
Hari itu mendadak Sub Resto Jepang ramai sekali dan ternyata Band One Ok Rock datang dan ingin makan ditempat kami. Aku sempat kaget ketika Morita Takahiro memesan ramen buatanku dan ingin aku yang mengantarnya langsung ke mejanya. Aku langsung memasak ramen itu dengan kesungguhan hati. Setelah selesai aku mengantarnya langsung ke hadapan salah satu personil yang menjadi vokalis band tersebut.
"Wah, enak sekali," puji Taka sambil tersenyum,"Kau bisa jadi istriku nanti,"lanjutnya membuat aku merona dan hampir pingsan. Tapi, kemudian...
"KRIIIIIIIIIIIIIIING......!!!!!!"
Aku meraba bunyi menyebalkan itu dan mematikannya segera. Ah! Cuma mimpi, tapi...indah sekali. Aku tersenyum sendiri di atas bantalku mengingat mimpi tadi. Ah manisnya...aku bahkan masih ingat betul wajah Taka saat tersenyum tadi. Begitu dekat. Namun, haaaah, hanya mimpi. Sekali lagi, hanya mimpi!
Tak biasanya, hari ini setelah resto tutup, chef Ryuu memanggil kami untuk berkumpul di dapur. Bukan hanya koki tapi juga para pramusaji. Kami memang sedikit penasaran, tapi berusaha untuk tak menduga-duga. Setelah semuanya berkumpul, chef pun mulai menjelaskan mengapa ia mengumpulkan kami malam itu.
"Sebulan lagi akan ada kompetisi Sub Resto Terbaik, semuanya dinilai mulai dari pakaian penghidang, cara penyajian, kebersihan, sambutan, sikap dan rasa masakan yang di hidangkan. Dan saya sudah mendengar kompetisi-kompetisi sebelumnya mengenai makanan yang dihidangkan. Dan parahnya tahun lalu kalian hanya bisa mendapat peringkat ketiga dengan makanan utama Okonomiyaki. Jadi, tahun ini, aku akan memaksa kalian untuk lebih kreatif lagi untuk mengolah menu tradisional jepang agar kelihatan tidak ketinggalan zaman. Kalian bisa mengkolaborasikannya dengan bahan lain." Ujar chef panjang lebar.
"Jadi chef, menu apa yang akan kita buat untuk tahun ini?" tanya Inari.
"Kita akan memasak ramen." Kata chef dan itu sangat membuat jantungku berhenti berdetak.
"Tapi Chef, 3 tahun yang lalu team kita kalah karena ramen." Kata Juni yang memang sudah senior di Sub Resto Jepang milik Yukahashi International Resto ini.
"Itukan tiga tahun yang lalu dan dengan koki yang berbeda. Aku memilih ramen sebagai hidangan utama karena ramen adalah makanan kesukaan salah satu juri yang akan menilai kita. Dia adalah Miura-san, The Legend of Ramen."kata Ryuu serius.
"Miura-san? Ah, aku pernah mendengarnya sebelumnya,. Ya dia memang terkenal, tapi tak ada yang tahu dia itu lelaki atau perempuan." Gumam Teguchi disampingku. Disambut dengan gumaman yang lain.
"Tenang semua!" kata Ryuu, "jadi aku harap, kita sebagai Tim disini, saling bekerja sama. Untuk hidangan pembuka kita akan membuat salad buah dan untuk bagian penutup, kita akan membuat es krim puding karamel."
"Baik chef!" sahut semuanya.
"Hinamori-san!Miyamura-san!" panggil chef dan itu membuat aku dan Miyamura terkejut menatapnya.
"Iya, Chef," Chef lama memandangku, aku menunggu kalimat selanjutnya.
"Kalian yang akan membuat ramen! Kalian harus berani berkreasi dengan rasa, jangan pernah takut mencoba. Buat terobosan baru! Aku ingin kalian menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini!"
Aku terdiam sejenak. Chef Ryuu memberi kami mandat seperti ini...berarti dia...mempercayai kami sebagai koki ramen. Dia ingin mengujiku sekaligus ingin memberikanku kesempatan untuk membuktikan diriku.
"Aku mempercayakan semuanya pada kalian, Hinamori, Miyamura. Dan juga kalian semua di sub resto ini." Lanjut Chef Ryuu.
"Baik chef!" sahut kami serempak.
"Mulai besok, kalian semua sudah mulai berlatih untuk berkreasi dengan rasa. Termasuk untuk pembuat makanan pembuka, Iura Takahasi dan Teguchi Touka, dan bagian makanan penutup Junichi Mochi dan Haruka Okazaki. Jangan lupa hidangan minumannya. Urusan ini aku serahkan kepada Inari Hiyashi dan Orihime Seito dan untuk persiapan dapur, aku mempercayai Kei Yamamura dan Tori Yanase. Sekali lagi aku sebagai chef kalian, aku mempercayai kalian. Onegaishimasu!" kata Ryuu sambil membungkuk ke arah kami semua. Kami kaget dengan sikap Ryuu barusan. Dia membungkuk ke arah kami! Itu artinya dia bergantung pada kami, dia memohon pada kami agar kami berhasil. Dia mempercayai kami!
"Baik Chef!" ucap kami serempak bersemangat.
Setelah itu kamipun pulang dengan perasaan senang, sekaligus cemas tapi merasa tertantang. Entah apa yang di fikiranku saat ini. Aku merasa terberkati tapi juga merasa rendah diri dan tidak percaya diri. Aku dan Miyamura sebagai pembuat 'main course' untuk tahun ini. Aku sedikit bingung. Ramen macam apa yang akan kami buat nanti.
Tahun lalu Team Koki dari Sub Resto Itali yang memenangkan kompetisi dengan main course pasta pongole, dan juara kedua dari Team Koki Sub Resto Korea dengan kreasi Bulgogi mereka, sementara team kami bertahan diposisi ketiga dengan Okonomiyaki. Apakah tahun ini kami bisa naik peringkat. Bahkan tadi, kata Ryuu, juri yang akan menilai adalah seorang legenda ramen, Miura-san. Aku gugup jadinya.
"Hey, Hinamori-san!" panggil Miyamura ketika aku sedang melamun sambil berjalan keluar gedung resto. Lamunanku buyar seketika dan menoleh ke arahnya yang berjalan ke arahku.
"Nani?' ucapku datar tanpa semangat.
"Hey! Ayolah,kenapa jadi lemas begitu? Kau ini, seharusnya semangat! Bukankah ramen adalah keahlianmu." Kata Miyamura. Aku mengalihkan pandangan, menunduk.
"Aku gugup." Ucapku singkat.
"Aku juga gugup sih tapi, bukankah chef sudah mempercayai kita. Itu artinya kita harus menang!" ujar Miyamura.
'Ya, kau benar. Bahkan tadi dia membungkuk ke arah kita." Kataku sambil mengingat sikap chef tadi.
"Ya,itu artinya dia sudah mengakui kemampuan kita, dan bergantung pada kita."
Aku tersenyum memaksa. Ya, bagaimanapun aku harus membesarkan hatiku untuk kompetisi ini. Minggu ini aku dan Miyamura harus terus latihan membuat kreasi ramen. Yosh! Kami pasti bisa!
Malam ini, aku tak bisa tidur. Kompetisi baru sebulan lagi, tapi aku sudah gugup duluan. Aku tidak tahu mau masak ramen seperti apa? Eh, tapi, bukankah aku bisa tanya ibuku? Diakan koki ramen juga dulu. Akupun segera bangkit menuju ruang tv dan menelefon ibuku dengan telefon apartemen.
"Halo, dengan Urukawa disini." sahut sebuah suara dari seberang.
"Ibu...."
"Ah, kau rupanya Mimi-chan? Ada apa tengah malam begini menelefon?"
"Aku tidak bisa tidur, Bu, aku gugup."
"Ha? Gugup kenapa? Kau sudah dilamar?"
"Ah,ibu...bukan!"
"Jadi, kenapa?'
"Ya, mulai sekarang kau harus mencoba! Jika kemampuanmu ingin diakui, kau harus mencoba sesuatu yang diluar dugaan. Jangan itu-itu saja. Manusia ini punya sifat yang mudah bosan. Zaman semakin berkembang.!'
"Iya, bu, aku mengerti tapi..."
"Hey, Mimi-chan, ingatkan kau dengan pesan ibu saat aku mengajarimu memasak ramen?" aku terdiam sejenak mengumpulkan memori ketika aku belajar memasak ramen dengan ibu.
"Iya, bu aku ingat. Dengan cinta.."
"Yup, dengan cinta Mimi-chan. Resapi, dalami dan hayati. Seberapa besar kecintaanmu dengan ramen. Jangan pernah berhenti mencoba!"
"Ya, bu. Akan aku coba. Doakan aku."
"ya, ibu pasti selalu medoakanmu."
"Oh iya, bu. Apa kau mengenal Miura-san?"
"Miura-san?"
"Iya, dia koki legenda pembuat ramen terkenal. Apa ibu mengenalnya? orangnya bagaimana sih, Bu? Soalnya dia yang akan menjadi juri untuk team Jepang dalam kompetisi ini" tanyaku penasaran.
"Ibu tidak tahu soal itu. lagipula, kau tak perlu mengkhawatirkan itulah. Yang penting kau berusaha keras untuk mencoba berkreasi."
"Hmm, baiklah. Terima kasih untuk waktunya, Bu.'
"Iya, tak apa."
"Oyasuminasai,"
"Hai, hai, Oyasumi, Mimi-chan." Aku menutup telepon, menghela nafas sambil berdoa semuanya pasti akan baik-baik saja.
Sudah seminggu berlalu, tapi, aku dan Miyamura belum juga punya ide untuk mengkreasikan ramen macam apa yang akan kami buat. Kami sudah mencoba bebrapa percobaan di bagian isi dan kuah tapi rasanya hancur semua. Yang ada kami malah kena tegur oleh Tori karena banyak membuang bahan makanan.
"Aku bisa gila memikirkan ini," keluhku sambil merosot turun duduk dilantai dan bersandar pada kaki meja dapur setelah sekian menit berfikir keras untuk ide. Sedang Miyamura baru masuk, entah dari mana dia. Dia melihatku lalu ikut duduk di sampingku.
"Mau?" tawarnya sambil menyodorkan sepotong rainbow cake dengan garpu. Aku menggeleng. Haaah, bahkan untuk makanpun rasanya aku tak selera lagi.
Aku menekuk lutut dan membenamkan wajahku dalam lipatan tanganku. Miyamura menyenggolku namun aku tak bergeming.
"Hey, jangan terlalu memaksakan diri. Kau mungkin terlalu tertekan atau terintimidasi sehingga ide suka nyumbat dan gak keluar. Mencari ide itu harus benar-benar rileks. Lagipula kau sudah lelah sejak resto ditutup tadi." Kata Miyamura mencoba menghiburku.
"Aku bingung, bahan apa yang akan kita coba lagi selanjutnya.?' Gumamku.
"Hmm...kau tahukan bahan utama ramen sebenarnya?" tanya Miyamura sedikit lebih serius. Aku mengangkat wajah sambil mengingat ingat.
"Hmm, mie?"
"Ya, aku sedang berfikir untuk mengkreasikan mie nya saja."
Aku tercenung sesaat. Ya, Miyamura benar, komposisi yang paling menonjol dari semua bahan adalah mie untuk ramen itu sendiri. Ramen selalu identik dengan mie, tanpa mie, bukan ramen namanya. Tapi, apa yang harus dikreasikan dari mie? Aku berfikir keras. Kira-kira apa ya? Kemudian aku menoleh ke arah Miyamura yang masih mengunyah rainbow cake itu.
"Kau mau?" tanya Miyamura "enak lho, aku dikasih sama salah satu koki wanita di Sub Resto Korea tadi waktu tidak sengaja lewat sana" ocehnya lagi.
"Ah, tidak, aku sedang berfikir bagaimana kalau kita membuat mie dengan warna yang berbeda. Seperti..... rainbow cake ini?" ideku antara percaya atau tidak. Miyamura mendadak berhenti mengunyah.
"Genius!" katanya sambil mendaratkan tangannya dikepalaku. Aduh! "Selama ini mie hanya berwarna kuning pucat, dengan rasa tepung terigu. Kalau kita buat menjadi berwarna warni pasti akan menjadi lebih menarik."
"Tapi, kira-kira, warna apa saja, dan apakah kita perlu menambahkan pewarna makanan?"
"Tidak, kita bisa mencari warna yang alami. Oh...okay, begini....." Miyamura tampak berfikir serius, "hmmm...warna hijau, kita buat dari sari bayam, warna merah, kita buat dari sari buah bit, warna oranye, kita buat dari sari wortel, dan ungu dari ubi jalar. Bagaimana menurutmu?"
"Yatta! Itu luar biasa! Kita harus segera mencobanya sekarang."
"Tidak sekarang, Hinamori. Kita harus mengekstrak bayam, wortel, bit dan ubi jalar terlebih dahulu untuk mendapatkan warna. Terlepas dari itu semua, kita belum tau bagaimana tingkat kekenyalan mie itu nantinya jika kita campur tepung pembuat mie dengan ke empat bahan itu. Bisa jadi, mie dengan warna hijau lebih kenyal dari mie berwarna ungu."
"jadi kita harus beberapa kali membuat percobaan ya?" tanyaku.
"Ya..." sahut Miyamura datar.
"Apa cukup waktu kita? Tinggal tiga minggu lagi lho?"
"Tidak ada yang tidak mungkin. Kita harus mencobanya lebih dahulu, Hinamori-san." Ujar Miyamura sambil menatapku yang sedikit lesu. "hey ayolah....Semangat!!!" lanjutnya sambil mengepalkan tangannya.
"Yosh!" sahutku mencoba semangat.
...