Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Antara Kenyataan dan Mimpi



Ah, sial! Aku terlambat bangun karena mimpi indah tadi malam. Mimpi indah bertemu dengan Vokalis One Ok Rock: Morita Takahiro a.k.a Taka! Tapi, kita bahas itu nanti saja. Aku benar-benar terlambat pagi ini!


"Onee-chan, sarapan dulu!" sebuah suara halus sempat menghentikan langkahku ketika aku hendak keluar. Aku menatap Uta, adikku yang berjarak lima tahun di bawahku dan sekarang sedang kuliah di Tokyo University.


"Tidak, terima kasih." Ucapku dingin sambil berlalu tanpa berpamitan.


Aku keluar dari apartemen. Kemudian menoleh ke arah pintu. Aku sangat tidak menyukai Uta. Meski dia adikku, dan anak kandung dari ayahku, tapi tetap saja, ibunya bukan ibuku! Dan sikap manisnya itu selalu saja membuatku semakin membencinya. Memuakkan!


"Ah, Mimi-chan, Ohayou!" sapa Chizuru ketika aku melintas di depan balkon apartemennya. Aku terkesiap dan lamunanku mendadak buyar.


"Ohayou, Chizuru," balasku sambil tersenyum. Lalu pandanganku mengarah pada tumpukan barang di depan apartemennya. "Kau akan pindah?"tanyaku.


"Iya, nanti siang. Agak kecewa sih dengan keputusan managerku yang memindahkanku ke Miyagi," kata Chizuru dengan tatapan kosong.


"Kau harus bersabar. Inilah dunia pekerjaan. Siap atau tidak siap setiap masalah harus kita hadapi. Aku juga begitu sih. Hari ini Kepala Koki yang baru akan tiba, tidak tahu apakah dia lebih baik dari sebelumnya." Celotehku mencoba menghibur.


"Iya, aku mengerti. Terima kasih sudah menghiburku. Hey, ini sudah jam berapa? Kau tidak berangkat?" ujar Chizuru mengingatkanku.


"Ah, Ya! Terima kasih. Bye!" responku sambil melangkah cepat menuruni tangga dan segera berlari menuju halte bus. Aku tidak boleh ketinggalan bus jika sampai itu terjadi maka aku harus menunggu satu jam lagi. Dan yatta! Syukurlah bus yang menuju tempat aku bekerja belum berangkat.


Bus mulai bergerak meninggalkan halte. Aku menghela nafas dan menoleh ke luar jendela sebelahku, memandangi mobil dan kendaraan lain yang melintas dengan orang-orang dan segala kesibukannya. Dan hari ini, aku agak sedikit gugup mengingat Izumi-san tidak akan bekerja sebagai kepala koki lagi di resto tempat aku bekerja selama dua tahun belakangan ini, dan dia akan di gantikan oleh seorang koki yang datang dari Korea. Ah, semua pasti akan baik-baik saja, harapku sambil membayangkan sosok pria yang akan jadi kepala koki ku. Mendengar kata Korea, ingatanku langsung tertuju pada pria-pria tampan pemeran drama korea yang sering ku tonton. Ya ampun, iya kalau pengganti Izumi-san itu masih muda, kalau sudah umur 50-an gimana? Aku tak bisa membayangkan itu, tidak berhak malah. Yang terpenting sekarang, hadapi saja!


Tak lama aku sampai di Yukahashi International Resto, tempat aku bekerja. Segera aku ke ruang ganti, memakai pakaian putih khas koki dan celemek. Aku menggulung rambut ikal panjangku dan menjepit poniku agar tak mengganggu pandangan ketika memasak. Setelah itu aku menuju dapur team koki Jepang dan senyap. Semua teman-temanku tampak tertunduk dihadapan seorang laki-laki berpakaian seperti Izumi-san. Tak lama laki-laki itu menoleh ke arahku lalu kembali menatap teman-temanku sambil berkacak pinggang dan mulai mengomel.


Lah? Aku dicueki? Sialan.


Tidak lama kemudian ku dengar ia selesai dan menuju ke arahku yang belum bergerak dari pintu.


"Namamu siapa?" tanyanya dengan ekspresi dingin. Entah kenapa rasanya ludahku tersangkut di tenggorokan saat mendengar suara nya.


"Mi-mi Hi-hi-hinamori," jawabku yang tiba-tiba saja takut.


Ni orang apa setan sih, kok jadi horor gini?


"Lebih keras!"teriaknya, membuatku semakin gemetaran.


"Mimi Hinamori, -- Pak!" kataku mencoba tegas.


"Hinamori, kau tau ini jam berapa?"


"Jam - sembilan ,P-pak!"


"Kau tahu jam berapa resto ini dibuka?"


"jadi kenapa kau baru datang jam sembilan! Kau fikir ini restoran nenekmu!"


"Su-sumimasen, pak. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kataku lemas hampir menangis karena tekanan ini.


"Baiklah, tapi jika ini terjadi lagi, maka lebih baik kau ku pecat!" ancamnya sembari berlalu dari hadapanku. Aku hampir pingsan dibuatnya.


"Semuanya mulai bekerja! Besok saja kita berkenalan, aku sedang tidak dalam mood ku hari ini. Besok tidak boleh ada lagi yang terlambat! Mengerti?!" teriaknya sambil menggebrak meja dan berlalu.


"Baik, Chef!" sahut koki lain serempak dengan wajah takut.


Sementara aku sendiri seolah tak bisa bergerak dibuat lelaki tadi. Semua ototku kaku dan leherku tegang sekali rasanya. Baiklah, siapa lelaki itu? Kepala koki yang baru itu kah? Well, bahasa jepangnya fasih juga, fikirku tapi dia benar-benar lelaki yang mengerikan!


"Mimi-chan, daijoubu desuka?"


"Huwaaahh!" aku kaget menerima sentuhan dari Haruka di pundakku. Haruka sendiri juga kaget melihat reaksiku. "Gomen ne," kataku pelan kemudian smbil tertunduk.


"Kami juga tidak menyangka dia semenakutkan itu walaupun dia tidak melakukan apa-apa. tapi sebaiknya kita mulai bekerja, sebelum dia marah lebih besar lagi." Nasehat Haruka sambil menuntun ku berjalan.


Kemudian Orihime mendekati dan membantuku berjalan, "tapi setidaknya dia tampan," celotehnya.


"Tampan matamu!" celetuk aku dan Haruka serentak dengan kesal.


"Hehehe, gomen ne gomen ne." Kata Orihime dengan senyum merasa bersalah.


Kamipun mulai bekerja dengan perasaan yang mungkin kurang nyaman setelah kejadian tadi. Semuanya tampak kurang bersemangat, terlebih aku. Mengesalkan memang, tapi bagaimanapun juga ini salahku karena terlambat lagipula jika karena hal ini aku dipecat, aku mau kerja apa nantinya. Aku sudah bersusah payah untuk bekerja di resto ini dengan segudang tes memasak dulu, dan jika gara-gara ini aku dipecat, oh tidak...aku tidak bisa membayangkan jika cita-citaku harus kandas.


Sebenarnya, memang sudah lama aku ingin bekerja sebagai koki disini. Maka dari itu aku belajar keras untuk memasak semua jenis masakan dari seluruh dunia meski aku sudah mahir di masakan Jepang. Kebetulan waktu itu restoran ini butuh koki yang mahir di bidang masakan tradisional Jepang. Syukurlah, waktu itu masih ada ibuku yang mengajarku masak dan mungkin bakat memasak memang sudah mengalir dalam darahku, sehingga aku cepat belajar.


Bicara tentang Chef baru tadi rasanya membuatku sedikit takut. Entah kenapa aku merasa hari-hari selanjutnya akan menjadi sulit. Ya memang sih dia tampan. Wajahnya mirip pemeran Ultraman Orb. Tapi aku tak menyangka dia memiliki kepribadian buruk. Caranya berbicara sangat mengintimidasi. Mengerikan! Membayangkan yang tadi saja sudah membuat ujung jariku membeku. Hufft!


"Oi, Hinamori!" panggil seseorang dari depanku. Seketika lamunanku buyar dan langsung menatap sebuah wajah di depanku. Miyamura-san!


"Eh? Nani?" tanyaku.


"Masakanmu!" katanya sambil mencicipi sup dengan sendok sayur pengaduk kaldu.


Astagaaaa!!! Hangus! Ini gawat benar-benar gawat! Akupun langsung mematikan kompor dan merendam panci. Miyamura hanya geleng-geleng kepala melihatku juga koki lainnya. Ya ampun, ada apa sebenarnya denganku. Aku benci hari ini! Aku benciiiiiii!!! Astaga, ini mimpikan? Ini mimpikan? Haha, well, fine. Yume janai! Ini nyata dan sangat menyakitkan! Aku harap aku bisa mimpi tentang Taka lagi malam ini! Ya setidaknya itu bisa mengobati moodku yang sangat buruk hari ini.


*bersambung*