Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 22 : Tracking



Tepat pukul delapan, seluruh peserta kemah dikumpulkan di tanah lapang yang diselimuti rerumputan. Matahari sudah terlihat, namun cahayanya tak cukup untuk menghalau suhu dingin di sana.


Alyssa berbaris di samping Nindy. Sementara Dira dan Yasmin berada di barisan paling belakang karena terlambat datang. Sebentar lagi mereka akan mengikuti kegiatan tracking atau berpetualang di sekitar lokasi kemah.


Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan hubungan antara manusia dengan alam. Karena lokasi kemahnya berada di bawah bukit, otomatis kegiatan tracking hari ini adalah berpetualang ke atas bukit.


Pak Beno bilang, tempat yang akan digunakan untuk tracking memiliki pemandangan yang sangat indah. Apalagi letaknya di atas bukit. Rasanya Alyssa sudah tidak sabar ingin sampai ke sana.


Sekarang, Pak Beno tengah berpidato untuk memberi arahan tentang kegiatan tracking. Sebagian besar peserta tampak tidak mendengarkan karena rupanya mereka lebih asyik bercengkrama dan berswafoto.


"Aduh, Al! Temani aku ke toilet sebentar, ya! Aku sudah tidak tahan, " pinta Nindy.


"Kenapa tidak dari tadi, sih? Sebentar lagi kan kita berangkat. " Alyssa memutar bola matanya kesal.


"Memangnya aku bisa mengatur jadwal kapan harus ke toilet, ha? Tadi belum terasa. Sekarang aku sudah tidak tahan, cepatlah! " Nindy menarik lengan Alyssa dengan paksa. Alyssa akhirnya menurut. Mereka mundur dari barisan dan berlari cepat ke arah toilet. Alyssa menunggu di luar dengan tidak sabar.


"Kenapa lama sekali? " teriak Alyssa dari luar.


"Sebentar! " balas Nindy. Alyssa melihat jam tangan yang ia kenakan dengan khawatir.


"Nanti kita bisa tertinggal! " teriak Alyssa lagi. Tak lama, Nindy keluar dari toilet sambil memegangi perutnya.


"Sekarang sudah lega. Ayo kita kembali! " Nindy dan Alyssa kembali ke tanah lapang yang tadi. Namun, mereka tidak menemukan siapapun di sana. Tanah lapang itu sudah kosong.


"Apa kubilang? Akhirnya kita tertinggal juga, kan! " seru Alyssa kecewa.


"Oh, astaga! Kalau begini caranya, aku tidak jadi siaran langsung di instagram, dong! " sesal Nindy. Alyssa berjongkok sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Pupus sudah harapannya untuk naik ke atas bukit dan melihat pemandangan dari sana.


"Hei, lihat! Itu Zafran, ayo kita ikuti dia! " seru Nindy. Alyssa segera berdiri dan berlari kecil menyusul Nindy yang berada tak jauh di depannya. Mereka kemudian berlari secepat mungkin untuk menyusul Zafran.


Zafran terkejut ketika melihat Alyssa dan Nindy berlari mengejarnya. Ia berhenti untuk menunggu mereka. Tidak hanya Zafran yang ada di sana, tapi Langit dan Zidan juga. Mereka memang sering pergi bersama.


"Kenapa... Jalanmu... Cepat... Sekali... " kata Nindy terbata - bata sambil memegangi lututnya yang terasa pegal. Napasnya juga tidak beraturan setelah jauh berlari. Apalagi jalanan yang ia lewati sedikit menanjak.


"Kalian ini kenapa? Kenapa kalian mengikuti kami, ha? " tanya Zafran.


"Tadi... Kami tertinggal, " jawab Alyssa sambil terus berusaha mengatur napasnya.


"Lalu, kenapa mengikuti kami? Kenapa tidak mencari rombongan? " tanya Zafran lagi.


"Rombongannya sudah tidak terlihat. Karena aku melihatmu, jadi aku langsung saja berlari mengikutimu. Lagipula, sama saja kan? Bukannya kau juga akan naik ke bukit untuk mengikuti kegiatan tracking? " ujar Nindy.


"Ah... Ini akan menjadi sangat rumit. " kata Langit sambil memejamkan mata dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


"Memangnya kenapa? Kami hanya ingin ikut kegiatan tracking. Kami janji tidak akan merepotkan kalian. " kata Alyssa. Nindy mengangguk mengiyakan.


"Masalahnya, kami bertiga tidak berniat ikut kegiatan itu. Kembalilah, kalian salah jalur! " ujar Zidan. Setelah mengatakannya, ia langsung disambut tatapan tajam nan mematikan dari Zafran dan Langit.


"Ups! Aku keceplosan lagi, " Zidan menutup mulutnya.


"Apa? Jadi kalian tidak sedang mengikuti kegiatan tracking sekarang? Lalu, kalian mau ke mana? " tanya Nindy penasaran.


"Apa? Mereka boleh ikut? Kau ini, yang benar saja. Bagaimana kalau mereka... "


"Kau juga diamlah! Ku rasa mereka bisa menjaga rahasia. Lagipula, kita tidak bisa meninggalkan mereka di sini. Tempat ini sudah terlalu jauh dari lokasi kemah. " ujar Langit, memotong pembicaraan Zidan. Zafran hanya diam, tak berselera untuk menanggapi.


Mereka berlima akhirnya segera melanjutkan perjalanan. Alyssa tak henti - hentinya tersenyum melihat pemandangan yang sangat indah. Sesekali ia mengeluarkan ponselnya untuk memotret pemandangan.


"Alyssa, ayo kita berfoto! " Nindy mengarahkan kameranya ke arah wajahnya dan juga Alyssa. Nindy tersenyum puas melihat hasilnya.


"Zafran, bisa tolong kau fotokan kami berdua? " pinta Nindy. Zafran memutar bola matanya malas. Namun, ia tetap menyambar ponsel Nindy dan memotretnya.


"Sekarang aku foto sendiri. " Nindy sibuk berpose sementara Zafran menjadi juru fotonya. Setelah beberapa jepretan, Zafran akhirnya menyerah.


"Kau mau membayarku berapa setelah ini? Jariku juga punya rasa lelah. Ini sudah lebih dari dua puluh jepretan, dan kau belum juga berhenti. " gerutu Zafran.


"Terserah padaku. Kenapa kau yang sewot. Kalau tidak ikhlas, tidak apa - apa. Tidak masalah buatku. Sini! " Nindy menyambar ponselnya dari tangan Zafran. Zafran menirukan gerak bibirnya dengan luwes. Sepertinya Zafran sudah sangat ahli melakukannya.


Mereka berlima akhirnya kembali berjalan. Alyssa yang merasa kedinginan segera memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Namun, ia lupa bahwa sweaternya ternyata tidak memiliki lubang saku.


"Kau tidak memakai hoodiemu? " tanya Langit saat menyadari gerak - gerik Alyssa. Alyssa menggeleng pelan.


"Sedang ku jemur di atas tenda karena basah. " jawab Alyssa.


"Kenapa tidak memakai hoodie yang ku pinjamkan? " tanya Langit lagi.


"Aku tidak enak padamu. Lagipula, masa iya aku memakainya begitu saja tanpa meminta izin. " jawab Alyssa.


"Ku kira kau tidak suka warnanya. " kata Langit. Alyssa menoleh bingung.


"Apa? "


"Bukannya kau selalu mengenakan pakaian berwarna pink? Bahkan kemarin warna sandalmu juga pink. Lihat, sepatu yang kau pakai sekarang pun warnanya pink. Apa semua gadis sangat suka warna itu? "


"Aku suka karena warnanya cantik. " jawab Alyssa jujur.


"Cantik apanya? Warna pink justru lebih mirip seperti ****. " tukas Langit.


"Kenapa kau bicara begitu? Itu tidak sopan, tahu. Tarik kembali kata - katamu! " titah Alyssa sambil menoyor kepala Langit. Ia melakukannya sambil berjinjit karena Langit lebih tinggi darinya.


"Apanya yang tidak sopan? Aku berkata apa adanya. Memangnya kau pernah melihat **** berwarna biru? Tidak, kan? Karena semua **** berwarna pink. Seperti itu maksudku. Aku tidak bermaksud mengatakan hal jelek. Aku kan, anak baik - baik. " ujar Langit. Zafran dan Zidan spontan mencebik mendengarnya.


"Aku tidak mempermasalahkannya. Bagiku, warna pink adalah warna yang cantik. " kata Alyssa.


"Yang pasti, warnanya tidak secantik orang yang menyukainya. " Pipi Alyssa bersemu merah mendengarnya.


"Hei, kenapa kau tersipu begitu? Yang menyukai warna pink bukan hanya kau saja. Jangan kira aku memujimu. " celetuk Langit, mengubah ekspresi Alyssa yang tadinya senang menjadi cemberut.


"Aku tidak berharap dipuji. Kalau begitu, kau juga jangan mengira aku akan memakai hoodiemu itu, ya! " sengat Alyssa.


"Hei, aku tidak memaksamu memakainya. Jika memang tidak kau pakai cepat kembalikan padaku. Itu hoodie kesayanganku, ingat ya! "