Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 17 : Sehari Sebelum Kemah



Alyssa mengaduk - aduk minumannya menggunakan sedotan, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Langit yang kini tengah menikmati makanannya. Langit duduk tak jauh dari meja Alyssa dan ketiga temannya.


Alyssa sedang menerka - nerka, apa yang dipikirkan seorang Langit setelah menerima pesannya kemarin? Pasti Langit berpikir yang tidak - tidak. Ia pasti mengira bahwa Alyssa mengkhawatirkannya.


Satu hal yang membuat Alyssa kesal. Mengapa Langit tidak membalas pesan darinya kemarin? Mengingat hal itu membuat Alyssa menghentakkan sepatunya ke lantai. Ia merasa dipermalukan meski tidak ada orang lain yang tahu. Baru kali ini ada orang kurang ajar yang tidak membalas pesan darinya. Berani sekali manusia aneh itu membiarkan pesannya begitu saja.


Sementara Alyssa menggerutu dalam hati, Langit tampak tertawa diam - diam. Ia tahu Alyssa mencuri pandang ke arahnya beberapa kali. Ia juga tahu pasti Alyssa kesal karena pesannya tidak dibalas. Langit merasa puas melihat ekspresi Alyssa saat ini.


"Yayy! Aku senang sekali besok kita kemah. Sekarang aku sudah tidak sabar! " seru Nindy heboh.


"Apa yang membuatmu senang dari kegiatan itu? Memangnya ada hal seru yang bisa dibanggakan saat kemah? " tukas Dira yang tidak sependapat.


"Ada. Banyak malahan. Kita bisa saling mengeratkan ikatan persahabatan saat kemah berlangsung. Misalnya pada saat memasang tenda bersama - sama, memasak makanan, menimba air dari sumur, mengantre untuk mandi, malam api unggun, berjalan - jalan, dan masih banyak lagi. " kata Yasmin sambil mengabsen beberapa kegiatan kemah.


"Aku setuju. Kemah kita besok akan sangat menyenangkan. Aku harap, ada hal mengesankan yang akan terjadi di sana. " tambah Alyssa.


"Hal mengesankan seperti apa yang kau maksud? " tanya Dira.


"Hal mengesankan seperti sesuatu yang akan terkenang sepanjang masa. " jawab Alyssa.


"Kau ini berlebihan, " Dira menoyor kepala Alyssa yang duduk di sampingnya. Alyssa hanya meringis walau tidak terasa sakit.


"Menurutku itu tidak berlebihan. Barangkali, Sang Pencipta sedang menyusun skenario terindah untukku saat kemah nanti. " Nindy menanggapi.


"Kau terlalu berharap. Maksudmu skenario terindah agar kau dipertemukan dengan pangeran impianmu itu, kan? " tebak Dira.


"Kuharap itu benar - benar terjadi. Aku sudah memimpikan pangeran itu sejak lama. Entah kapan dia datang untuk mengungkapkan perasaannya padaku. " Nindy mulai berkhayal. Ia menopang dagunya menggunakan tangan sambil tersenyum - senyum.


"Barangkali pangeran itu hanya ada di mimpimu, bukan di dunia nyata. " ledek Dira. Nindy mengerucutkan bibir mendengarnya.


"Aku pernah membaca sebuah kisah tentang seorang putri yang selalu memimpikan pangeran. Meski ia tidak melihat wajahnya dalam mimpi, putri itu selalu yakin dan percaya bahwa pangeran dalam mimpinya itu memang benar - benar nyata. Akhirnya, setelah beberapa lama, putri itu benar - benar bertemu dengan pangeran yang selama ini ia impikan. Mereka lalu hidup bahagia bersama, selamanya. " cerocos Alyssa. Dira hanya melongo mendengarnya.


"Kau dengar itu, kan? Berarti tidak salah jika aku menunggu pangeran dalam mimpiku itu datang. Suatu saat kami pasti bertemu, dan kami akan hidup bersama selamanya. " Nindy tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Jika itu benar, aku harap aku akan diundang. Lebih bagus lagi jika aku yang menjadi bintang tamunya. " kata Alyssa.


"Kalau begitu, aku akan menjadi pendamping pengantinnya. " tambah Yasmin.


"Aku jadi apa di hari pernikahanmu? " tanya Dira.


"Kau hanya perlu mencuci piring setelah acara selesai. Itu tugas yang cocok untukmu, kan? " ledek Nindy.


"Enak saja. Jika aku yang mencuci piring, jangan harap semuanya kembali bersih dan utuh seperti semula. " ancam Dira tidak serius.


"Benar juga, ya! Yang ada nanti koleksi piringku pecah semua. " kata Nindy. Keempat gadis itu kemudian tertawa bersama.


Alyssa memasukkan baju - bajunya ke dalam tas. Ia kemudian menandai sesuatu di buku memonya menggunakan bolpoin cair.


"Peralatan mandinya sudah dimasukkan semua kan, Kak? Sabunnya sudah atau belum? Jangan lupa handuknya dibawa. " kata Venna mengingatkan. Venna memang selalu memanggil Alyssa dengan sebutan 'Kakak' jika ada Keysha. Supaya Keysha terbiasa memanggil Alyssa dengan sebutan yang sama pula.


"Sudah, Bu. Tinggal bandana yang belum dimasukkan. Keysha, mana bandananya? Lama sekali, sih! " gerutu Alyssa. Keysha menghampiri Alyssa dan menyerahkan sekotak bandana milik kakaknya.


"Kenapa bawa bandana segala, sih? Memangnya sepenting itu, ya? " tanya Keysha heran.


"Kamu itu, seperti tidak tahu kakakmu saja. Di mana - mana kan, kakakmu suka pakai bandana. " kata Venna. Keysha manggut - manggut tanda mengerti.


"Eh, iya. Jaketnya sudah dimasukkan belum, Kak? " tanya Venna. Alyssa menggeleng cepat. Venna segera membuka lemari pakaian Alyssa dan mengambil sebuah jaket warna ungu.


"Alyssa tidak mau pakai yang itu, Bu. Jaketnya sudah kekecilan. " tolak Alyssa.


"Kalau begitu pakai yang ini saja. Ini pasti masih muat. Kan, baru beli beberapa bulan yang lalu. " ujar Venna sambil meraih sebuah hoodie berwarna pink milik Alyssa.


"Tapi, Bu. Yang ini juga tidak cocok. Alyssa belum pernah pakai karena ukurannya masih terlalu besar. " protes Alyssa.


"Bukan ukurannya yang terlalu besar. Kakak saja yang kurus. " ledek Keysha sambil tertawa. Alyssa spontan melotot padanya.


"Benar kata adikmu. Kakak kurang makan sayur, sih... Makannya sampai sekarang masih kurus. Tidak gemuk - gemuk. " Venna ikut tertawa. Alyssa hanya mendengus kesal.


"Sudah, pakai hoodie yang ini saja. Tidak masalah jika masih kebesaran. Yang penting muat di badan. Kakak kan suka alergi kalau kedinginan. Cuaca di sana pasti sangat dingin, kan? Lagipula, ini hoodienya warna pink. Warna favoritnya kakak, kan? " bujuk Venna. Alyssa hanya mengangguk pasrah. Venna kemudian melipat hoodie itu dan memasukannya ke dalam tas milik Alyssa.


"Kakak ini manja banget, deh. Cuma siap - siap buat kemah aja pakai dibantu ibu segala. Kakak kan sudah besar. Harusnya bisa melakukannya sendiri. " protes Keysha sambil melipat tangannya di depan dada. Ia juga memasang muka cemberut.


"Tidak apa - apa, dong. Kan, kakak tidak meminta ibu untuk membantu. Ibu sendiri kok yang ingin membantu. " bela Venna. Alyssa menjulurkan lidahnya pada Keysha. Keysha menanggapinya dengan mata melotot.


"Sudah, sudah. Jangan bertengkar, ini sudah malam. Besok kakak harus berangkat pagi, kan? Ayo, sekarang tidur! " titah Venna. Alyssa mengangguk patuh.


"Keysha juga tidur! " Keysha memberi hormat ala tentara pada Venna. Setelah itu Venna keluar dari kamar mereka.


"Memangnya lokasi kemah kakak jauh ya dari sini? " tanya Keysha lugu.


"Lumayan jauh. Lokasinya berada tepat di bawah bukit. " jawab Alyssa.


"Pasti udara di sana sangat dingin, kan? " tebak Keysha. Alyssa mengangguk cepat.


"Memangnya kakak kuat di sana? Kakak kan suka alergi kalau kedinginan. "


"Jangan bilang begitu, dong. Lebih bagus kalau kamu mau mendoakan kakak supaya kuat dan sehat berada di sana. " ujar Alyssa. Keysha hanya meringis menanggapinya.