Elite Scope

Elite Scope
Bab 32



Setelah Ellard membersihkan diri, dia langsung pergi tanpa makan siang terlebih dulu. Bahkan Ellard tak mengajak Gorgio pergi. Alhasil, Gorgio merasa khawatir saat dia tidak melihat Ellard dikamarnya ataupun di ruang makan.


"Tuan muda di mana. Apa dia tidak tahu kalau hari ini nyonya akan pulang? Astaga, aku harus menjemput nyonya ke bandara, tapi bagaimana dengan tuan muda?" pikir Gorgio yang merasa khawatir dengan Ellard.


Tapi selang beberapa saat, tiba-tiba saja Ellard mengirimi sebuah pesan pada Gorgio. Ellard mengatakan jika dia pergi untuk urusan mendadak. Padahal Gorgio tahu jika Ellard masih terluka.


"Bagaimana nanti kalau nyonya sampai tahu tentang luka tuan muda? Aku sudah diberitahu oleh tuan muda untuk tidak memberitahu pada nyonya besar," ucap Gorgio.


Di Pusat Penelitian LAB Profesor Parker Coloters ...


Ellard akhirnya tiba di pusat penelitian. Dia langsung memasuki lab dan menemui profesor Parker. Tapi di sana Ellard juga bertemu dengan seorang gadis yang bisa dikatakan dia adalah putri dari profesor Parker. Tapi Ellard tidak mempedulikan adanya Lily, dia hanya fokus pada tujuannya datang untuk bertemu dengan profesor.


"Profesor, bantu aku!" ucap Ellard dengan wajah datar tapi dengan nada panik.


"Apa? Apa kau butuh sebuah alat lagi?" tanya Profesor.


Lalu tiba-tiba saja Lily menyela pembicaraan antara Ellard dan profesor. "Hei! Apa kau tidak sadar kalau aku juga ada. Kenapa kau mengacuhkanku?" ucap Lily dengan tatapan kesal pada Ellard.


"Aku tidak ada urusan denganmu," ucap Ellard dengan tatapan dinginnya pada Lily.


Lalu Ellard menjelaskan tentang lukanya yang masih belum sembuh pada profesor. Ellard ingin lukanya sembuh lebih cepat, dia khawatir jika sampai ibunya tahu tentang lukanya. Tapi profesor mengatakan jika hanya luka Ellard yang bisa disembuhkan, bukan dengan rasa sakitnya.


"Apa kau yakin? Walau lukamu akan sembuh, tapi rasa sakitnya masih akan tetap ada. Rasa sakitnya akan sembuh dengan berjalannya waktu," ucap profesor.


"Iya, aku yakin! Rasa sakit bisa kutangani," ucap Ellard.


Lalu profesor pun mengajak Ellard ke sebuah ruangan. Di sana Ellard akan tidur di sebuah ranjang dengan peralatan canggih di sana. Nantinya Ellard akan menjalani sebuah operasi penyembuhan cepat dengan salah satu alat canggih dari profesor Parker. Tapi walau itu bisa menyembuhkan luka, rasa sakit dari luka itu tetap tidak akan sembuh cepat. Rasa sakit itu akan sembuh dengan berjalannya waktu dan istirahat penuh dari Ellard itu sendiri.


Profesor memberikan sebuah suntikan bius pada Ellard untuk mempermudahnya mengoperasi tubuh Ellard. Setelah beberapa jam, akhirnya operasi pun selesai, Ellard bangun dan langsung beranjak dari tempat dia tidur. Ellard masih bisa merasakan rasa sakit pada tubuh dan tangan kanannya, tapi saat dia membuka perban yang berada pada tangan kanannya, luka yang berada di sana sudah hilang tanpa bekas sedikitpun.


"Terimakasih, profesor," ucap Ellard sambil membungkuk sopan pada profesor.


"Iya, tapi rasa sakitnya aku tidak bisa menyembuhkannya. Rasa sakit itu akan sembuh dengan sendirinya saat sudah waktunya," ucap profesor.


"Iya, saya mengerti," ucap Ellard lalu dia berjalan pergi.


"Tunggu dulu!" tiba-tiba saja Lily berdiri di depan Ellard. "Apa kau tidak ingin membalas kebaikan ayahku lewat aku?" tanya Lily tersenyum nakal.


"Kau ingin apa?" tanya Ellard datar.


"Kau harus menerimaku menjadi bagian dari partner mu," ucap Lily.


"Hah, dia akan berguna untukku. Tapi, aku tidak butuh partner," batin Ellard.


"Aku akan memikirkannya," ucap Ellard lalu dia berjalan pergi keluar dari ruang lab.


Setibanya Ellard di rumah, dia sudah disambut oleh ibunya di ruang utama. Tapi wajah ibunya itu tak terlihat sedang menyambut hangat kedatangan Ellard. Wajahnya terlihat kesal dan marah pada Ellard.


"Apa kau tidak tahu jika hari ini ibu akan pulang?" tanya ibunya itu dengan tatapan kesal pada Ellard.


"Aku tidak tahu," jawabnya datar.


"Maaf tuan muda, saya tadi mencari anda untuk memberitahu tentang ini. Tapi anda sudah tidak berada di rumah," ucap Gorgio sopan.


"Tidak apa, Gorgio," ucap Ellard.


Brylee menghela nafas panjang, lalu dia berjalan perlahan mendekati Ellard dan dia memeluk Ellard dengan hangat.


Kedua tangan Ellard sudah akan membalas pelukan ibunya, tapi tiba-tiba saja dia kembali menurunkan kedua tangannya saat dia akan memeluk ibunya.


"Aku tidak apa-apa," ucap Ellard.


Lalu Brylee melepas pelukannya. "Maaf ya, karena terlalu lama pergi," ucapnya.


"Tidak apa-apa, ibu," jawab Ellard datar.


Sebelumnya Ellard telah memberitahu pada semua pelayan dan Gorgio untuk menyembunyikan tentang kejadian penculikan dan datangnya Lilia kerumahnya.


"Hmm, sepertinya ini sudah saatnya aku sibuk dengan urusan sekolahku," batin Ellard.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi ke kamarku," Ellard berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Setelah Ellard pergi, Brylee menatap tajam para pelayannya dan juga Gorgio. "Apa kalian menjaga putraku dengan baik?" tanya Brylee.


"I-ya, nyonya!" jawab mereka serentak.


Di kamarnya, saat Ellard sedang mencoba untuk meregangkan otot-ototnya agar tubuhnya dan tangan kanannya cepat sembuh, tiba-tiba saja dia menemukan sebuah kertas kecil menempel pada bagian belakang jaket yang Ellard pakai.


Ellard mengambil kertas itu, "Ini, apa?" pikir Ellard sambil melihat kertas itu.


Saat Ellard membaca isi tulisan pada kertas itu, ada sebuah kata yang bertuliskan, "Aku harap kita bisa menjadi partner yang akrab, ya. SALAM HANGAT DARI Lily."


Saat Ellard akan menyobek kertas itu, tiba-tiba saja tanganya melarangnya. "Hah, apa aku tidak akan menyobek ini?" pikir Ellard sambil memandangi kertas kecil itu.


Lalu Ellard beranjak dari tempat dia duduk, lalu Ellard meletakkan kertas itu dalam sebuah kotak kecil dalam meja lacinya.


"Aku bodoh menyimpan ini," gerutu Ellard.


Saat Ellard membuka komputernya, tiba-tiba saja ada video call masuk dari akun tidak dikenal. Saat Ellard mengangkatnya, ternyata itu video call dari Lily.


"Kau?"


"Hehehe, apa kau sudah membaca suratku?" tanya Lily tersenyum pada Ellard.


"Sudah," jawab Ellard.


"Bagaimana? Apa kau berubah pikiran untuk bisa menerimaku menjadi bagian dari partner mu?"


"Aku langsung membuang surat itu. Jadi aku masih akan memikirkan tentang itu," jawab Ellard datar.


Lily langsung mengeluarkan pipi menggembung ya saat dia sedang kesal. "Huh, aku sudah susah payah menulisnya lho."


"Hah, susah payah? Kau bahkan hanya menulis beberapa kata saja."


"Tapi, itu kan sudah membuat jari-jari ku terasa lelah."


"Bilang aja kau nggak niat nulis itu. Kalau niat seharusnya kau nulis lebih dari itu," ucap Ellard.


"Huh. Kenapa kau itu begitu menyebalkan sih!" lalu dengan perasaan kesal Lily langung mematikan video callnya dengan Ellard.


"Hah, dia langsung marah," ucap Ellard.