Eternal In The Book

Eternal In The Book
Bab 18 : Kemah



"Kakak nanti di sana jangan lupa sama ibadahnya, ya! Makan harus tepat waktu, jangan tidur terlalu malam. Jangan main - main di sana, yang sopan. Di sana daerah asing, bukan daerah kita. " pesan Venna. Sudah lebih dari satu jam yang lalu ibunya itu memberi wanti - wanti pada Alyssa. Alyssa mendengarkannya sambil sesekali mengangguk.


"Alyssa, sarapannya sudah selesai belum? Nanti telat, lho! " teriak Ayahnya dari halaman.


"Sudah, Yah! " Alyssa balas berteriak dari ruang makan. Ia segera menggendong tasnya dipundak. Tak dapat dipungkiri, sekarang tasnya terasa sangat berat. Mungkin tiga kali lipat dari biasanya.


Alyssa bergegas keluar rumah. Keysha dan Venna mengikutinya dari belakang. Alyssa menyalami tangan ibunya dan mencubit pipi adiknya, lalu masuk ke dalam mobil.


Mobil yang dikendarai Ayahnya segera melaju pelan dari halaman rumah menuju ke jalan. Keysha terus melambaikan tangannya hingga mobil ayahnya berbelok di tikungan.


Venna dan Keysha kembali masuk ke dalam rumah. Keysha duduk di ruang makan sambil memainkan boneka miliknya. Sementara Venna bersiap untuk memasak. Namun, sesuatu mengalihkan perhatiannya. Pandangan mata Venna bergerak ke arah sebuah benda yang dibungkus menggunakan plastik.


"Aduh, obatnya kakak ketinggalan! "


☁☁☁


Alyssa segera bergabung dengan teman - teman OSIS nya yang lain. Ia meletakkan tasnya di dalam mobil Hanan, lalu bergegas membantu yang lain untuk memasukkan tas mereka ke dalam bus yang telah terparkir di sana.


"Kau tidak membawa tas? " tanya Nindy yang berdiri di sampingnya.


"Ada - ada saja. Tasku sudah kuletakkan di bagasi mobilnya Hanan. Nanti kita naik mobil dia, kan? " tanya Alyssa memastikan. Nindy mengangguk cepat.


"Khusus untuk pengurus inti. Seperti ketua, wakil, bendahara, dan sekretaris. Jadi, kita satu mobil dengan Hanan dan Zafran. Huh, aku tidak tahu apakah aku akan bertahan selama tiga jam nantinya. Berada satu mobil dengan Zafran membuatku muak. " gerutu Nindy.


Alyssa terkikik pelan. "Tenang saja, kuatkan dirimu. Hanya tiga jam, kan? "


"Hanya tiga jam? Tiga jam itu sangat lama bagiku. Apalagi jika harus berada satu mobil dengan buaya darat yang satu itu. " Nindy melotot. Alyssa lagi - lagi hanya terkikik.


☁☁☁


Alyssa sudah duduk di dalam mobil Hanan. Nindy yang berada tepat di sampingnya kini sedang bermain ponsel. Sedangkan Hanan kini tengah fokus menyetir, dan Zafran mendengarkan musik menggunakan headphone.


Alyssa hanya duduk sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati. Ia melihat sawah, sungai, deretan perumahan di pinggir jalan, ruko - ruko yang hendak dibuka, dan masih banyak lagi.


"Jika dihitung, aku sudah melihat lima orang mantanku sepanjang jalan tadi. " kata Zafran, mengawali percakapan. Ia sudah melepas headphonenya sekarang.


"Sedang apa mereka? Apa mereka mengemis di jalanan? Atau mungkin berkeliaran di area lampu lalu lintas? " ujar Nindy sekenanya.


"Mengemis cintaku, itu baru betul. Kebanyakan dari mereka masih mengejarku karena tidak terima. Aku memang suka memutuskan hubungan secara tiba - tiba. Mereka membosankan! " celetuk Zafran.


"Bisa tidak kau berhenti membicarakan para mantanmu itu? Aku muak mendengarnya. " kata Nindy blak - blakan.


"Sepertinya tidak bisa. Jika kau tidak terima, lebih baik kau turun di sini saja. " usir Zafran.


"Memangnya ini mobilmu? Hanan saja tidak keberatan aku ada di sini. Justru kaulah yang membuat suasana menjadi tidak enak. " balas Nindy dengan nada suara meninggi.


"Lebih baik mengobrol daripada diam saja. Justru aku yang paling dibutuhkan di sini karena aku bisa membuat topik percakapan dengan cepat. "


"Masalahnya topik percakapanmu itu sangat membosankan dan tidak masuk akal. Tidak bisakah kau mencari topik lain yang lebih pantas untuk dibicarakan? "


"Lebih baik bisa membuat topik percakapan walaupun jelek, daripada tidak sama sekali. "


"Apa maksudmu? Aku juga bisa membuat topik percakapan yang lebih bagus. Misalnya, kapan kau akan berhenti bicara dan kapan kau akan pergi dari hadapanku. "


"Oh jadi kau mengusirku, ya? Memangnya kau berani membayar berapa untuk itu, ha? "


"Habisnya, dia yang mulai. " tukas Nindy.


"Tidak akan ada asap jika tidak ada api. " balas Zafran tidak terima.


"Harusnya aku yang bilang begitu. " Nindy melotot.


"Jika kalian tidak mau diam juga, akan ku hentikan mobilku di sini dan silakan kalian turun secepatnya. " ujar Hanan akhirnya. Nindy dan Zafran membungkam mulut mereka setelah mendengar ancaman Hanan. Sementara Alyssa menghela napas lega melihat dua sahabatnya kini saling diam dan tak lagi beradu mulut.


☁☁☁


Alyssa dan ketiga sahabatnya kini sudah berada di dalam tenda mereka setelah berhasil mendirikannya. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum apel pembukaan kemah dimulai. Mereka memanfaatkan waktu yang hanya sedikit itu untuk memakan camilan.


"Ih, Dira! Kebiasaan deh, kalau ambil makanan suka tamak. Tidak bisa sedikit - sedikit dulu saja? " omel Nindy.


"Kalau sekalian ambil banyak perutku jadi cepat kenyang. Tidak usah kebanyakan protes, nanti aku ganti. Aku juga sudah membawa banyak camilan dari rumah. " kata Dira.


"Kalau begitu kenapa masih ambil camilanku? Makan saja camilanmu sendiri. " ujar Nindy.


"Baik. Nanti jangan harap kamu boleh minta, ya! "


"Tidak adil. Kau saja sudah memakan camilanku tadi. Masa aku tidak boleh meminta ganti rugi. " celetuk Nindy. Alyssa dan Yasmin hanya geleng - geleng kepala melihat kedua sahabatnya beradu mulut.


"Bagaimana, sudah bertemu pangeran impianmu? " tanya Yasmin. Nindy menggeleng sambil memasang ekspresi cemberut.


"Belum. Mungkin sebentar lagi. "


"Sudah kubilang jangan terlalu berharap. Itu kan cuma mimpi. Mimpi itu hanya sebagai bunga tidur. Jangan berharap lebih pada sesuatu yang belum pasti akan terjadi. " ujar Dira.


"Kenapa kau jadi sewot begitu? Katakan saja kalau kau iri. Sebentar lagi aku akan menemukan pangeranku, sedangkan kau masih menjomblo sejak lahir. " ledek Nindy. Dira menoyor kepalanya dengan sedikit keras.


"Kau ini, hobi sekali meledekku. Lagipula, itu tidak benar, kok. Aku sudah menemukan pemilik hatiku sekarang. Sebenarnya, sudah sejak lama. " Dira mengaku.


"Apa?! " seru Yasmin, Nindy, dan Alyssa secara bersamaan. Dira hampir tersedak camilannya sendiri karena terkejut mendengar reaksi ketiga sahabatnya.


"Tidak mungkin. Kau pasti berbohong supaya bisa membungkamku, kan? " tebak Nindy.


"Aku serius! " ujar Dira.


"Waahh, ternyata ratu jomblo kita sudah mulai jatuh cinta ya sekarang! " goda Yasmin. Dira hanya tersenyum bangga.


"Memangnya siapa orang itu? Siapa laki - laki yang mampu menarik hati ratu jomblo kita ini, ha? " Alyssa ikut menggoda Dira.


"Hei, sudahlah. Memangnya semudah itu kalian mengetahuinya? Tidak, tidak bisa. Ini rahasia. " kata Dira sambil melipat tangannya di depan dada.


"Cepat beritahu atau akan kujejalkan kue ini ke mulutmu sekarang juga! " ancam Nindy.


"Tidak mau! " Dira menggeleng cepat.


Nindy benar - benar menepati ancamannya. Ia menjejejalkan kue itu ke mulut Dira. Dira sampai kesulitan mengunyahnya. Yasmin dan Alyssa tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Rasakan kue hambar itu, wahai ratu jomblo! " seru Nindy sambil tertawa jahat, menirukan tokoh antagonis yang sering ia tonton di televisi.