Elite Scope

Elite Scope
Bab 22



Saat baru saja Ellard sampai di sekolah, dia sudah di tunggu oleh dua gadis. Satunya lagi Hailey yang terlihat berdiri di depan pintu kelas terlihat cuek tapi sebenarnya dia menunggu Ellard. Dan satunya lagi adalah Freya yang terlihat mengeluarkan senyuman cerianya seperti biasa.


Tapi Ellard diam saja tanpa ekspresi berjalan melewati mereka berdua. "Ellard, apa kau sudah sembuh?" tanya Freya sambil dia dengan tiba-tiba berdiri di depan Ellard.


"Sudah," jawab Ellard datar.


"Ekhmm, katanya kemarin kau sakit. Apa sekarang kau sudah sembuh?" tanya Hailey. Tapi walau Hailey berbicara dengan Ellard, wajahnya tetap saja melihat ke arah lain dengan cueknya.


"Aku tidak suka mengulang kata-kata," jawab Ellard lalu dia berjalan memasuki kelasnya bersama Freya di belakangnya.


Semua murid kelas X-D terlihat antusias untuk mengikuti perlombaan olahraga hari ini. Hanya beberapa saja dari murid kelas X-D yang tidak memakai seragam olahraga, dan salah satunya adalah Ellard sendiri. Tentu saja, bagaimana bisa Ellard mengikuti kegiatan yang nantinya akan membuat Ellard kelelahan. Sebisa mungkin Ellard tak mau mengeluarkan setetes air keringatnya jika itu memang mungkin dalam keadaan darurat.


Saat bel berbunyi, semua murid langsung berkumpul di halaman belakang sekolah untuk bersiap mengadakan perlombaan sekolah. Para OSIS semuanya berkumpul di sana termasuk juga dengan Calisa. Calisa tampak sedang melihat ke arah Ellard saat ketua OSIS melakukan pidato untuk membuka kegiatan perlombaan itu. Tapi Ellard hanya diam saja, terlihat biasa saja. Dia harus tetap bersikap biasa saja. Tapi ada hal mengejutkan yang Ellard lihat.


Ternyata Adely juga adalah anggota OSIS. Terlihat saat Ellard tidak sengaja melihat ke arah lain, dia melihat Adely berdiri bersama dengan para OSIS itu. Tapi sepertinya Adely terlihat tidak terlalu nyaman di sana.


"Aku baru tahu kalau dia adalah anggota OSIS," batin Ellard sambil dia melihat ke arah Adely.


Setelah pidato yang di berikan oleh sang ketua OSIS, semua murid mulai berdatangan menuju lapangan olahraga. Tapi Ellard tidak pergi ke sana, dia malah pergi kembali ke kelasnya duduk santai melihat luar jendela. Dari luar jendela, Ellard bisa melihat bagaimana perlombaan itu terjadi.


Lalu tiba-tiba saja suara derap langkah kaki datang mendekati kelas X-D. Dan ternyata Ceylira datang dan masuk ke kelas X-D menemui Ellard.


"Hei, kenapa kau malah duduk santai di sini dan tidak pergi ke lapangan?" tanya Ceylira tersenyum tipis pada Ellard sambil dia duduk di depan Ellard.


"Kenapa kau ada di sini? Kau wakil ketua OSIS. Seharusnya kau berada di lapangan bersama dengan ketua OSIS kan?" tanya Ellard dengan wajah datarnya itu.


"Ketua OSIS hanya memberikan pidato saja. Dia akan kembali ke ruangannya. Dan aku tidak ada pekerjaan lain, jadi aku datang menemuimu," jawab Ceylira.


"Jadi begitu, ya. Perlombaan ini diacuhkan oleh ketua OSIS. Dia bahkan tidak mengawasi perlombaan itu. Dan aku sudah tahu itu," batin Ellard.


"Itulah kenapa aku tak mau ikut lomba atau pergi ke lapangan," ucap Ellard.


Caylira tersenyum tipis. "Hah, kau memang menarik," lalu kemudian wajah Ceylira mendekat ke wajah Ellard. "Hei, bergabunglah dengan anggota OSIS," ucap Ceylira pelan.


"Aku menolak," jawab Ellard datar.


"Tapi kau cocok untuk menjadi anggota OSIS. Dan ketua OSIS sendiri yang mengusulkan hal itu," ucap Ceylira.


Saat Ellard berjalan melewati koridor sekolah, dia lagi-lagi melihat Adely berjalan di sana dengan membawa buku yang begitu banyak. Lalu Ellard memutuskan untuk mengikuti Adely. Adely berjalan menuju sebuah gudang, di sana dia tampak sedang membersihkan gudang itu, Ellard mengintip dari balik kaca di pintu gudang. Tapi saat Adely selesai membersihkan, tiba-tiba saja dua gadis datang dan mengotori gudang itu dengan menyirami air lumpur. Lalu yang lebih parahnya lagi mereka juga mnyirami Adely dengan air lumpur itu lalu mereka dengan kasarnya mendorong Adely, di dalam gudang itu mereka membully Adely habis-habisan. Ellard hanya diam saja melihat itu, sepertinya itu yang membuat Adely terlihat aneh.


"Aku harus mencari tahu tentang Adely," batin Ellard lalu dia berjalan pergi meninggalkan pintu gudang itu.


"Hei, apa kau benar-benar sungguh-sungguh membersihkan gudang ini? Kau benar-benar payah," ucap salah satu dari dua gadis itu sambil terus menyirami Adely dengan air lumpur. Dan Adely hanya diam saja saat mereka berdua membully dan menghina Adely habis-habisan.


"Dia itu payah. Apanya yang anggota OSIS. Dia aja nggak berani lawan kita, hahahah!" ucap temannya sambil tertawa kencang. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan gudang.


Adely masih terduduk di dalam gudang itu, dia menutup matanya, meneteskan air matanya. Lalu Adely mencoba untuk bangkit berdiri dan berjalan pergi meninggalkan gudang dengan tubuhnya yang berlumuran air lumpur.


Lalu Ellard yang ternyata masih berada dekat dengan area gudang itu, berjalan mengikuti dua gadis yang baru saja membully Adely. Mereka berdua tampak terlihat senang saat mereka sudah membully Adely habis-habisan.


Lalu dua gadis itu duduk di dalam sebuah kafe, mereka menikmati minuman sambil berbincang-bincang senang. Ellard juga berada di sana, dia diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua dari kejauhan.


"Hei, apa kau lihat tadi. Bisa-bisanya dia yang jadi anggota OSIS. Seharusnya kita kan yang jadi anggota OSIS," ucap salah satu gadis.


"Kau benar. Gara-gara dia kita gagal jadi anggota OSIS. Kita harus belas dendam. Kita harus membuatnya tunduk pada kita," ucap temannya. Lalu mereka bersulang atas keberhasilan mereka membuat Adely tunduk pada mereka.


"Jadi begitu, ya. Hmm, ini benar-benar menarik," batin Ellard lalu dia beranjak dari tempat dia duduk dan berjalan pergi meninggalkan kafe setelah dia sudah cukup mendapat informasi.


Lalu Ellard berjalan menuju kamar mandi. Dia masih melihat Adely di sana baru keluar dari kamar mandi sambil membawa satu seragamnya yang berlumuran lumpur.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ellard pada Adely.


"Ellard. Aku baik-baik aja kok, memangnya aku kenapa?" jawab Adely yang masih bisa tersenyum walau sebenarnya dia masih merasa sedih.


Ellard menghela nafas, lalu Ellard berjalan mendekati Adely dan dua tiba-tiba saja mengelus-elus kepala Adely dengan tatapan dinginnya.


"Jika kau ada masalah, kau bisa bicara denganku," ucap Ellard dan membuat wajah Adely memerah.


"I-ya, Terimakasih," ucap Adely, lalu Ellard berjalan pergi meninggalkan Adely.


"Aku harus mendekatinya. Untuk bisa mengetahui kalau memang benar dia adalah forwardnya," batin Ellard sambil berjalan pergi dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.