
"Kurang ajar kalian ini! " gerutu Zidan ketika ia baru saja selesai mencuci muka di toilet. Ia juga habis muntah - muntah tadi di dalam toilet. Zafran dan Zidan yang mendengar suara muntahannya dari luar toilet terus saja tertawa. Hingga perut keduanya mendadak terasa sakit.
"Keterlaluan! " Zidan terus menggerutu di sepanjang jalan menuju tendanya.
"Sudah, diamlah! Kami tidak serius tadi. Jika kami serius, kau pasti sudah mati dengan luka tusuk di perutmu sejak tadi. " celetuk Langit.
"Lain kali aku akan membalas kalian. Awas, tunggu saja! " ancam Zidan tidak serius.
"Lagipula, mana mungkin kami tega membunuhmu, ha? Kami kan sangat sayang padamu. " Zafran mengakui.
"Kenapa aku malah jijik mendengarnya? " ungkap Zidan.
"Sebenarnya, aku juga sudah menganggapmu sebagai saudara kandungku sendiri. " Langit merangkul bahu Zidan.
"Senang mendengarnya. " kata Zidan sambil menunjukkan ekspresi datarnya, tanpa tersenyum.
"Giliran Langit yang bilang begitu, kau senang mendengarnya. Sedangkan aku tadi, kau jijik mendengarnya. Aahh, kau ini pilih - pilih sekali! " tukas Zafran.
"Jika aku membantahnya, aku tidak akan mendapat jatah makanan ketika sampai di rumah nanti. " kata Zidan jujur. Langit memilih untuk tidak menanggapi.
☁☁☁
Alyssa duduk di atas tanah tak jauh dari tendanya. Kakinya berayun - ayun karena ia berada di tempat paling ujung. Ia menatap ke arah depan bawah, memandangi mess yang kemarin digunakan untuk menginap.
"Boleh aku duduk ikut duduk di sini? " pinta Nindy. Alyssa mengangguk.
"Hati - hati, nanti jatuh! " Alyssa memperingatkan. Nindy mengangguk patuh. Ia duduk secara perlahan di samping Alyssa.
"Huh, ini tidak terlalu tinggi. " kata Nindy. Alyssa diam, tak berselera untuk menanggapi.
"Ini, ku bawakan cokelat panas untukmu. " Nindy memberikan segelas cokelat panas pada Alyssa. Alyssa menerimanya dengan hati - hati.
"Terima kasih! " Alyssa mulai meminumnya, begitu juga dengan Nindy.
"Sejak kapan kau mengenal Langit? Sepertinya, kalian sudah sangat akrab. " tanya Nindy penasaran. Alyssa menggeleng pelan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu kapan pastinya. Aku sering bertabrakan dengannya dulu, lalu kami bertemu di rumah Bu Anggi saat aku mengunjungi anaknya. Di situlah kami berkenalan. Dulu dia itu dingin sekali. Dia itu ketus dan sangat menyebalkan. " ungkap Alyssa.
"Benarkah? Tapi, ku lihat kalian sepertinya akur sekali. Terlihat sangat akrab. " kata Nindy.
"Entahlah, dia itu cepat sekali berubah. Dia itu sangat aneh. Jika sekarang dia bersifat dingin dan ketus, besoknya dia akan bersifat lembut. Jika sekarang dia enggan membantu, besoknya dia akan menjadi dewa penyelamat. Aku bingung kenapa bisa begitu. Atau mungkin dia itu punya kepribadian ganda, ya? " tebak Alyssa asal.
"Ah, tidak mungkin. Menurutku dia itu sangat keren. Kau lihat pertunjukannya tadi, kan? Dia pandai sekali bermain gitar. " Nindy memuji. Alyssa memonyongkan bibirnya.
"Kenapa bibirmu itu? Disengat lebah? " ledek Nindy. Alyssa mendorong bahu Nindy ke samping dengan kesal.
"Apa - apaan kau ini? Aku bisa jatuh, tahu! Untung saja cokelat panas ini tidak tumpah ke bajuku. Ini baju kesayanganku. " gerutu Nindy.
"Habisnya, kau ini selalu saja meledekku. " kata Alyssa kesal.
"Aku tidak meledekmu. Mulutku ini memang suka blak - blakan. Lagipula, kenapa tiba - tiba bibirmu monyong begitu, ha? " tanya Nindy penasaran.
"Disengat lebah, " jawab Alyssa, masih merasa kesal. Nindy menoyor kepalanya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegangi gelas agar tidak tumpah.
"Jawab dengan benar! " titah Nindy.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak suka pertunjukannya tadi. Kau puas? " jawab Alyssa dengan jujur. Nindy membelalakkan matanya.
"Tidak, " jawab Alyssa singkat.
"Lalu, kenapa kau tidak menyukainya? " tanya Nindy lagi.
"Aku juga tidak tahu. " Alyssa menjawabnya sambil memasang muka cemberut. Nindy berpikir sejenak. Tak lama, ia tertawa lepas. Alyssa menoleh karena bingung dengan reaksi sahabatnya ini.
"Kau ini kenapa? Kemasukan hantu durian? " tanya Alyssa bercanda.
"Aku tahu kenapa kau tidak menyukai pertunjukan tadi. Itu karena... Kau sedang cemburu! Hahahaha, " Nindy kembali tertawa lepas. Alyssa melotot tak percaya.
"Cemburu bagaimana maksudmu, ha? " tanya Alyssa galak.
"Kau ini, masih saja mengelak. Sudahlah, jangan membohongi dirimu sendiri. Aku tahu kau sedang jatuh cinta. Itu terbukti saat kau cemburu melihat Langit bersama gadis yang tadi. " jelas Nindy.
"Kau ini mengarang cerita saja. Tidak, aku tidak sedang jatuh cinta. " Alyssa mengelak.
"Omong - omong, kau tahu nama gadis yang menyanyi bersamanya tadi? Dia itu namanya Jingga. Kau tahu siapa dia? Dia itu... " Nindy sengaja mengulur waktu untuk mengatakannya, membuat Alyssa kesal.
Alyssa berdecak tidak sabar. "Cepat, katakan saja! "
"Lihat, kau penasaran, kan? Sudah jelas. Itu artinya kau sedang jatuh cinta. Kau jatuh cinta pada Langit, kan? Mengaku saja, aku akan diam. Janji! " kata Nindy.
"Sudah kubilang aku tidak mencintainya, titik! Sekarang lanjutkan perkataanmu tadi. Kalau bicara jangan setengah - setengah begitu, dong! " tegur Alyssa.
"Baiklah. Jingga itu sebenarnya adalah... Mantan kekasih Langit! " kata Nindy agak keras. Ia segera menutup mulutnya sendiri setelah menyadari suaranya yang terlalu keras. Alyssa melongo sambil membelalakkan matanya.
"Benarkah itu? " tanya Alyssa memastikan. Nindy mengangguk mengiyakan.
"Kenapa, kau cemburu ya? " goda Nindy. Alyssa segera membuang muka.
"Tidak. Harus ku katakan berapa kali kalau aku tidak mencintainya, ha? "
Nindy terkikik geli. "Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ya, walaupun aku masih yakin kalau sebenarnya kau mencintai Langit. "
"Nindyyyy! " seru Alyssa panjang. Nindy lagi - lagi terkikik geli mendengarnya.
"Kalau aku boleh jujur, kau lebih cocok dengan Langit daripada Aga. " ungkap Nindy.
"Bisa diam tidak? " ujar Alyssa kesal.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita kembali ke tenda! Yasmin dan Dira pasti sudah tertidur pulas. Besok kita tidak boleh terlambat bangun karena besok kita akan pulang. Ah, sebenarnya aku masih ingin di sini. " Nindy memasang muka sedih yang justru terlihat lucu.
"Kalau mau tetap di sini silakan saja, tidak ada yang melarang. Tidurlah dengan ulat bulu dan cacing! " ledek Alyssa.
Nindy bergidik ngeri mendengarnya. "Tidak, tidak mau! "
Nindy dan Alyssa bergegas kembali ke tenda tak lama kemudian. Nindy langsung terlelap ketika membaringkan tubuhnya, sementara Alyssa masih tetap membuka mata.
Ia ingin cepat - cepat tidur, tapi kenapa matanya seolah tidak mau terpejam?
Mungkinkah sebab Alyssa masih digandrungi banyak pertanyaan yang bersarang dipikirannya saat ini?
Sepertinya memang karena itu. Pertanyaan - pertanyaan itu seolah mendesak Alyssa untuk segera mencari jawaban, tapi Alyssa bahkan tidak tahu kepada siapa ia akan bertanya.
"Tidurlah, tidurlah! " gerutu Alyssa untuk dirinya sendiri.