
Ellard berjalan menuju ruang khusus untuk mengintrogasi tahanan sebelum nantinya tahanan akan dibawa ke penjara pusat kepolisian militer rahasia. Sebelum dua tahanan itu dibawa ke sana, Ellard harus mencari tahu tentang Edent pada dua tahananny. Saat ini Lilia dan Felix berada dalam satu ruangan, jadi Ellard tidak perlu datang ke dua ruangan sekaligus.
Ellard membuka pintu ruangan dengan sebuah kunci khusus. "Apa kalian sedang meratapi apa yang akan terjadi dengan nasib kalian selanjutnya?" tanya Ellard sambil duduk di kursi depan meja tempat duduk Lilia dan juga Felix.
"Tuan muda terluka. Apa tuan baik-baik saja?" tanya Lilia yang sepertinya masih merasa khawatir dengan keadaan Ellard.
"Diam kau! Penghianat seharusnya tidak banyak bicara," ucap Ellard dengan tatapan dingin pada Lilia.
"Kau payah Lilia. Karena cintamu kita jadi ditangkap di sini," ucap Felix yang juga marah dan kesal pada Lilia.
"Baiklah. Aku datang ke sini bukan untuk bermain-main," lalu Ellard mulai menatap serius Felix dan Lilia. "Apa yang kalian ketahui tentang rencana gelap Edent? Jawab cepat!" ucap Ellard dengan nada lantang.
"Cih. Apa kami harus menjawabnya? Itu tidak akan pernah terjadi!" balas Felix dengan tatapan licik.
Ellard kemudian langsung terdiam dan menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal, artinya saat ini Ellard sedang marah. Lalu dengan tatapan dingin dan tajam Ellard langsung menarik kerah baju Felix lalu Ellard mendorong kerah baju Felix sampai membuat kepala dan wajah Felix menghantam meja dengan kasarnya.
"Kau bodoh! Apa kau benar-benar ingin mati?" tanya Ellard dengan tatapan dinginnya.
"Walau kau akan melukaiku sebanyak yang kau mau, aku tetap tidak akan mengatakannya padamu dasar payah," ucap Felix yang masih bisa tersenyum licik.
"Begitu, ya," lalu Ellard langsung menarik kerah baju Felix lagi dan menariknya sampai tubuh Felix menghantam tembok dan membuat wajah Felix terluka sampai mengeluarkan darah.
"Apa ini masih kurang?"
"Cih, kau hebat. Tapi ini bukan apa-apa bagiku," ucap Felix.
Brukk...
Lalu Ellard langsung menendang wajah Felix sampai Felix terjatuh menghantam meja dan kursi. Ellard mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya ke arah kepala Felix.
"Ini kan yang kau lakukan kemarin?" tanya Ellard.
"Cih, dia benar-benar berbahaya. Aku harus bisa membunuhnya sebelum dia tahu sesuatu tentang Edent," batin Felix.
Felix mengeluarkan senyuman liciknya lagi pada Ellard. Lalu dengan cepat Felix diam-diam langsung menonjok perut Ellard sampai Ellard terjatuh. Felix kemudian mengambil pistol yang Ellard pegang dan dia todongkan balas pada Ellard.
Ellard bukannya takut malah tersenyum setengah saat Felix menodongkan pistolnya pada Ellard. "Kenapa kau tersenyum, apa kau sudah tahu kalau kau ingin mati?" tanya Felix.
"Dia sudah masuk perangkap. Sepertinya aku tak perlu turun tangan untuk membunuhnya," batin Ellard.
"Selamat tinggal bodoh!" ucap Felix, lalu dia akan menembak Ellard.
Dorrr.....
Tapi saat Felix akan menembak Ellard, tiba-tiba saja Lilia dengan cepat mengeluarkan pistol yang berada dibalik bajunya dan dia menembak Felix dengan tatapan kemarahannya pada Felix. Dan Ellard langsung mengambil pistolnya kembali dari tangan Felix.
"Sudah kuduga. Lilia, kau bisa membunuhnya. Tapi kau kejam juga ya, apa kau benar-benar membunuh kakakmu?" tanya Ellard.
Lilia terdiam. Dia menundukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba saja Lilia berlari dan memeluk Ellard, tapi pelukan Lilia tiba-tiba saja membuat tubuh Ellard tidak bisa digerakkan. Ellard terjatuh ke lantai, tubuhnya tidak bisa dia gerakkan.
Ternyata Lilia mempunyai sebuah alat untuk melumpuhkan seseorang dengan cara Lilia memeluk atau menyentuh tubuh orang tersebut. Dengan begitu tubuh Ellard akan lumpuh, tapi itu tidak akan menyakiti atau membahayakan tubuh Ellard, tubuh Ellard akan tetap baik-baik saja.
"Apa kau akan membunuhku sekarang?" tanya Ellard.
"Aku tidak akan pernah membunuhmu. Aku bahkan sudah membunuh kakakku untukmu. Apa sekarang kau masih belum mempercayaiku?" tanya Lilia dengan tatapan berkaca-kaca.
Ellard melihat ke arah Felix yang sudah terbaring tidak bernyawa bersimbah darah. "Penghianat tetaplah penghianat!" ucap Ellard.
"Ellard, apa kau tahu. Aku sangat mencintaimu, aku bahkan bisa saja menghancurkan seisi dunia hanya untukmu," ucap Lilia.
"Kau gila. Tapi kegilaanmu patut aku waspadai," ucap Ellard dengan wajah datarnya.
"Apa kau tidak ingin memberiku balasan karena aku sudah melayanimu selama ini?" tanya Lilia sambil memegang wajah Ellard.
"Cih. Jadi selama ini kau tidak ikhlas melayaniku?"
"Bukan. Aku hanya ingin mendapatkan sesuatu yang berharga darimu," ucap Lilia.
"Aku tidak akan memberikannya. Sekarang lebih baik kau lepaskan aku," ucap Ellard yang berusaha untuk menggerakkan tubuhnya tapi tetap tidak bisa.
Lilia tersenyum pada Ellard. "Kalau kau tidak ingin memberikannya. Aku yang akan mengambilnya sendiri," lalu salah satu tangan Lilia menutupi kedua mata Ellard. Lalu bibir Lilia dia dekatkan ke bibir Ellard, lalu Lilia mencium bibir Ellard. Ellard sampai terkejut, bahkan Lilia bermain lidah saat dia mencium Ellard.
Ellard berusaha untuk menggerakkan kedua tangannya, dan akhirnya dia bisa mengerakkan kedua tangannya. Dengan cepat Ellard langsung mendorong Lilia menggunakan kekuatan sihirnya sampai Lilia terdorong cukup jauh menghantam tembok.
"Apa ini yang kau inginkan?" Ellard memegangi bibirnya. "Kau benar-benar gadis yang sangat brutal," lalu Ellard menggunakan kekuatan suhirnya untuk membuat tubuhnya terbebas dari segel yang diberikan oleh Lilia.
Ellard bangkit berdiri, lalu dia berjalan mendekati Lilia dan Ellard memborgol kedua tangan Lilia. "Cih, kau sudah mengotori bibirku, jika bukan karena kau masih berguna, aku pasti akan membunuhmu sekarang ini," ucap Ellard.
Lilia tersenyum, "Benar-benar luar biasa. Rasanya aku bahagia akhirnya bisa mengambil apa yang seharusnya aku dapatkan," ucap Lilia.
"Cih. Kau masih belum menjawab pertanyaanku dari awal," ucap Ellard.
"Edent ignin mengincarmu! Mereka ingin membunuhmu, mereka tahu jika kau akan jadi ancaman untuk mereka memblokir sistem operasi Android milik profesor Parker," ucap Lilia.
"Jadi begitu, ya. Aku ingin tahu, seberapa kuat mereka," ucap Ellard.
"Lepaskan aku. Aku akan selalu melindungimu, Ellard," ucap Lilia.
"Tentu saja aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kita akan bertemu lagi nanti," lalu Ellard berjalan pergi meninggalkan ruangan introgasi. Dengan cepat anggota Alicon langsung mengurus Lilia saat Ellard keluar dari ruangan introgasi dan bersiap untuk membawa Lilia menuju penjara pusat kepolisian militer rahasia 'Alicon'.
"Informasi yang Lilia katakan masih kurang. Bukan itu yang aku butuhkan," batin Ellard.
Di sebuah atap gedung ...
Perempuan yang wajahnya mirip dengan Adely datang lagi ke atas atap gedung. "Hah, aku sedang menunggu bencana di kota ini. Tapi ternyata bencana itu berjalan cukup lambat," ucapnya tersenyum licik sambil memandangi perkotaan dari atas atap gedung.