
Alyssa meraih hoodie yang dipinjamkan Langit dari tali jemuran di samping tendanya. Ia berniat mengembalikannya setelah ini.
"Alyssa! " panggil Dira. Alyssa menoleh ke arahnya dan segera berbalik badan.
"Kenapa, Ra? " tanya Alyssa. Dira melihat hoodie yang ada ditangan Alyssa dengan mata berbinar.
"Itu milik Langit, kan? Bolehkah jika aku saja yang mengembalikannya? " pinta Dira. Alyssa terdiam sejenak, lalu memberikan hoodie abu - abu itu pada Dira. Dira menerimanya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Al! Aku pergi dulu, ya! " ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Alyssa. Alyssa masih berdiri mematung di sana sambil mengerucutkan bibirnya.
"Padahal, aku ingin menanyakan sesuatu pada Langit. " batinnya.
Tapi sudahlah. Sepertinya Dira ingin sekali mengembalikan hoodie itu. Alyssa bahkan melihat mata Dira sampai berbinar - binar. Tidak biasanya Dira bersikap seperti itu.
☁☁☁
"Langit! " panggil Dira dengan ceria. Langit yang sedang memainkan ponselnya di dalam tenda spontan mendongak. Kini Dira berada tepat di depan pintu tendanya.
"Ada apa kau ke sini? " tanya Langit sambil melepas headphonenya.
"Aku ingin mengembalikan hoodie milikmu. Ini, ambillah! " Dira memberikan hoodie itu pada Langit. Langit menerimanya dengan heran.
Dira berjongkok untuk melihat isi tenda Langit. Ia menaikkan sebelah alisnya sejenak. Tenda laki - laki memang sangat berantakan. Tidak seperti tendanya yang selalu rapi.
"Di mana Zafran dan Zidan? " tanya Dira ketika tidak melihat siapapun di dalam tenda kecuali Langit.
"Sedang pergi mencari makan. Ku suruh mereka memalak tenda lain dan meminta makanan gratis. " jawab Langit jujur tanpa menatap Dira.
"Begitu, ya! Kenapa tidak meminta padaku saja? Di tendaku masih ada banyak makanan. Tunggu sebentar, akan ku ambilkan! " seru Dira. Ia segera berlari menuju tendanya.
"Dia itu kenapa, sih? Aneh sekali belakangan ini. " Langit bermonolog. Tak lama, Zafran dan Zidan datang dan langsung masuk ke dalam tenda.
"Mana makanannya? Kenapa kalian kembali dengan tangan kosong? " tanya Langit.
"Misi gagal. Kita berdua malah bertemu Pak Beno. Bisa - bisa kita dihukum. " jawab Zafran santai sambil merebahkan tubuhnya di atas tumpukan baju yang berserakan di dalam tenda.
"Kau kan wakil ketua OSIS. Tidak bisakah kau menggunakan jabatan itu untuk meminta makanan pada teman - temanmu? Sekarang aku sudah sangat lapar. " kata Langit.
"Jadi kau menyuruhku mengemis kepada teman - teman OSIS ku untuk meminta makanan? Mau ditaruh di mana muka tampanku nanti. Lagipula, kenapa kau hanya menyuruh - nyuruh saja? Tidak bisakah kau yang bergerak? " ujar Zafran geram.
"Tidak. Aku kan kapten di sini. Apa kau lupa, uang gajimu itu dari siapa, ha? " ungkit Langit.
"Sombong sekali. Jika saja orang tuaku tidak memotong uang sakuku, aku tidak mungkin mau bekerja denganmu. Menyebalkan! " gerutu Zafran.
☁☁☁
Dira sampai ke tenda dengan ngos - ngosan, tapi itu tidak terasa karena ia sedang bersemangat. Ia bergegas masuk ke dalam tenda.
"Apa nasi gorengnya masih? " tanya Dira. Alyssa menggeleng.
"Nasi gorengnya sudah habis. Tapi, aku baru saja menggoreng omelet. Ini masih utuh. Kau mau makan lagi? " tawar Alyssa. Dira menggeleng. Ia segera menyambar sepiring omelet itu dari tangan Alyssa.
"Eh, omeletnya mau kau apakan? " tanya Alyssa bingung.
"Aku ada urusan. Omeletnya buat aku saja, ya! Kau bisa memasaknya lagi kan, Al? " Dira mengedipkan sebelah matanya. Alyssa melongo keheranan.
"Oh ya, sekalian aku ambil nasinya, ya! Nanti kau bisa memasaknya lagi, kan? " Dira menyambar tempat nasi di dekat kompor dan bergegas keluar dari tenda.
"Eh, Dira! Itu kan nasinya baru saja matang. Masa harus masak lagi, sih? " keluh Alyssa.
☁☁☁
"Makanan sudah datang! " seru Dira dengan bersemangat. Zafran dan Zidan spontan menoleh ke arahnya. Mereka tampak sangat senang setelah melihat Dira membawa banyak nasi dan sepiring omelet.
"Wah, waahh! Kau ini mendadak seperti dewi penyelamat, ya! Datang di waktu yang tepat dengan membawa makanan. " puji Zafran. Dira tersenyum lebar ketika mendengar pujiannya.
"Ayo, cepat kita serbu makanannya! " seru Zafran. Zidan mengangguk setuju. Mereka berdua segera mengambil piring dan menyendokkan banyak nasi ke piring mereka.
"Sisakan omeletnya untuk Langit juga, ya! " titah Dira.
"Baiklah, tenang saja. " jawab Zafran. Ia dan Zidan segera makan dengan lahap.
"Kau mau ku ambilkan? " tawar Dira sambil bersiap masuk ke dalam tenda, tapi Langit dengan cepat mencegahnya.
"Tidak, tidak. Aku sedang tidak lapar. " alibi Langit. Zafran dan Zidan spontan menatap Langit dengan tatapan aneh.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? " tanya Langit sewot.
"Kau bilang tadi kau sudah sangat lapar. " kata Zafran.
"Omeletnya enak sekali. " ucap Zidan di sela - sela makan. Zafran mengangguk setuju.
"Waahh, ternyata kau pandai memasak juga, ya? " puji Zafran. Dira menggeleng cepat.
"Sebenarnya bukan aku yang membuatnya, tapi Alyssa. " kata Dira. Langit spontan menatap Dira dengan tatapan aneh.
"Mendadak aku jadi sangat lapar. Aku akan makan sekarang juga. Hei, Zafran! Kau sudah banyak mengambil omeletnya tadi. Yang ini bagianku. " ujar Langit. Zafran yang tadinya ingin mengambil omelet lagi segera mengurungkan niatnya.
Zidan mengulurkan tangannya, hendak mengambil omelet lagi. Namun, tangannya segera ditepis oleh Langit.
"Kau juga tadi sudah, kan? Sudah kubilang ini bagianku. " Zidan mengerucutkan bibirnya mendengar omelan Langit.
☁☁☁
Dira membawa tempat nasi dan piring omelet yang kini sudah kosong ditangannya. Di sepanjang jalan menuju tenda ia terus saja melompat - lompat dengan riang.
"Aku senang sekali! Aku senang sekali! " sorak Dira. Orang - orang yang melihatnya sampai mengira bahwa ia sudah gila.
"Dira, kau ini ke mana saja? Aku mencarimu dari tadi. " kata Nindy yang baru saja datang dan menghampirinya.
"Kenapa kau mencariku? " tanya Dira sambil tersenyum.
"Jangan tersenyum padaku begitu. Entah kenapa aku jijik melihatnya. " ujar Nindy sewot.
"Baiklah, aku diam. Kenapa kau mencariku? " Dira mengulangi pertanyaannya.
"Hanan meminta kita menyiapkan api unggun. Kau bisa membantuku mencari kayu bakar, kan? "
"Oh, bisa sekali. Aku bisa sekali dan sangat - sangat bisa. Jadi, kita mulai sekarang? Ayolah, jangan buang - buang waktu! Tapi, tunggu sebentar. Biar aku kembalikan ini ke tenda dulu, ya! " kata Dira. Ia segera kembali ke tenda dengan terus menebar senyum. Nindy memandangi punggungnya dengan perasaan bingung.
"Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia jadi aneh begitu, sih? " Nindy bermonolog.
☁☁☁
"Apa aku harus mencari kayu bakar juga? " tanya Alyssa pada Hanan. Hanan menggeleng cepat.
"Sudah banyak yang ku tugaskan untuk mencari kayu bakar. Tugasmu sangat sederhana. Kau hanya perlu mencari siswa yang bersedia mengisi acara api unggun. Misalnya yang ahli berpuisi, menyanyi, atau yang lainnya. " jawab Hanan.
"Bukankah hal itu harusnya sudah dipersiapkan sebelum kemah? " tanya Alyssa lagi.
"Memang sudah, tapi beberapa siswa mengundurkan diri dengan tiba - tiba. Baiklah, begini saja. Kau cukup mencari dua orang pengisi lagi. Biar aku dan Zafran yang mencari sisanya. " titah Hanan.
"Baiklah! " Alyssa membeli hormat ala tentara.