Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 29 : Pulang



Esok harinya, Alyssa dan ketiga sahabatnya bangun pagi - pagi sekali dan bergegas untuk mandi. Setelah itu, mereka bergabung dengan teman - teman OSIS yang lain untuk memberi arahan pada seluruh peserta kemah supaya cepat membereskan barang - barangnya. Namun, meski begitu tenda baru boleh dirobohkan setelah apel penutupan kemah dilaksanakan.


Alyssa berpapasan dengan Langit saat ia tengah sibuk bolak - balik untuk memberi arahan. Mereka bertatapan selama beberapa detik, lalu Alyssa berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun dari bibirnya.


"Sepertinya kau punya banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan padaku. " tebak Langit sambil mengikuti langkah Alyssa kesana kemari.


"Tidak ada. Pergilah, jangan mengikutiku! Aku sedang sangat sibuk. " ujar Alyssa. Namun, Langit tetap saja mengikutinya.


Alyssa menyadari hal itu dengan cepat. Ia segera berbalik badan, membuatnya kini berhadapan dengan Langit.


"Bisakah kau berhenti mengikutiku? " pinta Alyssa memaksa. Ia mengatakannya sambil sedikit mendongak karena Langit lebih tinggi darinya.


"Tidak sebelum aku mendapat upah darimu. " jawab Langit santai.


"Upah? Memangnya aku ini majikanmu? " Alyssa kembali berjalan, diikuti Langit di belakangnya.


"Upah untuk kemarin, karena sudah mendatangkan dua orang untuk tampil di acara pentas seni api unggun. Seperti katamu. " kata Langit. Alyssa menghentikan langkahnya dengan tiba - tiba. Mengapa sekarang ia jadi mengingat tentang Jingga?


"Jadi kau tidak ikhlas membantuku? " tanya Alyssa.


"Di dunia ini, selalu ada hubungan timbal balik. Kau meminta bantuan, dan aku mengabulkannya. Sekarang, aku pun berhak meminta balasan darimu. " jawab Langit.


"Berapa uang yang kau minta? Seribu? " tanya Alyssa.


Langit menaikkan sebelah alisnya. "Seribu? Uang segitu hanya bisa digunakan untuk membeli gorengan. Lagipula, sebenarnya upah yang ku minta bukan dalam bentuk materi. "


"Lalu apa? Mencucikan bajumu selama satu Minggu? " tebak Alyssa asal. Langit terkekeh mendengarnya.


"Tidak, bukan itu. Sebenarnya aku sudah punya tempat laundry langganan. Aku hanya ingin kau membuatkanku omelet untuk makan. Walaupun tidak sekarang. Aku yang akan tentukan kapan waktunya. Omelet buatanmu yang kemarin itu lumayan juga. " ujar Langit. Alyssa mengerutkan keningnya heran.


"Jadi, kemarin Dira memberikan omelet itu padamu? " tanya Alyssa. Langit mengangguk mengiyakan.


Alyssa berpikir sejenak. Kenapa Dira memberikan omelet itu pada Langit? Ah, pertanyaan macam apa itu. Sudah jelas - jelas Langit itu sahabatnya Dira.


"Kenapa kau melamun begitu? Kau memikirkan aku, ya? " tebak Langit. Alyssa mencebik.


"Kau itu terlalu percaya diri. Sudah, pergi sana! " usir Alyssa.


"Kau masih menyimpan nomor ponselku, kan? " tanya Langit.


"Bukan urusanmu, " jawab Alyssa singkat. Langit tersenyum lebar.


"Kalau kau punya pertanyaan, jangan sungkan - sungkan untuk mengirim pesan padaku. " kata Langit sambil tersenyum jahil. Ia kemudian berlaku pergi meninggalkan Alyssa.


"Huh, apa - apaan dia itu? " gerutu Alyssa sambil menghentak - hentakkan kakinya ke tanah.


☁☁☁


Alyssa bertugas membuang sampah di tempat yang sudah dijelaskan oleh Pak Beno pada saat hari pertama. Sedangkan ketiga temannya bertugas merobohkan tenda dan mengemasinya.


Alyssa menghela napas lega setelah selesai membuang semua sampah yang ada di sekitar tendanya. Namun, ketika hendak berbalik, ia melihat Bu Gina yang sedang mengendap - endap. Sedang apa Bu Gina itu?


Alyssa bersembunyi di balik balok pembuangan sampah agar Bu Gina tidak menyadari keberadaannya. Bu Gina masih sibuk mengedarkan pandangannya, lalu berlari menuju hutan. Alyssa diam - diam mengikutinya dari belakang. Ia penasaran, mengapa Bu Gina sampai mengendap - endap seperti tadi.


Oh, rupanya Bu Gina tidak sedang menuju ke hutan. Ia berbelok menuju ke arah lain. Tempat yang ditujunya tak lain adalah pohon besar yang dulu mengundang rasa penasaran Alyssa saat ia melakukan survei lokasi kemah.


Setelah memastikan bahwa keadaan di sekitarnya aman, Bu Gina kemudian mengeluarkan sebuah plastik dari dalam sakunya. Rupanya Bu Gina sudah mengantongi plastik itu dari tadi.


Alyssa terkejut ketika ia melihat isinya. Bu Gina menyebarkan bunga mawar yang sudah dipisahkan dari tangkainya itu ke sekeliling pohon. Ia melakukannya sambil menangis. Alyssa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mengapa Bu Gina menangis?


Melihat itu, Alyssa jadi menyadari sesuatu. Ternyata Bu Gina lah yang selama ini meletakkan sesaji di sana? Masyarakat di sekitar sini tidak mungkin melakukannya. Sebab, sebagian besar masyarakat di sini terlihat sangat modern dan religius. Jadi, tidak mungkin mereka masih menganut kepercayaan seperti itu.


Memang benar bahwa setiap tempat pastilah ada penghuninya, apalagi pohon - pohon besar yang biasa dijumpai Alyssa di jalan. Namun, memberi sesaji di tempat - tempat seperti itu untuk menenangkan jin sangat bertentangan bagi kepercayaan Alyssa.


Setelah agak lama berada di sana, Bu Gina segera bangkit dan berlalu pergi. Tak lupa Bu Gina menghapus air matanya. Untung saja Bu Gina tidak melihat Alyssa.


Sekarang, Alyssa jadi sangat penasaran dan ingin segera menyelidikinya. Apa hubungan Bu Gina dengan pohon besar itu sampai - sampai Bu Gina menangis di sana? Jika meminta kekayaan atau semacamnya, Bu Gina tidak mungkin menangis seperti yang tadi itu, kan?


Alyssa tenggelam dalam kesibukan berpikirnya, sampai - sampai ia lupa bahwa ia harus segera kembali ke lokasi kemah. Alyssa berlari secepat yang ia bisa untuk segera sampai ke sana.


Sesampainya di sana, semua peserta kemah sudah bersiap menaiki bus masing - masing. Alyssa mencari di mana letak mobil Hanan. Sangat sulit menemukannya karena keadaan sangat gaduh saat itu. Apalagi sebagian siswa tampak saling dorong karena tidak sabar.


Tiba - tiba, seseorang menarik tangan Alyssa dari arah belakang. Alyssa terkejut bukan main. Ia menghela napas lega setelah mengetahui orangnya.


"Kau mau apalagi? " tanya Alyssa dengan emosi.


"Ikut denganku! " Langit menarik tangan Alyssa dengan paksa. Alyssa hanya bisa pasrah mengikutinya. Mereka berjalan agak jauh dari rombongan.


"Kau mau mengajakku ke mana, ha? Kita bisa ditinggal oleh rombongan. " Alyssa memprotes.


"Diamlah kau kau ingin cepat pulang! " titah Langit. Alyssa menurut. Ia diam selama mereka berjalan.


Mereka sampai di pedesaan. Langit menariknya sampai ke tanah lapang yang berada di tengah pedesaan itu. Di sana telah terparkir sebuah mobil warna hitam yang terlihat sangat mengkilap. Pasti pemiliknya rajin sekali membersihkannya.


"Masuk ke mobil! " titah Langit. Alyssa membelalakkan matanya.


"Itu mobil milikmu? " tanya Alyssa heran.


"Masuk saja jika kau ingin cepat pulang. " kata Langit. Alyssa mendengus sebal. Ia segera masuk ke dalam mobil setelah Langit membuka kuncinya.


Tak lama, mobil itu melaju dengan cepat menuju jalan raya.


"Bisa tidak pelan - pelan saja menyetirnya? " pinta Alyssa.


"Bisa saja jika ini mobilmu. Berhubung ini mobilku, jadi terserah padaku. " jawab Langit.


"Apa? Jadi ini benar - benar mobilmu? Bukankah harusnya kau naik bus bersama yang lain? " Alyssa membelalakkan matanya.


"Aku meminta seseorang membawanya ke sini. Jadi, aku bisa pulang naik mobil. Kau tahu, aku alergi naik bus. " ungkap Langit.


Alyssa hanya diam mendengarnya.


"Bisa ku pinjam ponselmu sebentar? Ponselku ada di tas, dan sudah kumasukkan ke dalam mobil Hanan. Aku ingin menghubungi Nindy dan memberitahunya kalau aku pulang bersamamu. " kata Alyssa.


Langit menghela napas. "Kau pikir untuk apa aku mengajakmu pulang naik mobilku? Aku terpaksa melakukannya. Zafran menghubungiku kalau mereka harus segera pulang lebih awal dari yang lain untuk mengkondisikan sekolah. Jadi, mereka tidak bisa menunggumu. Zafran memintaku untuk mencarimu dan ikut pulang bersamaku. Kau tahu, kau ini sangat merepotkan. " ungkap Langit.


"Lalu, di mana Zidan? Dia tidak ikut bersamamu? " tanya Alyssa.


"Ku suruh dia naik bus bersama yang lain. "