Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 23 : Mencari Harta Karun



Nindy tampak diam sedari tadi. Ia tidak tahu akan apa yang sedang terjadi. Mengapa Alyssa terlihat akrab sekali dengan teman - teman Zafran? Apa mereka memang sudah saling mengenal sejak lama?


"Sebenarnya kita mau ke mana? " tanya Nindy, memecah keheningan yang telah berlangsung selama sepuluh menit setelah Langit dan Alyssa berhenti berdebat. Namun, semuanya diam. Sepertinya tidak ada yang berniat memberi jawaban.


"Apa kita akan pergi ke tempat yang sama? Maksudku, tempat kita melihat kunang - kunang tadi malam. " Alyssa bertanya pada Langit dengan berbisik. Ia takut Nindy akan mendengar perkataannya dan mengajukan banyak pertanyaan. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi tadi malam.


"Tidak. Kita sudah berjalan sangat jauh. Lebih jauh dari tempat kita melihat kunang - kunang malam tadi. " jawab Langit sambil ikut berbisik.


"Apa tidak ada yang mau berbaik hati untuk menjawab pertanyaanku? " Nindy tampak memelas.


"Dari awal sudah dibilang jangan banyak bicara! " titah Zafran.


"Apa sesulit itu menjawab pertanyaanku yang sangat sederhana ini? " sindir Nindy.


"Kita akan pergi mencari harta karun. " jawab Langit dengan cepat. Nindy dan Alyssa menoleh pada Langit secara bersamaan.


"Apa? Mencari harta karun? Memangnya kita ini bajak laut? " protes Alyssa.


"Dengar, begini. Kami bertiga tidak menyukai kegiatan tracking yang diadakan oleh sekolah. Apalagi jalurnya terlalu monoton. Kalian, para anak OSIS sepertinya tidak ahli membuat kegiatan yang seru. Jadi, kami berinisiatif untuk mencari kegiatan yang lebih menantang. Akhirnya, kita memutuskan untuk pergi mencari harta karun dan mengambil jalur yang berbeda dengan yang sudah ditentukan oleh Pak Beno. Begitulah penjelasan singkatnya, semoga saja kalian paham. " jelas Langit. Alyssa dan Nindy spontan melongo mendengarnya.


"Apa kalian sudah gila? " tukas Alyssa kesal.


"Hei, mereka tidak gila. Sama sekali tidak. Ini sangat keren! Kau tahu Alyssa, selama aku menjadi anggota OSIS, aku selalu berusaha menjadi siswi yang tertib. Tapi ternyata, aku cepat sekali merasa bosan. Menjadi siswi yang baik dan taat aturan itu sebenarnya sangat melelahkan, Al. Apa kau tidak menyadarinya? Sesekali kita harus refresing seperti ini. Baiklah, ini ide bagus. Aku setuju dengan kalian. Dari mana kita akan mulai mencari harta karunnya? " ujar Nindy antusias. Ia bahkan melompat - lompat karena girang.


"Kau dengar sendiri, kan? Sahabatmu saja menyukai ide fantastis dariku ini. Mau tidak mau kau harus menikmatinya. Jika kau ingin kembali dan menyusul rombongan sekolah, silakan saja! Aku tidak akan mencegahmu. " kata Langit.


"Tega sekali. Baiklah, aku menurut saja. Boleh aku lihat peta harta karunnya? " pinta Alyssa.


"Sebenarnya, peta harta karunnya hanya ada di ingatan kami masing - masing. " jawab Zafran sambil meringis.


"Apa? Jadi kalian pernah ke sini? " tanya Nindy.


"Pernah. Tapi memang sudah agak lama. Untuk itulah kami memutuskan untuk menguji seberapa tajam ingatan kami. Jadi, kami hanya ingin membuktikan apakah kami bisa sampai di harta karun yang pernah kami kunjungi itu atau tidak. Kami hanya mengandalkan ingatan, dan di situlah letak tantangannya. " jelas Zafran. Nindy tampak manggut - manggut tanda mengerti.


"Kita sudah sangat jauh berjalan. Apa tidak sebaiknya kita beristirahat sejenak? " tanya Zidan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Benar. Sebaiknya kita istirahat dulu di sini. Kalian membawa air minum, kan? " tanya Langit. Semuanya mengangguk. Mereka kemudian duduk melingkar di sana sambil meneguk air minum masing - masing.


"Rasa hausku sudah hilang, dan sekarang aku lapar. " celetuk Nindy.


"Di sekitar sini ada banyak makanan jika kau mencarinya. Mari kutemani! " Zafran segera bangkit dari duduknya.


"Dengan syarat kau tidak akan membicarakan para mantanmu lagi. Kau harus cari topik yang lain. " kata Nindy. Zafran mengangguk patuh.


"Baiklah kalau begitu. Ayo cepat, aku juga sudah sangat lapar! " ajak Zafran. Nindy bergegas bangkit dan berjalan mengikuti Zafran.


Alyssa menggosok - gosokkan kedua telapak tangannya. Sekarang hawa dinginnya bertambah menjadi dua kali lipat. Mungkin karena ia berada di atas bukit. Bahkan kini flunya kambuh lagi dengan tiba - tiba. Langit tak sengaja melihat Alyssa yang sepertinya sedang susah bernapas.


"Kau sakit flu? " tanya Langit. Alyssa hanya mengangguk pelan.


"Tapi, aku tidak mau tersesat lagi. " Alyssa menolak.


"Itu tidak akan terjadi. Zidan, aktifkan pelacak lokasi di jam tanganku dan juga Zafran. Buat titiknya bekerja dengan akurat. " titah Langit. Zidan mengangguk patuh. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan mulai beraksi.


"Aku butuh waktu selama sepuluh menit untuk menarik signal dari jarak jauh menggunakan magnet di ponselku. " Zidan melapor. Langit hanya mengangguk menanggapinya. Ia bergegas pergi dari sana, dan Alyssa mengekornya dari belakang.


☁☁☁


Alyssa berusaha menyamakan posisinya dengan Langit. Namun, sepertinya hal itu sangat sulit dilakukan karena Langit terlalu cepat berjalan.


"Bisa tidak jalannya pelan - pelan saja? " keluh Alyssa.


"Kau yang terlalu lambat, " ledek Langit. Alyssa memicingkan matanya tajam.


"Baiklah, baiklah. Aku berjalan pelan. Jangan menatapku seperti itu lagi! " titah Langit. Alyssa mengangguk patuh sambil tersenyum karena kini ia berhasil menyamakan posisinya dengan Langit.


"Kita sudah sampai, " ujar Langit. Ia segera berjongkok dan mencabut salah satu tanaman beserta akarnya.


"Kenapa kau mencabut akarnya juga? " tegur Alyssa.


"Justru akarnya yang akan digunakan. Coba kau hirup baunya! " Langit memberikan tanaman itu pada Alyssa. Tanaman itu terlihat sangat asing baginya. Ini pertama kalinya ia melihat tanaman itu.


Alyssa menghirup bau akar tanaman itu dengan ragu - ragu. Setelah ia menghirupnya, ia merasa segar. Hidungnya bisa kembali bernapas dengan baik.


"Sudah merasa baikan? " tanya Langit.


"Ini sudah lebih baik dari yang tadi. Tanaman apa ini? "


"Itu daun mint. Kau belum pernah melihatnya? " Langit mengerutkan keningnya heran. Alyssa menggeleng cepat.


"Baru kali ini. " jawabnya.


Langit tersenyum tipis. "Sepertinya kau memang harus melakukan pendekatan dengan alam. Jangan hanya sibuk membaca buku. Masih banyak ilmu yang tersimpan di tempat lain. "


"Ya, ya, baiklah. " Alyssa manggut - manggut dengan malas.


"Kau tahu, ibuku pernah bilang. Buka matamu selebar mungkin, meski tetap saja kau tidak bisa melihat objek yang berjarak jauh. Teruslah melangkah maju meski kau tidak bisa mengetahui bahaya apa yang menghadang di depan sana. Tetaplah bergerak meski kau tidak bisa mendeteksi apa yang akan terjadi selanjutnya. "


"Apa artinya itu? " tanya Alyssa penasaran.


Langit menggeleng. "Jika saja aku bisa menanyakan artinya. Tapi aku tidak sempat. Jadi, kusimpulkan saja sendiri bahwa arti dari pesan ibuku itu adalah supaya aku tidak mudah menyerah. Supaya aku tetap berdiri tegak di jalanku. Supaya aku selalu siap menghadapi apapun yang akan terjadi, termasuk kepergiannya. "


"Memangnya ke mana ibumu pergi? " tanya Alyssa penasaran.


"Aku akan memberitahumu lain kali. Sekarang kita harus kembali! "