
Lokasi kemah yang diadakan rutin setiap tahun oleh sekolah Alyssa kali ini bertempat di bawah bukit. Bentuk lahannya memang tidak rata, sebab cenderung mirip sengkedan.
Bedanya, jika sengkedan pada umumnya berukuran sempit, lahan yang digunakan untuk kemah ini berukuran lebih lebar dan luas. Hanya saja memang bentuknya tidak lurus, tapi bertingkat.
Sore ini, hujan turun dengan sangat deras. Alyssa dan ketiga sahabatnya terpaksa turun ke bawah untuk mengungsi di rumah Belanda atau yang difungsikan sebagai mess. Siswa - siswi yang lain pun juga banyak yang mengungsi. Selepas ibadah maghrib, semua peserta kemah dikumpulkan di mess bawah.
Hanan mengetes mikrofon yang digenggamnya, untuk mengetahui apakah bisa berbunyi. Setelah memastikan bahwa mikrofon itu berfungsi, Hanan memberikannya pada Pak Beno. Pak Beno adalah waka kesiswaan di sekolah Alyssa. Ia bertugas memandu acara kemah tahun ini.
Pak Beno memberi salam terlebih dahulu sebelum memulai pidatonya. Semua siswa dan siswi yang berada di mess menjawab salamnya dengan serempak.
"Sepertinya acara api unggun malam ini harus kita tunda karena hujan yang sangat deras. Semoga saja besok tidak hujan agar kita dapat melaksanakan acara api unggun dengan nyaman. " kata Pak Beno. Spontan terdengar luapan kecewa dari sebagian besar siswa karena gagal mengadakan acara api unggun. Padahal, acara itu merupakan salah satu acara yang paling ditunggu - tunggu.
"Karena sebagian besar tenda kalian basah dan ada pula yang sampai banjir, malam ini semua siswa dan siswi diwajibkan untuk tidur di mess ini. Mess tingkat atas yang kita pakai sekarang ini nantinya akan digunakan untuk perempuan, sedangkan yang laki - laki tidur di tingkat bawah. Mengerti semuanya? " tanya Pak Beno. Seluruh peserta kemah pun menjawabnya dengan serempak bahwa mereka sudah mengerti.
"Baguslah jika semua sudah mengerti. Pasti setiap tenda sudah mendapat selembar kertas berisi acara - acara kemah, bukan? Setelah ini, ketua OSIS akan menjelaskan maksud dari acara - acara tersebut. Untuk Hanan, silakan maju ke depan. Selanjutnya, saya serahkan acara malam ini kepada seluruh anggota OSIS. Kalian pasti bisa menghandle semuanya. Jadi, saya pamit untuk naik ke mess atas. Para guru akan mengadakan rapat sebentar lagi. " jelas Pak Beno. Semuanya mengangguk tanda mengerti. Pak Beno segera keluar dari mess bawah setelah itu.
"Baiklah. Di sini saya, Hanan, selaku ketua OSIS SMA Negeri 1 akan menjelaskan susunan acara kemah yang akan diadakan besok. Acara yang pertama adalah... "
Alyssa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sorot matanya menyapu seluruh sudut mess, mencari seseorang. Sedari tadi ia belum melihat Langit. Apa ia mencoba bersembunyi lagi darinya? Apa Langit sebegitu tersinggungnya oleh ucapan Alyssa hingga ia masih menghindarinya?
Namun, bukannya kemarin Langit sudah muncul di kantin? Lalu mengapa sekarang ia kembali tak terlihat seperti makhluk gaib?
"Ah, kenapa aku jadi mencarinya, sih? Memangnya siapa dia? Kami bahkan tidak saling akrab. " gumam Alyssa.
"Al, temani aku ke toilet, ya? Aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Ayo, cepatlah! " pinta Yasmin sambil menarik - narik lengan Alyssa.
"Iya, iya! " Alyssa menurut. Ia berdiri dengan cepat, lalu bergegas keluar bersama Yasmin.
"Alyssa, cepatlah! Aku sudah tidak tahan! " desak Yasmin. Alyssa kelimpungan karena ia sulit mencari pasangan sandalnya. Ia baru menemukan satu, sedangkan pasangannya tidak terlihat karena di luar gelap. Hujan sudah tinggal rintik - rintik sekarang.
"Sabarlah sebentar. Aku tidak bisa menemukan sandalku yang satunya. Kenapa tadi kita lupa membawa senter, ya? " kata Alyssa sambil terus mencari sandalnya.
"Sudahlah, pakai dulu yang mana saja. Nanti juga dikembalikan. Cepatlah, kumohon! " Yasmin terus menarik lengan Alyssa. Alyssa terpaksa memakai sandal yang ia injak karena Yasmin terus saja menariknya. Alyssa tidak peduli siapa pemiliknya. Sekarang yang terpenting adalah menemani Yasmin ke toilet.
Yasmin berlari lebih dulu di depan Alyssa. Sepertinya ia benar - benar sudah tidak tahan. Alyssa berjalan mengikutinya dari belakang. Alyssa tidak berani berlari karena jalanan becek sehabis diguyur hujan. Bahkan tadi Alyssa sempat terpeleset karena tak sengaja menginjak jalanan berlumut yang tentu saja sangat licin. Untung saja ia tak sampai terjatuh karena berhasil mempertahankan keseimbangan.
Alyssa akhirnya sampai di depan toilet. Hanya ada satu pintu yang tertutup. Pasti Yasmin yang ada di dalamnya. Alyssa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie yang ia kenakan. Benar saja, udara di sana memang sangat dingin. Terlebih lagi jika malam hari seperti ini. Dinginnya bertambah menjadi dua kali lipat.
Pintu toilet terbuka dengan tiba - tiba. Sepertinya Yasmin terburu - buru.
"Aaaa! " teriak Yasmin saat terkejut melihat Alyssa yang tiba - tiba sudah berada di depan pintu toilet. Alyssa juga terkejut karena Yasmin berteriak. Ia hampir limbung ke belakang jika saja kakinya tidak bisa mengatur keseimbangan.
Namun, sepertinya bukan karena itu. Sandal gunung yang dipakainya itulah yang tadi menolongnya selama dua kali. Jika sandal itu tidak kuat, sudah pasti tadi Alyssa akan terjatuh. Untung saja sandal itu tidak licin sehingga bisa menahan tubuhnya agar tidak limbung. Sepertinya sandal ini membawa keberuntungan. Sandal gunung itu terlihat masih baru dengan warna dasar hitam dan warna biru sebagai variasinya.
"Hih, Alyssa! Kamu ini membuatku terkejut saja. Kenapa tiba - tiba ada di depan pintu, sih? Aku kira siapa. " omel Yasmin.
"Pasti kamu mengira aku ini hantu, ya? " tebak Alyssa sambil tersenyum jahil.
Sampai di depan Mess, Alyssa melihat Langit yang tengah mondar - mandir sambil mengarahkan cahaya senternya ke bawah. Ketika Langit melihat Alyssa datang, ia langsung menyoroti kaki Alyssa dengan senternya.
"Hei, apa yang kau lakukan? " tanya Alyssa heran. Ia memundurkan kakinya karena terkejut.
"Sandalku! Itu sandalku, kembalikan sekarang juga! Jadi kau malingnya, ya? Pantas saja aku cari dari tadi tidak ketemu. " tukas Langit.
"Apa? Kau memanggilku maling? " Alyssa melotot tidak terima.
"Lalu disebut apa jika seseorang mengambil barang orang lain tanpa izin? "
"Aku tidak berniat mencuri. Aku sedang terburu - buru dan tak kunjung menemukan pasangan sandalku, jadi aku memakainya. Jika aku tahu ini sandalmu, aku juga tidak akan memakainya. " Alyssa membela diri.
"Kalau begitu cepat lepas sandalku. Enak saja, itu masih baru. Aku baru membelinya kemarin sore. " celetuk Langit. Alyssa mendengus kesal. Ia segera melepas sandal gunung milik Langit. Ia bergegas masuk ke mess sambil berjinjit karena satu kakinya tidak memakai sandal.
"Kau mau masuk atau tidak? " tanya Yasmin.
"Kau masuk saja dulu. Nanti aku menyusul setelah menemukan pasangan sandalku. " jawab Alyssa. Yasmin mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mess.
"Kemana perginya sandalku, ya? " Alyssa bermonolog.
"Memangnya sandalmu punya sayap hingga ia bisa pergi sesuka hati? " Langit menimpali.
"Hei, diam kau. Aku tidak sedang berbicara denganmu. Aku berbicara pada diriku sendiri. Lagipula, kenapa kau masih di sini? Bukannya aku sudah mengembalikan sandalmu tadi? "
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Kau kan baru saja memakai sandalku tanpa izin. " jawab Langit.
"Enak saja. Aku tidak mau mengucapkannya. Lagipula, aku tidak sengaja melakukannya. " tolak Alyssa.
"Benarkah? Bukannya biasanya kau sangat mudah mengucapkan dua kata itu pada orang lain, meski kau tidak sengaja maupun tidak mengenal orang itu? Lalu kenapa sekarang susah sekali mengucapkannya padaku? "
"Itu tidak berlaku padamu. Hei, bagaimana kau tahu? Jadi benar, selama ini kau memata - mataiku? " Alyssa memicingkan matanya pada Langit.
"Sudah, diam. Mana sandalmu, akan kubantu mencari pasangannya. " ujar Langit.
"Benarkah? " mata Alyssa berbinar - binar. Langit senang melihat sorot mata indah itu.
"Sebelum aku berubah pikiran. " ancam Langit. Alyssa segera menunjukkan sandalnya pada Langit. Sandalnya itu berwarna pink polos tanpa motif.
"Cari dengan benar, ya! Sandal itu kesayanganku. Aku tidak mau dia hilang begitu saja di sini. " kata Alyssa. Langit tidak menjawab. Ia sibuk menggerakkan senternya ke segala arah. Ah, itu dia!
"Yang ini, kan? " Langit meraih sebuah sandal yang sama dengan milik Alyssa.
"Wah, iya! Kau pandai sekali mencari barang yang hilang. Terima kasih! " akhirnya Alyssa mengucapkan kata itu. Langit tersenyum diam - diam mendengarnya. Namun, ekspresi itu segera ia ubah dengan cepat agar Alyssa tidak melihatnya.
"Sudah, sekarang masuklah! Kau sangat merepotkan. "