
Langit berkunjung ke rumah Maya hari ini. Ia datang tanpa membawa es krim, tidak seperti hari - hari sebelumnya.
"Mengapa Kak Langit tidak membelikan es krim untukku? " tanya Maya ketika menyambut Langit dan melihatnya datang dengan tangan kosong.
"Aku tidak ingin Maya sakit seperti Kak Ica. Es krim itu tidak baik jika dikonsumsi terlalu sering. " jawab Langit.
Maya tampak sangat terkejut mendengarnya. "Apa? Jadi Kak Ica sedang sakit, ya? " tanyanya ingin tahu. Langit mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, ayo kita pergi menjenguknya! Kak Langit juga harus mampir ke toko buah untuk membeli oleh - oleh. " ajak Maya.
"Tidak bisa hari ini. Kita jenguk Kak Ica besok saja, ya? " bujuk Langit. Maya menggeleng pelan.
"Maya maunya sekarang. Ya, ya, ya? " pinta Maya. Langit tidak tega menolak permintaan Maya hanya karena ia melihat binar mata indah itu. Sorot mata Maya justru mengingatkannya pada Alyssa. Meski ia selalu menepis hal itu dari pikirannya.
"Baiklah. Kita pergi sekarang, ya? Tapi Maya izin dulu sama Bibi. " kata Langit. Maya mengangguk sambil tersenyum ceria.
☁☁☁
Maya dan Langit sampai di depan rumah Alyssa. Maya berteriak girang saat melihat pohon mangga yang tumbuh subur di halamannya.
"Wah, rumah Kak Ica ada pohon mangganya, ya? Maya jadi ingin memetiknya. " kata Maya.
"Maya suka buah mangga? " tanya Langit. Maya mengangguk mengiyakan.
"Dulu, Maya dan ibu sering sekali memetik buah mangga. Maya sangat suka buah mangga. " jawab Maya ceria. Langit hanya tersenyum mendengarnya.
"Nanti Kak Langit bilang ke Kak Ica, ya? Supaya Maya dikasih mangganya. " kata Langit. Maya mengangguk setuju.
"Asyiiikkk! "
"Siapa, ya? " tanya Venna heran saat ia keluar rumah.
"Saya Langit, Tante. Ini Maya, anaknya mendiang Bu Anggi. Kami datang ke sini untuk menjenguk Alyssa. Katanya, dia sedang sakit. " kata Langit dengan sopan. Venna tampak manggut - manggut.
"Baiklah kalau begitu. Mari, masuk! " Venna mempersilakan. Mereka segera masuk ke ruang tamu.
"Tante panggilkan Alyssa dulu, ya! " ujar Venna. Langit mengangguk pelan sambil tersenyum.
Maya tampak sibuk mengamati bagian dalam rumah Alyssa.
"Rumah Kak Ica sederhana sekali. Tidak sebesar rumah Maya. Tapi, Maya suka! " kata Maya pada Langit. Langit lagi - lagi tersenyum mendengarnya.
Tak lama, Venna datang sambil menyajikan tiga gelas teh hangat beserta camilan.
"Loh, Alyssa belum ke sini juga? Anak itu benar - benar. Sebentar, ya! Tante panggilkan lagi. Alyssaaa, cepat ke depan! Sudah ditunggu sama temanmu itu. " teriak Venna sambil menghampiri kamar Alyssa.
Tak lama, Alyssa keluar dari kamarnya. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai. Ia bergegas menghampiri Langit dan Maya di ruang tamu.
"Loh, kalian ke sini? " Alyssa terkejut melihat keduanya berada di sana.
"Kak Langit bilang, Kak Ica sedang sakit. Jadi Maya memaksa Kak Langit untuk datang ke sini. Maya ingin menjenguk Kak Ica. Oh iya, ini buah untuk Kak Ica. Kak Langit yang beli, tapi Maya yang pilih buahnya. " kata Maya bangga.
"Waahh, kenapa repot - repot? Aku sudah sembuh, kok. " ujar Alyssa.
"Kak Ica, apa Maya boleh meminta buah mangga yang di halaman itu satu saja? Maya suka sekali buah mangga. " pinta Maya. Alyssa mengangguk cepat.
"Boleh, dong! Maya juga bisa kok petik sendiri. Sebentar, ya! Keyshaaa, cepat ke sini. Ada teman baru buat kamu. " panggil Alyssa. Tak lama, Keysha muncul sambil membawa dua boneka ditangannya.
"Ini Maya. Maya, ini Keysha. Adiknya Kak Ica. Key, kamu temani Maya memetik mangga, ya? Ada yang tidak terlalu tinggi kok buahnya. Jadi kalian bisa petik sendiri. " kata Alyssa. Keysha mengangguk patuh. Ia segera menggandeng tangan Maya dan mengajaknya keluar.
Sekarang, Alyssa menyesal sudah menyuruh Maya dan Keysha keluar. Pasalnya, ia merasa kikuk berdua bersama Langit di ruang tamu.
"Kau sudah sembuh? " tanya Langit. Alyssa mengangguk cepat.
"Sudah. Terima kasih sudah menjengukku. Terima kasih juga karena sudah repot - repot membawakan buah. " ucap Alyssa tulus. Langit tersenyum mendengarnya.
"Eh, kau masih ingat itu, ya? " Alyssa terkekeh pelan.
Tak lama, Ayahnya keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
"Siapa dia, Al? Pacarmu, ya? Sudah berapa kali ayah melarangmu berpacaran? " cecar ayahnya.
Alyssa menggeleng cepat. "Bukan, Yah! Ini Langit, temannya Alyssa. Alyssa tidak berpacaran, kok. "
Langit menyalami tangan ayah Alyssa dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu. Kalian mengobrol dulu saja. Jangan macam - macam, ya! " titah ayahnya.
"Iya, Yah! " ujar Alyssa. Ayahnya segera berlalu pergi menuju ke dapur.
"Ayahmu galak sekali rupanya. " kata Langit.
"Begitulah, "
☁☁☁
"Langit tidak ada di rumah? " tanya Dira pada Zidan.
"Tidak. Dia sedang pergi keluar. " jawab Zidan. Dira tampak manggut - manggut.
"Padahal hari ini ada jadwal latihan. Aku berencana mengajaknya berangkat bersama. Kau tahu dia pergi ke mana? " tanya Dira lagi.
Zidan menggeleng. "Langit tidak pernah berkata apapun setiap hendak pergi. "
"Kenapa bisa begitu? " tanya Dira.
"Tentu saja bisa. Ini kan apartemennya. Dia bisa datang dan pergi sesuka hati. Hei, tunggu! Bagaimana kau tahu pin apartemennya? " tanya Zidan heran.
"Sebenarnya, aku sengaja mencari tahu tentang itu. " jawab Dira sambil meringis.
"Sudah, pergilah! Langit tidak suka membawa tamu perempuan ke apartemennya. Kau juga tidak bisa masuk seenak jidat seperti ini. Ingat ya, jangan diulangi lagi! Lain kali kau harus memencet bel di depan terlebih dahulu! " titah Zidan. Dira memberi hormat ala tentara.
"Siap! laksanakan! "
☁☁☁
Langit tampak sibuk mencari sesuatu di dalam apartemennya. Ia berkali - kali terlihat mondar - mandir sambil kebingungan.
"Kau ini kenapa? " tanya Zidan yang merasa curiga.
"Apa tadi ada yang masuk ke sini? Zafran, apa dia tadi mampir ke sini? " tanya Langit.
Zidan menggeleng pelan. "Zafran tidak datang hari ini. Tapi tadi Dira datang ke sini. Dia bisa masuk begitu saja karena ternyata dia tahu pin apartemenmu. "
"Apa? Dia mengetahuinya? " Langit melongo dengan penuh perasaan terkejut.
"Dia bilang dia sudah mencari tahu. Aku juga bingung waktu dia masuk seenak jidatnya tadi. Memangnya ini apartemen milik kakeknya apa? " gerutu Zidan.
"Apa dia mengambil ponselku tadi? " tanya Langit.
"Tidak. Dia hanya mampir sebentar dan menanyakanmu, tapi aku jawab tidak tahu. Lalu dia segera pergi. Dia tidak mengambil apapun. Memangnya kau taruh di mana ponselmu tadi? "
"Aku meletakkannya di atas nakas. Tadi aku lupa membawanya saat aku pergi keluar. Tapi ketika aku pulang, ponselku tidak ada. Apa benar kau tidak melihat siapapun selain Dira tadi? " tanya Langit dengan panik.
"Tidak. Aku hanya melihat Dira yang datang. Tapi, tadi aku sempat pergi ke toilet untuk buang air besar. Mungkin saat itu ada penyusup yang masuk ke apartemen ini. "
Langit memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing. "Astaga, ponsel mahalku! "