
"Aahh, kamu lagi! Apa tidak bisa berjalan dengan hati - hati? " gertak seorang lelaki yang baru saja bertabrakan dengan Alyssa. Lelaki itu masih sama seperti tadi pagi, menunjukkan sifat angkuhnya.
"Maaf, aku sedang terburu - buru. " ucap Alyssa jujur sambil lekas berdiri dan membersihkan roknya dari debu.
"Jangan gunakan perasaan ketika sedang berjalan. Gunakan matamu, " ujar lelaki itu dengan tatapan ketus.
"Baiklah. Lain kali aku akan gunakan mataku dengan baik. " balas Alyssa dengan perasaan geram.
"Aku harap tidak akan ada lain kali. Karena aku tidak mau bertabrakan denganmu lagi. Buang - buang waktu. " lelaki itu segera berlalu pergi setelah mengatakannya. Meninggalkan Alyssa sendirian dengan pikiran tak menentu.
"Memangnya siapa yang mau bertabrakan dengannya lagi? Huft, dasar! " Alyssa segera pergi dari sana, berlari kecil menuju ruang OSIS.
☁☁☁
Alyssa mengetuk pintu ruang OSIS yang sedikit terbuka secara perlahan. Semua anggota yang sedang duduk di kursi kayu spontan mengalihkan pandangan mereka padanya.
"Serius? Baru kali ini seorang Alyssa terlambat mengikuti rapat. " sindir Hanan, ketua OSIS di sekolahnya.
"Maaf! " ucap Alyssa singkat. Hanan menghela napas panjang, lalu mempersilakan Alyssa masuk. Alyssa segera duduk di samping Yasmin yang kini tengah keheranan menatapnya.
"Kamu terlambat lagi? Bagaimana bisa? " tanya Yasmin. Alyssa mengedikkan bahunya.
"Entahlah. Hari ini aku merasa sedang sial." jawab Alyssa tak acuh.
"Baiklah. Kita lanjutkan rapatnya. Pekan depan kita akan mengadakan kemah rutin tahunan di... "
☁☁☁
"Jadi, kapan kita akan meninjau lokasi kemahnya? " tanya Nindy sambil berjalan beriringan bersama Alyssa. Alyssa diam, tidak menjawabnya. Sepertinya ia tidak mendengar pertanyaan Nindy.
"Al, kamu dengar tidak? " ujar Nindy lebih keras. Alyssa spontan menoleh ke arahnya.
"Eh, ada apa? " tanya Alyssa kebingungan.
"Apa aku harus mengulanginya lagi? " ujar Nindy geram.
"Tidak juga tidak apa - apa. "
"Tidak apa - apa bagaimana maksudmu? Hanan akan mengomel jika tugas ini tidak dilaksanakan dengan baik. Ada apa denganmu hari ini? Sepertinya kamu tidak mendengarkan dengan baik isi rapatnya tadi. Hanan menyuruh kita meninjau lokasi kemah pekan depan. " jelas Nindy.
"Akan ada kemah pekan depan? " tanya Alyssa lagi. Nindy menepuk dahinya kesal.
"Sudahlah. Pulang dan basuh mukamu itu. Bersihkan otakmu sekalian. " ledek Nindy.
"Apa maksudmu? " Alyssa tidak terima.
"Tidak perlu melotot begitu. Harusnya aku yang marah padamu. Hari ini kamu aneh sekali, sangat berbeda dari biasanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu? "
"Tidak ada. Sudahlah, aku ingin segera pulang dan membasuh mukaku. Oh, dan otakku juga. Sampai jumpa! " ujar Alyssa. Ia segera berlalu pergi, meninggalkan Nindy yang melongo keheranan.
"Hei, apa - apaan ini? Bus kita kan satu arah? Tunggu aku! "
☁☁☁
Rumah Alyssa tidak begitu dekat dengan jalan raya. Rumah kecilnya terletak di pedesaan yang mayoritas warganya bersolidaritas tinggi. Alyssa bersyukur bisa tinggal di area pedesaan yang ramai, sehingga ia tidak perlu merasa kesepian ketika mendengar suara jangkrik di malam hari.
Itu dia. Rumah dengan cat kuning yang di depannya tumbuh pohon mangga. Di masa panen, Alyssa akan menghabiskan mangganya seperti dengan diolah menjadi asinan atau yang lainnya. Orang tuanya juga suka membagikannya kepada tetangga.
"Alyssa, kenapa jam segini baru pulang? " tanya ibunya ketika melihat Alyssa sampai. Alyssa menghela napas panjang. Ia bahkan belum sempat mengucap salam.
"Tadi ada rapat OSIS, Bu.. " jawab Alyssa jujur sambil menyalami tangan ibunya yang kini menunjukkan ekspresi marah.
"OSIS lagi OSIS lagi. Kamu tidak ingat, nilaimu kemarin mengalami penurunan? Apa yang menyebabkannya jika bukan kesibukanmu mengurus kegiatan OSIS? Ibu sudah bilang itu tidak penting. Apa sesulit itu keluar dari OSIS? " omel ibunya.
"Bukannya ibu dulu juga sekretaris OSIS? "
"Oohh, kamu sudah berani membantah ibu? "
"Sudahlah, Bu. Anaknya baru pulang kok dimarahin. Alyssa, kamu masuk dulu sana! " titah ayahnya yang baru saja muncul dari dalam rumah. Alyssa mengangguk patuh. Ia menyalami tangan ayahnya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
☁☁☁
Alyssa merebahkan dirinya di atas ranjang tidur setelah berganti baju. Ia sedang malas mandi hari ini. Wajar - wajar saja, kan?
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Terdapat dua papan dari styrofoam yang sengaja ditempel di dinding. Satu miliknya, berisi rangkaian kata, puisi, dan motivasi. Juga foto - foto aktor dan aktris idolanya yang disusun rapi.
Satu lagi milik adiknya, Keysha, yang diisi penuh dengan kertas bergambar yang sudah ia warnai dengan cantik. Alyssa dan adiknya memang memiliki perbedaan hobi.
Pandangan mata Alyssa berhenti pada tasnya sendiri. Sepertinya ia teringat sesuatu. Oh, ya! Ia hampir melupakan buku yang ia pinjam dari Bu Anggi. Apa sekarang waktu yang tepat untuk membacanya?
Tentu saja. Kita tidak bisa menunggu waktu luang, karena waktu tidak akan pernah bersedia menunggu kita. Kalimatnya hanya perlu diatur ulang. Kita harus meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang. Seperti itulah konsepnya menurut Alyssa.
Alyssa beranjak ke tepi ranjang tidurnya, meraih tasnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia membuka resleting tas dengan hati - hati, lalu meraih sebuah buku yang tadi dipinjamkan oleh Bu Anggi.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan buku itu. Hanya saja, covernya nampak tidak menarik sama sekali. Tidak ada gambar, motif, maupun ukuran. Hanya ada warna cokelat, itu saja.
Alyssa meniup buku itu dan membersihkannya dengan tissue untuk menghilangkan debu yang masih menempel. Sepertinya buku ini sudah lama sekali tidak disentuh.
Alyssa hampir membuka halaman pertama buku itu jika saja adiknya tidak datang dan mengacau.
"Kak Alyssa sedang apa? Oohh, baca novel rupanya. Kalau ibu tahu... " ancam Keysha jahil.
"Eiitts, jangan. Anak kecil tidak boleh ikut campur, ya. Kalau kamu berani mengadu ke ibu, besok kakak tidak akan memberimu uang jajan. Mau? " Alyssa balik mengancam.
"Baiklah, Keysha tidak akan mengadu. Tapi kakak harus janji tidak bohong. Besok kasih uang jajan, ya? " Keysha mengedipkan matanya berulang kali. Alyssa memutar bola matanya, kesal melihat tingkah Keysha.
"Kamu juga harus janji tidak akan mengadu, ya? Jangan curang. Janji tidak boleh diingkari. Setuju? " Keysha mengangguk patuh.
"Adiknya kakak ini baik sekali, deh. Terima kasih, Key! " ucap Alyssa sambil mengacak - acak rambut adiknya.
"Tapi bohong! Keysha mau mengadu ke ibu sekarang. Wleeee, " Keysha menjulurkan lidahnya pada Alyssa yang kini melongo heran.
"Oohh jadi begitu, ya? Berani berbohong padaku rupanya. Awas kamu, Key! " Alyssa mengejar Keysha yang tengah berlari menghampiri ibunya.
Namun, belum sempat Keysha mengadu, Alyssa lebih dulu menutup mulut adiknya dengan tangan. Ia bahkan menggelitikinya. Usia yang terpaut sepuluh tahun tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bertengkar.
Persamaan sifat keras kepala membuat mereka jarang sekali akur meskipun tinggal serumah, apalagi sekamar.
Hari ini, Alyssa terpaksa mengurungkan niatnya untuk membaca buku itu. Semoga saja ada kesempatan lain kali.