
Alyssa berlari kecil menuju tenda Langit. Sampai di sana, ia langsung berjongkok untuk melihat ke dalam tenda. Pintu tendanya memang tidak ditutup, jadi dia berani menengok. Ia melihat Langit lagi - lagi sedang memainkan ponselnya. Sepertinya Langit tidak menyadari kedatangan Alyssa karena ia memakai headphone.
"Langit! " panggil Alyssa dengan sangat keras. Langit menoleh dengan terkejut. Alyssa tertawa dalam hati melihat reaksinya.
"Kenapa kau ini? Lain kali permisi dulu. Ini bukan tendamu hingga kau bisa berbuat seenaknya. " omel Langit geram sambil melepas headphonenya.
"Baiklah, maaf. Sebenarnya aku butuh bantuanmu. Kau kan bisa tahu apa saja. Jadi, aku minta tolong untuk mencarikanku dua orang siswa di sekolah kita yang mau mengisi acara api unggun. Bisa dengan deklamasi puisi, menyanyi, atau yang lainnya. Kau bisa membantuku, kan? " pinta Alyssa dengan mata berbinar. Langit memutar bola matanya malas.
"Tidak. Aku sibuk. " jawab Langit sambil kembali memakai headphonenya. Alyssa menarik headphone itu dengan sedikit keras karena geram.
"Ayolah, kumohon! Kau bisa membantuku, kan? Kumohon bantu aku! " desak Alyssa sambil terus menarik - narik headphone milik Langit.
"Aduh, aduh! Apa - apaan kau ini? Lepas, jangan tarik - tarik! Telingaku sakit! " seru Langit. Alyssa melepas tarikannya dan melipat tangannya di depan dada.
"Kalau begitu kau harus membantuku. Keputusanku sudah mutlak! " ujar Alyssa. Langit memutar bola matanya malas. Tiba - tiba, sebuah ide terlintas di pikirannya. Ia tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa kau tersenyum begitu? Senyummu itu seperti orang jahat yang berhasil menjalankan rencananya. " tegur Alyssa.
"Aku akan membantumu. Kau tidak perlu khawatir. Sekarang, kembalilah ke tendamu. Aku yang akan atur semuanya. " kata Langit. Alyssa memicingkan matanya.
"Benarkah? Kau akan membantuku? Tapi katakan siapa orangnya, biar ku catat. Aku akan segera melapor pada Hanan. "
Langit menggeleng cepat. "Kau tidak boleh mengetahui orangnya sekarang. Tunggu saja nanti saat acara api unggun. Kau butuh berapa orang untuk tampil tadi? Dua, kan? "
Alyssa mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Tepati bicaramu, ya! Jika kau berbohong, aku yang akan menjadi korbannya. "
"Baiklah, tenang saja. Aku jamin itu. Sudah, pergilah! Kau mengganggu waktu istirahatku. " ujar Langit.
"Hei, tunggu! Kenapa kau malah enak - enakan di sini, ha? Yang lain sedang mengikuti acara dinamika kelompok di mess bawah. Cepat, pergilah ke sana! Kedua temanmu juga sudah ada di sana, kan? " titah Alyssa.
"Tidak, tidak. Aku sedang malas. Sebentar lagi acaranya juga pasti selesai. Aku akan mandi sekarang, mumpung tidak ada antrean. " kata Langit santai.
"Oh, begitu ya? Baiklah. Jika tidak bisa dengan cara baik - baik, akan ku lakukan dengan caraku sendiri. " Alyssa menarik - narik headphone milik Langit lagi. Kali ini dengan lebih keras dari sebelumnya.
"Hentikan, hentikan! Jika rusak kau tidak akan bisa menggantinya. Aku membelinya dengan sangat mahal! " seru Langit.
"Tidak akan kulepaskan! " ujar Alyssa geram.
"Baiklah, baiklah! Aku akan turun ke mess. Lepaskan! " titah Langit. Alyssa melepaskan tarikannya.
"Baguslah kalau begitu. Sampai jumpa, jangan lupa nanti malam ya! " kata Alyssa sambil berlalu pergi dengan terburu - buru.
Langit tersenyum sinis. "Ada - ada saja. "
"Alyssa, boleh aku duduk di sampingmu? " pinta Aga. Hei, tunggu! Aga? Kenapa tiba - tiba dia ada di sini? Alyssa mengedarkan pandangannya, mencari ketiga sahabatnya yang tadi duduk di sampingnya. Mereka ada di barisan paling belakang. Saat ini mereka tengah tersenyum jahil ke arahnya. Ah, pasti mereka sengaja melakukan ini supaya Aga bisa mendekatinya.
"Terserah, " jawab Alyssa ketus. Aga segera duduk di sampingnya. Menyadari bahwa jarak mereka terlalu dekat, Alyssa segera menggeser posisi duduknya.
Aga heran dengan reaksinya. Tapi biar saja, Alyssa sengaja melakukannya. Dulu, ia senang jika berada dekat dengan Aga. Sekarang entah mengapa keadaan berbalik. Alyssa juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Yang pasti, hatinya seperti mati rasa ketika Aga berada di dekatnya. Ia seperti tidak merasakan tanda - tanda apapun seperti jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia sudah tidak pernah merasakan tanda khusus itu lagi.
"Kenapa kau tidak tampil? Kau suka menyanyi, bukan? " tanya Aga.
"Kenapa tidak kau saja yang tampil? " jawab Alyssa ketus. Aga merasa ada yang berbeda dengan Alyssa.
"Apa kau marah padaku? " tanya Aga spontan.
"Untuk apa aku marah padamu? Aku biasa saja. " ujar Alyssa.
"Baiklah. Kita nikmati saja acara api unggunnya, benar kan? " kata Aga.
"Itu kau tahu. Sebaiknya diamlah, jangan banyak bicara. " ujar Alyssa. Aga mengangguk patuh.
Sepuluh menit kemudian, acara api unggun dimulai. Pentas seninya berjalan dengan sangat meriah. Alyssa benar - benar menikmatinya. Ia bahkan bertepuk tangan dengan keras ketika pelaku pensi selesai menunjukkan bakatnya. Itu sebagai bentuk apresiasi darinya.
Akhirnya, sampailah pada penghujung acara. Hanan dan Nindy yang menjadi pembawa acara mengumumkan bahwa peserta terakhir akan segera tampil. Alyssa penasaran, siapa yang akan tampil selanjutnya ya?
Alyssa terkejut ketika dua orang menaiki panggung outdoor. Ia duduk di tribun penonton dengan merinding. Entah kenapa tiba - tiba bulu kuduknya berdiri. Kalian tahu siapa yang akan tampil?
Dia tak lain adalah Langit yang kini duduk sambil membawa gitar. Sedangkan satu orang yang lain adalah seorang gadis yang masih asing dimata Alyssa. Alyssa memang tidak mengenalinya, tapi ia merasa pernah berpapasan dengan gadis itu di sekolah.
Tak berapa lama kemudian, Langit mulai memetik senar gitarnya. Sementara gadis yang duduk di sampingnya mulai bernyanyi. Alyssa akui, suaranya memang merdu dan sedap didengar. Gadis itu menyanyikan lagu berjudul "I Like You So Much, You'll Know It" yang juga merupakan salah satu dari sekian banyaknya lagu favorit Alyssa.
Alyssa melihat Aga di sampingnya yang tersenyum menikmati lagu. Begitu juga dengan orang - orang di sekitarnya. Namun, mengapa Alyssa merasa ada yang aneh dengannya?
Seharusnya ia juga menikmati lagu itu seperti yang lain. Terlebih lagi, lagu itu merupakan salah satu lagu favoritnya. Namun, sekarang Alyssa justru merasa mual. Ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Reaksi macam apa yang sedang dialaminya ini?
"Alyssa, kau kenapa? Tidak suka lagunya? " tanya Aga saat melihat gerak - gerik Alyssa yang aneh.
Alyssa menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak apa - apa. Aku sangat suka lagunya. "
Aga manggut - manggut tanda mengerti. Ia kembali menatap ke depan, melihat penampilan Langit dan gadis itu.
"Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa menikmati lagunya dengan tenang seperti yang lain? Apa aku sakit, ya? Obatku kan ketinggalan. " gumam Alyssa.
Pertunjukan itu pun selesai. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah, bahkan ada beberapa yang sampai bersorak ria. Alyssa hanya diam mematung sambil menatap lurus ke arah Langit. Dari atas panggung, Langit menatap Alyssa sambil tersenyum penuh kemenangan.