Apa - apaan ini. Kenapa akhir - akhir ini uang tidak mau datang kepadaku? Ayah menyita mobilku, ibu memotong uang jajanku. Sekarang gaji pun belum bisa aku terima. Aahh, nasibku sungguh buruk sekali! " keluh Zafran sambil memegangi kepalanya yang mendadak pusing.
"Pak tua itu memberi kita waktu tiga hari untuk memecahkan kasus baru ini. Jika tidak, gaji kita akan dipotong. " kata Langit memberitahu. Zafran melotot tajam.
"Jangan melotot padaku seperti itu! Aku ngeri melihatnya. " ujar Langit kesal.
"Aahh, Pak tua Choku itu benar - benar menyebalkan. Bagaimana bisa kau bersedia menjadi anak angkatnya? " kata Zafran pada Langit.
"Namanya Chiko, bukan Choku. Kau selalu saja salah sebut. " tegur Langit kesal.
"Ya, ya, baiklah. Malam ini bolehkah aku tidur di sini? " pinta Zafran.
"Kau marah pada orang tuamu, tapi aku yang jadi korbannya. Ah, kau ini merepotkan sekali! " gerutu Langit.
"Malam ini kita pesan pizza saja. Tuan rumah yang traktir! " seru Zafran sambil bersandar di sofa dan memejamkan mata.
"Benar, kan. Selalu aku yang jadi korbannya. Suatu saat aku akan menagih semua hutangmu, ya! " ancam Langit tidak serius.
"Zidan, cepat pesan pizzanya! Tiga porsi jumbo seperti biasa... " sorak Zafran bersemangat. Langit memijat dahinya yang seketika terasa pusing. Sementara Zidan mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Langit mendadak teringat sesuatu. "Bagaimana keadaan Alyssa? " tanya Langit tiba - tiba.
"Dia sudah agak baikan katanya. Kenapa tiba - tiba kau bertanya tentang dia? " Zafran balik bertanya.
"Kalau kau ikut campur dan banyak bertanya lebih baik ku batalkan saja pemesanan pizzanya. " ancam Langit serius.
"Hei, hei, tenang! Baiklah, aku akan diam setelah ini. Ah, sepi sekali rasanya tanpa televisi. " keluh Zafran.
☁☁☁
Alyssa bersiap untuk tidur setelah meminum obatnya. Namun, tiba - tiba ponselnya berdering. Ia menyambarnya dari atas meja, dan segera terkejut ketika melihat nama kontaknya. Ternyata Langit yang menelepon. Alyssa lebih dulu melirik Keysha yang sekarang sudah tertidur pulas.
Alyssa menghela napas panjang, lalu mengangkat teleponnya sambil berbaring di atas kasur.
"Kau belum tidur? " tanya Langit dari seberang sana.
"Aku terbangun karena ponselku berdering. " jawab Alyssa berbohong.
"Kalau begitu, akan aku matikan sekarang. "
"Eh, jangan! Sebenarnya untuk apa kau meneleponku malam - malam begini? " tanya Alyssa.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik - baik saja. Kau sudah sembuh? "
"Belum. Tapi sudah agak baikan. Kenapa tiba - tiba kau peduli padaku? " Alyssa mengerutkan keningnya.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa. Sebenarnya kalau dipikir - pikir, tidak penting juga menanyakan bagaimana keadaanmu. Tapi sudahlah, aku terlanjur mengatakannya. "
"Kau memang harus melakukannya. Tutup telepon dan tidurlah setelah ini. Sebenarnya aku sedikit ragu mengatakan ini, tapi sudahlah. Lagi - lagi, aku sudah terlanjur mengatakannya. "
Alyssa tersenyum tanpa ia sadari. Ia segera menutup teleponnya setelah itu. Ia mengerubuti tubuhnya dengan selimut dan pergi tidur dalam keadaan senang.
☁☁☁
Langit tidak melihat Alyssa bersama ketiga sahabatnya di kantin siang ini. Itu artinya, Alyssa belum berangkat ke sekolah. Apa dia sakit separah itu hingga tidak berangkat sekolah selama dua hari? Jika Langit sakit ia hanya izin selama satu hari.
"Kau sedang mencari siapa? Jingga? " tebak Zafran sambil menyambar sebuah gorengan di atas meja kantin. Ia mulai mengunyahnya dengan lahap. Langit menoyor kepalanya dengan keras, membuatnya tersedak.
"Sudah kubilang jangan membicarakan dia lagi! Harus ku ulangi berapa kali, ha? " tegas Langit.
"Aku tidak sengaja mengatakannya. Baiklah, aku minta maaf! Kau menjadi sangat emosian sekarang. Lama - lama kau sama saja seperti perempuan yang sedang datang bulan. Selalu bersikap sensitif. " gerutu Zafran. Langit mencebik kesal. Sementara Zidan lagi - lagi sedang memainkan ponselnya.
"Aku heran. Kenapa kau betah sekali berlama - lama menatap ponselmu itu, ha? Harganya bahkan lebih murah dari ponselku. " kata Zafran.
Zidan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Jangan meledeknya seperti itu. Meskipun ponselnya lebih murah, otaknya lebih mahal darimu. Pak tua Chiko itu bahkan berencana akan menaikkan gajinya. " ujar Langit. Zidan tersenyum puas mendengar Langit membelanya.
"Ini tidak adil. Aku bahkan sudah bekerja lebih keras darinya. " protes Zafran.
"Lebih keras apanya? Kau bahkan tidak mengikuti penyelidikan bersama kami berdua kemarin. " omel Langit.
"Nanti aku juga akan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Jadi, jam berapa kita akan memulai penyelidikan hari ini? " tanya Zafran.
"Mana sempat, keburu telat. " celetuk Langit.
"Apa maksudmu? " tanya Zafran.
"Kami sudah berhasil menemukan sidik jarinya. Zidan juga sudah melacak lokasi pelaku pembunuhan. " jawab Langit santai. Kasus seperti ini sudah biasa baginya.
"Pelaku pembunuhan di mansion yang kemarin adalah orang yang sama dengan pelaku pembunuhan di luar kota. Ia sudah beraksi selama lebih dari empat kali, dan belum ada polisi yang berhasil menangkapnya. Ia menjadi buronan. Oleh sebab itu, ia sering berpindah - pindah dari tempat satu ke tempat yang lainnya. " jelas Zidan.
"Sepertinya dia sudah sangat ahli melakukannya. Memangnya siapa dia? Siapa tahu aku bisa berguru padanya. " kata Zafran bercanda.
"Dia adalah... Ayahnya Jingga. "
☁☁☁
Seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket hitam itu menyerahkan sejumlah uang pada Langit. Uang itu dibungkus dalam sebuah amplop putih. Langit menerimanya dengan bersemangat.
"Ini gajimu. Selamat, kau berhasil lagi! " puji pria paruh baya bernama Pak Chiko itu.
Langit tersenyum penuh kemenangan. "Aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku mau. "
Pak Chiko tersenyum simpul mendengarnya. "Kau benar - benar mirip dengan ayah kandungmu. Kau mewarisi sebagian besar sifatnya. "
"Di mana dia sebenarnya? Kenapa dia tidak pernah datang untuk menengokku meski hanya sekali saja? " tanya Langit.
"Sudah kubilang, aku bahkan tidak tahu kabarnya sekarang. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati. " jawab Pak Chiko. Setelah mengatakannya, ia berlalu pergi meninggalkan Langit.
Langit memandangi mobil Pak Chiko yang terparkir di depannya. Ia mendekat dan menendang bagian sampingnya hingga bengkok ke dalam.