
Alyssa duduk di kursi plastik yang ada di kamarnya sambil menyalakan lampu belajar. Ia berniat membaca novel yang merupakan rekomendasi dari Bu Anggi untuk menebus rasa bersalahnya karena belum sempat membacanya sejak awal.
Keysha sedang menonton televisi bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga. Jadi, ini kesempatan bagus sebelum Keysha masuk ke kamar. Jika Keysha melihatnya, anak itu pasti akan mengadukannya pada Venna, ibu mereka.
Alyssa membuka buku dengan cover warna cokelat polos itu dengan hati - hati. Ia takut halamannya akan terlepas dan jatuh berserakan di mana - mana. Di halaman pertama, terdapat sebuah tulisan pendek yang sepertinya ditulis manual menggunakan bolpoin. Gaya tulisan itu tak asing bagi Alyssa. Itu tulisan Bu Anggi. Alyssa tidak menyangka Bu Anggi sendirilah yang menulisnya.
Untuk siapapun yang membacanya, aku sangat berterimakasih.
Alyssa tersenyum membaca tulisan singkat itu. Bu Anggi menulisnya dengan sangat rapi sehingga nyaman dibaca. Alyssa membalik halaman itu untuk membaca halaman selanjutnya. Di halaman selanjutnya, terdapat banyak sekali tulisan tangan Bu Anggi hingga lembarannya penuh.
Alyssa mulai membaca kalimat pertama yang tertulis dalam buku itu. Namun, sesuatu terjadi tanpa diduga. Sesuatu yang mustahil, tapi benar adanya...
☁☁☁
"Di mana aku? " Alyssa bermonolog. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan penuh perasaan bingung. Bukannya tadi ia sedang membaca buku di meja belajar?
Alyssa segera menyadari keberadaannya. Ia dikelilingi orang - orang yang berseragam putih abu - abu dengan atribut lengkap. Ia tahu ia di mana. Ia di sekolah sekarang. Ini sekolahnya, meski beberapa tempat nampak berbeda, ia masih bisa mengenalinya dengan baik. Namun, ia masih bingung dengan apa yang terjadi.
Anehnya, jika sekarang ia berada di sekolah, mengapa ia tidak mengenal orang - orang di sana? Mengapa semua orang terlihat asing dimatanya? Padahal, ia adalah gadis yang ramah hingga mampu berteman dengan banyak orang.
"Maaf, bisa beri tahu apa yang sedang terjadi? " tanya Alyssa pada seorang siswi yang lewat di sampingnya. Namun, siswi itu seolah tidak menyadari keberadaannya.
"Hai, aku Alyssa! " Alyssa memperkenalkan diri pada tiga orang gadis yang lewat di sampingnya. Namun, mereka juga sepertinya tidak melihatnya.
Alyssa semakin dibuat bingung. Apa ia bermimpi? Apa ia ketiduran di meja belajar? Kenapa Keysha tidak membangunkannya?
Baik mimpi ataupun nyata, yang jelas kini Alyssa mulai memahami sesuatu. Bahwa orang - orang di sana tidak bisa melihatnya. Alyssa jadi merasa seolah ia sedang syuting untuk sebuah film dan ia menjadi tokoh utamanya. Ada ada saja. Namun, ia merasa senang. Jika ini hanya mimpi, setidaknya ia pernah merasakan bagaimana menjadi aktris yang sedang menjalankan perannya. Ia sangat ingin menjadi aktris sejak kecil. Menurutnya, kemampuan aktingnya lumayan juga.
Alyssa mengikuti gerombolan siswi yang berjalan tergesa - gesa menuju ke lapangan sekolah. Rupanya, mereka akan melaksanakan upacara bendera.
Seorang siswi yang datang terlambat segera berlari menuju lapangan. Ia menabrak Alyssa, tapi tidak menyadarinya karena tubuh Alyssa bisa ditembus dengan mudah. Rupanya, Alyssa transparan di sana. Tak terlihat dan tak tersentuh.
Siswi yang baru saja menabraknya itu terpeleset karena berlari terlalu cepat. Namun, tidak ada yang menolongnya karena semua orang sudah berbaris di lapangan. Alyssa ingin sekali menolongnya, tapi ia tahu itu tidak mungkin karena tubuhnya tidak bisa disentuh.
Seorang lelaki yang baru saja keluar dari kelasnya segera menolong gadis yang terjatuh itu. Ia membantunya berdiri.
"Terima kasih, " ucap gadis itu sambil tersenyum. Lelaki itu mengangguk sambil balas tersenyum, lalu segera berlari menyusul teman - temannya yang sudah berbaris dengan rapi di lapangan.
Gadis itu masih berdiri di tempatnya. Alyssa penasaran dan segera mendekat. Alyssa terkejut ketika melihat wajah seseorang yang tak asing baginya. Gadis itu tak lain adalah Bu Anggi. Ia tidak banyak berubah. Sangat mirip dengan masa mudanya.
Bu Anggi muda itu tersenyum karena tersipu. Dari pandangan matanya, Alyssa tahu jika Bu Anggi menyukai lelaki yang tadi menolongnya. Namun, sepertinya lelaki itu bukan suami Bu Anggi yang sekarang. Wajahnya berbeda dengan lelaki yang menyambutnya di depan pintu ketika melayat. Bu Anggi tidak berjodoh dengan lelaki yang menolongnya tadi.
"Kakak tadi ketiduran, ya? " tanya Alyssa. Keysha menggeleng cepat.
"Ketiduran bagaimana? Matanya aja terbuka lebar gitu. Kakak tadi itu melamun. Kok baca novel sambil melamun, sih? Aneh, " ledek Keysha dengan nada cuek. Alyssa membelalakkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Keysha. Bukannya tadi ia sedang bermimpi? Mana mungkin matanya terbuka.
"Kamu bohongin kakak, kan? Jelas - jelas tadi kakak ketiduran. " ujar Alyssa tidak percaya.
"Kakak ini kenapa, sih? Keysha kasih tahu ya, tadi itu kakak jelas - jelas sedang melamun. Keysha lihat dengan mata kepala sendiri. Lalu Keysha panggil kakak, tapi kakak diam saja. Ya sudah, Keysha guncang - guncang tubuh kakak sekalian. Keysha takut kakak kesurupan kalau melamun terus. " jelas Keysha dengan sabar.
"Ah, kamu pasti bohong. Kakak tadi itu ketiduran. Kakak tidak melamun, kok! " Alyssa tetap kukuh pada pendiriannya.
"Buat apa juga Keysha bohong? Ah, kakak ini aneh. Keysha tidur saja kalau begitu. Kak Alyssa tidak seru! " Keysha membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu menarik selimut hingga menutupi perutnya. Ia memejamkan matanya tak lama kemudian.
Alyssa kembali berpikir keras. Benar juga, sepertinya Keysha tidak berbohong. Untuk apa ia berbohong?
Lantas, jika Keysha jujur, itu lebih mustahil. Mana mungkin ia merasa sedang bermimpi, tapi matanya terbuka seperti sedang melamun?
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa mimpinya yang tadi itu terasa nyata?
Namun, Keysha bilang Alyssa tidak sedang tidur, melainkan melamun. Apa benar tadi Alyssa melamun?
Alyssa semakin dibuat bingung dengan pikirannya sendiri. Ia sampai tidak bisa tidur karena terus saja memikirkannya. Semalaman, ia hanya mondar - mandir di kamar. Bolak - balik ke dapur hanya untuk minum dan menyegarkan pikiran. Ia berharap bisa segera mengantuk dan tertidur. Namun, matanya tidak mau diajak bekerja sama.
Alyssa terus saja membuka mata ketika mencoba untuk tidur. Apa yang bisa membuatnya tertidur untuk saat ini?
Sebuah ide terlintas di pikirannya. Ia meraih ponsel androidnya yang tergeletak begitu saja di atas meja sejak beberapa jam yang lalu. Ia memutuskan untuk menonton drama Korea sebentar supaya ia bisa tertidur.
Biasanya cara ini manjur. Namun, kini sebaliknya. Ia tidak bisa tertidur. Bahkan mengantuk pun tidak sama sekali. Ah, apa yang terjadi padanya?
Alyssa mengacak rambutnya dengan frustasi. Di saat yang sama, pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Alyssa, kamu belum tidur? Kamu masih nonton drakor, ya? Jangan bohong, ibu bisa dengar dari kamar. " teriak ibunya. Alyssa mengutuk dirinya sendiri karena lupa memakai headset.
"I - iya, Bu. Alyssa tidak bisa tidur. " jawab Alyssa jujur.
"Kalau begitu, ibu boleh ikut nonton di dalam? " tanya ibunya.
Alyssa menepuk dahinya. Ia bahkan lupa kalau ibunya juga sedang gila drama Korea sejak satu Minggu terakhir.