Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Terima Kasih, Chef Monster!



                Ini hari pertamaku bekerja sejak aku tidak masuk. aku seperti dilahirkan lagi hari itu, hari dimana semuanya mulai membaik. Aku bisa menerima Uta pelan-pelan. Pagi ini dia bahkan sudah membuatkanku sarapan seperti biasa. Aku sangat bahagia melihat Uta bisa tersenyum lepas pagi itu.


                “Ah, selamat datang kembali Mimi-chan,” sambut Inari dengan senyum, juga Haruka, Orihime, dan Juni.


“Wah, kau agak kurusan, Hinamori,’ lanjut Kei dan dibenarkan oleh Iura.


“Hehe,” aku hanya terkekeh geli. Rindu pada semuanya, semua yang ada didapur ini.


Tukk! Lagi, Miyamura melakukan itu. sedikit membuatku kesal. Aku menoleh ke arahnya, dia tertawa kecil. Anak ini bisa tertawa juga, fikirku.


“Selamat datang kembali,” katanya.


“Oh, lagi ada reuni ya,” kata sebuah suara yang amat ku kenal. Chef monster itu mendekati kami. Semua koki berkumpul. Chef menatapku. Lalu mendekatiku, semua koki lain sedikit menyingkir karena takut. Kini chef itu berhenti di hadapanku.


‘Well, selamat datang kembali, Hinamori-san.” Katanya dengan penuh penekanan.


“Ha-hai, Chef” jawabku pelan.


“Baiklah, hari ini kau akan kembali memasak ramen. Kita sudah kedatangan asisten baru hari ini,” ujar chef itu datar membuat aku kaget bercampur bahagia. Ini seperti mimpi. ‘Tori!” panggil chef dengan tegas. Seorang lelaki manis yang tingginya lima centi diatasku datang dengan tertunduk mendekati chef.


“Hai,” sahutnya kalem.


“Kenalkan dirimu,” perintah chef.


“nama saya, Tori Yanase, umur 20 tahun, yoroshiku onegaishimasu. Mohon bimbingannya,” kata Tori sambil membungkuk hormat.


“Baiklah, selamat bekerja semua. Pelanggan sudah mulai datang. Bersiaplah!”  kata Chef sambil berlalu.


“Baik, Chef!” jawab kami serentak. Aku memandangi punggung Chef Monster itu sampai hilang di balik pintu. Terima kasih, Chef Monster, batinku dalam hati.


“Yosh! Hinamori-san kembali ke Ramen!” kata Kei bersemangat.


“Kau beruntung Hinamori-san” sahut Iura sambil mengelus kepalaku gemas.


“Yokatta~’tambah Orihime dan Haruka. Aku menatap Miyamura dan itu artinya Miyamura tidak di bagian Ramen lagi. Dan sepertinya itu tidak mengganggunya. Ahaaa.. syukurlah semuanya membaik. Yosh! Waktunya memasak lagi!


“Semenjak kau tidak ada di dapur, Chef kelihatan kesepian,” celoteh Juni saat kami berganti baju di ruang ganti.


“Ya, mungkin karena tidak ada tempat untuk melampiaskan kekesalannya,” komentarku sambil membuka baju kokiku.


“Berbeda.” balas Inari.


“Bedanya?” tanyaku penasaran.


“Ya, semenjak kau tak ada didapur dia kelihatan lebih kalem, sedikit tak bersemangat. Dan aku benar-benar terkejut tadi ketika dia mengatakan bahwa kau kembali di bagian ramen. Benar-benar tidak bisa diprediksi itu chef,” jawab Haruka sambil memakai baju gantinya.


“Dia kangen denganmu mungkin,” tambah Orihime.


“Kalau dia kangen, trus kenapa dia tidak menjengukku, hmm,” gumamku.


“Tapi kan setidaknya dia menitip surat. Pasti ada sesuatu yang dikatakannya dalam surat itu.” kata Inari. Ah, ya surat, surat yang isinya benar-benar membuatku merasa aneh, down bercampur bahagia.


“jangan manja, cepat sembuh dan kembali bekerja. Dapur merindukan belaianmu. Semoga cepat sembuh!” Ah, kusso! Aku meninju pintu loker tanpa sadar karena mengingat kata-katanya dalam kertas itu.


“Eh?” gumam Juni melihat responku.”kau kenapa, Mimi-chan?”tanyanya.


“Aha! Pasti ada sesuatu di surat itu ya?” terka Orihime.


“Aku masih bertanya-tanya dengan salah satu kalimatnya. Katanya dapur merindukan belaianku,” kataku sambil berfikir.


“Belaian?” ulang Inari seperti salah dengar. Sejenak semuanya hening, kemudian serentak semua dalam ruang ganti itu tertawa.


“Hey, hey kenapa malah tertawa. Kalian mengerti maksudnya?” tanyaku penasaran. Perlahan mereka berhenti terkikik.


“Tidak, tapi..lucu sekali mendengarnya,” jawab Haruka sambil menahan tawa tapi akhirnya dia terkikik lagi. Aku hanya mendengus kesal melihat itu. Yah, siapa tahu sih. Memang, kata-kata si chef monster itu memang sedikit aneh.


“Bye,” ucap Haruka sambil berlari mendahuliku di lobby jalan keluar dari belakang. Di susul yang lain. Aku menyahutinya. Aku berjalan pelan mencoba mengumpulkan serpihan momen tadi pagi hingga malam ini. Aku bersyukur ini hari yang baik dan menyenangkan. Tanpa sadar aku tersenyum.


Puk! Aku merasakan sebuah tangan menimpa kepalaku. Aku berhenti dan memegangi kepalaku. Menoleh ke samping dan lihatlah Miyamura lagi!


“Nghh,” aku mendengus kesal sambil  memalingkan wajah ke samping.


“Bagaimana kabar Uta?” tanyanya kemudian. Aku sedikit terkejut sampai membuat aku menghentikan langkah. Ya, benar, kenapa aku harus bingung, bukankah Uta bilang dia sudah bertemu dengan Miyamura saat mengantarku pulang seminggu yang lalu, waktu aku sakit.


“Doushite?” tanyanya bingung melihatku berhenti mendadak.


“Ah, tak apa. Kau sudah bertemu Uta?” tanyaku penasaran. Dia bahkan memanggil Uta dengan nama depan, batinku.


“Umm, waktu aku mengantarmu ke apartemenmu waktu itu pertama kalinya aku bertemu dengannya. Agak kaget juga sih. Kau tak cerita bahwa kau punya adik. Selanjutnya setiap pergi kerja, aku sering melihat dia di halte. Entah mau kemana dia. Yah, sudah beberapa kali lah kami berpapasan dan berbicara tentangmu,” celoteh Miyamura dengan tenang.


“Tentangku?’ ulangku.


“Ya, sepertinya dia sangat menyayangimu. Dia sangat khawatir tapi tak berani menjengukmu. Aku sempat heran juga, tapi dia tidak bersedia menjelaskan.”


“Oh,” responku sedikit merasa amazing.


“Ngomong-ngomong kenapa Uta takut untuk menjengukmu?’ tanya Miyamura.


“Aku tidak tahu,”jawabku asal. “Ummh, ia baik-baik saja kok sekarang. Ngomong-ngomomg kenapa tiba-tiba kau bertanya kabarnya?” lanjutku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Miyamura kaget mendengar pertanyaanku, aku melihat reaksinya. Pipinya sedikit merona. Hey, jangan-jangan....?


“Kau menyukai Uta?” tebakku langsung-langsung saja. Miyamura menutup mulutnya dengan punggung tangannya dan tatapan matanya menghindari ku. “Ahahah,“ aku tertawa melihat Miyamura. Miyamura sedikit kesal.


“Hei kenapa tertawa? Apa yang salah?”


“Tak ada yang salah sih hanya saja sedikit lucu rasanya. Haaaah,” aku menghela nafas, “Dan lebih dari itu, jika kau masih menepuk kepalaku dengan sendok sayur kaldu itu, atau dengan tanganmu seperti aku anak kecil, aku tak akan mengizinkanmu dengan Uta. Ja ne~”lanjutku sambil berpamitan karena kami telah sampai di simpang jalan seperti biasa.


“Hey!” panggilnya sedikit kesal.


Aku hanya tertawa meninggalkan Miyamura. Ah, anak itu, ternyata dia jatuh cinta dengan Uta. Aku kira dia tidak akan pernah bisa jatuh cinta. Sikapnya yang cool dan tenang seolah mengabaikan anggapan bahwa dia tak akan jatuh cinta, tapi begitu melihat pipinya merona dan sikap malu-malunya tadi ketika berbicara tentang Uta, membuatku sadar, siapapun itu akan terlihat bodoh ketika jatuh cinta.


“Tadaima,” ucapku ketika masuk. Hey, aku mengucapkan ini secara spontan. Sudah lama sekali tidak mengucapkan salam ketika aku pulang. Dan rumah ini seperti hidup kembali.


“Okaerinasai, Onee-chan,” sambut Uta dengan gembira. “tadi ibu kemari membawa tuna, jadi aku memasak sushi, hehe. Aku tidak tahu ini enak apa tidak.” Celotehnya sambil menggiringku ke meja makan.


“Ibu kemari?” tanyaku sambil duduk.


“Iya, dia merindukan Onee-chan,” kata Uta. “yosh, ayo dimakan Onee-chan,” kata Uta bersemangat.


Aku melihat hidangan sushi dimeja. Aku seperti kembali ke masa indah dulu ketika aku, ayah dan ibu berkumpul dimeja makan. Tapi itu masa lalu, sekarang ada Uta yang selalu menungguku untuk makan. Aku seperti memiliki keluarga baru, dan ku sadari Uta adalah harta istimewa buatku.


“Itadakimasu!” ucap Uta, aku mengikuti dan mulai melahap sushi. Tiba-tiba aku teringat Miyamura.


“Ne, Uta-chan, apa kau pernah bertemu Miyamura lagi setelah hari itu, ehm, maksudku setelah hari dimana ia mengantarkanku kemari.?” Tanyaku.


“Bffttt, uhuk-uhuk,” Uta tersedak-sedak mendengar pertanyaanku. Dia buru-buru minum. Aku sedikit kaget dengan reaksi itu. “Onee-chan pertanyaanmu membuatku kaget,”


“Jadi apa benar?” ulangku. Uta melirik ku sebentar lalu ku lihat dia memainkan sumpitnya diatas piring.


“Iya sih, beberapa kali ketika aku akan berangkat kerja,” ucapnya pelan.


“Kerja?’ ulangku.


“Ah..ma-maksudku, kuliah.” Lanjutnya parau sambil mengalihkan pandangannya dariku.


“Seberapa dekat kalian?” tanyaku.


“Ah..Onee-chan, aku malu.”


“Haaa? Malu? Apa kau sudah berkencan dengannya?”


“Ah, tidak-tidak bukan begitu maksudku --,” kata Uta gugup, jelas sekali rona merah itu dipipinya.


“Jadi?”


            “Ja-jadi...kami hanya bertemu sebentar dan itu hanya sebatas di halte dan di dalam bus. Miyamura sangat baik. Dia membuatku tertawa setiap kali aku bicara dengannya.” Cerita Uta dengan raut wajah yang begitu dalam. Hmmm, sepertinya Miyamura dan Uta memang saling jatuh cinta tapi ini sangat manis sekali ku lihat. Seperti drama-drama Korea. Aku melihat adikku jatuh cinta dengan teman sedapurku, itu sedikit aneh, tapi menarik. ☺️