
Pagi hari yang terasa begitu menghangatkan, kicauan burung yang bersenandu di atas pohon-pohon rindang, membuat suasana menjadi begitu tenang untuk Lily yang masih tengah tidur pulas di atas kasurnya yang empuk. Sampai akhirnya Lily merasakan tidur manisnya terganggu saat suara bel pintu yang menggema sampai ke telinga Lily. Lily bangun, dengan matanya yang masih setengah tertutup, dia beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju pintu rumah.
"Astaga ... apa tidak bisa ya kalau aku tuh tenang selama satu hari aja," gerutu Lily sembari berjalan dan membuka pintu.
Lily cukup terkejut saat siapa yang datang menemuinya. "Kau?" benar-benar sebuah kejutan besar bagi Lily dengan kedatangan seseorang yang tidak lain orang itu adalah ... Matsuoka.
"Halo lagi," tanpa Lily mempersilahkan Matusoka masuk, dia sudah berjalan masuk ke dalam rumah Lily dan dia langsung duduk santai di sofa yang empuk.
"Aku belum menyuruhmu masuk lho," ucap Lily sembari berjalan dan duduk di sofa, dengan rasa waspada dan hati-hati. Siapa tahu nanti Matusoka akan menyerang Lily.
"Tenanglah. Aku datang ke sini karena ingin berbincang-bincang santai denganmu," ucap Matsuoka.
Lalu tiba-tiba saja ponsel Lily berdering, tapi saat Lily akan mengambil ponselnya yang berada di atas meja depan Matsuoka, penuh dulu Matsuoka mengambil ponsel Lily.
"Hei, kembalikan itu!"
Lalu Matsuoka mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan menodongkannya tepat pada wajah Lily. "Angkat ini, tapi jangan beritahu padanya jika aku ada di sini. Aku tahu siapa yang menelfonmu," ucap Matsuoka tersenyum licik pada Lily.
Lily mengambil ponselnya dari tangan Matsuoka. Dengan pistol yang masih ditodongkan pada wajah Lily, ia mengangkat telfon dari dokter Shinomiya.
"Dokter Shinomiya, ada apa? Tumben sekali kau menelofnku," ucap Lily dengan nada santai dan tenang. Nada cerianya itu masih saja melekat dalam dirinya walau saat ini ada pistol yang tengah berada tepat depan wajahnya.
"Hah. Lily, apa kau lupa lagi. Hari ini kau ada pemeriksaan medis."
"Heh ... maaflah aku lupa. Nanti siang aku akan ke rumah sakit," ucap Lily.
"Baiklah ... hari ini jangan sampai kau lupa. Kemarin kau sudah menggunakan banyak tenagamu."
"Iya ... iya," lalu Lily menutup telfonnya.
"Jadi hari ini kau ada pemeriksaan medis, ya. Apakah jantungmu itu terlihat baik-baik saja? Jantungmu itu adalah aset besar lho," ucap Matsuoka tersenyum mencurigakan pada Lily.
"Jadi ... kau ingin membicarakan apa padaku?"
"Kau tidak sopan sekali. Seharusnya kau buatkan minuman untuk tamumu," ucap Matsuoka sembari duduk santai dengan dia mengusap-usap pistolnya dengan sebuah sapu tangan.
Lily menghela nafas panjang. "Kau ingin minum apa?"
"Jus jeruk. Kebetulan aku lagi haus banget," ucap Matsuoka.
Lily beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju dapur. Beberapa saat kemudian Lily kembali sembari membawa dua gelas berisi kopi susu.
"Aku minta jus lho," ucap Matsuoka dengan wajah kecewa saat yang dia lihat bukannya jus jeruk yang dia minta malah segelas kopi susu.
"Jika tidak mau aku akan membuangnya," ucap Lily sambil meminum kopi susunya dengan begitu santai.
"Tidak perlu. Aku tetap akan meminumnya," Matsuoka pun meminum kopi susu itu juga dengan santai.
"Jadi ... kau ingin membicarakan tentang apa padaku?"
"Buru-buru sekali. Aku datang ke sini kan hanya ingin bertemu denganmu dan berbincang-bincang bersama. Kita itu sama lho, tapi ternyata ingatan masa lalu tengang kau cukup membekas dalam tubuhku," ucap Matsuoka.
"Kalau bicara jangan berbelit-belit begitu. Apa maksud dari perkataanmu itu?"
Lalu Matsuoka membuka sebagian bajunya dan memperlihatkan pada Lily bekas luka tembakan tepat pada dada Matsuoka.
"Tunggu! Apa mungkin kau!" Lily mulai mengingat sesuatu saat dia melihat bekas tembakan pada dada Matsuoka.
Lily terdiam. Dia mencoba untuk mengingat kejadian yang dia rasa pernah bertemu dengan Matsuoka.
Flashback ON ...
Di sebuah gedung distrik Nomoya di Osaka, Jepang ...
Sekelompok ******* saat itu mencoba untuk meledakkan gedung dengan memasang beberapa bom di setiap ruangan gedung. Tapi semua itu gagal saat anggota Alicon yang berada di Osaka datang dan menyerang sekelompok ******* itu.
Saat itu Matsuoka masih remaja, dan Lily masih berumur 13 tahun. Lily bersama dengan anggota Alicon lain datang ke gedung tepat pada lantai empat, dimana sekelompok ******* itu bersembunyi di sana.
"Bos, bagaimana ini. Kita gagal meledakkan gedung ini," ucap salah seorang pria kelompok *******.
"Tenang! Kita harus menghabisi semua anggota Alicon. Lalu kita bisa segera kabur dari sini," ucap Matsuoka yang saat itu masih berumur sekitar 17 tahun.
"Baik!" mereka dengan cepat menembaki semua anggota Alicon.
Tapi anggota Alicon lebih cerdik dan juga cepat, terutama Lily. Lily berjalan mengendap-endap memasuki tempat sekelompok ******* itu sembunyi. Dengan cepat Lily memasuki ruangan itu dan membuat kelompokk ******* dan juga Matsuoka terkejut.
"Tembak dia!" perintah Matsuoka.
Mereka langsung menembaki Lily. Tapi dengan santai tapi cepat Lily menghindari tembakan itu. Sembari dia berlari mendekati sekelompok ******* dan juga menembaki mereka sampai habis. Matsuoka sampai terkejut saat melihat semua anak buahnya sudah tergeletak tidak bernyawa.
"Sial" Matsuoka juga mulai menembaki Lily.
Tapi Lily terlalu cepat dan gesit. Lily menghindari tembakan Matsuoka sembari dia juga menembak Matsuoka tepat pada dada Matsuoka. Iris mata merah Lily menyala seakan-akan hanya membunuh saja yang saat ini berada dalam pikiran Lily.
Flashback off ...
...----------------...
"Jadi kau, ******* yang berada di Osaka itu?" tanya Lily saat dia sudah bisa mengingatnya.
"Hahaha ..." Matusoka tertawa kencang. "Benar. Jadi, apa sekarang kau tidak ingin membunuhku?" tanya Matsuoka menatap Lily dengan tatapan licik.
"Jangan begitu. Kau menatapku seakan-akan aku adalah seorang psikopat," ucap Lily sembari meminum kopi susunya.
"Yah ... bukannya memang benar ya," ucap Matsuoka.
"Ngomong-ngomong, saat kau tidak beroperasi kau ngapain aja? Pasti ada kan saat kau ambil cuti," ucap Matsuoka sembari dia melihat sekeliling dalam rumah Lily.
"Bermain game, membaca buku novel dan komik, mendengarkan musik," jawab Lily.
"Heh ... kau juga suka bermain game ya. Aku juga. Tapi ada game yang paling aku sukai," ucap Matsuoka.
"Game yang paling kau sukai?"
"Benar ... game 'Build Gundam'," ucap Matsuoka.
"'Build Gundam'? Aku juga suka game itu. Benar-benar game yang menyenangkan," ucap Lily yang mulai terbawa suasana dengan perbincangan game yang sama-sama disukai Matsuoka dan Lily.
"Tentu saja. Game itu seru, penuh dengan misteri. Tapi yang paling aku sukai adalah ..." dengan senang Lily juga ikut menjawab bersamaan dengan Matsuoka. "Survival nya!" mereka menjawab secara bersamaan.
"Heh ..." Lily baru sadar jika dia mulai terbawa suasana.
"Tenang saja. Tentang ini hanya rahasia kita berdua kok," ucap Matsuoka.