Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 12 : Menemani Maya



Alyssa duduk di gazebo rumah Bu Anggi bersama Maya dan manusia paling menyebalkan di dunia. Siapa lagi jika bukan Langit. Karena hari ini sekolah libur, Alyssa berniat mengunjungi Maya dan mengajaknya bermain. Tak lupa ia membawa es krim seperti janjinya tempo hari. Ternyata Langit sudah lebih dulu sampai di sana.


Alyssa bermain boneka teddy bear bersama Maya, sementara Langit hanya duduk sambil menahan kepalanya menggunakan kedua tangan di atas meja. Seperti gaya Cherrybelle.


"Untuk apa kamu ke sini jika hanya duduk mematung seperti itu dari tadi? Lebih baik kamu pulang saja sana! " usir Alyssa.


"Lalu apa, kamu mau menyuruhku bermain boneka? Menurutmu aku ini laki - laki macam apa? " Langit tidak menghiraukan. Ia tetap pada posisinya. Sebenarnya diam - diam Alyssa mengakui bahwa Langit tampak lucu jika sedang seperti itu.


"Kak Ica, jangan usir Kak Langit. Kak Langit itu temannya Maya. Kak Langit selalu datang ke sini menemani Maya. Sedangkan Kak Ica hanya datang saat sekolah libur. " kata Maya jujur. Langit dan Alyssa spontan menatapnya.


"Benarkah? Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak bisa datang ke sini setiap hari karena ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Tapi, tunggu! Kenapa kamu memanggilku Kak Ica? " tanya Alyssa penasaran. Sekarang ia meniru gaya Langit. Ia menahan kepalanya dengan kedua tangan di atas meja seperti gaya Cherrybelle.


"Habisnya, nama kakak panjang sekali. Bolehkah aku memanggilmu Kak Ica saja? Nama itu lebih mudah diucapkan. " pinta Maya.


"Baiklah. Aku senang mendapat panggilan khusus darimu. " Alyssa mengacak rambut Maya dengan riang. Maya tidak marah, ia justru tersenyum. Ia senang mendapat perlakuan seperti itu. Toh, Alyssa melakukannya bukan dengan kasar, tapi dengan penuh kasih sayang seperti ibunya dulu.


"Memangnya pekerjaan apa yang kakak lakukan jika tidak sedang libur sekolah? " tanya Maya penasaran. Kini ia pun juga meniru gaya Langit. Mereka bertiga tampak kompak memakai gaya yang sama.


"Emm, sangat banyak. Di sekolah aku sibuk sekali mengurus persiapan kemah. Di rumah aku juga sibuk membantu ibu. " jawab Alyssa jujur. Sedari tadi Langit hanya diam mendengarkan pembicaraan Alyssa dan Maya.


"Kak Ica sibuk sekali ya, seperti ayahku. Ayahku juga sangat sibuk hingga tidak pernah menemaniku bermain lagi. Bahkan sekarang ayahku jarang pulang ke rumah ini. Ayahku punya dua rumah, Kak. Aku memang punya ayah yang kaya, tapi aku sedih karena ayah tidak pernah punya waktu untukku. Sekarang aku tidak sedih lagi, karena ada Kak Langit dan Kak Ica yang menemaniku bermain di sini. " ungkap Maya dengan lugu.


Alyssa tersenyum sambil membelai rambut Maya dengan lembut. Ia merasa iba pada anak kecil di sampingnya itu. Di usia yang masih sangat belia, ibunya sudah tiada. Terlebih lagi, ayahnya kini tidak pernah punya waktu untuknya. Sepertinya, Maya merasa sangat kesepian selama ini. Alyssa jadi ingin lebih sering menemaninya. Alyssa ingin Maya merasa ada banyak orang yang sayang padanya, seperti ibunya yang kini telah tiada.


"Kamu benar. Seharusnya kamu tidak boleh sedih lagi. Karena sekarang aku di sini menemanimu. " hibur Alyssa. Maya merentangkan kedua tangannya, berniat memeluk Alyssa. Alyssa ikut merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluk Maya. Mereka berdua berpelukan sangat lama. Langit yang duduk di depan mereka diam - diam tersenyum melihat mereka berpelukan.


☁☁☁


Alyssa dan Langit duduk di ruang makan rumah Bu Anggi karena Maya memaksa mereka ikut makan siang bersama. Bibi Inah, asisten rumah tangga di rumah Bu Anggi sekarang tengah memasak makanan di dapur. Alyssa baru mengetahui namanya dari Maya beberapa menit yang lalu.


Alyssa kini duduk di depan Langit sambil menunduk karena tidak ingin bertatapan dengan sorot mata Langit yang tajam seolah mengintimidasi. Maya sedang menemani Bibi Inah memasak di dapur yang tidak mempunyai sekat dengan ruang makan. Sebenarnya Alyssa juga ingin membantu, tapi Maya bersikeras melarangnya karena baginya tamu adalah raja.


"Kamu sudah meminta maaf pada Edo? " Langit mengawali pembicaraan. Alyssa mengangkat kepalanya yang tadi menunduk. Ia menatap Langit yang kini tersenyum jahil.


"Bukannya kamu baru saja menuduhnya telah memasang alat penyadap di bawah meja? " Alyssa membelalakkan matanya karena ternyata Langit juga sudah mengetahui hal itu. Ia jadi semakin curiga pada Langit. Bagaimana bisa ia selalu tahu apapun yang dilakukan Alyssa?


"Tentu saja tidak. A - aku hanya bercanda. " jawab Alyssa dengan sedikit terbata karena malu atas perbuatannya sendiri. Ah, kenapa Langit harus tahu hal itu juga?


"Benarkah? Kamu hanya bercanda? Jadi, menuduh Edo dan menjambak rambutnya hingga membuat seisi kelas gaduh pada saat jam pelajaran Bu Reni sedang berlangsung itu hanya bercanda? " Alyssa memalingkan muka sambil merutuki dirinya sendiri. Ia malu sekali. Tapi bagaimana bisa Langit mengetahuinya sampai sedetail itu?


"Diamlah! Atau kamu akan bernasib sama seperti Edo. " ancam Alyssa. Langit justru tertawa mendengar ancamannya. Di saat seperti itu Alyssa terlihat sangat lucu dimatanya. Sepertinya, ia mulai menyukai ekspresi Alyssa saat sedang marah.


"Apa kamu akan menjambak rambutku juga? " tanya Langit. Alyssa memicingkan matanya.


"Jika kamu tidak segera diam aku pasti akan melakukannya. " ujar Alyssa sambil terus mempertahankan ekspresi marahnya. Langit semakin tertawa melihat ekspresi yang menurutnya sangat lucu itu.


"Makanannya sudah siap! " seru Bu Inah dengan muka berseri - seri. Ia senang kini ada yang menemani Maya. Ia iba jika melihat Maya menangis karena kesepian dan ingat ibunya.


Alyssa dan Langit spontan menyudahi perbincangan mereka ketika Bu Inah dan Maya datang. Mereka mulai tenggelam dalam kesibukan mengunyah makanan masing - masing. Namun, sepertinya Langit masih belum bisa mengendalikan suasana hatinya yang ingin tertawa lepas.


Alyssa melihat Langit makan sambil menahan tawa. Itu membuatnya jadi semakin merasa kesal pada lelaki yang kini duduk di depannya.


Lalu, sesuatu terjadi. Karena terus saja menahan tawa, Langit tersedak makanannya sendiri. Maya dan Alyssa terkejut melihatnya. Langit segera meneguk minumannya dengan cepat.


"Apa Kak Langit tersedak permen seperti waktu Maya masih kecil dulu? " tanya Maya dengan lugu.


"Tidak. Dia hanya alergi nasi. " kata Alyssa spontan. Bu Inah yang mendengar candaannya pun terkekeh pelan. Sementara Langit tidak menghiraukannya karena sedang minum.


"Benarkah? Aku tidak tahu kalau Kak Langit alergi nasi. Kalau begitu, nasinya tidak usah dimakan saja. Nanti biar Maya kasih ke kucing tetangga. " ujar Maya. Alyssa tersenyum lebar mendengarnya karena ternyata Maya menganggapnya serius. Anak sekecil ini mana mungkin paham tentang candaan.


"Benar sekali. Itu ide yang bagus. Tapi, lebih bagus lagi kalau Maya yang makan nasinya. " Alyssa menarik piring Langit dengan paksa. Bahkan Langit tak sempat mengamankan piringnya.


"Ini, Maya harus makan nasinya sampai habis, ya! Supaya Maya cepat besar. " kata Alyssa sambil memindahkan nasi dari piring Langit ke piring Maya. Bi Inah kembali terkekeh melihatnya. Sementara Langit terdiam, tak mampu berkata - kata. Ia hanya melongo sambil berkedip beberapa kali karena nasi di piringnya kini habis tak bersisa.