Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 27 : Kaus Kaki Bau



Langit terkejut ketika turun dari panggung lewat tangga belakang. Rupanya Dira sudah menunggunya di sana.


"Mau apa dia? " gumam Langit.


Langit segera turun dari tangga yang berada tepat di belakang panggung. Dira menyambutnya dengan senyuman. Langit hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Mau apa kau ke sini? " tanya Langit heran. Dira memberikan seplastik teh hangat pada Langit. Langit menerimanya dengan perasaan bingung.


"Itu hadiah untukmu. Yang tadi itu keren sekali. Kemampuan main gitarmu tambah bagus juga, ya? " puji Dira. Langit menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ehmm, begitulah. Terima kasih untuk tehnya. Tapi sebenarnya aku lebih suka minuman dingin. " kata Langit.


"Aku memberimu yang hangat karena cuaca di sini sangat dingin. " Langit dan Dira mulai berjalan beriringan.


"Baiklah. Tehnya sudah ku minum, mau apa kau terus mengikutiku? " tanya Langit heran. Sikap Dira sepertinya agak aneh belakangan ini. Atau mungkin sudah sejak lama, ya? Yang jelas Langit tidak tahu sejak kapan Dira berubah seperti itu.


"Aku hanya ingin mengantarmu sampai ke tenda. Acara api unggun juga sudah selesai, kok. " jawab Dira.


"Tidak, tidak. " Langit menghentikan langkahnya.


"Aku tidak mau kau mengantarku sampai ke tenda. Memangnya aku ini perempuan, apa? Kembalilah ke tendamu sendiri. " titah Langit.


"Aku hanya akan mengikutimu sampai ke tendaku, kok. " pinta Dira.


"Bagaimana bisa? Tenda kita saja berlawanan arah. Ada - ada saja kau ini. " gerutu Langit. Dira menepuk dahinya sendiri.


"Astaga, aku lupa! Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa! " ujar Dira. Ia berlari menjauh dari Langit, menuju ke tendanya. Langit hanya melongo memandangi punggung Dira yang perlahan menghilang di gelapnya malam.


☁☁☁


Langit masih belum bisa tidur. Ada suatu hal yang sangat mengganggu pikirannya. Zafran yang baru saja kembali dari mess guru pun heran melihatnya masih bangun.


"Kau belum tidur juga? Zidan saja sudah nyenyak begitu kelihatannya. " tanya Zafran.


"Aku tidak bisa tidur. Sepertinya aku tidak akan tidur malam ini. Kau juga, kenapa baru kembali dari tadi? "


Zafran meringis. "Sebenarnya tadi aku diajak makan bersama dengan para guru. Makanan di sana enak - enak. "


"Kenapa tidak membawakan untukku juga? " protes Langit sambil menoyor kepala Zafran.


"Memangnya di sana itu warteg? Ada - ada saja kau ini. Aku tidak bisa main bungkus makanan begitu saja, tahu! " Zafran membela diri.


"Baiklah, kau ku maafkan. " ujar Langit. Zafran melongo heran.


"Memangnya aku berbuat salah padamu, ha? Kau ini, suka mengada - ada. Satu lagi, jangan coba - coba memotong gajiku, ya! " titah Zafran.


"Itu tidak akan ku lakukan jika kau bekerja dengan benar. "


"Aku sudah bekerja dengan benar. Tapi gaji bulan ini belum kau berikan juga. Jangan - jangan kau menggelapkannya. " tukas Zafran. Lagi - lagi, Langit menoyor kepala Zafran.


"Enak saja. Aku masih punya banyak uang. Tidak mungkin aku menggelapkan gajimu. Kita memang belum mendapat gaji. Bahkan kita belum menemukan kasus baru. " kata Langit.


"Benar juga, ya! Sudah lama kita tidak bekerja rupanya. Kalau begitu, ambil pisau di dekat kompor itu! Bunuh Zidan segera, mumpung dia tertidur. Ayo, cepat lakukan! " titah Zafran tidak serius.


"Kenapa tidak kau saja? Aku kan kaptennya di sini. Harus ku katakan berapa kali padamu supaya kau tidak lupa, ha? " ujar Langit sewot.


"Baiklah, kalau begitu kita cari cara lain saja. " Zafran berpikir sejenak. Ia kemudian segera mendapat ide. Ia mengambil kaus kaki yang sengaja ia taruh dalam sepatunya.


"Terakhir seingatku sudah tiga bulan yang lalu. " kata Zafran dengan santainya.


"Menjijikkan! " Langit bergidik.


Zafran menggerak - gerakkan kaus kakinya itu di depan muka Zidan. Saking baunya, Zidan yang sudah terlelap dengan nyenyak spontan terbangun sambil menutup hidungnya.


"Bau apa ini? " Zidan langsung mengubah posisinya yang tadi berbaring menjadi duduk.


"Ayo, cium kaus kaki ini sampai kau mati! Cepatlah, lakukan! " desak Zafran.


"Apa - apaan ini? Jangan macam - macam kau. Hei, menjauh dariku! Jauhkan kaus kaki bau itu dari hidungku! " seru Zidan sambil bergidik karena jijik. Zafran tidak mendengarkan perkataannya. Ia bahkan terus mendekatkan kaus kaki itu ke arah muka Zidan. Langit terus tertawa melihatnya.


"Hei, cepat ciumlah! Cium terus baunya sampai kau mati, aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan gajiku. Kalau kau mati, aku akan mendapat kasus baru. Aku akan mendapat banyak uang gaji, hahaha! " Zafran tertawa jahat.


"Hei, kau ini kenapa? Ini tidak adil. Hei, menjauh dariku! Kaus kakimu itu baunya melebihi sampah. " gerutu Zidan sambil terus berusaha menghindari kaus kaki Zafran.


"Ayolah, kawan! Matilah kau, dan aku akan mendapat kasus baru. Aku akan berlagak menyelidiki kasus kematianmu dan otomatis aku akan mendapat kenaikan gaji. " kata Zafran bercanda. Langit terus tertawa lepas sambil memegangi perutnya yang sakit.


"Langit, kunci pergerakannya! " titah Zafran.


"Baiklah! " Langit bersiap untuk mendekati Zidan, tapi ia segera menyadari sesuatu.


"Hei, tunggu sebentar! Kenapa kau menyuruhku, ha? Di sini aku kaptennya. " kata Langit.


"Sudahlah, jangan pedulikan itu. Cepat kunci pergerakannya! " titah Zafran dengan tidak sabar.


"Hah! Enak saja, aku tidak mau di suruh - suruh. Di sini aku kaptennya. " tolak Langit sambil melipat tangannya di depan dada. Zidan menghela napas lega karena Langit menolak perintah Zafran. Setidaknya ia masih bisa menghindar dari kaus kaki Zafran.


Zidan hampir saja kabur dari tenda, namun Zafran dengan cepat menangkapnya.


"Mau kabur ke mana kau, ha? Sekarang kau buronanku. " kata Zafran.


"Apa - apaan kau ini, lepaskan! Hueeekk, kaus kaki macam apa itu. Hueekk! " Zidan mulai tidak tahan dengan baunya.


"Bisa - bisa dia benar - benar mati. " celetuk Langit. Zafran menoleh ke arah Langit. Zafran dan Langit saling bertatapan, dan tak lama kemudian mereka tersenyum lebar.


"Kita akan dapat gaji! " seru mereka bersamaan. Zidan melongo panik mendengar seruan Zafran dan Langit yang kompak.


Langit mendekati Zidan dan segera mengunci pergerakannya. Ia menangkap tubuh Zidan dari belakang dan mengunci kedua tangannya.


"Kau tidak bisa kabur sekarang! " Langit tertawa lepas. Zafran pun ikut tertawa mendengarnya.


Zafran segera kembali beraksi. Ia menggerak - gerakkan kaus kaki bau itu tepat di depan hidung Zidan.


Zidan yang sulit bergerak kini hanya sanggup berpasrah. Ia berusaha mengambil napas dari mulutnya.


"Cium baunya, cium terus ayooo! " seru Zafran.


"Kalian curang. Ini namanya menusuk dari belakang. Ah, tidak adil! " protes Zidan sambil terus berusaha memalingkan mukanya dari kaus kaki bau itu.


"Aku akan segera mendapatkan gaji, aku akan dapat gaji! " celoteh Zafran.


"Kenapa kau tidak mati - mati, ha? " kata Langit bercanda.