
"Sebenarnya apa tujuanmu datang ke Tokyo? Jangan-jangan kau punya rencana jahat ya," ucap Lily dengan tatapan penuh rasa curiga pada Matsuoka.
Lily pikir saat di Osaka dia sudah menghabisi Matsuoka. Tapi ternyata Matsuoka masih hidup dan malah sekarang ini berada di Tokyo. Sebenarnya apa tujuan Matsuoka datang ke Tokyo? Apakah di Osaka dia menjadi buronan polisi? Atau... justru ada rencana lain yang dia ingin lakukan?
"Apa yang aku rencanakan? Hmm... pertanyaan itu sepertinya tidak ingin kujawab," ucap Matsuoka tersenyum jahat.
Lily menghela nafas sembari dia meminum kopi susunya sampai habis. "Terserah kau ... tapi aku tak akan ikut-ikutan jika sampai Alicon berhasil mendapatkanmu," ucap Lily.
"Heh... jahat sekali kau. Padahal kita itu sama lho," ucap Matsuoka sembari beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu.
"Apa maksudmu? Sama bagaimana?"
Matsuoka membuka pintu, lalu dia menoleh kearah Lily sembari dia tersenyum mencurigakan. "Pasti kau akan segera tahu..." ucapnya lalu dia berjalan pergi keluar dari rumah Lily.
"Sebenarnya apa yang ingin coba dia katakan?" ucap Lily.
Lalu selang beberapa menit Matsuoka pergi, tiba-tiba saja Ellard datang ke rumah Lily. Beruntung Matsuoka pergi tepat saat Ellard datang.
"Kau... masih memakai baju tidur?" tanya Ellard saat dia masuk ternyata Lily masih memakai baju tidurnya.
Dan Lily baru menyadari kalau dia masih memakai baju tidurnya. "Aku benar-benar lupa. Astaga... ngomong-ngomong kenapa kau datang ke sini? Apa ada misi baru untuk kita?"
Ellard menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku tidak tahu kalau soal misi. Sebisa mungkin aku menjauh dari markas. Aku datang ke sini karena tadi dokter Shinomiya menelfonku. Dia mengatakan kalau kau harus segera pergi ke rumah sakit untuk periksa medis," ucap Ellard.
"Aku juga lupa itu. Baiklah... aku akan pergi sekarang. Terimakasih sudah datang ke sini," ucap Lily tersenyum pada Ellard lalu dia berjalan pergi ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju.
Saat Lily selesai mandi dan ganti baju, dia ternyata masih melihat Ellard duduk di sofa. Sepertinya dia sengaja menunggu Lily.
"Kau masih di sini?"
"Ya. Aku akan ikut denganmu," ucap Ellard datar.
"Baiklah. Ayo!" dengan sikap ceria Lily, dia menggandeng tangan Ellard dan mengajaknya pergi.
Setibanya di rumah sakit, Lilu sudah disambut oleh dokter Shinomiya yang memang dia sengaja menunggu Lily. Dokter Shinomiya juga akan merasa khawatir jika sampai Lily terlambat melakukan periksa medis. Karena dengan sikap keras kepala Lily, dia tidak akan mendengarkan orang-orang yang ingin dia tidak terlalu melakukan kegiatan berat, dan bahkan ayahnya juga sudah beberapa kali menjelaskan hal yang sama pada Lily. Tapi apa boleh buat, sikap keras kepala Lily tentu saja akan sangat sulit untuk diatur.
"Lily, apa jika aku tidak menelfonmu kau tidak akan datang kemari?" tanya dokter Shinomiya dengan tatapan marah juga kedua tangannya berada di pinggangnya.
"Hehehe. Aku sering lupa," ucap Lily yang masih menanggapi kamarahan dokter Shinomiya dengan sikap cerianya itu. Ellard hanya diam saja melihat pertikaian antara Lily dan dokter Shinomiya itu.
"Hah. Sudahlah, sekarang ayo kita mulai pemeriksaannya," ajak dokter Shinomiya, dan Lily berjalan mengikutinya.
"Lily, dari hari ini aku akan memberikan daya untuk jantungmu dengan jangka waktu lama. Mungkin itu akan bertahan sangat lama jika kau tidak terlalu lelah," ucap dokter Shinomiya sembari dia menyuntikkan cairan untuk mengisi daya jantung Lily. Jantung Lily juga bisa mengisi daya dengan menggunakan sebuah alat teknologi. Tapi dokter Shinomiya dan profesor Parker takut jika sampai kejutan dari aliran listrik alat itu akan merusak jantung Lily. Maka dari itu Lily hanya disuntikkan semacam cairan obat. Tapi jika bisa dengan alat itu, kemungkinan besar daya dari jantung Lily akan bisa bertahan lebih lama dari sebelumnya. Tapi itu akan berakibat buruk untuk jantungnya nanti.
Setelah pemeriksaan dan pemberian suntikan obat selesai, Lily masih berada di ruang dokter Shinomiya. Tampaknya dokter Shinomiya ingin mengatakan sesuatu pada Lily.
"Dokter, ada apa? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu," ucap Lily yang sedari tadi menyadari jika dokter Shinomiya terlihat sedang ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Ha... ha... ha..." Lily tertawa. "Kenapa perkataan dokter seakan-akan nyawaku dalam bahaya dan aku akan segera mati. Jangan begitu lah, aku baik-baik saja kok," ucap Lily meyakinkan dokter Shinomiya.
Dokter Shinomiya tertunduk sedih. "Tidak. Aku hanya khawatir denganmu," ucapnya.
Lily tersenyum tipis, lalu dia memeluk dokter Shinomiya. "Tenang dokter. Kau sudah aku anggap sebagai seorang ibu untukku, jadi kau jangan sedih," ucap Lily tersenyum ceria pada dokter Shinomiya.
Dokter Shinomiya tersenyum, dia mengelus-elus kepala Lily. "Kalau begitu sebagai seorang ibu aku ingin kau selalu berhati-hati ya," ucapnya.
"Ya!" jawab Lily senang.
Dan ternyata tanpa mereka sadari, Ellard menguping dan mengintip pembicaraan dokter Shinomiya dan Lily dari balik pintu. Ellard seidikit mengeluarkan senyumannya saat melihat Lily tersenyum senang.
"Aku harap senyumannya itu tidak akan pernah hilang," batin Ellard sembari dia duduk di kursi ruang tunggu.
Tidak lama kemudian, Lily pun keluar dari ruangan dokter Shinomiya. "Aku pikir kau akan pulang karena aku tadi cukup lama," ucap Lily.
"Tidak. Setelah ini kau mau pergi kemana?" tanya Ellard.
"Emm... sepertinya aku akan pergi ke markas. Aku akan bertemu dengan Eric," ucapnya.
"Eric? Tapi sepertinya dia sedang sibuk. Apa sebaiknya kau jangan menemuinya dulu," ucap Ellard.
"Benarkah? Kalau begitu apa kau mau menemaniku jalan-jalan?"
"Ya, aku akan menemanimu," jawab Ellard.
"Bagus! Ayo!" Lily menarik tangan Ellard mengajaknya pergi.
Di dalam sebuah mobil Jeep yang berhenti di jalan sepi ...
Matsuoka tampak sedang duduk santai di dalam mobil itu sembari dia melihat foto Lily dari laptopnya.
"Lily Coloters. Apa dia belum menyadari kalau dia hanya dimanfaatkan oleh wakil ketua Alicon itu. Padahal dia pintar dalam menembak dan menghindari tembakan. Tapi dalam hal ini dia benar-benar bodoh," ucap Matsuoka tersenyum jahat.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau wakil Alicon itu penghianat?" sebuah suara keluar dari layar komputer Matsuoka. Dan suara itu berasal dari seorang pria memakai kepala robot yang menutupi kepalanya. Pria itu adalah seorang hacker yang berkerja untuk Matsuoka.
"Peretas, kau bodoh ya. Aku pikir kau juga akan pintar dalam hal teka-teki," ucap Matsuoka.
"Hei! Apa yang kau katakan! Aku pintar kok. Hanya saja ... terlalu lama berada di dalam ruangan membuatku lupa dengan hal semacam itu."
"Ya ... ya. Aku akan mencoba mempercayai yang kau katakan," lalu Matsuoka membuka sebuah situs yang memperlihatkan sebuah tempat bernama stasiun Kodori di Tokyo, Jepang. Matsuoka tersenyum mencurigakan saat melihat foto stasiun Kodori itu.
"Baiklah. Saatnya bersenang-senang," ucapnya.