
Nindy berjalan dengan jarak satu meter di belakang Zafran. Jika tidak sedang dalam keadaan lapar, ia pasti tak mau mengekor buaya darat itu. Di sepanjang jalan, Nindy sibuk menggerutu dalam hati.
"Ah, ini dia! " seru Zafran sambil memetik dedaunan. Nindy mendekat ke arahnya.
"Apa kita akan memakan daun itu? Yang benar saja. Bisa - bisa dalam sehari aku berubah menjadi kambing. " oceh Nindy.
"Ini bukan makanan kambing, enak saja. Ini namanya daun cantigi. Bisa dimakan untuk lalapan. Lumayan, kan? Kau mau mati kelaparan di atas sini? " ujar Zafran. Nindy bergidik ngeri mendengarnya.
"Bisa kita kembali sekarang? Aku sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa harta karun itu. Apa setelah itu aku akan bertambah kaya? " tanya Nindy. Zafran mencebik mendengarnya.
"Bertambah kaya apanya. Memangnya semua harta karun harus berupa uang? "
"Tunggu! Berarti harta karun yang akan kita tuju itu bukan berupa uang? Lalu, berupa perhiasan, berlian, atau apa? Cepat katakan! " desak Nindy. Zafran tertawa lepas.
"Mendadak bicaramu terdengar seperti seorang ibu tiri yang sedang mengincar harta warisan. "
☁☁☁
Mereka berlima kemudian melanjutkan perjalanan menuju harta karun itu. Jalanan semakin menanjak, membuat mereka sesekali harus berhenti untuk beristirahat.
"Sekarang aku kapok mendaki. " kata Alyssa sambil memegangi lututnya yang terasa sangat pegal.
"Hah, payah kau ini! " ledek Nindy sambil mengibaskan rambut panjangnya.
"Kita sudah sampai! " seru Langit. Ia menyibak semak belukar yang ada di depannya.
Nindy dan Alyssa spontan melongo melihat pemandangan indah yang kini sudah di depan mata. Mereka berjalan pelan menuju ke sana. Alyssa tidak tahu sekarang ia berada di ketinggian berapa, tapi yang pasti ini sangat luar biasa.
Alyssa baru kali ini melihat awan dari jarak sedekat itu. Gemuruh angin seolah bersenandung merdu menyambut kedatangannya. Bunga - bunga tumbuh dengan indah di sana, mempercantik bukit dengan warna - warni mereka.
Rasanya awan itu seperti air di pantai yang memiliki arus balik. Awan - awan itu bergerak dengan lincah, menimbulkan suara berisik yang anehnya justru menenangkan. Nindy tak mau menyia - nyiakan momen sempurna itu. Ia kini sibuk memotret awan dan tak lupa berswafoto. Ia juga meminta Zafran untuk kembali menjadi fotografernya.
Sementara Alyssa masih berdiri dalam diam. Ia memejamkan matanya, menikmati alunan suara awan yang bergemuruh. Angin yang sangat kencang menerpa wajahnya, menyibak rambutnya yang panjang tergerai.
"Bagaimana harta karunnya? " tanya Langit, meminta pendapat. Alyssa tidak menyadari sejak kapan Langit ada di sampingnya karena ia masih memejamkan mata.
"Luar biasa. Ini sangat indah. Aku tidak mengira harta karunnya berupa pemandangan di atas bukit ini. Ku kira sekotak koin kuno yang terkubur di dalam tanah. Seperti di buku yang pernah ku baca. " jawab Alyssa sambil terus memejamkan mata.
"Terkadang harta yang kira cari bukanlah sesuatu yang bernilai materi. Justru harta itu ada di sekeliling kita. Mungkin kita terlalu sibuk sampai tidak menyadarinya. " kata Langit. Alyssa mengangguk setuju.
"Kau sudah mengajariku hal yang sangat berharga hari ini. " ujar Alyssa. Ia bahkan tidak sadar saat bibirnya mengeluarkan kalimat itu. Langit terkekeh pelan mendengarnya.
"Sebaliknya. Selama ini aku yang belajar darimu. " Alyssa mengerutkan keningnya heran. Ia telah membuka matanya sekarang.
"Memangnya aku mengajarkan apa padamu? "
"Banyak hal yang tidak ku ketahui sebelumnya. " jawab Langit sambil tersenyum. Alyssa berdeham.
"Aku tidak merasa pernah mengajarimu apapun. Jangan - jangan selama ini kau benar - benar memata - mataiku. " tukas Alyssa. Langit terkekeh pelan.
"Jadi kau ini sebenarnya robot atau apa, sih? " tanya Alyssa penasaran.
"Kenapa kau tidak memakai bandanamu? " Langit mengalihkan pembicaraan. Alyssa menggeleng cepat.
"Aku sedang bosan memakainya. Lagipula, mungkin sudah seharusnya aku mengganti hiasan kepala dari bandana menjadi bando. " jawabnya sambil menatap lurus ke depan.
Sementara Langit dan Alyssa sibuk bercengkrama, Zidan diam - diam memotret mereka dengan kamera ponselnya.
"Akhirnya ponsel lemot ini berguna juga. " katanya sambil tersenyum lebar.
☁☁☁
"Alyssa, Nindy! " Yasmin dan Dira langsung memeluk mereka ketika sampai di depan tenda.
"Aku tidak bisa bernapas! " keluh Nindy. Yasmin dan Dira segera melepas pelukannya.
"Kami hampir saja ingin melapor pada Pak Beno bahwa kalian hilang. Untungnya kalian sudah kembali. Dari mana saja kalian? " tanya Yasmin. Alyssa dan Nindy saling bertatap muka.
"Ehmm, sebenarnya kami tadi habis berjalan - jalan. " jawab Alyssa berbohong. Nindy mengangguk mengiyakan.
Dira menaikkan sebelah alisnya heran. "Benarkah? Kenapa kalian tidak ikut tracking? " tanyanya.
"Kami sedang malas. Jadi, kami memutuskan untuk pergi berjalan - jalan. Agak lama karena aku sibuk berfoto, hihi! " jawab Nindy sambil meringis.
Yasmin dan Dira saling pandang sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ehmm, bukankah sekarang waktunya makan siang? Tadi pagi kita sudah memasak nasi goreng, kan? Sekarang tinggal dihangatkan saja. Ayo, cepat makan! Aku sudah sangat lapar. " ajak Alyssa, sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
"Baiklah. Kita memang menunggu kalian untuk makan bersama. " ujar Yasmin. Alyssa dan Nindy menghela napas lega. Mereka berempat bergegas masuk ke dalam tenda.
"Biar aku saja yang menghangatkannya! " Yasmin mengajukan diri. Ia segera mendekat ke arah kompor.
"Andai saja tadi kalian berdua ikut tracking. Aku senang sekali bisa naik ke atas bukit. Yang tadi itu seru sekali! " Dira bercerita.
Nindy dan Alyssa saling pandang sambil tersenyum. Setidaknya sekarang mereka berdua sudah menyimpan kenangan masing - masing dalam memori ingatan yang paling dalam.
Nindy sangat senang akhirnya bisa beristirahat dari kesibukannya mengurus kegiatan OSIS. Untuk sejenak ia merasa bebas dari segala peraturan yang selama ini mengekangnya di sekolah. Menjadi contoh bagi orang banyak dengan berperilaku baik dan taat aturan memang sangat melelahkan, bukan? Terkadang kita perlu jeda untuk mengatasi stress.
Alyssa kini merasakan bagaimana rasanya beristirahat sejenak dari peraturan. Ia tidak berbelok dari arah yang benar. Ia hanya mencari jalan lain yang nantinya akan menuju ke tempat yang sama. Seperti itulah dirinya jika diibaratkan.
Ia juga mendapat pelajaran berharga tentang dunia luar. Alam tidak sekejam yang ia kira. Ia sering melihat berita di televisi tentang orang hilang, baik di gunung maupun pantai. Hal itu membuatnya beranggapan bahwa tak seharusnya manusia terlalu dekat dengan alam. Menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan saja sudah cukup baginya, tak perlu lagi terjun ke dunia luar untuk semakin dekat dengan alam.
Namun, kini ia tahu anggapannya salah besar. Alam memiliki caranya sendiri untuk melindungi diri. Jika alam merasa terancam oleh perbuatan manusia, ia akan melakukan pembelaan dengan caranya sendiri. Jika manusia berlaku baik padanya, ia juga punya caranya sendiri untuk berterimakasih. Yaitu dengan menyediakan kebutuhan manusia untuk menjaga mereka tetap hidup.
Dulu, Alyssa kira hanya buku yang menyediakan ilmu. Namun, kini ia juga tahu. Bahwa alam pun memiliki banyak wawasan dan pengetahuan, juga pelajaran penting tentang kehidupan. Sekarang Alyssa mampu membuka matanya lebih lebar, bahwa ada banyak hal di sekitarnya yang tak bisa dinilai hanya dengan materi.