Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 14 : Dongeng Angsa Hitam



Alyssa menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Tak lupa ia menguncinya agar Keysha tidak lagi mengganggu konsentrasinya. Kotak hitam yang tadi kini berada ditangannya. Alyssa mengurungkan niat untuk membuangnya karena ia penasaran.


Kini ia duduk di kursinya, meraih buku ajaib itu dan bersiap membukanya. Rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi. Ia ingin segera tahu, apa hubungan Bu Gina dan Bu Anggi semasa dulu. Kalau memang benar mereka bersahabat, mengapa Dira bilang kalau Bu Gina sangat membenci Bu Anggi?


☁☁☁


Alyssa mengikuti langkah Bu Anggi yang setengah berlari. Sepertinya Bu Anggi sedang sangat terburu - buru.


Bu Anggi berhenti di salah satu meja kantin. Di sana, ada seorang gadis yang sedang duduk sambil menyeruput es jeruknya. Bu Anggi langsung duduk di depannya tanpa meminta izin. Alyssa melihat wajah gadis itu. Ya, dia Bu Gina.


"Maaf, aku terlambat! " ucap Bu Anggi sambil memegangi dadanya yang ngos - ngosan setelah berlari.


"Kenapa kamu yang terlambat? Itu kan kebiasaanku. " jawab Bu Anggi sambil menunjukkan ekspresi cemberut. Rupanya dulu Bu Gina memiliki kebiasaan terlambat, seperti Dira.


"Maaf, tadi aku ada urusan mendadak. " Bu Anggi kembali meminta maaf.


"Baiklah, aku maafkan. Tapi, lain kali jangan terlambat lagi, ya! Itu kan kebiasaanku. Jangan mencurinya. Kamu cari saja kebiasaan lain. " ujar Bu Gina. Bu Anggi terkekeh pelan.


"Anggi, kamu tahu tidak? Aku sedang jatuh cinta, lho! " ungkap Bu Gina sambil tersenyum.


"Benarkah? Waahh, selamat ya! Kukira kamu memang tidak bisa jatuh cinta. Ternyata... "


"Diamlah! Memangnya ratu jomblo ini tidak bisa jatuh cinta apa? " gerutu Bu Gina kesal. Bu Anggi semakin terkekeh. Ratu jomblo? Bukannya itu sebutan untuk Dira selama ini? Ah, sepertinya Bu Gina mempunyai banyak kemiripan dengan Dira!


"Baiklah, maafkan aku. Jadi, siapa yang berhasil menarik hati ratu jomblo ini? " goda Bu Anggi sambil terkikik. Bu Gina memicingkan matanya.


"Tadi kau baru saja meminta maaf. Sekarang berani menggodaku lagi? Huh, dasar! " ujar Bu Anggi.


"Baiklah, sekarang tidak lagi. Katakan siapa orang itu? " tanya Bu Anggi.


"Memangnya bisa secepat itu kau mengetahuinya? Tidak, tidak. Aku tidak mau mengatakannya. Kau juga belum memberitahuku siapa pangeran yang selama ini kau ceritakan padaku. " jawab Bu Gina.


"Jadi kau berniat balas dendam padaku ya? " Bu Anggi menyipitkan matanya.


"Tentu saja iya. Kau harus memberitahuku dulu, siapa pangeranmu itu. " desak Bu Gina.


"Dia itu... Semacam pangeran penyelamatku. Dia selalu datang ketika aku sedang berada dalam kesulitan, bahkan ketika sedang dalam bahaya. Kau tidak bisa mengetahuinya begitu saja. Dia itu pangeran rahasiaku! " ujar Bu Anggi dengan penuh tekad.


"Hei, kenapa kau jadi sombong sekali sekarang? Seharusnya aku yang bisa sombong, karena aku lebih dulu jatuh cinta pada seseorang sebelum kau jatuh cinta pada pangeran penyelamatmu itu. " Bu Anggi membelalakkan matanya mendengar perkataan Bu Gina.


"Benarkah? Jadi, kau lebih dulu jatuh cinta? Kenapa tidak bilang dari awal padaku, ha? Ah, kau ini. Selalu saja begitu. " keluh Bu Anggi.


"Ya, sebenarnya sudah sejak lama. Tapi, aku masih malu mengakuinya. Aku takut kau akan meledekku, seperti yang kau lakukan ketika aku mengatakannya tadi. Huh, aku sudah menduga kau akan meledekku. " gerutu Bu Gina.


"Jadi, sekarang kita sama - sama sedang jatuh cinta? Waahh, kita ini memang sahabat yang cocok ,ya! " mata Bu Anggi berbinar cerah.


"Tentu saja. Kita ini sahabat selamanya! "


☁☁☁


"Kaaakk, buka dong! Aku juga mau masuk. Ingat ya, kamar ini milik berdua. Jangan semaunya sendiri! " teriak Keysha dari luar. Alyssa menghela napas. Anak itu selalu saja mengganggunya di saat penting seperti ini.


Alyssa melangkah gontai menuju pintu kamarnya. Ia membukanya dengan malas. Ketika pintu sudah terbuka, ia mendapat sambutan tajam dari sorot mata Keysha. Sepertinya Keysha marah.


"Kakak ini, selalu saja begitu. Aku kan belum masuk kamar, kenapa harus dikunci? " tanya Keysha dengan nada marah. Ia segera duduk di tepi ranjang. Alyssa kembali menutup pintunya.


"Tadi aku sedang berganti baju. Makannya pintunya sengaja aku kunci. " alibi Alyssa. Keysha mengerutkan keningnya.


"Ah, masa sih? Bukannya kakak bisa ganti baju di kamar mandi seperti biasa? " tanya Keysha lagi.


"Ganti baju di kamar lebih nyaman. Lebih leluasa. " ujar Alyssa. Keysha menghela napas kesal.


"Ada apa ditanganmu itu? " tanya Alyssa saat melihat Keysha menggenggam sesuatu. Sebuah buku!


"Ini buku dongeng yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah. Setiap dua Minggu sekali, semua murid wajib meminjam buku di sana. Supaya semua murid jadi suka membaca, tidak hanya bermain saja di rumah. Begitu kata guruku. " jawab Keysha.


"Bagus kalau begitu. Sudah dibaca belum bukunya? " tanya Alyssa lagi. Keysha mengangguk dengan semangat.


"Sudah, dong! Tadi aku baca di dapur sambil menemani ibu memasak. Ceritanya bagus lho, Kak! " jawabnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu, coba sekarang kamu ceritakan pada kakak. " kata Alyssa sambil berbaring di ranjang tidurnya.


"Jadi hari ini terbalik? Biasanya kan kakak yang bacain dongeng buat Keysha? "


"Sekarang giliran Keysha. Cepat bacakan! " ujar Alyssa. Keysha mengangguk patuh. Alyssa melirik ke arah buku itu, membaca judul yang tercetak tebal di covernya. Bahkan diberi huruf warna - warni.


Angsa Hitam yang Bahagia


"Suatu hari, seekor induk angsa bertelur. Ia memerami telur - telurnya dengan telaten. Setelah satu bulan berlalu, telur - telur itupun menetas. Muncullah dua ekor anak angsa berbulu putih bersih seperti induknya, dan satu ekor anak angsa berbulu hitam. Ia sering diejek oleh kedua saudaranya karena bulunya berbeda dari yang lain. Namun, induk angsa itu tetap menyayangi si anak angsa hitam meskipun ia berbeda. "


"Ketika anak - anak angsa itu mulai beranjak besar, si induk angsa justru mati. Induk angsa itu telah pergi jauh meninggalkan anak - anaknya. Kini si angsa hitam bertambah sedih karena tidak ada lagi yang membelanya jika ia diejek. Bahkan, sekarang bukan hanya saudaranya yang mengejek warna bulunya. Hewan - hewan lain pun mulai berani mengejeknya karena si induk angsa telah tiada. Ia juga diperlakukan tidak baik oleh kedua saudaranya. Ia ditugaskan untuk mencari makanan dan memberikannya pada kedua saudaranya, sampai ia tidak mendapat jatah makanan. Bahkan, ia juga ditugaskan untuk membersihkan kotoran kedua saudaranya yang jahat itu. "


"Sampai akhirnya, si angsa hitam pergi meninggalkan kedua saudaranya. Ia pergi jauh dari hutan itu. Ia tidak kuat lagi berada di sana. Hatinya yang selama ini bersabar menghadapi segala ejekan dan cemoohan, kini memilih untuk berhenti. Ia ingin beristirahat dari pekerjaan - pekerjaan yang sengaja ditugaskan untuknya. "


"Karena kakinya sudah terlalu jauh melangkah, ia pun ambruk. Kakinya tidak kuat lagi menopang tubuh kurusnya. Matanya pun perlahan terpejam karena kelelahan. Lalu, ketika ia bangun dan membuka mata, ia terkejut menyadari sesuatu. Ia berada di tempat asing yang sama sekali belum pernah ia kunjungi. "


"Ternyata, ia dibawa oleh seorang peternak yang baik hati. Peternak itu memberinya makan dan mengobati kakinya. Mulai saat itu, ia dipelihara dan tinggal di sana. Tidak ada lagi yang mengejeknya karena teman - temannya di sana semuanya berhati baik. Angsa hitam itupun bertanya kepada salah satu angsa yang kini menjadi temannya. "


"Mengapa kau mau berteman denganku? Padahal, aku berbeda darimu. Bulumu putih bersih seperti ibu dan kedua saudaraku. Sedangkan buluku hitam, berbeda darimu. Lalu, si angsa putih itu tersenyum. Ia kemudian menjawab. Hanya karena kau berbeda, bukan berarti kita tidak bisa berteman. Lagipula, perbedaan bukanlah suatu keburukan. Justru perbedaan itulah yang menyatukan kita. Siapapun kita, dari mana kita berasal, bagaimana kita dilahirkan, seperti apa wajah kita, itu semua sudah menjadi takdir. Bahkan takdir itu sudah tertulis jauh sebelum kita lahir ke dunia ini. "


"Jadi, kita harus meyakini takdir itu. Kita harus menghargai apapun yang sudah diberikan Sang Pencipta untuk kita. Kamu tidak sepatutnya membenci wajahmu maupun tubuhmu, karena walau bagaimanapun wajah dan tubuh itu akan selamanya melekat pada dirimu. Bahkan sampai kamu mati. "


"Angsa hitam itupun tersenyum mendengar jawaban si angsa putih. Kini, ia tak lagi mempermasalahkan warna bulunya yang berbeda dari yang lain. Ia semakin mempunyai banyak teman karena kerendahan hatinya. Ia juga suka menolong hewan lain yang ditimpa kesulitan. Ibunya pernah berkata, bahwa perbedaan yang ia miliki justru membuatnya istimewa. Perkataan itu benar. Kini, ia mendapat pelajaran baru. Bahwasanya, perkara cantik bukan diukur dari wajah maupun tubuh. Melainkan dari hati. Kecantikan hati adalah perkara yang utama."


"Angsa hitam itu kini telah menemukan alasannya untuk tetap hidup di dunia. Bahwa ada banyak teman dan hewan - hewan di sekelilingnya yang sangat menyayanginya, termasuk peternak dan ibunya yang telah tiada. Kini ia hidup bahagia bersama mereka semua. Tamat! "