
"Ibuuu, Alyssa pulang! " teriak Alyssa dari ruang tamu. Ia meletakkan tasnya di kursi dengan keras. Ia sudah sangat lelah hari ini.
"Alyssa, bagaimana di sana? Kau tidak sakit, kan? Kau ini ceroboh sekali, obatnya tidak dibawa. " omel Venna yang baru datang dari kamarnya. Alyssa hanya meringis.
"Keysha sama Ayah di mana? " tanya Alyssa sambil celingukan.
"Keysha sama Ayah sedang keluar sebentar. Kau pasti lelah, kan? Sana, cepat ke kamar! Istirahat yang cukup. Besok tetap masuk sekolah, kan? " titah Venna. Alyssa mengangguk patuh.
Ia bergegas pergi menuju kamarnya dan tak lupa menutup pintu. Ia langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Sekarang, ia sedang tak ingin melakukan apapun. Ia sedang tak ingin berpikir keras seperti yang biasa ia lakukan. Sekarang waktunya tidur karena ia sudah sangat lelah.
"Aku rindu padamu, kasurku yang empuk! " kata Alyssa sambil menggerak - gerakkan tangannya tepat di atas kasur.
☁☁☁
"Alyssa, bangun! Ini sudah pagi, katanya kau tidak libur hari ini? " Venna mengguncang - guncang tubuh Alyssa. Tidak ada sahutan. Alyssa bahkan tidak bereaksi. Tidak biasanya putri sulungnya itu susah dibangunkan.
"Alyssa, kau mau berangkat ke sekolah atau tidak? " Venna berkacak pinggang. Namun, lagi - lagi tak ada sahutan. Venna akhirnya merasa khawatir pada putri sulungnya itu. Ia segera mengecek dahinya. Mata Venna membelalak setelah melakukannya.
"Astaga, panas sekali! Ternyata kau demam, ya. Ini pasti karena kemah kemarin. Anak ini memang keras kepala. Berlagak sok kuat di depan ibunya, padahal dia tidak pernah tahan berlama - lama di cuaca dingin. " Venna menggelengkan kepalanya.
☁☁☁
"Ooh, iya Tante. Nanti surat izinnya menyusul? Ooh, baik Tante. Nanti Yasmin sampaikan sama gurunya. Iya Tante, sama - sama. " Yasmin menutup teleponnya.
"Kenapa, Yas? " tanya Dira penasaran.
"Ini, Tante Venna baru saja menelpon. Katanya, Alyssa sakit. Surat izinnya menyusul. Ayahnya masih kerja, jadi suratnya tidak ada yang mengantar ke sekolah. " jawab Yasmin tanpa menambah dan mengurang pesan dari Venna.
"Alyssa sakit? " Nindy membelalakkan matanya. "Anak itu benar - benar payah, ya! Selalu saja kalah pada cuaca dingin. Padahal sudah berkali - kali ku ajari agar bisa tahan. "
"Kalau begitu, nanti kita tengok dia, ya? " ajak Dira. Yasmin dan Nindy mengangguk setuju.
"Nanti aku ajak Zafran sama Hanan juga, deh! " ujar Nindy.
☁☁☁
Ponsel Zafran berdering tepat ketika ia hampir memenangkan permainan online.
"Aahh, siapa yang mengirim pesan disaat penting seperti ini? Padahal aku hampir saja menang. " gerutu Zafran. Ia segera membuka pesan yang baru saja masuk. Ternyata itu pesan dari Nindy.
"Gadis itu selalu saja menggangguku. " kata Zafran kesal. Ia mulai membaca isi pesannya.
From : Nindya Anjani
Nanti pulang sekolah kita jenguk Alyssa bersama - sama. Aku juga sudah memberitahu Hanan. Wajib! Tidak menerima protes dalam bentuk apapun. Sekian.
"Pulang sekolah nanti aku tidak bisa ikut penyelidikan. Aku ada urusan. " kata Zafran pada Langit dan Zidan.
"Urusan macam apa hingga kau menolak rezeki, ha? Jadi kau tidak mau dapat gaji? " tanya Langit curiga.
"Kemarin saja kau sampai tega melakukan percobaan pembunuhan padaku. Sekarang kau mau menolak gaji? " tambah Zidan.
"Percobaan pembunuhan apa maksudmu? Kemarin aku dan Langit hanya bercanda. Kau tidak bisa membedakan yang mana serius dan yang mana candaan? " cecar Zafran.
"Jadi kau sebenarnya ada urusan apa? " tanya Langit lagi.
"Menjenguk Alyssa? Memangnya kenapa dia? " tanya Langit.
"Ya pasti sakit, lah. Kalau dia baik - baik saja, tidak mungkin juga dijenguk. " jawab Zafran sewot.
"Baiklah. Kalau begitu kau jenguk saja dia. Tidak usah menyusul ke lokasi penyelidikan. Mana sempat, keburu telat! " ujar Langit.
"Iya, mana sempat keburu telat! " Zidan menirukan gaya bicara Langit.
☁☁☁
"Waktu meninggalnya tercatat pukul sembilan malam. Dengan luka sayat ditangan kiri, juga bekas cekikan dileher. Kemungkinan korban sebelumnya diancam dengan cara disayat. Bisa kau tuntaskan kasus ini dalam waktu kurang dari seminggu? " tanya seorang pria paruh baya pada Langit.
"Beri aku waktu tiga hari. " jawab Langit.
"Biasanya kau hanya meminta waktu dua hari bukan? " tanya pria paruh baya itu.
"Menurutmu pekerjaanku hanya sebatas membantumu saja? Aku juga punya urusan lain. " jawab Langit sewot.
"Baiklah. Jika dalam tiga hari kau dan kedua temanmu itu tidak bisa menyelesaikan kasus mudah ini, bisa kupastikan gaji kalian akan dipotong. " ancam pria paruh baya itu. Langit mengangguk menyanggupi. Pria itu kemudian berlalu pergi meninggalkannya.
"Hah, dasar! Dia berlagak mengatakan kasus ini mudah. Padahal dia sendiri tidak bisa memecahkannya. " Langit tertawa sinis.
"Aku menemukan sesuatu di ponsel korban! " seru Zidan yang duduk di belakang Langit.
☁☁☁
"Kau sudah merasa baikan? " tanya Nindy saat mereka menjenguk Alyssa di rumahnya. Sedari tadi mereka sibuk bercengkrama sambil menikmati teh hangat dan camilan yang telah disajikan Venna di atas meja.
"Sudah agak baikan setelah kalian datang. Terima kasih ya, sudah menyempatkan waktu untuk menjengukku. " ucap Alyssa tulus.
"Sama - sama. Setelah ini kau harus banyak - banyak istirahat, ya! Jika tidak, aku akan menendangmu sampai ke China. " ancam Dira bercanda.
"Kau ini, selalu saja begitu! " tegur Yasmin. Dira hanya meringis malu.
"Jadi, kapan kita pamit pulang? " celetuk Zafran sambil melihat jam tangan yang ia kenakan. Hanan spontan menyenggolnya dengan siku.
"Kau ini memang tidak punya sopan santun, ya? " ledek Hanan serius.
"Kalau tidak niat menjenguk dari awal tidak usah ikut saja. " kata Nindy sewot.
"Hei, bukannya kau yang bilang aku wajib ikut dan kau tidak mau menerima protes dalam bentuk apapun? " ungkit Zafran. Nindy melengos tak peduli.
"Kenapa buru - buru? Biasanya kau betah jika ada banyak camilan. " tanya Dira heran. Yasmin tampak mengangguk setuju.
"Masalahnya, aku sedang ada urusan. Urusan ini sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan karena menyangkut uang. " jawab Zafran dengan penuh percaya diri.
"Kenapa mendadak kau menjadi sangat mata duitan, ha? " ledek Nindy.
"Di dunia ini, kita tidak bisa melakukan apapun jika tanpa uang. Bahkan kita tidak akan bisa hidup tanpa adanya uang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa uang itu sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. " celoteh Zafran. Nindy mencebik mendengarnya.
"Kalau begitu kau pergi saja, tidak apa - apa. Pasti urusan itu sangat penting bagimu, kan? " ujar Alyssa sambil tersenyum.
"Kalian dengar, kan? Bahkan tuan rumah saja mau membiarkanku pergi. " kata Zafran.
"Dia membiarkanmu pergi karena kau memang sangat mengganggu di sini! " celetuk Nindy tak acuh.