Elite Scope

Elite Scope
Bab 47



Ellard masih memandangi Lingkaran tameng itu. Ellard harus bisa menghancurkan lingkaran tameng itu untuk bisa mengeluarkan segel dari Guidroid. Dan jika Ellard melihatnya, tameng itu berlapis-lapis. Pasti akan sangat sulit untuk menghancurkannya. Tapi Ellard hanya punya waktu sedikit untuk bisa mengkafirkan tameng itu. Jika sampai dalam batas waktu Ellard tak bisa menghancurkan tameng itu, ada resiko yang akan dihadapinya. Ellard akan kehilangan kekuatan sihir dalam manset telinganya, dan dia juga akan gagal membuka blokir dari Guidroid.


"Aku harus berhasil menghancurkan temeng ini," ucap Ellard.


Ellard menghela nafas panjang, lalu dia mulai mengeluarkan kekuatan sihir paling besar yang dia miliki. Sebuah lingkaran sihir yang begitu banyak mulai muncul dari beberapa sisi dan arah. Lalu lingkaran sihir itu menembakkan sihir yang begitu kuatnya ke arah tameng itu. Tapi sekuat apapun Ellard menggunakan sihirnya, lapisan dari tameng itu bahkan tidak hancur sedikitpun. Tapi Ellard masih tetap terus menyerang tameng itu. Tapi usaha sebesar apapun, tameng itu tetap tak bisa dihancurkan.


Dan tiba-tiba saja sebuah suara keluar dari master telinga Ellard. Manset telinga itu mengeluarkan sebuah cahaya berwarna biru muda. Itu artinya waktu bagi Ellard sudah habis. Seketika tameng itu langsung menghilang, lalu muncul kejutan listrik yang begitu kuat. Beruntung manset telinga Ellard melindunginya dengan mengeluarkan sebuah lingkaran perisai yang mengelilingi Ellard.


Tapi ternyata perisai dari manset telinganya tidak sekuat kejutan listrik itu. Perisai yang mengelilingi Ellard mulai pecah. Tubuh Ellard terkena kejutan dari listrik itu dan membuat Ellard berteriak merasakan sakit dalam tubuhnya. Sampai Ellard terjatuh pingsan dengan kekuatan sihirnya sudah menghilang walau teknologi mesin dalam manset telinganya yang masih ada, tapi tidak dengan kekuatan sihirnya.


Saat Ellard membuka matanya, ternyata tubuhnya sudah kembali pada tubuh aslinya. Ellard mulai sadar jika dia tak berhasil membuka blokir dari Guidroid itu. Ellard tertunduk sedih sembari memandangi Guidroid yang sudah tak berguna lagi.


Lalu tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam kamar Ellard. Dan ternyata orang itu adalah Lily. Lily tersenyum tipis, "Kau tidak berhasil kan? Sudahlah, jangan buang-buang waktumu untuk hal ini," ucap Lily dengan nada meledek.


"Maaf, Lily," ucap Ellard yang masih tertunduk sedih.


"Sudahlah. Lupakan ini, tidak apa jika umurku tidak bisa bertahan lama. Lagipula jika bukan karena Guidroid dan jantung yang ayah buat, mungkin sekarang ini aku tidak akan berada di sini," ucap Lily.


"Semua orang tak ingin kehilanganmu. Dan itu termasuk juga aku," ucap Ellard.


"Heh... bukankah sebelumnya kau itu pria yang dingin dan tidak berperasaan? Kenapa sekarang kau jadi lembek gini sih," ucap Lily masih dengan sikap jahilnya dan cerianya.


"Aku tidak tahu. Perasaan ini keluar begitu saja tanpa aku sadari," ucap Ellard.


Lily tersenyum, dia berjalan mendekati Ellard dan memeluk Ellard. Lily juga merasakan jika Ellard mulai berubah. Tapi dia tak tahu jika perubahan sikapnya itu karena dia sendiri. Bagi Lily, Ellard adalah teman yang berharga untuknya. Sama seperti teman-temannya yang juga dia anggap berharga.


"Ellard, jangan sedih. Tenang saja, jangan khawatirkan aku," ucap Lily.


Lalu Lily memegang tangan Ellard dan menariknya pergi keluar. Lily mengajak Ellard untuk pergi jalan-jalan.


"Kita akan jalan-jalan!" ucap Lily.


"Jangan terlalu banyak bergerak," lalu Ellard duduk di depan Lily. "Aku akan menggendongmu," ycap Ellard.


"Heh... tapi aku berat lho," ucap Lily.


"Tidak apa," ucap Ellard. Dan Lily pun digendong Ellard.


Di sepanjang mereka berjalan, Lily terlihat senang bisa melihat pemandangan yang indah dan juga orang-orang yang juga berada di sana. Mereka terlihat gembira, tapi tidak dengan Ellard yang menghawatirkan keadaan Lily.


"Ellard, apa mungkin ******* itu akan menyerang kota lagi?" tanya Lily.


"Aku tidak tahu. Aku tidak peduli dengannya," ucap Ellard.


Sementara itu, di sebuah gudang Matsuoka, peretas nya dan juga anak buahnya berada dalam gudang itu. Tapi gudang itu ternyata adalah tempat peretas itu tinggal dan meneliti. Matsuoka bukan hanya bersama dengan anak buahnya di sana. Eric, ternyata di sekap oleh Matsuoka. Saat ini tubuh Eric di ikat dengan tali oleh anak buah Matsuoka.


"Hei! Lepaskan aku!" ucap Eric yang mencoba untuk lepas dari ikatan tali itu.


"Hahahha!" Matsuoka tertawa kencang. "Jangan bercanda. Aku tak akan membiarkanmu lepas.


Jadi karena aku menangkapmu, kau gagal untuk memberitahu Edent tentang jantung Lily kan?" tanya Matsuoka tersenyum jahat pada Eric.


Eric tersenyum setengah dan membuat Matsuoka bingung. "Aku tidak sebodoh itu. Apa kau pikir aku pergi karena ignin menemui Edent? Tidak! Ini sudah aku rencanakan. Kau hebat juga ya bisa menebak tujuanku," ucap Eric.


"Cih. Aku jadi merasa kasihan dengan Lily. Bagaimana jika dia tahu orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya malah menghianatinya," ucap Matsuoka sembari membuka laptopnya dan membuka foto Lily.


"Dari dulu pun aku sudah tidak peduli dengannya. Dia bodoh aja karena terlalu percaya denganku," ucap Eric.


Lalu tiba-tiba saja Matsuoka langsung menonjok wajah Eric sampai wajah Eric mengeluarkan darah. "Benar-benar seorang penghianat," lalu Matsuoka mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan menodongkannya tepat pada kepala Eric. "Orang sepertimu lebih baik mati saja," ucap Matsuoka.


"Cih. Kau ingin membunuhku? Kau sendiri seorang *******. Seharusnya kita sesama penjahat harus bekerja sama," ucap Eric tersenyum licik.


"Oi, Oi. Jangan bicara padaku seolah-olah aku sama sepertimu.


Inilah yang membuatku benci dengan Alicon. Mereka benar-benar bodoh," ucap Matsuoka.


"Oh iya. Aku lupa jika kau mantan dari anggota Alicon, ya. Bisa-bisanya aku lupa," ucap Eric dengan nada meledek.


"Aku datang ke Tokyo ini untuk melakukan balas dendam dengan Alicon. Tapi tidak kusangka jika aku akan menemukan satu lagi penghianat di sini," ucap Matsuoka.


"Aku, penghianat? Bukan! Aku sejak dulu memang tidak berniat untuk ikut dengan anggota Alicon.


Bagaimana bisa aku bekerja untuk mereka jika ada edent yang siap membayarku tinggi," ucap Eric.


"Aku tidak akan membunuhmu. Aku harus membuat Lily bertemu denganmu dulu. Untuk bisa bertemu dengannya, aku harus membuat keributan dulu," ucap Matsuoka sembari membuka komputernya.


"Peretas, cari tahu di mana lokasi markas Alicon," perintah Matsuoka.


"Baik! Aku akan mencarinya," ucap Peretas itu.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Lily? Aku merasa jika kau akan membantunya, apa aku berkata benar?" tanya Eric.


Dan sekali lagi Matsuoka menonjok wajah Eric dan sekarang kedua pipi Eric terluka. "Aku suka dengan orang yang hebat. Kau lebih baik diam saja, Eric. Waktumu untuk hidup hanya sebentar lho," ucap Matsuoka.