
Dimalam hari yang begitu dinginnya karena hembusan angin, dan juga terangnya suasana karena bulan dan bintang yang terlihat indah di langit malam. Lilia terlihat berjalan mengendap-endap keluar dari rumah Ellard. Sikapnya benar-benar aneh, tidak biasanya dia keluar tanpa izin pada Ellard terlebih dulu. Lilia terlihat berjalan menuju taman dekat dengan rumah Ellard. Sepertinya Lilia sedang ingin bertemu dengan seseorang.
Setibanya Lilia di taman, ada seorang pria bertopi berdiri di taman itu. "Kenapa kau memanggilku?" tanya Lilia.
Lalu pria bertopi itu menoleh ke arah Lilia. Wajahnya tidak terlihat jelas, karena dia memakai topeng. Tapi nampaknya Lilia mengenali pria bertopeng itu. Lalu pria bertopeng itu berjalan mendekati Lilia, dan tiba-tiba saja tangan pria itu terayun ke arah wajah Lilia dan menampar wajah Lilia.
"Apa kau sudah lupa dengan tugasmu?" tanya pria itu dengan nada tegas.
"Aku tidak ingin melakukannya! Lebih baik aku mati," ucap Lilia dengan tatapan berkaca-kaca.
"Cih, apa sekarang kau sudah mulai menyukai pria itu? Seharusnya aku tidak menyuruhmu tinggal bersamanya," ucap pria bertopeng itu sambil membuang mukanya, mengalihkan pandangannya pada Lilia.
Lilia tertunduk, "Aku memang mencintainya! Dan aku akan melindunginya," ucap Lilia.
Pria itu menoleh ke arah Lilia. "Aku sudah memperingatkanmu, jangan salahkan aku jika nanti aku sampai turun tangan," ucap pria itu lalu dia berjalan pergi.
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan sakiti dia!" ucap Lilia.
"Itu memang tugas kita datang ke sini kan," ucap pria itu lalu berjalan pergi.
Lilia langsung terdiam. Kedua tangannya gemetar ketika dia mengingat tugas yang pria bertopeng itu katakan.
Setibanya di rumah Ellard, Lilia berjalan perlahan menuju kamar Ellard. Lilia memiliki kunci cadangan kamar Ellard, jadi dia bisa memasuki kamar Ellard. Lilia berjalan mendekati Ellard yang sudah tampak tertidur pulas. Lilia berdiri di samping Ellard tertidur, Lilia menatap wajah Ellard dengan tatapan lembut.
"Aku takut. Aku takut jika kau sampai terluka, Ellard," ucap Lilia.
Lalu tiba-tiba saja air mata keluar begitu saja dari kedua mata Lilia. Lilia terkejut saat tiba-tiba saja air mata keluar dari kedua matanya. Lilia mengusap air matanya, tapi air matanya terus saja keluar. Sampai air mata itu menetesi wajah Ellard dan membuat Ellard terbangun.
"Lilia, kenapa kau menangis?" tanya Ellard saat dia membuka matanya sudah melihat Lilia yang menangis.
Lalu Ellard bangun dari tidurnya, dan tiba-tiba saja Lilia langsung memeluk Ellard dengan begitu erat. "Ada apa?" tanya Ellard bingung.
"Tuan muda, bisakah aku memelukmu untuk sebentar saja," ucap Lilia.
Ellard terdiam sekilas. Lalu Ellard mengelus-elus kepala Lilia. "Hah, kau sudah melayaniku dengan sangat baik. Jadi, aku membolehkanmu untuk memelukku," ucap Ellard.
"Maafkan aku."
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Aku masih belum bisa menjadi pelayan yang lebih baik lagi untuk tuan muda," ucap Lilia sambil menangis dipelukan Ellard.
Ellard menghela nafas. "Hah, kau sudah sangat baik melayaniku. Jadi lebih baik kau jangan menangis," balas Ellard.
Keesokan harinya ...
Besok pagi, saat Ellard selesai mandi dan dia pergi menuju ruang makan, dia melihat Lilia yang sudah tampak senang. Sepertinya Lilia sudah tidak bersedih lagi setelah dia bisa memeluk Ellard.
"Apa sekarang kau tidak akan menangis lagi?" tanya Ellard sambil duduk di kursi meja makan.
Lilia menggeleng pelan. Lalu wajah Lilia memerah, "Tuan muda. Terimakasih untuk tadi malam," ucapnya malu-malu.
"Benar. Aku akan selalu melindungi tuan muda. Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti tuan muda," batin Lilia.
Sesaat setelah Ellard sarapan, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dan ternyata Renald memberi Ellard sebuah pesan untuk mengajak Ellard bertemu di kafe langganan mereka.
"Kenapa lagi? Apa ayah akan menanyakan tentang dua pemyusup yang masih belum aku tangkap?" pikir Ellard dalam hati.
Lalu Ellard langsung berjalan kembali ke kamarnya, mengambil jaketnya lalu pergi. "Tuan muda mau kemana?"
"Aku ada urusan, jaga rumah dengan baik," ucap Ellard lalu dia berjalan pergi.
Saat Ellard dalam perjalanan menaiki taxi, karena sudah jelas jika Gorgio bahkan belum kembali bekerja lagi. Saat itu, tiba-tiba saja dipertengahan jalan, mobil taxi langsung berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Ellard.
"Maaf tuan, tapi di depan ada monster," ucap sopir taxi itu dengan tangannya bergetar saat dia menunjuk arah monster yang ukurannya begitu besar.
"Tunggu! Dia monster sungguhan?" Ellard pikir jika yang dia lihat saat ini bukanlah droid buatan Edent, tapi monster sungguhan. Memang mungkin Edent akan sedikit kwalahan jika sampai bisa membuat droid dengan jumlah banyak dalam waktu singkat.
"Astaga, apa kau tidak bisa maju saja? Kau tabrak saja, tidak apa-apa kok," ucap Ellard.
"Tuan, yang saat ini berada di depan kita adalah monster yang ukurannya saja lebih besar dari mobil ini. Kita pasti akan mati diinjak oleh monster itu," ucap sopir taxi itu.
Lalu Ellard menghela nafas panjang. Lalu Ellard turun dari mobil, dan dia berjalan mendekati sopir taxi itu.
"Biar aku saja yang menyetir. Mungkin kepolisian akan mengurus monster itu," ucap Ellard sambil memberikan perintah pada sopir taxi itu untuk pindah tempat duduk.
Dan sopir taxi itu hanya pasrah dan menurut saja. Saat Ellard yang menyetir mobil taxi itu, Ellard dengan cepat langsung menginjak gas dan membawa mobil taxi itu dengan kecepatan tinggi dan langsung melewati monster itu tanpa terkena serangan dari monster itu. Apa yang Ellard lakukan itu sampai membuat sopir taxi terdiam tercengang, sekaligus takut dan panik karena mobil yang berjalan dengan sangat cepat.
Dan setelah beberapa menit, akhirnya Ellard berhasil membawa mobil taxi itu sampai ke kafe langganan dengan selamat. Lalu Ellard langsung turun dari mobil, dan dia memberikan uang pada sopir taxi itu.
Tapi sopir taxi itu malah menolak pemberian uang dari Ellard. "Tidak perlu. Anda sudah menyelamatkan saya dan mobil taxi ini dari monster tadi, dan itu sudah membuat saya merasa tenang dan lega," ucapnya.
Tapi Ellard tetap bersikeras memberikan uang itu ada sopir taxi. "Terima saja. Aku paling tidak suka jika ada penolakan," ucap Ellard, dan akhirnya sopir taxi itu menerima uang dari Ellard.
Renald terlihat sedang fokus dengan ponselnya saat Ellard datang. "Ayah sudah menunggu lama?"
"Lumayan lama. Apa terjadi sesuatu?"
"Tadi ada monster di jalan. Benar-benar aneh. Ngomong-ngomong apa ayah tahu kapan kira-kira Gorgio akan kembali bekerja?" tanya Ellard sambil dia duduk.
"Heh? Apa Gorgio pergi?"
"Ayah tidak tahu? Gorgio dan semua pelayan di rumah mengambil cuti. Untuk sementara ada pelayan pengganti," jawab Ellard.
"Ayah tidak tahu. Gorgio juga tidak mengatakan apa-apa pada ayah," ucap Renald.
"Hmm, benar-benar mencurigakan. Sebenarnya apa yang terjadi?" batin Ellard.