Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Kencan (1)



Sudah seminggu berlalu sejak kami pulang dari liburan panjang yang menyenangkan itu. Sedikit perubahan situasi ketika kami mulai bekerja kembali di Resto. Ryuu mulai lagi dengan sikap menyebalkannya. Meneriaki semua orang yang dianggapnya tak berkenan dihatinya. Mengkritik pedas setiap makanan yang dirasanya tak enak. Aku bingung dengan makhluk satu ini. Aku kira dia sudah menjadi sedikit berbaik hati, tapi ternyata dia kembali lagi menjadi monster!.


                Tapi syukurlah, hari ini hari minggu dan libur kerja. Setidaknya ada waktu untuk menenangkan fikiran setelah dari senin sampai sabtu mendengar teriakan chef gila itu. Ada saja yang salah dimatanya. Tapi ya sudahlah. Untuk apa difikirkan.


Pagi itu ketika aku baru selesai mandi, aku lihat Uta sudah berpakaian rapi dan berdandan cantik. Aku penasaran dia mau kemana hari ini.


"Uta-chan?" sapaku ketika melihatnya menyiapkan sarapan untuk ku."mau kemana? Cantik sekali kau hari ini."


Mendadak ku lihat wajahnya merona, "Aku, aku...mau keluar dengan Mi-miyamura-san." Jawabnya terbata. Mataku sedikit terbelalak menahan kaget.


"Itu bagus." Komentarku.


"Ha? Benarkah? Onee-chan tak marah?" tanyanya memastikan.


"E-to, tapi aku rasa aku tidak punya alasan untuk marah. Hanya saja, sedikit aneh.." kataku pelan-pelan mencoba untuk tak menyakiti perasaannya.


"Aneh?" ulangnya.


"AH, tapi tak apa, well terima kasih untuk sarapannya ya." Kataku.


"Iya, onee-chan, arigatou ne," ucapnya kemudian aku lihat dia pergi kekamarnya.


Kemudian, bel apartemenku berbunyi. Aku segera bangkit dan membuka pintu. Aku sedikit terpana dengan pemandangan di depanku. Miyamura!


"Ahaa..." godaku sedikit sambil menyandarkan punggung disisi pintu.


"Hey, jangan memandangku seperti itu!" katanya malu.


"Haaha, akhirnya berani juga kau melangkahkan kakimu kemari. Well, ganbatte kudasai!" ucapku dengan senang. Kemudian, Yuuta keluar dari apartemennya dan langsung bertubruk pandang dengan kami.


"Ah, Hinamori-san. Ohayou. Sudah lama tak ketemu ya." Sapanya ramah.


"Chef?" gumam Miyamura terbengong.


AH! aku menepuk jidat. Miyamura tak pernah tahu jika Ryuu memiliki saudara kembar. Aku bahkan lupa menceritakannya.


"Chef apa?" ulang Yuuta, heran. Namun tiba-tiba Yuuta bersikap seperti teringat sesuatu,"Whoaaah, ini pasti teman satu dapurmu ya, Hinamori-san. Pantas saja dia mengiraku chef nya." Lanjut Yuuta dengan polosnya. Aku bisa memastikan Miyamura semakin bingung.


"Well, Miyamura-san. Kenalkan, ini Yuuta Hiroshi, tetangga sebelah apartemenku. Dia seorang editor manga disebuah penerbit dan dia saudara kembar Chef Ryuu," kataku.


"Yoroshiku onegaishimasu," balas Yuuta ramah.


"Yo-yoroshiku." Respon Miyamura sedikit sudah paham sepertinya.


"Dan karena kau sudah tahu, jadi aku harap kau tak memberitahu yang lain. Aku bisa dibunuh Ryuu kalau sampai yang lain tahu," kataku memperingatkan. Miyamura mengangguk dengan ekspresi yang masih menyiratkan keheranan.


Kemudian Uta datang, dia melihat Miyamura dan Miyamura melihat Uta. Keduanya mendadak diam. Hey, situasi macam apa ini? Kenapa jadi diam begini? Apa-apaan ini!


"Yosh!" kataku sambil memegang bahu keduanya karena posisiku tepat di antar mereka. Mereka terkejut dan buru-buru pamit. Ya ampun, sepertinya mereka sama-sama gugup. Aku sendiri hanya garuk-garuk kepala sih.


"Whooaa, Uta pergi kencan dengan lelaki itu. dia...sudah dewasa ternyata." Gumam yuuta. Aku sedikit terganggu dengan pernyataan itu.


"Apa maksudmu, Hiroshi-san? Apakah seseorang belum dianggap dewasa ketika dia belum pernah berkencan?" tanyaku mencoba memastikan.


"Ah, bukan begitu maksudku. Tapi yasudahlah..."katanya nyerah.


"Ya, biasalah. Deadline. Aku menginap di rumah Sensei Tatsuya, pembuat manga yang aku edit selama ini. Jadi baru tadi malam aku pulang."


"Oh, begitukah? Umh, tunggu bentar ya!" kataku sambil berlari ke dalam mengambil oleh-oleh gantungan handphone yang aku beli sewaktu liburan di Kyoto. "Ini, maaf ya Cuma ini souvenir yang bisa aku belikan. " lanjutku setelah aku kembali dan memberikannya oleh-oleh itu.


"Wah, manis sekali. Makasih ya, Mimi-chan." Ucapnya, mengucap nama depanku. Membuatku sedikit malu. "Eh? Gomen na, aku keceplosan." Lanjutnya sambil menutup mulutnya.


"Ah, tidak--  tidak apa-apa kok. Mulai sekarang kau bisa memanggilku dengan nama itu." responku sedikit malu. Mungkin ini bisa jadi awal yang baik untuk menyampaikan perasaanku padanya, batinku.


"Benarkah? Ah, syukurlah. " katanya senang.


"Hey, aku juga punya yang seperti itu." kataku sambil menunjuk gantungan handphone lalu menunjukkan gantungan handphone punyaku yang sudah ku pasang di smartphone yang di belikan Uta waktu itu.


"Waaa, sepasang ya... manis sekali. Baiklah nanti akan ku pasang juga. Sekali lagi terima kasih Mimi-chan!". Sekali lagi hatiku berdesir keras ketika dia memanggilku dengan nama itu.


"I-iya..."


.


.


Jam tujuh malam...aku masih berbaring malas ditempat tidurku. Memandangi smartphone yang sudah dihiasi oleh gantungan cantik berbentuk wanita memakai pakaian kerjaan. Seorang putri. Dan aku memberikan Yuuta gantungan yang berbentuk seorang pria yang berpakaian seperti seorang pangeran kerajaan. Aku tersenyum...lega. setidaknya sedikit perasaanku tersampaikan kepadanya melalui hadiah kecil ini. Entah sampai kapan aku bisa menahan untuk tidak mengungkapkan perasaanku padanya. Atau akan terus saja aku sembunyikan dilubuk hatiku yang terdalam? Entahlah, aku tak tahu. Kedekataan ini bahkan bermula dari keunikan yang sejalan. Kami, sama-sama menyukai band One Ok Rock, menyukai anime dan manga, gemar mengoleksi asesoris yang berhubungan dengan anime. Rasanya bahagia jika akhirnya aku bisa berbagi dengan orang yang memiliki keunikan yang serupa.hmm...


Setelah makan malam sendirian, aku mencoba keluar untuk mencari angin sambil menunggu Uta pulang. Aku menyandarkan tubuhku di balkon dengan tangan bertumpu didagu. Sedikit melamun sambil menatap ke bawah. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan kedatangan Yuuta.


"Uta belum pulang?"tanyanya sambil berdiri disampingku dan menyandarkan punggungnya di balkon.


"Belum, sejam lagi dia pulang katanya. Dia sudah memberi kabar." Jawabku tanpa melihatnya.


"Uhmm..Mimi-chan?" panggil Yuuta. Aku menoleh.


"Ada apa?" tanyaku.


"Minggu depan kau ada waktu kah?'


"Minggu depan? Sepertinya tidak tuh. Memangnya ada apa?"


"Begini, aku mau ke Akihabara minggu depan, apa kau bisa menemaniku?"


"Ya" ucapku langsung. Ya,? Apa-apaan aku ini? Mengucapkan hal bodoh seperti itu secara terang-terangan.


"Benarkah?" dia mencoba memastikan jawabanku. Well, sudah terlanjur.


"Iya, aku akan menemanimu."


"Ah, syukurlah. Aku sedikit gugup jadinya. Hehe, ada yang mau aku beli juga sih untuk koleksi asesoris dari anime, sekalian bertemu dengan seseorang." Respon sambil malu-malu.


"Seseorang?" batinku. Siapa? Ah, untuk bertanyapun aku tak sanggup.


"Jadi, hari minggu depan ya Mimi-chan..." katanya memngingatkan sambil berlalu masuk ke apartemennya.


Aku terdiam, mencoba berfikir tentang ajakan Yuuta tadi. Jika dia mengajakku pergi pada hari minggu depan, bukankah itu artinya kami berkencan? Kencan? Tapi, tadi katanya dia juga akan menemui seseorang? Siapakah? Temankah? Pacarkah? Ah entahlah, aku mungkin sedikit kaget tadi sehingga fikiranku sedikit kacau. Apapun itu, aku akan menunggu dengan senang hati untuk bersamamu minggu depan, Yuuta-san!