Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 7 : Hari Sibuk Berpikir



Alyssa duduk di meja kantin bersama ketiga sahabatnya, Nindy, Yasmin, dan Dira. Di depan mereka telah tersaji minuman sesuai pesanan masing - masing sejak lima menit yang lalu. Ketiga sahabatnya sudah tenggelam dalam kesibukan menyedot segelas minuman karena kehausan, sementara Alyssa hanya mengaduk minuman miliknya sedari tadi.


"Kamu kenapa sih, Beb? " tanya Dira sambil menatap Alyssa yang duduk tepat di depannya.


"Kamu jangan panggil beb dong. Aku jijik dengarnya! " ujar Alyssa jujur sambil menunjukkan ekspresi masam.


"Aku juga jijik mengatakannya. " kata Dira enteng. Alyssa melotot.


"Kalau begitu kenapa kamu panggil aku seperti itu tadi? " tanya Alyssa heran.


"Hanya pemanasan. Aku kan sudah lama menjomblo. " Dira cemberut. Nindy yang duduk di samping Dira langsung menoyor kepalanya.


"Kamu hari ini beda lho, Al. Tidak seperti biasanya. " kata Yasmin sambil menoleh ke arah Alyssa yang duduk tepat di sampingnya.


"Beda bagaimana maksudmu? " tanya Alyssa sambil menyedot minumannya setelah beberapa menit hanya diaduk.


"Kamu kelihatannya kurang tidur. Kemarin habis maraton drama Korea? " tebak Nindy. Alyssa mengangguk sebanyak dua kali.


"Ada alasannya, kok. Semalam aku tidak bisa tidur. Ya sudah, akhirnya aku nonton drama Korea supaya cepat mengantuk. Tapi tetap saja, mataku tak kunjung bisa terpejam. " keluh Alyssa.


"Apa ada sesuatu yang sedang mengganggumu? Tidak biasanya kamu insomnia seperti ini. " tanya Nindy.


"Sebenarnya... Ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku semalam. Tapi aku tidak bisa mengatakannya pada kalian. " Alyssa menyengirkan wajahnya.


"Sejak kapan kamu mulai bermain teka - teki seperti ini? Katakan saja, jangan buat aku penasaran. Atau kamu akan kutendang sampai ke negeri China. " ancam Dira sambil melotot. Alyssa melemparkan tissu pada Dira karena kesal.


"Jangan melotot padaku seperti itu. Tidak enak dilihat, tahu? Apalagi sampai mengancamku dengan jiwa silatmu itu. " Alyssa memicingkan matanya pada Dira. Dira tertawa melihatnya.


"Aku hanya bercanda! " katanya sambil menunjukkan dua jari pertanda maaf.


"Memangnya kenapa kamu tidak bisa mengatakannya pada kami? Biasanya juga kamu ceplas - ceplos seperti ibu - ibu sosialita yang hobi arisan. " ledek Nindy.


"Kalaupun aku mengatakannya, kalian tidak akan percaya. Aku mengalami hal yang benar - benar tidak bisa dipahami dengan nalar. Aku mengalami hal yang mustahil! " seru Alyssa sambil memegangi kepalanya.


"Jika hal itu mustahil, kamu tidak akan mengalaminya. Jika kamu memang benar mengalaminya, berarti hal itu tidaklah mustahil. " celetuk Yasmin.


"Benar juga, ya! " Alyssa mengerutkan keningnya.


 


☁☁☁


 


Alyssa memutuskan untuk pergi ke perpustakaan saat bel tanda istirahat kedua dibunyikan. Sejak Bu Anggi meninggal, Alyssa belum mengunjungi perpustakaan. Ia merasa kehilangan seorang teman yang begitu baik.


Pikirannya berkelana ke masa lalu, di mana ia harus pulang agak sore untuk membuat proposal. Bu Anggi yang setia menemaninya saat itu. Alyssa bahkan dibuatkan teh olehnya. Bu Anggi benar - benar sudah akrab dengan Alyssa. Mereka kerap kali membicarakan sesuatu sampai tertawa terbahak - bahak. Alyssa tidak menyangka Bu Anggi pergi secepat ini.


Alyssa mendorong pintu perpustakaan yang terbuat dari kaca untuk masuk ke dalam. Perpustakaan tidak terlalu ramai di jam - jam seperti ini. Kebanyakan siswa memilih pergi ke kantin untuk sekadar mengisi perut. Seperti yang dilakukan oleh ketiga sahabat Alyssa saat ini.


Seorang pustakawan menyambut Alyssa di depan pintu karena memang mejanya berada tepat di samping pintu perpustakaan. Wajah pustakawan itu masih asing bagi Alyssa. Mungkin dia pustakawan baru yang menggantikan Bu Anggi.


Alyssa tersenyum menanggapi sambutannya. Ia bergegas menuju barisan rak - rak buku untuk mencari sesuatu yang dicarinya. Namun, ia belum berhasil menemukannya. Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk bertanya pada pustakawan karena takut bel masuk akan segera berbunyi.


"Jangan panggil Pak. Usia kita tidak terpaut jauh. Nama saya Rusly. " potong pustakawan itu. Alyssa sudah menduga sebelumnya. Usia pustakawan itu pasti tak jauh darinya karena terlihat masih muda.


"Maaf, tapi saya lebih nyaman memanggil Anda sebutan itu. Boleh saya lanjutkan pertanyaan saya? " tanya Alyssa. Pustakawan bernama Rusly itu mengangguk.


"Saya sedang mencari buku yang berkaitan dengan fantasi atau semacamnya. Emm.. Time travel. Ya, seputar itu. Apa ada di sini, Pak? " tanya Alyssa.


"Time travel? Maksudmu, perjalanan waktu? Jadi, kamu mempercayai teori perjalanan waktu? " pustakawan itu balik bertanya.


Alyssa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Emm, bukan begitu. Ada hal yang harus saya cari tahu. Bisa Anda tunjukkan di mana buku yang seperti itu? "


"Bisa saja. Tapi saya masih baru di sini. Saya belum hafal semua buku di sini sekaligus letaknya. Saya baru mempelajarinya hari ini lewat data di laptop. Hari ini saya akan berusaha mencarikannya. Kamu bisa menemui saya besok. Maksudnya, kamu bisa datang kesini lagi besok. " kata pustakawan bernama Rusly itu. Alyssa mengangguk paham. Ia segera pergi keluar setelahnya. Sementara pustakawan baru bernama Rusly itu memandangi punggungnya yang semakin menjauh.


 


☁☁☁


 


"Alyssa! " seseorang berteriak memanggil nama Alyssa. Alyssa menoleh dan mendapati Aga tengah berlari menghampirinya.


"Mau pulang bersamaku hari ini? " tawar Aga sambil memamerkan senyumnya yang membuat banyak gadis di sekolah terpesona. Dulu, Alyssa juga sangat menyukai senyum itu. Sekarang ia merasa biasa saja saat melihatnya. Entah mengapa.


"Tidak. Aku sedang banyak urusan. " tolak Alyssa sambil terus berjalan. Aga mengikuti di sampingnya.


"Oohh, ya. Aku tahu kamu pasti sibuk mengurus persiapan kemah, kan? Kamu ini benar - benar anak OSIS teladan! " puji Aga. Alyssa tidak tersipu mendengarnya. Ia bahkan tidak tersenyum.


"Kenapa diam saja? Apa aku membuat kesalahan sehingga membuatmu marah? " tanya Aga khawatir. Alyssa menggeleng cepat.


"Sudah kubilang, aku sedang banyak urusan. Aku tidak punya waktu untuk mengobrol. Sudah ya, aku pulang! " Alyssa mempercepat langkahnya, menghampiri Nindy yang menunggunya di gerbang sekolah.


"Kenapa kamu tega berbicara seperti itu pada Aga? Jika para penggemarnya tahu, kamu pasti akan habis dihujat. " kata Nindy sambil berjalan beriringan bersama Alyssa menuju halte.


Alyssa berpikir sejenak. "Aku juga heran pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa setega itu tadi, ya? "


"Mungkin perasaanmu padanya sudah berkurang. " celetuk Nindy. Alyssa spontan menoleh ke arahnya.


"Benarkah? " tanya Alyssa memastikan.


"Ya mana kutahu. Bukannya kamu yang punya perasaan itu? Seharusnya kamu bisa merasakannya. Bagaimana sih, kamu ini? " Nindy menoyor kepala Alyssa.


"Habisnya, kamu tadi bilang begitu. " ujar Alyssa tak mau kalah.


"Itu hanya perkiraanku saja. Lagipula, jika kamu benar mencintainya, kamu tidak akan sanggup berkata begitu pada Aga tadi. Jadi, aku beranggapan bahwa perasaanmu padanya sudah berkurang, atau bisa juga hilang. " kata Nindy. Alyssa manggut - manggut.


"Kenapa bisa secepat itu, ya? " Alyssa heran.


"Apanya? " tanya Nindy.


"Apa mungkin, perasaanku pada Aga sudah berkurang atau bahkan hilang? Kenapa bisa secepat itu? Kenapa tiba - tiba begini? "


Nindy melongo mendengar perkataan Alyssa. Sementara Alyssa kini mengacak rambutnya frustasi karena lelah berpikir.