Elite Scope

Elite Scope
Bab 45



Hari ini profesor Parker menghubungi Ellard untuk mengajak Ellard berbicara di pusat penelitian. Ellard mulai berpikir jika apa yang akan dibicarakan oleh profesor Parker pasti ada kaitannya dengan sistem yang mungkin Edent sendiri akan bisa menemukannya. Untuk saat ini Edent memang belum ada tanda-tanda pergerakkan lagi. Tapi cepat atau lambat mereka pasti akan bisa menemukan sistem itu.


Ellard pun tiba di pusat penelitian. Terlihat saat ini profesor tengah sibuk dengan sebuah alat di ruang lab nya.


"Profesor, ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali anda memanggil saya?" tanya Ellard sembari berjalan menghampiri profesor.


"Aku akan memberitahumu tentang sistem Guidroid itu sekarang. Sepertinya kau juga harus mulai membantu," ucap Profesor Parker.


"Baiklah! Saya akan mencoba untuk melindungi sistem itu. Jadi... tubuh siapa yang menyimpan Guidroid?" tanya Ellard dengan wajah datarnya tapi berbicara dengan nada penuh rasa penasaran.


"Putriku, Lily," jawab profesor.


Ellard langsung terkejut mendengar jawaban profesor. "Profesor! Bagaimana bisa anda memanfaatkan putri anda? Dan sekarang dia sedang dalam bahaya!" ucap Ellard dengan nada lantang. Dia tak bisa menahan emosi yang meluap-luap dalam hatinya.


"Jika aku tak memasukkan sistem itu pada tubuh Lily, maka aku akan kehilangan dia sejak saat dia berumur enam tahun!" ucap profesor dengan kepalanya tertunduk.


"Apa maksud dari perkataan profesor?"


"Ellard. Aku sudah mengatakan padamu jika Lily mempunyai jantung lemah. Dan dari saat dia lahir dokter sudah memprediksi jika Lily hanya bisa bertahan hidup sampai dia berumur enam tahun.


Sejak apa yang dikatakan oleh dokter, aku mulai melakukan sebuah eksperimen untuk membuat mesin yang bisa terus membuat Lily hidup. Sampai akhirnya aku bisa membuat jantung buatan.


Tapi ternyata jantung itu masih belum sempurna. Daya dari jantung itu tak bisa diisi oleh alat apapun yang kupunya.


Dan berkat sistem Guidroid jantung Lily bisa diisi daya. Jika Guidroid tidak berada dalam jantung Lily, maka jantung itu tidak akan pernah berfungsi," ucap profesor Parker dengan wajahnya yang tampak sedih dan gelisah.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk bisa melindungi Lily? Kenapa harus Lily," ucap Ellard tertunduk marah bercampur dengan rasa kesedihannya.


"Apa... Lily sudah tahu tentang Guidroid itu?"


"Belum. Aku tidak ingin membuatnya cemas. Karena itu aku belum memberitahunya," jawab profesor.


"Aku berusaha untuk terus membuatnya bahagia. Aku tidak ingin Lily terlihat sedih," ucap profesor Parker.


Flashback ON ...


10 Tahun Yang Lalu ...


Saat ini Lily masih berumur enam tahun. Karena tubuhnya yang sekarang ini semakin lemah, Lily mulai dirawat di rumah sakit. Tapi walau sekarang ini tubuh Lily lemah, tapi sifatnya yang periang masih tetap ada.


Bahkan saat dia mulai duduk di kursi roda.


Lily tampak terlihat sedang jalan-jalan di rumah sakit dengan dia duduk di kursi roda. Dia juga bermain-main dan bersenang-senang dengan kursi rodanya itu. Saat umur Lily sudah mulai genap enam tahun, tubuhnya perlahan-lahan mulai terasa lemah. Karena itu dokter mengatakan pada profesor Parker untuk merawat Lily di rumah sakit.


Tidak lama kemudian profesor Parker pun datang untuk menemui Lily. Lily terlihat senang saat melihat ayahnya itu.


"Ayah! Kenapa ayah datang lama sekali?"


Profesor tersenyum pada Lily, dia mengelus-elus kepala Lily dengan lembut. "Maaf ya... ayah ada urusan tadi," ucapnya.


"Tidak apa," Lily tersenyum manis. "Hei, ayah. Apa hari ini aku akan menjalani operasi? Apa benar jantungku akan diganti?"


"Siapa yang memberitahumu?"


"Benar. Tapi jangan takut, ayah akan selalu ada untuk Lily dan menemani Lily," ucapnya.


Lily tersenyum senang pada ayahnya dan memeluk ayahnya dengan erat. "Terimakasih, ayah. Ayah bukan hanya seorang ayah untukku, tapi juga seorang ibu," ucap Lily.


Proses operasi pun dimulai. Di ruang operasi ayahnya juga ikut untuk menemui Lily. "Ayah, aku takut," ucap Lily saat dia sudah terbaring di ranjang dengan alat pernapasan di mulutnya.


Profesor Parker mengelus-elus kepala Lily. "Ayah di sini, Lily. Kau jangan khawatir, ya," ucapnya. Lily melihat wajah ayahnya itu dan dia tersenyum. Setelah obat bius yang disuntikkan oleh dokter, perlahan-lahan Lily mulai memejamkan matanya.


Flashback OFF ...


...----------------...


Ellard mendengar profesor Parker menceritakan tentang Lily saat masih berumur enam tahun. Dan tidak sadar, Ellard meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya Ellard mulai bisa merasakan rasa sedih, dan untuk pertama kalinya juga bagi Ellard mengeluarkan air matanya.


"Aku tidak ingin kehilangan Lily. Dia adalah satu-satunya gadis yang bisa merubahku. Dia adalah satu-satunya gadis yang membuatku bisa tersenyum," ucap Ellard tertunduk sedih sembari dia mengusap air matanya yang tanpa sadar terus menetes.


"Lily juga akan sedih jika dia tahu hal ini," ucap profesor Parker.


Sementara itu, di rumah Lily ponselnya berdering. Lily pun mengangkat telfon dari nomor yang menunjukkan bahwa itu nomor dari dokter Shinomiya.


"Halo... halo. Ada apa dokter?"


"Lily, ini bukan dokter Shinomiya. Tapi ini aku, dokter Alice. Aku adalah teman dokter Shinomiya. Saat ini dokter Shinomiya sedang pergi. Kau harus melakukan periksa medis sekali lagi hari ini."


"Dokter Alice, ya. Baiklah aku akan ke rumah sakit sekarang," ucap Lily lalu dia menutup telfonnya.


Lily langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu dia bergegas pergi ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Lily langsung berjalan pergi menemui dokter Alice. Seorang wanita berambut coklat dikuncir dengan iris matanya berwarna merah tampak sedang duduk sembari dia menyiapkan alat suntik


"Jadi kau dokter Alice?" tanya Lily sembari menutup pintu ruangan.


"Benar. Dokter Shinomiya saat ini sedang pergi. Dan hari ini aku yang akan memeriksamu," jawab dokter Alice.


"Wajahmu terlihat menakutkan. Kau harus menyuntikku sama seperti dokter Shinomiya menyuntikku, tidak terasa sakit," ucap Lily.


"Tenang saja. Ini tidak akan sakit dan akan selesai lebih cepat," ucapnya lalu dia mulai menyuntik lengan kiri Lily.


"Ternyata tidak sakit. Aku pikir karena wajahmu yang terlihat sulit untuk tersenyum akan terasa sakit saat kau menyuntikku," ucap Lily.


"Apa kau selalu bersikap seperti ini saat dokter Shinomiya yang menyuntikmu?" tanya dokter Alice.


"Benar! Aku benar-benar takut dengan rasa sakit dari suntikannya. Benar-benar membuat merinding," ucap Lily.


"Maaf... " ucap dokter Alice dan membuat Lily bingung.


"Maaf untuk apa?" dan tiba-tiba saja kepala Lily terasa pusing, penglihatannya terasa berkunang-kunang. "Sial! Apa yang sudah kau lakukan," dan perlahan-lahan Lily mulai memejamkan matanya dan dia terjatuh pingsan.


"Ini bukan salahku. Aku hanya menjalankan tugas," ucap dokter Alice sembari dia menidurkan Lily di ranjang sembari dia memberikan sebuah alat dan meletakkan alat itu pada dada Lily tepat pada jantungnya.