Elite Scope

Elite Scope
Bab 35



Lily tersenyum tipis mendengar perkataan dari salah satu anggota Edent itu. Lily sama sekali tidak merasa panik ataupun takut berhadapan dengan mereka. Tentu saja, itu karena sudah kebiasaan Lily dari saat dia bergabung dengan organisasi militer Alicon yang beroperasi di kota Osaka, Jepang. Dan bahkan di Osaka Lily mampu menjalankan lebih dari dua misi sulit yang bahkan anggota Alicon akan membutuhkan waktu satu hari untuk menyelesaikannya, dan Lily mampu mengerjakan dua misi dalam waktu setengah hari. Dan itulah yang membuatnya berpindah tempat di Tokyo saat ini. Karena di Osaka pun Lily hanya bertugas untuk mengawasi kota saja, dan mengerjakan misi-misi kecil. Tapi bertambahnya waktu, Lily mulai menjalankan misi-misi yang cukup sulit dan menantang.


Lily memang memiliki kepribadian yang ceria dan terbilang baik dan ramah pada siapapun. Tapi disaat ada hal yang membuatnya harus bersikap serius, maka kepribadiannya akan berubah. Lily juga suka menganggap semua masalah itu hanya masalah yang sepele. Terkadang dia juga akan jahil dengan teman anggotanya, tapi itu bukan karena Lily gadis yang nakal dan buruk, itu dia lakukan hanya semata-mata untuk bisa mengimbangi dunia pertemanannya. Sebisa mungkin Lily tidak hanya akan memikirkan atau fokus dengan Alicon, tapi dia juga berusaha supaya tetap bisa bersosialisasi dengan baik dan memiliki banyak teman.


"Heh. Kenapa kalian tidak ingin memberikan tabung itu? Memangnya isinya apa?" tanya Lily memiringkan kepalanya.


"Cih, kau terlalu banyak bicara. Cepat, serang dia!" perintah dari salah satu anggota Edent.


Edent mulai mengeluarkan senapan mereka. Mereka bersamaan menembaki Lily dengan senapan mereka. Banyak peluru datang kearah Lily. Tapi dengan santainya, Lily mampu menghindari peluru itu hanya dengan memiringkan kepala ke kanan dan juga kiri. Juga dengan pistolnya dia menahan peluru itu. Semua anggota Edent terkejut dengan cara Lily menghindari serangan peluru itu. Dan yang anggota Edent heran adalah keberanian Lily yang hanya sendiri saja melawan mereka. Tapi itu juga bagian dari kebiasaannya di Osaka. Di sana saat dia menjalankan misi, dia lebih memilih untuk bergerak sendiri. Itu karena Lily tidak ingin ada korban dari misinya jikalau misinya itu akan gagal nantinya.


"Cih. Kalian payah juga ya dalam menembak. Apa kalian tidak lihat kalau aku sendiri," ucap Lily.


Anggota Edent masih terdiam tercengang. "Hei, apa yang kalian lihat! Cepat serang dia lagi!" perintah salah satu anggota Edent.


"B-aik!"


Mereka menembaki Lily lagi dan lagi. Dan kali ini Lily juga mulai bergerak. Lily berjalan maju sambil menembaki peluru yang akan datang menghantamnya. Edent semakin cepat lagi menembak, tapi Lily lebih cepat dan gesit. Sampai akhirnya Edent mulai kehabisan peluru.


"Kalian sudah berhenti?" tanya Lily saat dia mulai dekat dengan anggota Alicon.


Kemudian mereka mulai mengeluarkan pisau tajam dari balik seragam mereka dan mulai menyerang Lily. Lily dengan cepat dan gesit menghindari serangan mereka dan juga menembaki mereka. Satu-persatu dari mereka mulai habis ditembak oleh Lily.


"Cih, kalian hanyalah pengecut," ucap Lily yang mulai mengeluarkan wajah seriusnya.


Lily dengan cepat menembaki mereka. Dan hanya tersisa satu anggota yaitu bos mereka. Dan saat ini bos mereka tampak gemetar katakutan sambil mencoba untuk melindungi tabung itu.


"Sekarang bisakah aku mengambil tabung itu?" tanya Lily.


Lalu satu anggota itu yang sebelumnya gemetar katakutan, tiba-tiba saja tersenyum licik pada Lily. Kemudian pria itu mengeluarkan sebuah benda berbentuk bulat dan dia lemparkan benda itu ke arah Lily. Kemudian muncul asap tebal menyelimuti semua sudut gedung, sampai Lily sendiri tidak bisa melihat dengan jelas karena asap yang terlalu tebal.


"Sial! Pintar juga ya dia," ucap Lily.


Dan tanpa sadar anggota Alicon itu sudah berada di luar gedung sambil membawa tabung itu. "Dia pikir dia itu siapa," ucap anggota Alicon itu.


"Aku siapa? Aku manusia, memangnya kau pikir aku siapa?" ucap Lily yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang pria itu dan membuat pria itu terkejut.


"Kau?"


Lalu saat pria itu akan menembak Lily, dengan cepat Lily menendang pistol yang pria itu pegang. Lalu Lily juga langsung menembak pria itu.


"Kau sudah aku peringatkan. Seharusnya kau mendengarkan aku. Pasti kau akan hidup," ucap Lily lalu dia dengan santai berjalan pergi sambil membawa tabung itu.


Ellard yang melihat apa yang Lily lakukan dari drone yang dia keluarkan, Ellard cukup terkejut dengan itu. Ellard pikir Lily hanyalah gadis yang akan menjadi beban untuknya. Tapi justru malah sebaliknya, apa yang Lily lakukan membuat Ellard terkejut.


"Luar biasa! Dia seumuranku. Tapi kemampuannya benar-benar luar biasa," ucap Ellard.


Markas Besar Organisasi Militer Alicon ...


Lily sudah kembali ke markas sambil membawa tabung itu menuju ruangan tempat di mana kaptennya menunggunya. Kapten Lily bernama Eric Cantona, dia masih terbilang anggota Alicon yang masih muda dengan umurnya yang masih genap 18 tahun. Tapi Renald sudah mempercayai kemampuan hebat Eric dan menjadikannya sebagai wakil kapten Alicon yang beroperasi di kota Osaka, Jepang. Sebelumnya Eric juga berada di Osaka, dia bertugas sebagai kapten Lily. Eric lah yang selama ini mengajari Lily dalam hal militer dan juga Eric lah yang akan mengawasi dan memberikan misi pada Lily. Saat Lily akan pindah ke Tokyo, tentu saja sebagai anggota Alicon yang masih bertanggung jawab untuk menjadi guru bagi Lily, Eric juga akan ikut bersama Lily.


"Kapten, aku datang membawa tabung ini," ucap Lily sambil berjalan memasuki ruangan.


"Bagus. Kau sudah semakin berkembang. Rasanya aku tidak seharusnya ikut kau, Lily," ucap Eric tersenyum pada Lily.


Lalu Lily berjalan mendekati Eric dan memegang tangan Eric. "Tidak kapten! Kau memang kaptenku, tapi aku juga menganggapmu sebagai kakak untukku," ucap Lily.


"Kakak?" ucap Eric.


"Benar. Apa aku bisa menganggapmu sebagai kakakku?" tanya Lily dengan tatapan berkaca-kaca.


"Yah. Padahal sih aku mengharapkan lebih dari itu," ucap Eric tersenyum pada Lily.


"Apa? Memangnya kapten ingin apa?" tanya Lily.


Eric mengelus-elus kepala Lily dengan lembut. "Sudahlah, lupakan saja. Ngomong-ngomong bagaimana dengan partner mu? Apa kalian sudah mulai berkenalan?" tanya Eric.


"Lupakan saja dia! Dia itu sombong. Aku akan menemui Tuan Renald untuk tidak menjadikanku sebagai partner dari putranya itu," ucap Lily sambil menggembungkan pipinya karena masih kesal dengan Ellard.


"Kau benar-benar imut jika sedang marah. Tapi apa kau yakin dengan perkataanmu? Dia itu putra dari pemimpin Alicon lho," ucap Eric.


"Tentu saja, kenapa tidak," jawab Lily.