Elite Scope

Elite Scope
Bab 36



Selanjutnya Eric akan membawa tabung itu menuju pusat penelitian profesor parker. Untuk bisa diteliti tentang apa isi dari tabung itu. Karena saat mereka menyuruh Lily untuk mengambil tabung itu, mereka bahkan belum tahu apa isi dari dalam tabung itu. Dari yang mereka tahu, jika sampai Edent lebih lama membawa tabung itu, maka akan terjadi bencana. Lily juga akan ikut dengan Eric untuk bertemu dengan ayahnya dan juga dia merasa penasaran dengan isi dari tabung itu. Padahal rencananya Lily akan menemui ayah Renald untuk membicarakan tentang penolakannya menjadi partner Ellard.


Pusat penelitian profesor parker ...


Profesor tampak sedang meneliti tabung yang sudah dibawa oleh Eric dan Lily. Dan tidak lama kemudian Ellard juga datang. Ellard menatap ke arah Lily saat dia memasuki ruangan lab. Tapi Lily menanggapi tatatapan datar Ellard dengan tatapan kesalnya, sepertinya Lily masih marah dengan Ellard karena perkara surat yang dia buat.


"Hah, sepertinya dia masih marah denganku," batin Ellard sambil berjalan mendekati profesor.


"Profesor, apakah ada petunjuk dari tabung itu?" tanya Ellard.


"Apa kau tidak lihat. Sekarang ini ayah juga sedang memproses apa yang seharusnya kau tanyakan nanti," ucap Lily dengan nada kesal.


Ellard hanya diam saja tanpa menanggapi apa yang Lily katakan. Ellard sudah berpikir jika Lily mempunyai kemampuan hebat, dan tentu saja akan sangat berguna jika Lily menjadi partner Ellard.


Dan setelah cukup lama meneliti, profesor telah selesai menyelesaikan penelitiannya pada tabung itu. Dari dalam tabung itu ada virus yang sangat berbahaya, jika saja sampai Lily gagal mengambil tabung itu, mungkin saja sekarang ini semua warga Tokyo akan terkena virus itu.


"Bagaimana bisa Edent membuat virus itu? Bukankah tujuan mereka yang sebenarnya bukan itu," ucap Eric yang merasa bingung dengan apa yang akan Edent lakukan.


"Mungkin memang itu bagian dari tujuan mereka," ucap profesor sambil memikirkan sesuatu.


"Apa mereka sudah tahu tentang sistemnya?" pikir profesor.


Lalu Ellard mendekati profesor lalu membsikkan sesuatu padanya. "Profesor, bisakah saya berbicara dengan Anda sebentar?" bisik Ellard.


"Lily, Eric aku akan berbicara dulu dengan Ellard. Kalian tunggu di sini atau kalian bisa kembali ke markas," ucap profesor.


Profesor mengajak Ellard untuk berbicara di ruangan pribadinya. "Apa yang ingin kau tanyakan, Ellard?"


"Apa sebenarnya sistem itu? Bisakah anda memberitahukannya? Saya janji akan menjaga rahasia ini," ucap Ellard.


"Baiklah. Aku bisa mempercayaimu. Dengar! Sistem itu saat ini berada di dalam tubuh seseorang, tapi untuk saat ini aku belum bisa memberitahumu tentang tubuh siapa yang menyimpan sistem itu. Sistem itu berbentuk seperti sebuah chipset, sistem yang aku buat bernama sistem 'Guidroid'.


Mereka membuat virus itu pasti untuk mengetahui tubuh siapa yang menyimpan Guidroid. Karena tubuh siapa saja yang menyimpan Guidroid tidak akan terpengaruh dengan virus berbahaya apapun. Karena itu saat aku tahu isi dari tabung itu aku mulai berpikir jika Edent sudah tahu tentang sistemnya. Tapi mereka masih belum tahu tubuh siapa yang menyimpan sistem itu," ucap profesor.


"Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu saya pamit. Terimakasih sudah memberitahu saya tentang sistem itu, walau belum terlalu lengkap," ucap Ellard sambil membungkuk sopan lalu pergi meninggalkan pusat penelitian.


Markas besar organisasi militer Alicon ...


Lily berjalan menuju ruangan ayah Ellard. Karena hari ini Renald berada di markas. Biasanya ayah Ellard akan jarang sekali datang ke markas, jadi ini adalah kesempatan emas untuk Lily membicarakan tentang dia dan Ellard.


"Aku akan menyelesaikannya. Entah kenapa tuan Renald menjadikanku sebagai partner dari putranya itu. Aku muak dengannya," gerutu Lily.


Lily mulai menghela nafas panjang saat dia sampai di depan pintu ruangan Renald. Lily mencoba untuk memberanikan diri untuk mengetok pintu.


Tapi saat Lily akan mengetok pintu, tiba-tiba saja ada yang memegang tangannya. Lily terkejut dan dia menoleh ke arah siapa yang memegang tangannya.


"Kau?" Lily cukup terkejut saat tahu ternyata yang memegang tangannya adalah Ellard.


"Kau mau apa datang ke ruangan ayahku?" tanya Ellard.


"Tentu saja aku akan membatalkan tentang aku yang akan menjadi partner mu," jawab Lily sambil melepas tangannya dari pegangan Ellard.


"Jangan!" ucap Ellard.


"Ekhm. Aku akan menerimamu menjadi partner ku," ucap Ellard sambil mengalihkan wajahnya dari Lily.


"Heh? Kenapa? Apa jangan-jangan kau sedang mempermainkanku saat ini?" tanya Lily menatap Ellard tajam.


"Aku sungguh-sungguh," ucap Ellard datar.


"Aku menolak!"


"Kenapa? Bukankah itu yang daridulu kau harapkan?" ucap Ellard.


"Aku tetap tidak mau. Itu kan dulu. Sekarang udah enggak. Lagipula sekarang aku lebih memilih menjalankan misi bersma Eric saja," ucap Lily.


"Eric? Apa yang dia maksud pria berambut hitam bermata hijau yang bersamanya tadi?" pikir Ellard dalam hati.


"Tapi seharusnya kau menjadi partner ku. Sebenarnya apa yang membuatmu ingin menolaknya? Apa kau masih marah denganku?" tanya Ellard.


"Hmm, sepertinya dia bisa aku kerjain nih," batin Lily menatap wajah Ellard, lalu dia tersenyum tipis.


"Baiklah, aku akan menerimanya. Tapi dengan syarat," ucap Lily.


"Syarat? Syarat apa?" tanya Ellard.


"Kau harus membersihkan rumahku selama satu Minggu ini," jawab Lily.


"Apa! Aku tidak mau! Gila kalau aku menerimanya," ucap Ellard dengan wajah datar tapi bernada terkejut.


"Oh, jadi kau menolak ya. Oke ... sepertinya aku akan langsung menemui tuan Renald saja," lalu Lily berjalan maju untuk mengetok pintu. Tapi lagi-lagi tangan Ellard menahannya.


"Selain yang tadi. Syarat yang lain saja," ucap Ellard.


"Emm ... yang lain ya," Lily tampak sedang berpikir. "Tidak ada! Yang lain tidak ada. Ini hukuman sekaligus syarat yang sudah sesuai. Lagipula kau sudah menolakku dan mengacuhkanku cukup banyak dan juga mengejekku," ucap Lily.


Ellard menghela nafas panjang. "Baiklah, tapi apakah tidak bisa jika hanya satu hari saja?" tanya Ellard.


"Satu hari? Apa-apaan itu! Tidak! Satu Minggu itu sudah paling bagus," ucap Lily.


"Cih, dia benar-benar menyebalkan. Sekarang aku yang dimanfaatkan," batin Ellard.


"Baiklah. Besok aku akan datang ke rumahmu, karena besok hari minggu jadi aku akan datang pagi. Berikan alamat rumahmu," ucap Ellard.


"Berikan aku nomor ponselmu. Aku akan memberikannya," ucap Lily, dan Ellard pun memberikan nomor ponselnya pada Lily.


"Oke, aku sudah mengrimkan alamat rumahku, jangan lupa besok ya. Sampai jumpa, partner," ucap Lily tersenyum licik pada Ellard sambil berjalan pergi meninggalkan Ellard.


"Dia benar-benar licik," ucap Ellard.


Lalu Renald keluar dari ruangannya. "Heh, Ellard. Apa kau ingin bertemu dengan ayah?" tanya Renald.


"Tidak, tidak jadi. Aku akan pulang saja," ucap Ellard lalu dia berjalan pergi.