Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 20 : Tersesat



"Memangnya kau tidak mau masuk? " tanya Alyssa. Langit heran, mengapa sekarang Alyssa tidak merasa keberatan saat ia sebut merepotkan? Apa dia memang merasa bahwa sudah merepotkan Langit?


"Aku masih ada urusan sebentar. " jawab Langit.


"Urusan apa? " tanya Alyssa lagi. Langit heran dengan sifat Alyssa yang satu ini. Dia selalu saja ingin tahu.


"Kenapa kau ingin tahu sekali? Memangnya kau ini siapa, manajerku? " tukas Langit.


"Tentu saja aku harus tahu. Aku ini anak OSIS, yang diberi tugas mulia oleh para guru untuk mengurus acara kemah. Ingat ya, kau sekarang sedang berada di lokasi perkemahan. Bukan di rumah. Jadi, kau harus menaati peraturan. Sekarang, sebagai anak OSIS yang baik, aku memintamu untuk masuk ke dalam. Sekarang juga! " titah Alyssa.


"Tidak. Aku bilang aku ada urusan. " Langit bergegas memakai sandalnya, namun Alyssa lebih dulu mencegahnya sebelum ia pergi.


"Tunggu! Malam - malam begini kau mau kemana? " tanya Alyssa penasaran.


"Ke tempat yang aku mau. Ke mana saja, yang penting aku suka. " jawab Langit tak acuh. Ia bergegas pergi, menjauh dari mess. Alyssa tidak bisa mencegahnya. Akhirnya, ia nekat mengejar Langit.


"Hei, tunggu! Sebenarnya kau mau pergi kemana? Memangnya kau hafal tempat ini? Ini daerah asing, jangan macam - macam. Atau kau akan tersesat. " seru Alyssa sambil terus mengejar langkah Langit yang semakin cepat.


"Lalu kenapa kau mengikutiku? " tanya Langit kesal. Kini Alyssa sudah berhasil menyamakan posisinya. Ia berjalan tepat di samping Langit.


"Jika kau tersesat dan hilang, aku yang akan menjadi tersangka karena akulah orang terakhir yang berinteraksi denganmu. Aku tidak mau itu terjadi. Bagaimana dengan reputasiku nantinya? Semuanya bisa berantakan. " jawab Alyssa.


"Kenapa kau peduli sekali dengan reputasimu? Memangnya sepenting apa hal itu? "


"Tentu saja itu sangat penting. Tanpa reputasi, kita tidak akan dihargai. Dunia ini kejam, kau tahu? " jawab Alyssa sekenanya.


"Diamlah! Aku sedang berkonsentrasi sekarang. " titah Langit. Alyssa segera menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Ia mengamati gerak - gerik Langit.


"Lihatlah, itu kunang - kunang! " Langit menunjuk ke arah ribuan kunang - kunang yang sedang terbang. Alyssa membuka mulutnya tanpa sadar karena tidak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya. Ribuan kunang - kunang itu mengeluarkan cahaya yang sangat indah.


"Indah sekali! Aku tidak pernah melihat kunang - kunang sebanyak ini. Dari mana mereka datang? " tanya Alyssa penasaran.


"Aku yang memanggil mereka semua untuk datang. " jawab Langit.


"Jangan coba membohongiku, ya! " Alyssa mencebik.


"Tidak masalah jika kau tidak percaya. Lihat, cahayanya indah, kan? Bahkan bulan pun cemburu dengan cahaya lampu yang dimiliki kunang - kunang. " kata Langit.


"Begitu, ya! " Alyssa mencoba menyentuh salah satu kunang - kunang. Ia mendekat ke arah ribuan kunang - kunang itu terbang. Kunang - kunang itu perlahan terbang menghampirinya. Mereka mengelilingi Alyssa sekarang. Alyssa tersenyum bahagia. Langit memotret momen itu diam - diam, tanpa sepengetahuan Alyssa. Jika Alyssa tahu, Langit pasti akan habis diomelinya.


Namun, tak berapa lama kemudian, Alyssa terdiam. Ia seperti tersadar akan sesuatu.


"Tunggu, di mana kita sekarang? " tanya Alyssa sambil melihat ke sekeliling. Gelap dan sunyi. Hanya itu yang bisa ditemuinya. Tidak ada orang di sini kecuali dirinya dan Langit.


Langit pun tampak bingung dengan keberadaan mereka. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, tapi tidak menjumpai apapun yang bisa menjadi petunjuk. Sepertinya mereka berada sangat jauh dari lokasi kemah.


"Jangan bilang kalau kita tersesat. " kata Alyssa.


"Memang itu yang sedang terjadi. " ujar Langit.


"Oh, tidak! Ponselku ada di mess. Kau membawa ponsel, kan? Cepat cari di lokasi terkini kita di maps! Cari juga letak lokasi perkemahan kita! " titah Alyssa panik.


"Tanpa kau suruh pun aku pasti akan melakukannya. " ujar Langit. Ia membuka aplikasi maps di ponselnya. Namun, di sana tidak ada koneksi sama sekali.


"Sial! Tidak ada signal. " gerutu Langit kesal. Alyssa semakin membelalakkan matanya karena panik. Ia sangat takut sekarang.


"Bisa - bisanya kau tertawa di saat seperti ini, ha? " gertak Alyssa. Matanya kini berkaca - kaca. Bahkan ia sudah menangis sekarang.


"Bagaimana ini, aku sangat takut. Bagaimana jika tiba - tiba ada harimau yang menerkamku tanpa dikunyah terlebih dahulu... Aku akan mati... " Alyssa terus menangis. Langit tak bisa berhenti tertawa mendengar ocehan Alyssa yang semakin tidak masuk akal.


"Baiklah. Ini terpaksa kulakukan karena kita sedang dalam keadaan darurat. " ujar Langit. Alyssa tidak paham apa maksudnya. Langit kemudian bangkit dan menekan tombol sebuah benda yang tersembunyi di balik daun telinganya. Alyssa tidak tahu benda apa itu. Baru kali ini ia melihatnya.


"Sepertinya aku tersesat di tengah hutan. Tolong lacak lokasi ponselku dan segera kirim bantuan! Lakukan secepatnya karena aku bersama seorang gadis yang sedang sekarat. " kata Langit. Alyssa hanya sanggup melongo mendengarnya.


"Apa maksudmu tadi? Kau bilang aku sekarat? " ujar Alyssa tidak terima.


"Kau bilang kau akan mati tadi. " jawab Langit jujur.


"Memang, jika ada harimau yang menerkamku. Sekarang kan tidak ada. Lagipula, tadi aku terlalu panik sehingga tidak bisa berpikir jernih. " kata Alyssa.


"Tunggu, kau berbicara dengan siapa tadi? Bukannya ponselmu tidak ada signal? " tanya Alyssa penasaran.


"Bukan urusanmu. "


"Kau... Tadi kau seperti menekan sesuatu ditelingamu. Apa ada tombol rahasia? Coba kulihat! " desak Alyssa. Langit cepat - cepat menghindar darinya.


"Sudah kubilang itu bukan urusanmu! " tegas Langit.


"Apa kau ini robot yang dikendalikan dari jarak jauh, atau semacamnya? "


"Diamlah! Kemarikan tanganmu, ini hanya sebentar supaya kau tetap diam. " Langit mencekal kedua tangan Alyssa dan memborgolnya. Alyssa sangat terkejut melihat tangannya diborgol dengan paksa.


"Kau pikir aku ini penjahat? Hei, dari mana kau mendapatkan borgol itu? Kau pasti mencurinya, kan? " tebak Alyssa.


"Apa aku harus memplester mulutmu juga? " ancam Langit.


"Baiklah, baiklah. Aku akan diam sekarang. " ujar Alyssa.


"Bagus kalau begitu. Tetaplah diam, dan jangan takut. Kau tidak akan mati diterkam harimau di sini. Kau akan selamat. Aku jamin itu. " kata Langit. Alyssa menepati ucapannya untuk tetap diam.


Tak lama, sebuah cahaya senter menyoroti mereka. Alyssa tahu siapa yang datang ketika orang itu sudah mendekat. Dia tak lain adalah Zidan.


"Zidan? Bagaimana bisa kau sampai ke sini? " tanya Alyssa keheranan.


"Kau bilang kau akan tetap diam, bukan? " Langit mengingatkan. Alyssa kembali terdiam setelahnya. Zidan pun sepertinya heran dengan keberadaan Alyssa.


"Jadi, dia adalah gadis sekarat yang tadi kau maksud? Dia tampak baik - baik saja. Tapi, kenapa kalian bisa tersesat berdua seperti ini? " tanya Zidan.


"Sudahlah. Kita harus kembali ke mess secepatnya, sebelum orang - orang menyadari kalau kita hilang. Terutama orang penting yang satu ini. " Langit menoleh ke arah Alyssa. Alyssa hanya menjulurkan lidahnya tak acuh.


Setelah berjalan selama beberapa saat, mereka akhirnya sampai di dekat mess. Langit segera melepas borgol ditangan Alyssa.


"Tanganku mati rasa. " keluh Alyssa.


"Cepatlah masuk! Jangan bilang pada siapapun tentang ini. Aku akan masuk belakangan bersama Zidan supaya orang lain tidak curiga. " titah Langit. Alyssa mengangguk patuh. Ia bergegas kembali ke dalam mess.


"Apa kau sudah gila? Kenapa kau menculiknya? " tanya Zidan setelah Alyssa masuk ke dalam mess.


"Aku tidak menculiknya. Dia yang mengikutiku. Tapi, kau benar. Sepertinya aku memang sudah gila! "