
Alyssa mengernyitkan dahinya ketika melihat Langit yang juga baru sampai di sekolah. Alyssa mengencangkan tasnya di pundak, lalu berlari kecil menghampiri Langit.
"Langit! " panggil Alyssa keras agar Langit mendengarnya. Benar saja, Langit menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya melihat kedatangan Alyssa.
"Langit, aku ingin bertanya sesuatu padamu tentang... "
"Berhenti memanggil namaku keras - keras seperti tadi. " tegas Langit.
"Tujuanku hanya supaya kamu mendengarnya, " Alyssa membela diri.
"Lalu, setelah aku mendengarnya kamu mau apa? "
"Sudah kubilang aku ingin bertanya tentang... "
"Aku bukan narasumbermu. Jangan tanyakan apapun padaku lagi. Kamu sangat mengganggu, " Langit beranjak pergi, namun dengan cepat ia kembali berbalik.
"Satu lagi. Jangan panggil namaku keras - keras seperti tadi. Jangan pernah. Kamu hanya tahu namaku. Kita bahkan tidak saling mengenal. " ujar Langit mutlak. Alyssa terbungkam dibuatnya. Langit segera berlalu pergi meninggalkan Alyssa yang masih diam di tempatnya berdiri.
Lelaki itu benar - benar aneh, ucapnya dalam hati.
☁☁☁
"Lokasinya berada tepat di bawah bukit. Pasti akan sangat dingin di sana, jadi pastikan semua keperluan yang harus dibawa dicatat tanpa kurang. " titah Hanan pada Nindy, sang sekretaris yang kini tengah manggut - manggut dan mencatat semua keperluan untuk kemah di laptop miliknya.
"Bagaimana dengan dananya, sudah kamu perhitungkan? " tanya Hanan pada Alyssa. Alyssa segera membalik halaman bukunya, lalu menunjukkan catatannya pada Hanan.
Hanan mengambil alih buku itu dari tangan Alyssa, lalu mulai mengamatinya dengan saksama.
"Bagus. Ditulis dengan sangat rapi. Jadi, untuk anggota OSIS menggunakan dana kas, dan untuk siswa menggunakan kas kelas. Sepakat? " tawar Hanan.
"Sepakat. Itu keputusan yang bagus. Jadi, kapan kita akan mengadakan rapat untuk penyampaian informasi? " tanya Zafran, wakil ketua OSIS yang tampan, namun memiliki sifat buruk yang biasa disebut sebagai buaya darat. Ia gemar sekali mencari perempuan cantik. Bahkan ponselnya sudah seperti asrama putri, yang dipenuhi dengan nomor telepon para gadis yang didekatinya.
"Kita bahkan belum meninjau lokasi kemahnya. Apa tidak sebaiknya kita tinjau dulu, setelah itu baru kita rangkum semuanya dan kita sampaikan pada saat rapat? " usul Alyssa.
"Baiklah. Sejak awal aku mempercayakan tugas ini pada kalian. Apa kalian siap? " tanya Hanan pada Nindy dan Alyssa.
Nindy mengangguk setuju. "Baik. Aku akan atur jadwalnya. "
"Hanya kami berdua? Yang benar saja. " ujar Alyssa protes.
"Baiklah. Zafran, temani mereka berdua. Aku masih ada banyak pekerjaan, termasuk mengurus setumpuk proposal ini. " Hanan mengarahkan pandangannya pada setumpuk proposal di atas meja ruang OSIS.
"Bisa diatur. " ujar Zafran enteng.
☁☁☁
Tak sampai lima belas menit kemudian, Alyssa dan Nindy sudah duduk berdampingan di halte. Alyssa dengan ekspresi khasnya yang suka menebar senyum bahkan kepada orang yang tidak dikenalnya, dan Nindy dengan ekspresi kesal yang entah sebab apa.
"Kamu kenapa? " tanya Alyssa yang heran dengan ekspresi Nindy saat ini.
"Hati - hati. Jangan terlalu membenci seperti itu. Nanti malah jadi suka. " ledek Alyssa sambil menutup mulutnya karena menahan tawa. Nindy menoleh padanya dan melotot kesal.
"Alyssaaaaa! "
☁☁☁
Alyssa menutup lemari pakaiannya setelah menemukan baju yang cocok untuk dikenakan. Hari ini, ia dan Nindy, juga tak ketinggalan Zafran akan meninjau ulang lokasi kemah serta mempersiapkan segala sesuatunya di sana.
Kami memutuskan untuk naik taksi online karena jarak yang ditempuh lumayan jauh. Benar saja kata Nindy, sepanjang perjalanan Zafran tak henti - hentinya memuji dirinya sendiri, juga memamerkan kemampuannya menarik banyak gadis dengan cepat seperti halnya magnet.
"Karena ketampanan saya ini, mantan - mantan saya banyak yang masih berharap bisa balik sama saya. " Zafran bercerita pada sopir taksi online yang sedari tadi menanggapi dengan antusias.
"Hueekk! " Nindy pura - pura muntah.
"Iri bilang, boss! " ledek Zafran enteng. Sopir taksi itu hanya terkekeh mendengarnya.
"Hati - hati loh, nanti jadi kebiasaan sampai tua. Jangan sampai kamu punya satu istri, tapi selingkuhannya banyak. " pesan Pak sopir.
"Bukan begitu konsepnya, Pak. Bagi saya, masa - masa remaja tidak sepatutnya di sia - siakan karena hanya terjadi sekali seumur hidup. Maka dari itu, sekarang saya rajin mencari pacar untuk menikmati masa remaja. " celetuk Zafran. Lagi - lagi Pak sopir tertawa mendengarnya. Sementara Nindy mencebik dan Alyssa hanya menggelengkan kepala.
☁☁☁
Seorang lelaki paruh baya menyambut mereka bertiga ketika sampai di lokasi yang rencananya akan digunakan untuk kemah. Kemungkinan beliau adalah penjaga di tempat tersebut.
"Adik - adik ini dari SMA N 1 bukan? " tanya Bapak itu.
"Oh, benar sekali, Pak. Saya Alyssa. Ini kedua teman saya, Nindy dan Zafran. Maksud kedatangan kami kesini untuk meninjau ulang lokasi kemah. Apakah Bapak mengizinkan kami berkeliling sebentar? " tanya Alyssa dengan sopan.
"Boleh sekali. Mari, biar saya antar berkeliling. " Bapak itu berjalan di depan, diikuti Alyssa dan Nindy serta Zafran yang paling belakang.
Lokasi kemah itu seperti terasering. Di bagian paling atas ada tempat untuk mendirikan tenda bagi laki - laki, lalu di bawahnya ada sebuah bangunan Belanda yang difungsikan sebagai mess atau tempat penginapan bagi para guru yang mendampingi acara kemah. Bangunan kecil itu di kelilingi tanah lapang yang nantinya akan menjadi tempat pendirian tenda bagi perempuan. Di bagian paling bawah juga terdapat bangunan Belanda yang ukurannya lebih besar, bahkan bertingkat. Bangunan itu nantinya akan digunakan sebagai tempat berkumpul dan mengungsi bila hujan tiba.
Nindy sibuk mencatat sesuatu di buku kecilnya ketika penjaga itu menjelaskan letak tempat - tempat yang akan dipakai untuk kemah. Zafran juga sibuk memotret beberapa spot dan tempat yang menurutnya perlu menggunakan ponsel androidnya. Sementara Alyssa merasa penasaran pada sebuah pohon yang tidak ia ketahui namanya karena nampak asing.
Bapak penjaga itu sepertinya memperhatikan gerak - gerik Alyssa yang sedari tadi nampak aneh.
"Kenapa, Dik? " tanya Bapak itu.
"Oh, tidak, Pak. Saya hanya sedang melihat - lihat. " jawab Alyssa berbohong. Ia tidak ingin menanyakan hal yang tidak perlu.
Bapak itu kemudian mengajak mereka bertiga berkeliling. Sampai akhirnya, mereka berjalan melewati pohon itu. Alyssa baru menyadari sesuatu, bahwa terdapat sesajen di bawah pohon itu. Alyssa merasa ada sesuatu di tempat ini. Sesuatu yang aneh dan membuatnya penasaran.
"Al, kamu tadi lihat sesajen di bawah pohon besar itu tidak? Aku ngeri melihatnya. Apa mungkin masyarakat di sekitar sini masih percaya pada roh - roh leluhur hingga mereka menaruh sesajen di bawah pohon? " tanya Nindy sambil berbisik saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Hush! Jangan bicarakan itu lagi. Walau bagaimanapun, kita harus tetap menghargai kepercayaan mereka. " kata Alyssa. Nindy hanya mengangguk setuju.
Sebenarnya, kepala Alyssa juga dipenuhi oleh pertanyaan itu. Jika dilihat sekilas, masyarakat di sekitar tempat kemah sudah sangat modern. Lantas, mengapa masih ada sesajen di bawah pohon? Apakah ada orang lain yang sengaja meletakkannya di sana?