Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
One Step Closer



Hari kedua menjadi asisten dapur, hari ini banyak pelanggan memesan masakan Jepang. Banyak pula yang datang hanya karena ingin melihat Chef Ryuu. Gosip bahwa Chef Ryuu adalah lelaki tampan yang mirip dengan artis Korea telah merebak luas seantero Shibuya. Tampan? My ***! Batinku begitu mendengar gosip murahan yang tak bermutu itu. sontak, hari itu semua koki sibuk sekali termasuk asisten dapur yang menderita ini. Banyak sampah yang harus dibuang dan banyak piring yang harus dicuci dan terlebih lagi asisten dapur adalah manusia yang paling belakangan pulang.


Jam sepuluh malam, restopun ditutup. Semuanya sudah mulai meninggalkan resto. Aku menyeret kantong sampah keluar melalui pintu belakang dengan gontai. Kenapa hidupku jadi begini?batinku sedih.


"Sampai ketemu besok, Mimi-chan," pamit Haruka ketika aku sedang kesusahan menyeret kantong sampah ini, "sabar yah..' lanjutnya mengejek.


"Ja ne, Mimi-chan, ganbatte kudasai!' timpal Orihime semakin membuatku kesal.


"He, kalian...!" aku siap-siap mengambil sendalku dan ingin melemparnya ke arah mereka namun mereka berhasil kabur sambil terkikik geli. "Kusso na!" keluhku garang sambil berusaha memakai kembali sendalku. Aku kembali berjalan menyeret kantong sampah, tiba-tiba aku tersandung hampir jatuh tapi...


"Daijoubu ka?" tanya sebuah suara. Aku sempat terpaku sesaat karena aku tertahan oleh seseorang. Sebuah tangan berhasil menangkap pinggangku hingga aku tidak jadi terjatuh. Kemudian aku langsung memposisikan diriku lagi, lalu menoleh.


Betapa kagetnya aku ketika orang yang tadi menahanku agar tidak jatuh adalah Chef Ryuu yang menyebalkan itu. Wajahnya menyiratkan sebuah keheranan melihatku yang menatapnya dengan ekspresi yang ketakutan.


"Lain kali matamu itu di pakai," katanya kemudian dengan santai  sambil masuk ke dapur.


Heran aku. Sejak kapan dia berada di sekitarku sehingga dia bisa tiba-tiba menahan tubuhku? Apa dia hantu yang punya kekuatan berpindah tempat.? Atau dia memang hantu? Mattaku~ dia makhluk apa sih sebenarnya?


Usai membuang sampah, aku kembali ke dapur, menutup tempat kaldu dan memastikan tidak ada tikus yang bisa masuk ke lemari bahan makanan. Aku juga memeriksa pendingin sayuran, ikan, cumi, gurita, udang dan daging dan memastikan semuanya aman. Hahh, ucapku lega. Yosh! Kini tinggal mencuci piring! Aku mengikatkan sebuah ikat kepala yang bertuliskan "Ganbaree!" di kepalaku agar aku terus semangat. Sambil bernyanyi pelan aku menikmati kegiatan ini sambil sedikit melamun. Berharap nanti malam ketemu Taka lagi di dalam mimpi. Aha, senangnya bisa melihat wajah Taka meski dalam mimpi sekalipun.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya sebuah suara dibelakangku dan membuatku sangat terkejut. Aku menoleh dan kembali aku bertubruk pandang dengan sosok menyebalkan. Aku langsung membuang wajahku dan melanjutkan aktifitasku.


"Hey, kau tak menjawab pertanyaanku."


"Kau sendiri kenapa belum pulang? Kenapa tiba-tiba malah ke dapur dan mengejek asisten dapur yang sedang sibuk?" balasku kesal. Ryuu tak berkutik, dia diam saja tak menjawab. Namun, kemudian aku dengar langkahnya mendekatiku. Aku jadi merinding. Tiba-tiba tangan Ryuu melingkar di pundakku dan wajahnya tepat berada di samping kiriku. Sejenak semua sunyi. Aku mendadak mematung. Jantungku berhenti menunggu apa yang akan dilakukan makhluk satu ini. Sekelebat tercium harum parfumnya. Hey, aku menyukai aromanya.


"Ja-jadi, itu artinya aku bisa kembali memasak ramen lagi?" tanyaku kemudian.


Ryuu melipat tangannya dan memandangku dari bawah ke atas, kemudian dengan wajah kecewa dia berlalu sambil berkata, "kita lihat saja nanti"


Lagi, dia membuatku kesal dengan kata-kata menyebalkannya itu. Ingin ku lemparkan saja piring ini ke arahnya. Tapi, aku teringat kata-katanya tadi, bahwa semua yang dia lakukan ini hanya untuk menguji kami semua. Mungkin ini masih giliranku, belum yang lain. Setidaknya sedikit menenangkan dan bisa menjadi panduan untuk bisa bertahan atau tidak. Memang dasar dia itu manusia aneh.


Setelah semuanya selesai, akupun pulang dengan tubuh yang sangat letih. Punggungku...ya ampun tegang sekali. Menjadi asisten dapur ternyata lebih melelahkan di banding jadi koki ahli. Sampai kapan aku bertahan dalam posisi ini dan kira-kira siapa ya...yang akan menjadi asisten dapur selanjutnya? Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi malah memikirkan kata-kata si Chef gila itu? jangan-jangan dia cuma modus doang.


Tak lama kemudian akupun sampai ke apartemen. Lagi, aku melewati apartemen nomor tiga dan...hey, aku mendengar alunan lagu yang sangat ku kenal. Sontak aku berhenti, mencoba mendengarkan lebih tajam suara itu. Astaga, inikan lagu Juvenile-nya One Ok Rock??? Waw, tetangga baru yang kelihatan idiot ini ternyata menyukai lagu-lagu One Ok Rock juga kah? Benar-benar tidak bisa diprediksi, dibalik wajahnya yang ngeselin itu ternyata dia penyuka lagu-lagu rock. Well, aaargh apa-apaan aku ini? Malah berhenti didepan apartemen orang lain. Huh, akupun langsung berlari menuju sebelah, apartemenku sendiri.


Aku sedikit heran karena begitu aku masuk, lampu depan sudah mati, ruang TV masih benderang dan Televisi masih menyala. Aku mendekati tempat itu dan menemukan Uta sedang tertidur pulas sambil memeluk buku setebal kamus oxford. Harry Potter kah? Terkaku sambil memperhatikan buku itu, tapi ternyata bukan. Aku kemudian memandang wajah Uta yang tertidur tenang. Nafasnya teratur naik turun. Dia tersenyum dan membuatku takjub. Kemudian dia bergerak, mengubah posisi menjadi ke samping.


"Onee-chan jangan tinggalkan aku, aku takut, gomennasai...gomennasai..." bisik Uta dalam tidurnya. Anak ini, fikirku, bermimpi apa? Aku kembali melihatnya. Dia memeluk erat buku didadanya dengan ekspresi takut dan aku melihat sebutir airmatanya jatuh. Hey, Uta, bisikku seolah ingin teriak tapi tersekat di tenggorokanku. Aku ingin membangunkannya untuk pindah ke tempat tidurnya, tapi, aku juga tak tega. Dia pasti kelelahan seharian belajar dan mengurus apartemen. Diam-diam aku merasa bersalah juga. Kemudian aku mengambil selimutku di kamar dan menyelimutkannya pada tubuh Uta.


Pagi sekali, aku terbangun karena mimpi aneh tadi malam. Aku bermimpi Miyamura. Hah? Aku juga bingung kenapa Miyamura bisa muncul dalam mimpiku. Sekilas memang, Miyamura mirip seperti Miyamura dalam manga Horimiya, rambutnya agak panjang. Hanya saja, miyamura yang di dunia nyata ini lebih cerdas, kakkoi dan menawan. Yeah, hampir mirip Jang Geun Seok lah. Apalagi kalau rambutnya di ikat. Jadi lebih mirip model ketimbang koki. Tubuhnya juga tinggi seperti Chef Monster, eh Chef Ryuu maksudku. Kembali ke mimpi! Hey bukankah tadi malam aku bermimpi Miyamura menepuk kepalaku pelan dengan sendok sayur pengaduk kaldu Ramen seperti biasa. Ahhh~, keluhku pelan sambil memegangi kepalaku. Umurnya bahkan lebih muda dariku, batinku. Aku menghela nafas.


Usai mandi dan berpakaian aku keluar kamar. Ruang tengah terlihat kosong dan sofa....eh selimutku sudah terlipat rapi. Aku agak heran juga karena tidak menemukan Uta pagi itu. kemudian aku menuju meja makan. Aku melihat sepiring sandwich dan susu yang masih hangat serta sebuah memo kecil di dekatnya.


"Arigatou, onee-chan ^_^" bunyi memo itu. Aku meletakkannya kembali memo itu dan duduk memandangi sandwich dan susu itu. Aku bahkan tak bisa menjelaskan apa yang aku fikirkan. Aku tak ingin memakannya, tapi aku lapar. Hmmm...apa ini ungkapan terima kasihnya tadi malam? Ah, tidak, bukankah memang setiap hari dia membuatku sarapan, tapi akunya saja yang tidak pernah mau memakan masakannya. Well,...ngghhhh aku berfikir. Sekali lagi gengsi? Ah tidak! Aku lapar! Baiklah, aku akan makan.


"Oishiii," batinku setelah gigitan pertama, "Tapi, hey, bukankah memang sandwich buatannya enak sejak pertama dulu, hanya saja aku memang tak pernah menikmatinya jadi sekarang karena aku nikmati jadi rasanya lebih enak.?" lanjutku lagi. Ah, entahlah, yang penting aku sarapan. Setelah menghabiskan sandwich, aku meminum susu. "haaa, kenyang. Cukuplah untuk mengisi perut yang mulai berlemak ini." Setelah itu akupun pergi.


*bersambung*