
Setelah cukup beberapa jam berlalu, akhirnya Lily tersadar kembali. Walau kesadarannya yang masih belum stabil, dan juga penglihatannya yang masih belum jelas, tapi Lily mencoba untuk bangun. Tatapan pertama Lily saat dia tersadar tertuju pada ayah dan juga Ellard.
"Ellard? Kau di sini?" melihat Ellard yang berdiri di samping ayahnya, Lily mulai mengingat jika dia mengunci Ellard dalam rumahnya.
"Lily, apa kau lupa lagi periksa medis di rumah sakit?" tanya ayahnya.
"Aku tidak mau. Tidak enak ayah," ucap Lily yang merengek seperti anak kecil.
"Lily, kau harus mendengarkan apa yang ayah katakan. Hari ini kau harus pergi ke rumah sakit untuk periksa medis. Hanya disuntik obat saja, Lily," ucap ayahnya.
Karena Lily yang sedari kecil mempunyai jantung yang sangat lemah, dia harus sering periksa medis di rumah sakit khusus. Rumah sakit itu adalah rumah sakit yang profesor Parker sendiri mendirikan rumah sakit itu. Sebelumnya Lily periksa medis di rumah sakit Osaka, tapi sekarang dia sudah berada di Tokyo.
Lily tampak kesal, dia kembali menggembungkan pipinya. Lily mencoba untuk beranjak dari ranjang. Suntikan yang profsor berikan hanyalah obat pereda sakit, obat yang sesungguhnya berada di rumah sakit. Seorang wanita bernama Shinomiya, adalah dokter khusus yang merawat dan memberikan obat pada Lily. Dokter Shinomiya sendiri adalah dokter khusus yang sudah diberikan pangkat tinggi oleh profesor Parker untuk memberikan kepercayaan merawat Lily.
"Dokter Shinomiya pasti sudah beberapa kali menghubungimu. Iya kan?" tanya profesor Parker pada Lily yang tampaknya masih sedikit kesal.
"Iya. Tapi aku sengaja mematikan ponselku," jawab Lily.
"Berjanjilah pada ayah kalau hari ini kau akan periksa medis."
"Iya, ayah," ucap Lily dengan nada lemas.
Lalu Lily kemudian menarik tangan Ellard dan mengajaknya pergi keluar dari pusat penelitian. "Ellard, syarat yang aku berikan padamu sudah selesai. Jadi kau sudah bebas," ucap Lily tersenyum pada Ellard.
"Benarkah? Tapi, bukankah ini baru satu hari?" pikir Ellard.
"Yah, aku kan hanya ingin bermain-main aja. Lagipula aku bisa kok bersih-bersih rumah tanpa bantuan siapapun," ucap Lily.
"Ngomong-ngomong apa kau sekarang baik-baik aja?" tanya Ellard yang tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulutnya tanpa seizinnya.
"Aku baik-baik aja. Memangnya aku kenapa?" tanya Lily sambil memiringkan kepalanya.
Ellard menghela nafas panjang. "Kenapa kau seperti santai-santai aja sih. Kau itu lagi sakit, tapi justru kau hanya bersantai seolah-olah kau baik-baik saja," ucap Ellard.
Lily tersenyum pada Ellard, senyuman Lily malah membuat Ellard merasa bingung. "Penyakitku ini bukanlah apa-apa untukku. Bagiku ini hanyalah masalah sepele saja," ucap Lily.
Ellard kembali menghela nafas panjang. Ellard berjalan mendekati Lily dan dia memegang tangan Lily. "Ayo, aku akan antar kau ke rumah sakit. Kau harus periksa medis," ucap Ellard sambil menarik tangan Lily.
"Ayolah, apa kau juga akan ikut-ikutan seperti ayah? Jangan ke sana lah," ucap Lily.
"Kenapa kau seperti tidak suka pergi ke sana. Hanya di suntik dan selesai, apa susahnya itu," ucap Ellard.
"Justru itu. Aku memang tidak mempermasalahkan pengobatan yang lain. Yang aku takutkan itu adalah ... suntikannya," ucap Lily.
Tanpa sadar Ellard mengeluarkan senyumannya saat Lily mengatakan kalau dia takut dengan jarum suntik.
"Haha ... bagaimana kau bisa sampai takut pada jarum suntik sih. Kau kalau ditembak pun nggak akan takut kan," ucap Ellard.
"Yah ... itu beda lagi," ucap Lily.
"Sudahlah, ayo kita pergi. Aku akan mengawasimu, sekarang aku kan sudah jadi partner mu," ucap Ellard dan membawa Lily pergi naik mobil taxi.
Setibanya di rumah sakit, Lily menuju sebuah ruangan tempat di mana dia akan di periksa oleh seorang wanita berambut hitam dikuncir berkacamata yang bernama dokter Shinomiya.
"Lily, kemana aja kamu. Aku udah telfon kamu beberapa kali lho," ucap dokter Shinomiya sambil salah satu tangannya memegang pinggangnya.
"Hehehe. Maaf ya dokter. Aku agak sibuk kemarin," ucap Lily sambil tersenyum cengengesan.
Dokter Shinomiya melihat belakang Lily, "Heh, siapa laki-laki dibelakang kamu itu?"
"Oh dia. Dia itu emm ... asistenku," jawab Lily sambil tersenyum jahil pada Ellard.
"Maaf, tapi bisakah kau menunggu di luar?" ucap dokter Shinomiya pada Ellard.
"Baiklah," Ellard pun berjalan keluar dari ruangan.
Lalu Lily duduk di dekat ranjang untuk diberikan obat. "Dokter, jangan lama-lama ya nyunitknya," ucap Lily yang sudah merasa gemetar saat dia melihat jarum suntik.
"Kau selalu saja seperti ini saat periksa medis," ucap dokter Shinomiya sambil mengambil jarum suntik dan dia mulai menyuntik bagian lengan kiri Lily. Lily tampak ketakutan, dia sampai menutup matanya karena takut.
"Apa sudah selesai? Pelan-pelan aja dokter," ucap Lily yang masih menutup matanya.
"Hah. Sudah selesai."
"Huh. Rasanya benar-benar menakutkan," ucap Lily sambil memegangi lengan kirinya.
"Lily, cobalah untuk tidak terlalu melakukan kegiatan berat," ucap dokter Shinomiya.
"Kalau itu aku tidak bisa sih. Aku tuh orangnya susah untuk diam," ucap Lily lalu dia berjalan pergi meninggalkan ruangan.
"Sudah selesai?" tanya Ellard.
"Sudah. Sekarang aku akan pergi untuk menemui Eric," ucap Lily yang terlihat begitu bersemangat.
"Eric? Kau mau ke markas?" tanya Ellard.
"Tidak! Aku akan pergi jalan-jalan dengannya. Sudah lama sejak aku di Osaka belum pergi jalan-jalan," ucap Lily.
"Kau akan jalan-jalan kemana?"
"Kau kepo banget sih. Itu rahasia," ucap Lily lalu dia berjalan pergi.
"Hah, aku udah antar dia. Tapi dia sama sekali nggak mau ucapin terimakasih," batin Ellard.
Sebelumnya Eric sudah janjian dengan Lily untuk jalan-jalan di hari Minggu sore. Dan Lily dengan senang hati menyetujuinya, karena Lily juga tipe gadis yang suka jalan-jalan. Di Osaka Lily tidak mempunyai waktu untuk pergi jalan-jalan, ada banyak misi manantinya.
Eric dan Lily ketemuan di sebuah taman dekat dengan rumah Lily. "Eric, maaf ya aku sedikit telat," ucap Lily.
"Tidak apa. Baiklah, kita akan pergi kemana?"
"Emm ... bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang ada pemandangan indahnya," ucap Lily.
"Baiklah. Sepertinya aku tahu dimana tempatnya," ucap Eric.
"Baiklah, ayo pergi!" begitu bersemangat, Lily dan Eric pergi ke sebuah tempat yang di sana tempatnya begitu indah.
"Wah ... benar-benar indah. Eric, bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" tanya Lily.
"Yah, aku tahu aja sih," jawab Eric.
Lily begitu senang saat dia melihat pemandangan yang begitu indah. Dan hari itu cuaca juga mendukung.
"Lily, apa kau sudah periksa medis?" tanya Eric.
"Sudah," jawab Lily yang sepertinya matanya fokus pada pemandangan indah itu.
"Lily, kau harus bisa menjaga kesehatan dengan baik. Aku khawatir dengan jantungmu, jantungmu itu tidak akan ada penggantinya jika sampai kenapa-kenapa," ucap Eric.
Lalu Lily memegangi dada bagian jantungnya. "Iya, aku tahu itu," ucap Lily tersenyum pada Eric.