Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 16 : Sebuah Pesan



"Langit tidak datang kemari? " tanya Alyssa ketika sedang bermain bersama Maya di ruang tamu.


"Kak Langit bilang ia sedang berusaha membantu mewujudkan doa Kak Ica. Apa Kak Ica berdoa supaya bisa bermain berdua saja bersamaku sehingga Kak Langit tidak datang kemari untuk sementara waktu? " tanya Maya dengan lugu.


"Langit bilang begitu? " Alyssa balik bertanya. Maya seketika menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


"Ups! Sepertinya aku keceplosan. Kak Langit bilang ini rahasia kami berdua, jadi aku tidak boleh mengatakannya pada Kak Ica. Bagaimana ini, sekarang sudah terlanjur ku katakan. Kenapa aku tidak pandai menjaga rahasia, ya? Aku selalu saja keceplosan. " Maya mengoceh pada dirinya sendiri. Alyssa tersenyum mendengarnya.


"Tidak apa - apa, itu bukan salahmu. Kau kan tidak sengaja mengatakannya. " ujar Alyssa. Maya membelalakkan matanya.


"Kak Ica mendengarnya? Kak Ica dengar yang tadi ku katakan? " tanyanya panik. Alyssa sedikit tertawa.


"Tidak perlu panik begitu. Aku tidak akan mengadukanmu pada Langit. Lagipula, tadi kau kan tidak sengaja mengatakannya. Jadi, kau tidak salah. " hibur Alyssa.


"Benar juga, ya! Baiklah kalau begitu. Maya mau main sama boneka lagi. Kak Ica minum tehnya dulu saja, nanti keburu dingin. " kata Maya akhirnya. Ia kemudian sibuk memainkan boneka teddy bear ditangannya.


Jadi itu alasannya mengapa ia tak lagi bertemu dengan Langit beberapa hari ini? Seketika ia menyesali doanya. Ia bahkan menarik kata - katanya. Ia merasa tidak enak hati pada Langit.


Mungkinkah Langit tersinggung karena ucapannya tempo hari sehingga Langit sengaja menghindarinya?


Atau Langit memang benar - benar ingin membantu mewujudkan doanya itu? Tapi kenapa Langit harus melakukannya?


Kenapa Langit harus repot - repot bersembunyi darinya beberapa hari ini hanya karena perkataan Alyssa tempo hari? Alyssa semakin merasa bersalah memikirkannya.


☁☁☁


Alyssa menghampiri Zafran seusai rapat. Saat itu Zafran tengah menyiapkan tenda yang akan dipakai untuk kegiatan rutin tahunan yang tak lain adalah kemah.


"Zaf, bisa minta tolong? " tanya Alyssa.


"Minta tolong apa, ya? Minta tolong kasih tanda tangan, atau minta tolong kasih foto aku yang paling bagus buat dipajang jadi foto profil? Yang penting jangan minta traktiran dulu, sedang dalam masa tidak punya uang karena krisis ekonomi. " celetuk Zafran. Alyssa memutar bola matanya kesal. Untung saja rayuan si buaya darat itu tidak berpengaruh bagi Alyssa.


"Ini serius, Zaf! " ujar Alyssa.


"Baiklah, katakan saja. " kata Zafran akhirnya.


"Tapi jangan dianggap serius, ya! " pinta Alyssa.


"Kau ini bagaimana, sih? Tadi kau bilang ini serius. Sekarang kau memintaku untuk tidak menganggapnya serius. Ternyata semua gadis memang seperti itu. Membingungkan, " gerutu Zafran.


"Bukan begitu maksudku. Ketika aku mengatakannya, kau harus berjanji agar tidak meledekku. Kau juga harus berjanji untuk tidak mengatakan ini pada siapapun. SIAPAPUN! " Alyssa menegaskan.


"Memangnya hal yang ingin kau katakan seprivat itu hingga orang lain tidak boleh mengetahuinya? "


"Kau kau membantuku atau tidak? "


"Baiklah, baiklah. Cepat katakan! " ujar Zafran akhirnya.


"Aku... Ingin meminta nomor telepon Langit. " kata Alyssa setelah mengumpulkan niat untuk mengatakannya. Zafran yang terkejut spontan mendongak ke arah Alyssa.


"Apa? " tanya Zafran setengah tidak percaya. Ia kemudian berdiri di depan Alyssa. Jarak mereka tidak jauh, tapi juga tidak terlalu dekat.


"Aku tidak bertanya. Tapi, aku heran. Belum lama ini Langit juga meminta nomor teleponmu. Apa dia tidak menghubungimu? Lalu untuk apa dia memintanya? "


"Kau memberinya nomor teleponku? Bisa - bisanya kau menyebarkan nomorku tanpa izin! " nada suara Alyssa meninggi.


"Hei, hei, tenang! Aku terpaksa memberikannya karena Langit terus saja memaksaku. Jadi, itu bukan salahku. " Zafran membela diri.


"Itu artinya, dia menyimpan nomor teleponku? " tanya Alyssa memastikan.


"Tentu saja, " jawab Zafran dengan cepat.


"Kalau begitu, cepat berikan nomor teleponnya! "


☁☁☁


Sudah satu jam berlalu. Selama itu pula Alyssa hanya berbaring sambil melihat ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia masih berusaha mengumpulkan niat untuk mengirim pesan pada Langit.


Mau ditaruh di mana mukanya nanti jika ia yang lebih dulu mengirim pesan pada laki - laki? Bukannya kodrat seorang gadis adalah menunggu?


Namun, apa ia harus menunggu untuk meminta maaf? Tidak. Ia tidak bisa menunggu lagi. Hatinya tidak tenang jika ia terus saja bungkam. Ia merasa sangat tidak enak hati pada Langit.


Karena doa Alyssa yang ia ucapkan tempo hari dengan gegabah dalam keadaan emosi, Langit harus repot - repot menghindarinya. Bukankah bersembunyi dari seseorang itu sangatlah sulit? Lalu mengapa Langit bisa dengan mudah melakukannya? Ia bahkan berhasil menyembunyikan batang hidungnya dengan baik dari penglihatan Alyssa.


Alyssa meraih ponselnya. Ia menggeser panel ponsel yang sengaja tidak di password. Ia mulai mengetik pesan di kontak Langit.


Setelah pesan itu terkirim, Alyssa mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Ia berbaring sambil menarik selimutnya dengan terburu - buru. Ia menutup tubuhnya dengan selimut itu, lalu menutup mukanya sendiri dengan bantal. Ah, ia malu sekali...


☁☁☁


Langit yang sedang berbaring di ranjang tidurnya sambil melihat ke atas spontan menoleh karena ponselnya bergetar.


Drrrtt! Drrrtt!


Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas dengan malas. Memangnya siapa yang mengirim pesan padanya malam - malam begini?


Langit hampir saja melempar ponselnya ketika melihat nama Alyssa tertera di sana. Sudah lama ia menyimpan nomor itu, tapi tak pernah sekalipun mencoba untuk menghubunginya atau sekadar mengirim pesan. Langit membaca pesan dari Alyssa dengan saksama.


Aku sudah menarik kata - kataku tempo hari. Jadi kau tidak perlu lagi repot - repot menghindariku. Tidak usah berlagak sembunyi seperti buronan. Lagipula, aku juga tidak akan mencarimu.


Langit terkekeh melihat pesan itu. Sepertinya Maya membocorkan rahasia mereka pada Alyssa. Langit kembali berbaring sambil tersenyum sendiri. Ia menatap langit - langit kamarnya sambil membayangkan sesuatu.


Seperti bagaimana ekspresi Alyssa saat mengetik pesan itu, dan bagaimana reaksi pertamanya saat menyadari bahwa Langit memang sengaja menghindarinya.


Langit tertawa membayangkannya. Namun, tak berapa lama kemudian ia menyadari sesuatu. Kenapa ia jadi memikirkan gadis itu?


"Ah, kenapa aku terus saja memikirkannya? " Langit menepuk kepalanya sendiri berkali - kali. Namun, bayangan Alyssa tak kunjung hilang dari pikirannya.


"Menjauh dari pikiranku! Kalau begini terus aku tidak bisa tidur. " oceh Langit.


Ia terus mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Sayangnya tetap tidak bisa. Bayangan Alyssa masih menari - nari di pikirannya. Langit bersikeras mengusir bayangan itu dari pikirannya. Namun, dibalik itu semua, sebenarnya ada sesuatu yang sedang mencoba hinggap di hatinya.