
"Ini, aku kembalikan bukunya. " Alyssa meletakkan kedua buku yang kemarin dipinjamnya di atas meja pustakawan.
"Kenapa cepat sekali dikembalikan? Bukannya aku sudah memberikan buku yang satu ini untukmu? " tanya Pak Rusly keheranan.
"Aku tidak membutuhkannya. Aku bahkan tidak mendapat informasi apapun dari buku itu. Sepertinya bukan itu yang sedang kucari. " jawab Alyssa jujur. Pak Rusly mengangguk paham.
"Baiklah, kalau begitu aku bisa carikan yang lain. Aku akan mencarinya di... "
"Tidak perlu. Aku akan mencarinya sendiri. Terima kasih sudah meminjamkan bukunya. " tolak Alyssa sambil berlalu pergi dari perpustakaan.
"Apa kamu tidak mendapat informasi apapun dari kedua buku time travel itu? " Alyssa menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mendapati Langit yang sedang duduk di kursi panjang lorong sambil mengenakan headphone dan memainkan ponselnya. Sepertinya ia sedang bermain game.
"Bukan urusanmu. " kata Alyssa ketus. Ia berniat melanjutkan langkahnya, tapi lagi - lagi ia berhenti.
"Tunggu! Sepertinya ada sesuatu yang tidak kamu pahami. " cegah Langit sambil melepas headphone dan meletakkan ponselnya. Ia berdiri menghampiri posisi Alyssa.
"Mungkin yang sedang kamu cari bukanlah time travel, tapi fantasi. " Langit melanjutkan perkataannya.
"Maksudmu? " tanya Alyssa.
"Tidak, tidak. Aku hanya iseng saja memberitahumu. Sebenarnya aku tidak berniat membantu. " ujar Langit. Alyssa melongo tak percaya mendengarnya. Manusia macam apa yang sedang berdiri di hadapannya ini?
Langit berlalu pergi sambil tersenyum puas karena telah berhasil mengelabui Alyssa. Sementara Alyssa hanya sanggup memandangi punggung Langit yang perlahan menjauh darinya. Sekali lagi, Langit meninggalkan sebuah teka - teki yang rumit. Namun, jangan kira Alyssa akan menyerah. Bukan Alyssa namanya, jika ia tidak bisa mencari tahu jawabannya sendiri tanpa bantuan orang lain, apalagi si angkuh Langit.
☁☁☁
Alyssa memandangi buku pemberian Bu Anggi dengan tatapan kosong. Apa ia siap membaca buku itu lagi? Lalu, apa peristiwa beberapa hari lalu akan terulang kembali?
Alyssa mengumpulkan niatnya selama satu jam sambil mondar - mandir di kamarnya. Lalu, ia memutuskan untuk membaca buku itu lagi. Ia harus memastikan, apakah yang dialaminya itu memang benar adanya, atau sebatas khayalannya semata.
Alyssa membuka buku itu secara perlahan. Ia duduk di kursi dan memilih posisi yang nyaman. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membaca halaman yang kemarin belum ia selesaikan. Benar saja, ketika ia mulai membacanya, sesuatu yang sama terjadi lagi...
☁☁☁
Alyssa meraba tubuhnya. Ia tahu ini terjadi lagi. Ia bahkan mencubit tangannya sendiri, lalu berteriak karena terasa sakit. Sudah ia simpulkan, bahwa ini nyata dan benar adanya. Ini nyata, dan dia baru saja mengalaminya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kini ia berada di tengah jalan kecil yang sangat sepi. Tidak ada kendaraan berlalu lalang. Tidak ada satupun manusia di sini. Alyssa mengambil langkah sedikit demi sedikit untuk mencari tahu tempat apakah ini.
Ia hampir saja berteriak karena kakinya tak sengaja menginjak jalanan berlubang yang dipenuhi air. Sepertinya tempat ini baru saja diguyur hujan. Tak lama, sebuah suara pijakan kaki terdengar.
Alyssa mengikuti langkah Bu Anggi yang semakin cepat. Sepatu lusuh yang ia kenakan tidak menghalangi langkahnya untuk segera sampai di sekolah. Alyssa melihat satu kesamaan antara dirinya dan Bu Anggi, yang tak lain adalah bandana merah yang dipakai dikepalanya.
Dari kecil Alyssa suka sekali mengenakan bandana. Semula kebiasaan itu berawal saat Alyssa masih duduk di bangku kelas TK. Ibunya tak pernah lupa mengikat rambutnya sebelum berangkat sekolah. Namun, salah seorang teman TK nya yang jahil dengan sengaja menarik ikat rambutnya lalu menggantinya dengan bandana warna biru. Katanya, Alyssa akan terlihat lebih cantik ketika mengenakan bandana. Sejak saat itu, Alyssa suka sekali memakai bandana kemanapun ia pergi.
Setelah ia naik ke tingkat SD, teman laki - lakinya di bangku TK yang memberinya bandana biru itu pindah ke sekolah lain. Alyssa merasa sangat sedih karena tidak bisa bertemu dengan teman kecilnya itu lagi. Sekarang, Alyssa bahkan sudah lupa wajahnya. Sangat disayangkan Alyssa tidak tahu di mana ia tinggal dan di mana ia bersekolah.
Kembali ke latar awal. Alyssa terus mengikuti langkah Bu Anggi. Rupanya, Bu Anggi juga naik bus untuk sampai ke sekolah. Alyssa yang tak terlihat langsung melompat ke dalam bus, mendahului Bu Anggi yang juga akan naik. Namun, sesuatu terjadi. Karena tidak berhati - hati, Bu Anggi terpeleset dan hampir terjatuh saat bus sudah melaju.
Untunglah, sebuah tangan terulur dengan spontan untuk menolong Bu Anggi. Bu Anggi memegangi dadanya karena masih terkejut. Sepertinya ia syok. Alyssa yang tadi melihat kejadian itu juga merasa sangat terkejut. Syukurlah, Bu Anggi tidak apa - apa.
"Kamu tidak apa - apa? " tanya seorang lelaki yang tadi menolong Bu Anggi. Alyssa mengenali orang itu. Ia adalah lelaki yang tempo hari juga menolong Bu Anggi saat terjatuh di sekolah. Dia orang yang sama.
"Aku tidak apa - apa. Terima kasih telah menolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja tadi kamu tidak ada. " kata Bu Anggi sambil tersenyum.
Lelaki itu membalas senyumnya. "Lain kali, kamu harus lebih berhati - hati. " Bu Anggi mengangguk patuh.
"Oh ya, kamu gadis yang tempo hari terjatuh itu, kan? " tanya lelaki itu. Bu Anggi mengangguk cepat.
"Pantas saja kamu tidak asing. Kenapa kita selalu bertemu disaat kamu sedang dalam kesulitan, ya? " lelaki itu keheranan.
"Mungkin kamu malaikat penyelamat yang dikirim untukku. " kata Bu Anggi keceplosan. Setelah mengatakannya, ia segera menutup mulut karena malu. Namun, rupanya lelaki itu tidak marah. Ia justru terkekeh pelan.
"Namaku Anggit. Siapa namamu? " tanya lelaki itu. Bu Anggi melongo karena terkejut.
"Namaku Anggi. Kenapa nama kita bisa hampir sama, ya? Hanya beda satu huruf. " Bu Anggi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Boleh aku tahu nama lengkapmu? "
"Anggita Mayasari, "
"Kalau begitu, boleh tidak jika kamu kupanggil Maya saja? Supaya tidak terdengar sama dengan namaku. " Bu Anggi mengangguk setuju. Keduanya sama - sama tersenyum di tengah suasana bus yang penuh hingga semua orang harus berdesak - desakan.
Alyssa kini paham alasan dulu Bu Anggi dipanggil dengan nama Maya. Anaknya Bu Anggi pernah bilang, bahwa Bu Anggi sangat menyukai nama panggilan itu. Apa mungkin karena ia menyukai orang yang memanggilnya dengan nama itu?
Alyssa jadi penasaran, bagaimana kelanjutan dari kisah hidup Bu Anggi. Namun, lagi - lagi ia tersadar karena Keysha mengagetkannya. Ah, anak itu benar - benar!