
Malam sudah semakin larut. Dan Ellard baru pulang dari kafe, dia sampai rumah saat waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Saat Ellard sampai rumah, dia melihat Lilia yang tampak tertidur pulas di sofa ruang tamu. Ellard berjalan mendekati Lilia, sepertinya Lilia tertidur karena menunggu Ellard pulang.
"Hah, apa dia menungguku pulang? Astaga, dia sebenarnya pelayan yang baik. Tapi aku selalu saja emosi padanya," ucap Ellard.
Karena malam yang sudah larut, akhirnya Ellard menggendong Lilia dan mengantar Lilia ke kamarnya. Ellard lalu menidurkan Lilia ke tempat tidur Lilia.
"Dia cukup merepotkan hari ini," ucap Ellard lalu berjalan pergi.
Tapi saat Ellard akan berjalan pergi, tiba-tiba saja Lilia memegang tangan Ellard. "Tuan muda, jangan pergi. Aku ingin selalu bersamamu," Lilia berbicara dalam keadaan tertidur.
"Apa dia baru saja mengigau? Dia bahkan baru saja mengenalku. Tapi dia sudah benar-benar melayaniku dengan sangat baik," Ellard tiba-tiba saja merasa tidak tega untuk melepaskan pegangan tangan dari Lilia. Entah itu Karena rasa bersalah Ellard yang selalu emosi pada Lilia atau apapun itu.
"Hah, dia benar-benar masih gadis. Dia bahkan baru berumur 18 tahun. Dan dia sudah melayaniku dengan sangat baik, aku jadi merasa bersalah karena selalu saja marah padanya," ucap Ellard duduk di samping Lilia tertidur.
Ellard memang orang yang egois dan terkesan sadis. Tapi jika dia bertemu dengan orang yang benar-benar mau tunduk dan melayani Ellard dengan baik, dia juga akan baik pada orang itu. Sama seperti Ellard baik pada Gorgio, karena selama ini Gorgio sudah melayani Ellard dengan sangat baik. Ellard tak akan jahat pada orang yang baik padanya. Ellard masih berada di dalam kamar Lilia. Tangan Lilia masih memegang tangan Ellard, dan Ellard tidak ingin jika sampai Lilia terbangun karena Ellard melepaskan tangan Lilia. Ellard merasa jika satu hari ini Lilia sudah bekerja keras untuknya. Dan pasti sekarang ini Lilia merasa lelah.
Lalu Lilia tiba-tiba saja memeluk tangan Ellard. Ellard semakin sulit untuk melepaskannya. "Dia baik. Tapi aku tidak sebaik yang dia pikirkan," ucap Ellard.
Lalu Ellard melepas pegangan tangan dari Lilia dengan cukup kasar secara tiba-tiba dan membuat Lilia terbangun. Wajah Lilia memerah saat tiba-tiba saja dia melihat Ellard.
"Maaf tuan muda. Tapi apa yang anda lakukan di sini?" tanya Lilia.
"Hah. Baru aja aku tadi punya perasaan baik padanya. Dan tiba-tiba saja tanpa sadar aku kasar lagi padanya," batin Ellard.
"Kau tadi tertidur di ruang tamu. Dan aku membawamu ke sini, dan daritadi kau terus saja memegang tanganku sambil kau terus mengigau tidak jelas," jawab Ellard dengan tatapan dinginnya lalu dia berjalan pergi meninggalkan kamar Lilia.
Seketika wajah Lilia tambah memerah saat Ellard mengatakan dia sempat mengigau. "Aku tadi mengigau apa? Astaga, ini benar-benar sangat memalukan," ucap Lilia.
Keesokan harinya ...
Saat Ellard pergi ke meja makan, dia sudah melihat Lilia yang begitu gesit menyiapkan sarapan untuk Ellard. Itu membuat Ellard seidikit bingung karena biasanya Lilia akan santai dan pelan-pelan dalam menyiapkan dia makanan.
"Apa hari ini kau akan pergi? Kenapa kau seperti sedang terburu-buru begitu?" tanya Ellard sambil dia duduk di kursi meja makan.
Dengan cepat Lilia langsung menyiapkan minum dan juga makanan untuk Ellard santap. "Ini adalah permintaan maaf karena tadi malam saya sudah bersikap tidak sopan pada tuan muda," ucap Lilia sambil menyiapkan segelas air putih dan juga makanan untuk Ellard santap.
"Baiklah. Terserah kau saja," ucap Ellard lalu dia mulai menyantap makanan yang Lilia siapkan untuknya.
Hari ini hari Minggu, jadi sekolah libur. Dan Ellard juga masih merasa malas untuk mulai menyusun rencana untuk menangkap sisa anggota Edent. Jadi setelah sarapan Giz langsung pergi ke ruang pribadinya. Ellard tidak membaca buku di sana, tapi dia memilih untuk memainkan pianonya. Suara nada-nada merdu yang Ellard kelurkan terdengar sampai dapur, Lilia yang sibuk mencuci piring langsung dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya dan dia langsung pergi ke ruang pribadi Ellard.
Tok... tok... tok...
Lalu Lilia memberanikan diri untuk mengetok pintu ruangan pribadi Ellard dan membuat Ellard berhenti bermain piano dan membuka pintu.
"Lilia. Ada apa?"
"Anu. Emmm bisakah aku mendengar tuan muda bermain piano?" tanya Lilia malu-malu.
Wajah Lilia langsung berseri-seri. Dan Lilia duduk di depan Ellard memainkan piano dengan begitu merdunya. Lilia yang mendengarnya berasa untuk tidak ignin segera itu berakhir.
"Astaga benar-benar merdu. Aku harap aku bisa selalu bersama tuan muda," batin Lilia.
Setelah cukup lama Ellard memainkan pianonya, akhirnya Ellard memutuskan untuk menyelesaikannya. Lilia memberikan tepuk tangan untuk Ellard.
"Tuan muda benar-benar pintar main piano. Benar-benar luar biasa," ucap Lilia.
"Ini semua berkat ibuku," ucap Ellard.
"Pasti nyonya bangga pada tuan muda," ucap Lilia tersenyum pada Ellard.
Lalu Ellard beranjak dari tempat dia bermain piano. Ellard berjalan mendekati pintu jendela lalu membuka pintu jendelanya. Ellard tampak terdiam melihat luar jendela.
Lilia berjalan mendekati Ellard. "Apakah tuan muda baik-baik saja?" tanya Lilia.
"Ibuku bukanlah wanita yang seperti kau bayangkan," lalu Ellard menoleh ke arah Lilia. "Menurutmu ibuku wanita yang bagaimana?" tanya Ellard.
"Heh? Emm, menurutku nyonya adalah wanita yang cantik cerdas dan juga ramah. Dia juga baik sangat menyayangi tuan muda," jawab Lilia tersenyum.
Ellard menatap wajah Lilia yang sedang fokus menjelaskan tentang bagaimana ibu Ellard. "Hah, sepertinya kau sudah salah paham tentang ibuku," ucap Ellard.
"Heh. Apakah itu salah? Bukankah ibu tuan muda memang wanita yang baik?" tanya Lilia.
"Yah, dia memang baik. Tapi dia begitu tegas. Ibuku ingin aku seperti orang yang bersikap seperti layaknya keluarga kelas elit," ucap Ellard.
"Maaf tuan muda. Apakah saya membuat anda bersedih?" tanya Lilia.
"Aku tidak akan sedih dengan hal payah seperti itu. Lagipula aku sudah tidak seperti saat aku masih kecil," ucap Ellard.
"Tuan muda. Saya akan selalu bernama tuan muda. Saya pasti akan membuat tuan muda tidak merasa kesepian," ucap Lilia.
Ellard mengelus-elus kepala Lilia. "Kau tidak perlu melakukan hal itu sih. Kau tak akan selalu bersamaku kan, nantinya kau akan menikah dan menjalin hubungan keluarga dengan keluarga barumu," ucap Ellard.
Wajah Lilia mmerah. "Aku tidak akan menikah! Aku akan selalu melayani tuan muda! Aku ingin selalu bersama tuan muda!" ucap Lilia.
Ellard cukup terkejut dengan perkataan Lilia, bahkan Ellard sampai teringat kembali dengan Lilia yang mengigau.
"Hah, perkataanmu sama seperti kau mengigau semalam," ucap Ellard.
"Heh, benarkah? Apakah itu hal yang memalukan?"
"Entahlah."