
Seorang gadis tampak tergesa - gesa melewati lorong demi lorong untuk sampai di kelasnya. Ia membawa sebuah buku yang sengaja didekap di depan dadanya. Ia mengenakan jas almamater yang sepertinya tampak kebesaran ditubuhnya yang kurus.
Di sepanjang jalan, ia terus saja menunjukkan senyum ceria. Menghadiahkannya secara cuma - cuma bahkan kepada orang yang tidak ia kenal. Rambutnya yang dikuncir ke belakang menari - nari ketika kakinya sedikit melayang untuk berlari. Sebentar lagi kelas dimulai. Ia tidak boleh terlambat, apapun yang terjadi. Bagaimana dengan reputasinya nanti? Sebagai seorang pengurus OSIS yang taat peraturan, ia harus bisa memberi contoh yang baik.
Alyssa. Namanya Alyssa Kania. Gadis periang yang menjabat sebagai bendahara OSIS di sekolahnya. Ia merupakan salah satu murid kesayangan para guru, karena otaknya yang terlalu encer. Ia selalu mendapat peringkat tinggi di kelasnya, dan tidak pernah mendapat peringkat di bawah angka dua.
Ia adalah contoh yang baik bagi teman - temannya. Pintar, disiplin, dan selalu ceria. Tidak pernah terlambat ke sekolah, dan belum pernah mendapat poin pelanggaran. Mungkin tidak untuk hari ini, karena bus yang ia tumpangi terjebak macet di tengah jalan.
Brukk!
"Eh, maaf! " serunya terkejut sambil memungut kembali bukunya yang terjatuh di lantai.
"Tidak perlu basa - basi! " jawab seseorang yang baru saja bertabrakan dengannya. Alyssa mendongak untuk melihat siapa orangnya, namun rupanya orang itu tidak ingin melihat wajahnya.
Orang itu hanya melirik sekilas pada Alyssa, lalu membuang muka dan berlalu pergi tanpa menawarkan bantuan.
"Dasar tidak sopan! " ujar Alyssa sambil berdiri dan membersihkan roknya dari debu yang menempel. Ia bergegas melanjutkan langkahnya menuju kelas yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Teeetttt!
Bel berbunyi nyaring tepat saat Alyssa menginjakkan kakinya di depan pintu kelas. Ia segera masuk dan menduduki kursinya yang terletak di barisan paling depan.
"Tumben hari ini berangkatnya tepat waktu? " tanya Yasmin, teman sebangkunya yang mengenakan kacamata minus.
"Tepat waktu apanya? Ini namanya terlambat. " Alyssa meralat. Yasmin hanya terkikik pelan.
"Alyssa, mana PR kamu? Aku mau nyontek. Sini, mumpung Bu Esti belum datang! " Dira merebut paksa buku yang tadinya didekap Alyssa. Dira bergegas menyalin jawabannya di buku miliknya.
"Nanti pulang sekolah kita ada rapat. Jangan ada yang molor, ya! " ujar Nindy, teman sebangku Dira yang menjabat sebagai sekretaris OSIS. Yasmin dan Alyssa mengangguk mengiyakan.
"Eh, Dira! Kamu dengar, kan? Jangan molor! Di antara kita berempat, kamu yang paling sering terlambat. Bukan sering lagi, tapi selalu. " omel Nindy.
"Tenang aja, kali ini aku tepat waktu, kok. " kata Dira santai tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya.
☁☁☁
Sudah sejak bel pulang sekolah lima menit yang lalu Alyssa berdiri mematung di perpustakaan seorang diri. Ia sedang menunggu pustakawan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam tiga hari lalu.
Tak butuh waktu lama bagi Alyssa untuk membaca novel tebal hingga tamat. Ia pasti membacanya sepulang sekolah hingga larut malam, tentu saja dengan diam - diam. Jika ibunya tahu ia pasti akan menerima omelan selama lebih dari satu jam. Ibunya sangat memprioritaskan kegiatan belajar bagi Alyssa.
Jangan salah mengira. Mereka tidak berpacaran seperti halnya remaja pada umumnya. Mereka hanya dekat. Pasalnya, orang tua Alyssa tergolong sangat overprotective terhadapnya. Mereka membatasi ruang gerak dan pergaulan Alyssa, terlebih jika sudah menyangkut laki - laki. Ayahnya bahkan baru mengizinkannya berpacaran ketika ia sudah lulus kuliah. Jadi, Alyssa tidak ingin macam - macam. Ia tidak punya niat sama sekali untuk melanggar peraturan dari kedua orang tuanya. Namun, isu bahwa Aga menyukainya memang tidak bisa dihindarkan.
Aga bukan teman sekelasnya, bukan pula anggota OSIS. Ia hanya salah satu murid yang kelasnya hanya berjarak satu ruangan dari kelas Alyssa. Aga adalah tipe pria idaman di kelasnya. Pendiam, pintar, tampan, dan berkulit putih. Alyssa mungkin merasa beruntung karena Aga memilihnya di antara sekian banyak teman sekelasnya yang mengejar, padahal Alyssa tidak terlalu cantik. Setidaknya itu menurut Alyssa sendiri.
"Saya belum lama kok, Bu. Baru sekitar lima menit yang lalu. Saya ingin mengembalikan buku yang saya pinjam tiga hari lalu. " Alyssa menyerahkan sebuah buku novel pada Bu Anggi dengan hati - hati.
"Bagaimana ceritanya, apakah bagus? Apa kamu menyukainya? " tanya Bu Anggi sambil meletakkan buku itu di atas meja.
"Sepertinya tidak terlalu, Bu. Mungkin ceritanya terlalu monoton. " jawab Alyssa.
"Ah, kalau begitu, saya akan menunjukkan buku yang bagus. Entah kamu akan menyukainya atau tidak, tapi sepertinya iya. Nak Alyssa pasti akan menyukai ceritanya. " kata Bu Anggi.
"Emm, mungkin lain kali saja, Bu. Saya sedang terburu - buru. " tolak Alyssa dengan halus.
"Lain kali? Bagaimana jika lain kali itu tidak akan pernah terjadi? " Alyssa mengerutkan keningnya mendengar perkataan Bu Anggi.
"Maksud Bu Anggi? " tanya Alyssa bingung.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bahkan satu detik mendatang pun tidak bisa diprediksi. Bagaimana jika sebelum itu aku sudah pergi? "
"Bu Anggi ini bicara apa? Jangan begitu, Bu. Itu membuat saya takut. Baiklah, saya mau meminjam bukunya. " ujar Alyssa akhirnya.
"Ikut aku! " Bu Anggi berjalan pelan menuju salah satu rak yang terletak paling ujung, di barisan paling belakang. Alyssa tidak pernah menyentuh rak itu karena kebanyakan bukunya sudah kuno.
Alyssa mengamati setiap gerakan Bu Anggi, yang kini sedang meraih salah satu buku. Sepertinya Bu Anggi kesulitan karena buku itu terletak di bagian tengah, diapit oleh buku - buku kuno yang super tebal.
"Nak Alyssa, buku ini adalah sejarah bagiku. Sejarah besar yang mengubah hidupku. Sejarah yang bahkan tidak pernah diwariskan. Sekarang, aku akan mewariskannya padamu. Aku harap, kamu bisa menjaganya dengan baik. " kata Bu Anggi sambil tersenyum. Alyssa menerimanya dengan hati - hati. Buku itu terlihat sangat kuno dan sedikit berdebu. Alyssa segera menyimpannya di dalam tas.
"Baiklah, Bu. Saya permisi untuk rapat OSIS. Saya sudah terlambat. " ujar Alyssa sambil melihat jam tangannya.
"Terima kasih untuk waktunya, Nak Alyssa. Semoga kamu selalu bahagia. " ucap Bu Anggi dengan senyum tulus. Alyssa mengangguk dan membalas senyumannya meskipun ia merasa ada yang aneh dengan Bu Anggi hari ini. Ia tidak seperti biasa.
Namun, tidak ada waktu untuk memikirkannya. Ia sudah terlambat untuk rapat. Ia bergegas menyusuri lorong untuk sampai di ruang OSIS.
Brukk!
Kejadian tadi pagi terulang kembali. Bahkan dengan orang yang sama. Ya, dalam satu hari Alyssa bertabrakan dengan orang yang sama dua kali.
Tidak ada prolog dalam kisah ini, karena setiap kehidupan diawali dari bab satu. Tidak ada sebuah kebetulan dalam hidup, karena setiap langkah yang kita ambil memiliki tujuannya sendiri. Waktu yang akan mengungkap semuanya...