
"Alyssa! Kau ini suka sekali membuat kami khawatir. Katanya cuma mau cari pasangan sandal yang hilang. Kenapa lama sekali? Tadi aku cari di depan juga tidak ada. " omel Yasmin. Alyssa hanya meringis sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Tadi... Aku ke toilet dulu. " jawab Alyssa berbohong.
"Sendirian? Kenapa tidak mengajakku, sih? Padahal, toiletnya kan seram. " kata Yasmin.
"Ah, tidak juga. "
"Kau benar - benar berani pergi ke toilet sendirian? " tanya Nindy tidak percaya. Alyssa berdecak.
"Benar, aku tidak bohong. "
"Kalian akan terus beradu mulut atau pergi tidur? Nanti kita akan ditegur jika terus menimbulkan kegaduhan. Mengobrolnya disambung besok saja. " ujar Dira. Alyssa baru sadar jika acaranya sudah selesai ketika ia sampai. Apa ia pergi selama itu tadi?
☁☁☁
Alyssa bangun pagi - pagi sekali. Cuaca subuh di sini rupanya sangat dingin. Bahkan lebih dingin dari tadi malam. Alyssa tidak berniat melepas hoodienya. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Al, kau mau menggantikanku tidak? Tadinya aku ingin menimba air di sumur untuk keperluan memasak. Tapi, Hanan memanggilku untuk rapat bersama para guru. " kata Nindy.
"Oh, baiklah. Taruh saja embernya di situ. Yasmin sama Dira di mana? " tanya Alyssa. Ia tidak melihat kedua sahabatnya itu sejak menunaikan ibadah salat subuh.
"Tidak tahu. Mungkin naik ke tenda. Aku ke mess atas dulu, ya! " Nindy melambaikan tangan pada Alyssa. Ia bergegas menuju ke mess para guru.
Alyssa meraih ember kosong itu. Ia kemudian bergegas pergi ke sumur. Sesampainya di sana, ternyata sudah banyak yang mengantre untuk menimba air. Ia memutuskan untuk menunggu. Lama kelamaan, antrean semakin sedikit. Kini, Alyssa berdiri tepat di belakang Langit dan Zidan sehingga ia bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Kau saja yang menimba. Biar aku yang memegangi embernya. " kata Langit.
"Kenapa kau selalu mendapat pekerjaan yang ringan, ha? Ah, aku selalu saja menderita. " gerutu Zidan. Alyssa diam mendengar pembicaraan mereka. Zidan kemudian mulai menimba dengan terpaksa.
"Ini berat sekali, " keluhnya. Saat hendak memindahkan air hasil timbaannya itu ke dalam ember, Zidan justru salah sasaran. Air yang baru saja ia timba malah terguyur ke belakang.
"Ah! " Alyssa mundur ke belakang saat hoodie pink miliknya basah terguyur air. Tubuhnya seperti membeku saat air sumur itu menyerap masuk dan menyentuh kulitnya. Rasanya dingin sekali.
"Oh, maaf! Aku tidak sengaja. " Zidan terkejut melihat apa yang telah diperbuatnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa malah mengguyurnya? Apa kau punya dendam pribadi padanya? " omel Langit. Zidan menggeleng cepat.
"Sudah kubilang aku tidak sengaja. Tadi embernya terlalu berat. " katanya, berusaha membela diri.
"Hatchi! Hatchi! " Alyssa bersin. Ia menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangan. Sepertinya alergi dinginnya kambuh lagi.
"Hatchi! Hatchi! " Alyssa tak bisa berhenti bersin. Hal itu membuat Langit dan Zidan melongo kebingungan.
"Kenapa dia? " tanya Zidan pada Langit. Langit hanya diam, tak berniat menjawabnya karena dia sendiri tidak tahu jawabannya.
"Alyssa! " Dira yang baru saja datang langsung menghampiri tempat Alyssa berdiri.
"Astaga, alergimu kambuh lagi! " Dira mendadak panik.
"Cepat, lepas hoodiemu! Kalau basah begini kau akan semakin merasa kedinginan. " titah Dira. Ia membantu Alyssa melepas hoodienya. Dira mengajak Alyssa menepi dan duduk di sana, tak jauh dari lokasi sumur.
Alyssa segera menggosok - gosokkan kedua tangannya agar terasa hangat. Namun, sama saja. Ia tetap merasa kedinginan karena sekarang ia hanya mengenakan kaus yang tidak terlalu tebal meski lengannya sudah panjang.
"Di mana obatmu? " tanya Dira khawatir. Ia terlihat sangat panik.
"Tunggu di sini sebentar, biar ku ambilkan. Matahari sebentar lagi muncul. Kau akan merasa hangat di sini. " kata Dira. Ia bergegas pergi menuju tenda untuk mengambil obat Alyssa.
Alyssa menurut. Ia tetap duduk di sana sambil terus menggosok - gosokkan kedua telapak tangannya. Zidan dan Langit yang sedari hanya menonton pun kini perlahan mendekat ke arah Alyssa.
"Alyssa, maafkan aku. Aku tadi benar - benar tidak sengaja. " ungkap Zidan. Alyssa hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Pakai ini, " Langit melepas hoodie abu - abu yang dipakainya, lalu memasangkannya dipunggung Alyssa. Zidan terkejut dengan reaksi Langit.
"Bukannya itu hoodie kesayanganmu? Kau membelinya dengan gaji pertamamu, kan? " tanya Zidan keheranan.
"Memangnya kenapa? Masalah buatmu? " tukas Langit. Zidan hanya diam menanggapinya. Sementara Alyssa sibuk mencerna perkataan Zidan. Zidan bilang, hoodie itu dibeli Langit dengan gaji pertamanya. Memangnya, Langit sudah bekerja?
"Alyssa, obatmu tidak ada di dalam tas. Aku sudah berusaha mencarinya. " kata Dira saat berhasil mencapai posisi Alyssa.
"Eh, ada kalian juga di sini? " Dira tampak kebingungan mendapati Zidan dan Langit di sana.
"Mungkin aku lupa membawa obatnya. Pasti tertinggal di rumah. " ujar Alyssa.
"Kalau begitu, kita kembali ke tenda saja, ya? Tendanya sudah tidak basah, kok. Mungkin sebentar lagi akan benar - benar kering. Hei, ini hoodie siapa? Nampaknya kebesaran di tubuhmu. " Dira menaikkan sebelah alisnya.
"Bahkan hoodie miliknya sendiri saja masih kebesaran saat dia pakai. Tubuhnya saja yang terlalu kurus. Hanya terdiri dari tulang - belulang tanpa daging. " ledek Langit sambil terkekeh. Alyssa mendelik mendengarnya.
"Kau ini jahil sekali. Jangan meledeknya seperti itu. Atau akan ku lempar kau sampai ke atas bukit sana. " ancam Dira bercanda. Langit hanya mengedikkan bahunya tak acuh.
"Cepatlah kembali ke tenda! Dia sepertinya sudah sangat kedinginan. " titah Langit.
"Ayo, Al! Biar aku bantu, " kata Dira. Alyssa menggeleng cepat.
"Aku bisa sendiri. Aku sudah lebih baik sekarang. " ujar Alyssa. Dira mengangguk paham. Mereka kemudian bergegas kembali ke tenda.
"Apa mungkin hanya terguyur air saja sampai sakit begitu? " tanya Zidan keheranan.
"Hanya apa maksudmu? Kau mengguyurnya dengan air satu ember. Itu banyak, bukan hanya. " Langit menoyor kepala Zidan dengan keras.
"Tidak usah serius begitu, dong. Kepalaku yang tidak bersalah ini selalu saja menjadi korban. " Zidan memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Ah, kau ini! Kau kan sasaran empuk buatku. " Langit merangkul Zidan dan mengajaknya kembali ke sumur. Ember mereka masih ada di sana, dan tentu saja masih kosong karena air yang ditimba oleh Zidan gagal dimasukkan ke sana.
"Kau yang timba lagi. Aku akan menunggu di sini dan melindungimu. " kata Langit. Zidan menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal, sedangkan Langit hanya meringis menanggapinya.
"Melindungi apanya. Melindungiku dari semut maksudmu? " gerutu Zidan sambil menimba air dengan terpaksa.
"Sudah, diamlah! Cepat selesaikan pekerjaanmu dan jangan banyak bicara! " titah Langit.
"Memangnya aku ini pembantumu, ha? " Zidan memprotes.
"Biasanya kau senang - senang saja jika ku suruh. Kenapa sekarang malah protes? "
"Senang jidatmu. Aku terpaksa melakukannya. Jika tidak, kau tidak akan memberiku jatah makanan. Bisa - bisa aku tidur di luar. " ungkap Zidan.
"Itu kau tahu. Makannya, cepat selesaikan! "