
Alyssa kembali berpapasan dengan Langit saat berangkat sekolah. Lebih tepatnya, Alyssa tak sengaja menabraknya. Seperti biasa, Langit mengalungkan headphonenya dileher. Langit tampak keren jika sedang seperti itu, meski sangat sulit bagi Alyssa untuk mengakuinya.
"Bisakah kamu mencari hobi lain selain menabrakku? Apa kamu tidak bosan dengan hobi yang satu ini? Aku saja bosan terus bertabrakan denganmu. " ungkap Langit.
"Lagipula siapa yang mau punya hobi menabrakmu? Aku juga bosan, kenapa selalu kamu yang bertabrakan denganku? Kenapa bukan orang lain? " Alyssa bertanya - tanya pada dirinya sendiri.
"Kurasa kamu sengaja melakukannya karena ingin mengetahui informasi dariku, benar begitu kan? " tebak Langit dengan penuh percaya diri.
"Apa maksudmu? Jangan terlalu percaya diri seperti itu. Lagipula, aku sudah mendapatkan jawaban. Yang pasti, itu bukan darimu. " tegas Alyssa sambil melipat tangannya di depan dada.
"Pantas saja kamu tidak sibuk berpikir keras seperti hari - hari sebelumnya. Apa itu sebabnya tadi malam kamu tidur lebih awal? " Alyssa melongo karena terkejut sekaligus keheranan. Bagaimana Langit bisa tahu?
"Kamu memata - mataiku, kan? Kamu membuntutiku? " Alyssa melotot. Langit tampak biasa saja melihat reaksi Alyssa. Ia tidak marah dituduh seperti itu. Ia justru tersenyum sinis.
"Kamu benar - benar ingin tahu? " tanya Langit sambil tetap tersenyum sinis.
"Tidak. Aku bisa mencari tahu sendiri. Seperti yang biasa kulakukan. Aku tidak pernah butuh bantuan darimu. " jawab Alyssa ketus. Ia berlalu pergi dengan perasaan kesal. Sementara Langit tersenyum memandangi punggungnya yang menghilang saat berbelok di lorong kelas.
☁☁☁
Ketiga sahabat Alyssa hanya bisa melongo sambil terus mengamati perilaku Alyssa yang tak seperti biasa. Bagaimana tidak, saat sampai di kelas Alyssa langsung mengeluarkan seluruh isi tasnya. Ia sibuk menggeledah lacinya yang bersih tanpa sampah. Tak sampai di situ, ia bahkan meraba seragamnya sendiri dengan gelisah.
"Kamu kenapa, Beb? " lagi - lagi Dira memanggilnya dengan sebutan itu. Alyssa masih sibuk dengan kegiatan misteriusnya sampai tidak menghiraukan pertanyaan Dira.
"Kenapa sih, dia itu? " Nindy ikut bertanya sambil mengamati setiap gerak - gerik Alyssa yang kini tengah membalikkan tasnya hingga semua barang di dalamnya terjatuh berserakan.
"Astaga, dia menjatuhkan semuanya. Lihat saja, aku tidak mau membantunya nanti saat dia ingin memasukkannya ke dalam tas lagi. " celetuk Dira.
"Baiklah, cukup! Sebenarnya sedang apa kamu ini? " tanya Nindy agak keras.
"Aku sedang mencari tahu apakah ada alat penyadap di sini. " jawab Alyssa tanpa menoleh.
"Alat penyadap? " Yasmin keheranan.
"Apa kamu gila? Memangnya siapa yang menyadapmu? " tanya Dira.
"Tidak ada apapun di sini. Lalu bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana? Bagaimanaaa?! " Alyssa memegangi kepalanya sendiri menggunakan kedua tangan sambil berjongkok.
Ketiga sahabatnya kini melongo lebih lebar melihat kelakuannya. Mereka semakin dibuat bingung dengan apa yang sedang terjadi pada Alyssa.
"Dia benar - benar sudah gila. " kata Dira tanpa berkedip.
"Haruskah aku mengecek dahinya? Siapa tahu dia sedang demam. " Nindy menimpali.
"Tidak. Kita hanya perlu melihatnya saja. Lihat, lihat segala gerak - geriknya dengan lebih fokus. Kita akan menikmatinya. Dia sedang menjadi tokoh utama! " tambah Yasmin.
"Bisa jelaskan padaku di mana letak kelucuannya? " tanya Nindy tanpa berkedip. Mereka bertiga hanya fokus melihat Alyssa sedari tadi.
☁☁☁
Pelajaran sejarah sedang berlangsung. Seisi kelas hanya diam mendengarkan Bu Reni yang sedang menerangkan suatu bab. Bu Reni adalah salah satu guru killer yang ditakuti. Jadi, tidak ada yang berani membuka mulut untuk sekadar bercanda disaat pelajarannya berlangsung.
Alyssa juga diam memperhatikan ke depan. Namun, pikirannya berada di tempat lain. Ia tidak meletakkan perhatian penuh pada setiap kata yang diucapkan Bu Reni. Tanpa sengaja ia melihat Edo, teman sekelasnya yang duduk di barisan meja sampingnya yang tengah menempelkan sesuatu di bawah meja. Entah kenapa benda itu tampak seperti alat sadap di mata Alyssa.
"Jadi kamu pelakunya?! " teriak Alyssa dengan tiba - tiba. Seisi kelas spontan menatapnya, termasuk Bu Reni. Edo pun nampak kebingungan karena Alyssa kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu yang naruh alat sadap itu, kan? " tuduh Alyssa. Edo melongo kebingungan mendengarnya.
"Jawab! " Alyssa berteriak semakin keras. Yasmin yang duduk di sampingnya segera mengguncang bahunya, berniat menyadarkan Alyssa. Namun, itu tidak berhasil. Alyssa justru bangkit menghampiri Edo. Yang ia lakukan selanjutnya membuat seisi kelas ricuh.
Alyssa menjambak rambut Edo sambil terus berujar bahwa Edo lah pelakunya. Edo yang memasang alat sadap itu di sana. Sementara Bu Reni dan teman - temannya berusaha menghentikan perbuatan Alyssa. Edo hanya bisa pasrah karena pengakuannya yang menyatakan bahwa ia tidak tahu apa - apa tidak dihiraukan sama sekali oleh Alyssa.
☁☁☁
Alyssa menunduk sambil terus menepuk kepalanya sendiri. Ia sedang merutuki dirinya yang baru saja melakukan hal paling memalukan.
"Aduh Beb, kamu tadi itu kerasukan apa sih? " tanya Nindy gemas sambil mengaduk minumannya. Mereka memang sedang berada di kantin.
"Aku kasihan tahu lihat Edo. Dia sampai kesakitan begitu. " kata Yasmin. Alyssa hanya sanggup bergumam.
"Sumpah, ya! Tadi itu keren tahu, Al. Aku bangga deh, punya sahabat yang jago menjambak. Aku akan membuat jurus baru mulai besok. Jurus jambak ala Alyssa, hyatt hyattt! " Dira menirukan gaya jambak yang tadi dilakukan Alyssa pada Edo.
"Aaaaa! Aku bodoh sekali, aku bodoh! " Alyssa menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Mau aku bantu jambak, Al? " tawar Dira. Namun, ia segera diam ketika Nindy melotot padanya.
"Baguslah kalau kamu sadar. Yang tadi itu memang wajar jika disebut bodoh. Imajinasimu itu terlalu tinggi sampai - sampai kamu mengira permen karet yang ditempelkan Edo di bawah meja itu sebagai alat sadap. " ujar Nindy. Memang benar bahwa Edo menempelkan permen karet yang baru saja dikunyahnya ke bawah meja. Hal itu dilakukannya agar tidak ketahuan Bu Reni. Karena perbuatan Alyssa yang entah kenapa tiba - tiba mengira bahwa permen karet itu adalah alat sadap, Bu Reni jadi tahu bahwa selama ini Edo selalu mengunyah permen karet saat pelajarannya berlangsung.
Hal itu dibuktikan dengan banyaknya permen karet kering di bawah meja Edo. Setelah disidang oleh Bu Reni, Edo akhirnya mengaku bahwa ia memang sudah sering melakukannya. Edo akhirnya dihukum membersihkan toilet selama satu Minggu. Sementara Bu Reni memaafkan Alyssa. Ia hanya menegurnya dan mengingatkan Alyssa agar tidak mengulanginya lagi. Jika hal itu sampai terulang, Alyssa akan mendapat hukuman. Kali ini, prestasi Alyssa berhasil menyelamatkan reputasinya.
"Sepertinya kamu harus mengatur jadwal konsultasi dengan psikolog. " kata Yasmin.
"Benar. Siapa tahu otakmu kelelahan karena telah menampung banyak ilmu hingga akhirnya otakmu terpaksa membuang semuanya. Seperti ponsel yang dikembalikan ke pengaturan pabrik. " ledek Nindy.
"Belum lama ini ponselku juga kuatur supaya kembali ke pengaturan pabrik karena terlalu sering error. Siapa tahu cara ini bisa kamu coba, Al. Mana tombolnya, biar aku bantu pencet supaya otakmu bersih kembali seperti semula. " Dira ikut meledek.
"Aku gila! Aku sudah gila! "