Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Kenangan Masa Lalu



Waktu itu umurku masih lima tahun. Ibuku seorang koki tradisional Jepang dan mahir membuat ramen. Ayahku seorang dosen. Malam itu, aku dan ibu sedang menikmati ramen bersama dalam rangka hari ulang tahunku yang ke lima. Kami juga menunggu ayah saat itu. Namun, sampai tengah malam ayah tak kunjung pulang. Ibu dan aku ketiduran di ruang tengah.


Tak lama, aku mendengar suara bel rumah kami. Aku membanguni ibu. Ibuku bangun dan kemudian menyuruhku untuk tinggal sementara dia turun ke bawah. Sedetik kemudian aku mendengar sebuah tangisan.


“Ibu?” batinku penasaran. aku berjalan pelan menuju tangga, langkah kecilku dengan hati-hati melangkah turun. Aku mengintip di tengah perjalanan langkahku. Ada ayah, ibu yang menangis dan seorang wanita yang sedang hamil besar.


“Aku yang akan pergi!” isak Ibu.


“Minami-san. Gomenasai,,gomenasai,’ wanita yang sedang hamil itu berlutut di kaki ibuku. Kemudian ibuku menampar wanita itu. wanita itu kaget dan menangis semakin memelas. Ayahku justru semakin emosi dan menampar ibuku. Ibuku kemudian berlari naik dan sangat terkejut ketika melihatku. Dia kemudian melanjutkan langkahnya sambil menggendongku, membawaku ke kamar. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Ibu mengambil koper dan memasukkan baju-bajunya.


“Minami!” suara Ayah bernada marah langsung ku dengar dari arah pintu kamar, “kita bisa bicarakan ini! Aku tahu aku salah,” kata ayah.


“Tidak, semua sudah jelas. Aku akan pergi bersama Mimi malam ini!” kata ibu tak mau kalah sambil menutup koper dan menggandeng tanganku.


“Kau tidak bisa bawa Mimi!’


“Tentu saja, dia anakku,”


Bersamaan itu terdengar suara gemuruh di ikuti turunnya hujan deras. Ibu masih menggendongku ketika dia turun ke bawah. Ayah tetap mengejar ibu sampai ke pintu keluar. Terjadi tarik menarik antara ibu dan ayah. Wanita yang sedang mengandung itu juga membantu ayah melepaskan aku dari gendongan ibu. Dan kemudian ayah berhasil merebutku. Ibu menyerah, menatap sedih  berurai airmata menatapku. Ibupun mulai melangkahkan kakinya di tengah hujan yang deras itu. Ibu....sejak saat itu sampai ayah meninggal, aku tak pernah melihatnya lagi.


***


“Mimi-chan! Mimi-chan! Kau mendengarku?”


 Sebuah suara menyergap kesadaranku. Aku membuka mata dan merasakan sakit dikepalaku. Aku memejamkan mataku sekali lagi. Terbayang lagi mimpi menyakitkan itu.


“Mimi-chan?” Aku membuka mata dan menoleh ke asal suara.


Ibu, Uta dan Yuuta sudah berdiri di sampingku dengan raut wajah khawatir. Aku sudah di rumah sakit rupanya. Aku penasaran siapa yang membawaku kemari.


“Yokatta, kau sudah sadar. Aku khawatir sekali tadi ketika Uta menelefonku dan mengatakan kau dirumah sakit.” Cerita ibu. Ah, jadi Uta, fikirku.


“Beruntung sekali kau memiliki adik seperti Uta. Saat kau pingsan tadi dia langsung menemuiku dan meminta tolong untuk membawamu ke rumah sakit. Dia sangat mengkhawatirkanmu.” Tambah Yuuta dengan masih pakaian kerjanya.


“Maaf, merepotkan,” ucapku pelan.


Ah ya, aku memang tidak sarapan dan makan malam selama seminggu ini karena...karena aku tidak ingin memakan sarapan buatan Uta, jawabku dalam hati.


“Hei, kenapa kau melamun?” tanya Yuuta. Aku melirik Uta yang tertunduk diam, lalu membuang wajahku dan membelakangi mereka. Ini membuat ibu terkejut, juga Yuuta.


“Yuuta-san, bisakah kau bawa Uta keluar ruangan? Karena aku – ngg ada yang mau aku bicarakan dengan Mimi, please.” Kata ibu.


“Huh? Baiklah,” jawab Yuuta. Perlahan ku dengar langkah kaki mereka menjauh dan pintu tertutup.


“Jadi, Uta yang membuatmu datang menemuiku? Sementara saat aku ingin kau datang, kau bilang kau tak ada waktu untuk ku. Kau lebih mendengar permintaannya ternyata. Astaga, bahkan anak itu pintar sekali memikat orang-orang disekelilingku. Setelah ayah, sebentar lagi ia akan merenggut ibu dariku. Tch! Anak itu tak jauh beda dengan ibunya!” ujarku mencoba tenang sambil terus membelakangi Ibu. Tak ada sahutan dari ibu. Detik jam seolah terdengar lebih keras dari biasanya. Senyap. Aku heran, apa ibu sudah pergi? Kemudian aku berbalik dan, PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku dan melihat ibuku menangis. Rasanya tak ada rasa lagi ketika pipi ini ditamparpun.


“Ibu minta maaf,” isak ibu kemudian membuatku terkejut. Aku langsung bangkit sambil memegangi pipiku. Memandangi ibu yang terus menangis.


“Maafkan Ibu karena membuatmu jadi seperti ini, Mimi-chan.”lanjutnya.


“Ah, tidak Bu, bukan Ibu tapi ibunya Uta.”


“Tidak-tidak Mimi. Ibu yang salah karena meninggalkanmu malam itu dan tak pernah lagi menemuimu. Bukan karena Misaki melarangku menemuimu, bukan karena ayahmu tak mengizinkanku. Tapi beginilah caraku untuk memaafkan Misaki.” Cerita ibuku sambil terisak. Itu membuat aku terkejut,”Setelah aku dengar dia melahirkan dan meninggal dunia, aku sedikit merasa menyesal karena tak sempat melihatnya. Dan kau tahu Mimi, Uta adalah nama yang aku berikan untuk bayi mungil itu. aku sudah mengatakannya pada ayahmu. Kau adalah mimi (telinga) dan uta adalah lagu, dan kau harus mendengar lagu itu dari dalam hati Uta. Aku tau kau sangat membenci Uta karena ibunya merebut ayahmu dari ku tapi aku paham itu bukan maunya. Aku tahu rasa sakit di hatimu, Mimi. Tapi tidakkah kau pernah terpikir rasa sakit yang dialami Uta. Dia bahkan tidak punya ibu atau ayah. Dia hanya punya kau. Sebab itulah ia sangat menyayangimu dan berharap semua perhatianmu tertuju padanya!”


Aku meremas sprei tempat tidurku dengan gemas. Kenapa? Lagi lagi anak itu seolah istimewa untuk mendapatkan perhatianku. Kenapa? Lagi lagi Uta! Kemudian sebuah pelukan hangat mendekapku.


“Ibu sudah memaafkan Misaki sejak malam itu, Ibu sudah memaafkan ayahmu. Hanya saja ibu tak berani menemuimu karena ibu takut kau menjadi sedih melihatku. Aku selama ini, hanya bertanya pada ayahmu melalui telepon, memantau perkembanganmu dan Uta dari jauh. Aku tidak berada di hadapanmu, bukan berarti aku tak memperhatikanmu, Mimi. Tapi, bukankah Misaki juga sangat mencintaimu seperti anak kandungnya sendiri?” Ibu membelai kepalaku. Sekelebat bayangan tentang masa lalu melintas.


Ya, benar, Misaki-san selalu menyayangiku dan berusaha mencuri perhatianku sejak saat itu. Dia meminta maaf padaku meski aku belum terlalu paham. Aku sempat melihat wajahnya yang menunjukkan raut wajah penuh penyesalan. Namun, sampai Uta lahir dan mendengar kabar bahwa dia meninggal, aku tak pernah bisa menerimanya. Yang aku tau, dia yang membuat ibuku pergi dari rumah dan meninggalkanku. Dan yang paling membuatku sedikit kecewa adalah, aku merasa terabaikan oleh hadirnya Uta dalam kehidupan kami. Ayah sangat menyayanginya. Lagipula, dia sudah penyakitan sejak kecil. Sering demam dan jatuh pingsan. Akulah yang selalu diharapkan ayah ketika dia sedang diluar. Sampai pada akhirnya, ayah terkena serangan jantung tiba-tiba, dan pesan terakhirnya adalah aku harus bersama Uta, padahal waktu itu aku sudah hampir pindah. Ini benar-benar menyesakkan buatku.


Pertama kali aku bertemu dengan ibu sejak kejadian malam itu adalah ketika pemakaman ayah tepat setelah hari kelulusanku dari SMA, 12 tahun kemudian. Itupun hanya sebentar. Aku sempat melihat Uta membungkuk dalam ke arah ibuku sambil meminta maaf. Lalu ibuku mengelus kepalanya. Itu membuat aku sangat cemburu. Ibu menemui Uta sedang dia tidak menemuiku.


Aku bertemu ibu lagi empat tahun kemudian, setelah aku menyelesaikan kuliahku. Itupun karena aku yang mencari alamatnya sendiri, dan menemuinya sendiri untuk mengajariku memasak ramen karena aku ingin bekerja di Yukahashi International Resto. Mau tidak mau saat itu dia menerimaku, dan sangat kaget melihat kedatanganku. Seminggu, aku tinggal di apartemennya dan meninggalkan Uta sendirian. Itu sudah perjanjian awal. Dia hanya memberiku waktu seminggu, setelah itu dia menyuruhku pulang untuk kembali menemani Uta. Uta lagi, Uta lagi! Fikirku waktu itu. kenapa semuanya selalu mengkhawatirkan Uta, sementara aku tidak. Hidup ini tak adil memang.


“Kau harus memaafkan masa lalu, Mimi-chan,” isak ibu semakin erat memelukku,”sulit memang pada awalnya, sulit memang untuk menerima semua kenyataan pahit yang berada di depan. Tapi, kau tak bisa tinggal terus dalam masa lalu. berhentilah membenci, itu hanya akan memperparah penderitaanmu. Terimalah Uta dengan tangan terbuka seperti adikmu sendiri. Pahamilah Mimi-chan. Dia juga menderita. Coba baca hatinya, dengarkan hatinya. Coba kau lihat matanya yang selalu melihatmu dengan rasa kasih. Dia sangat menyayangimu,” lanjut ibu.


Perlahan air mataku jatuh dipundak ibu. Sedikit ada rasa sakit yang teramat sangat menusuk relungku. Bayangan tentang sikap kasarku mendadak menyerang memenuhi rongga kepalaku. Aku sangat kasar  kepadanya. Aku tak pernah memperhatikannya. Aku tak pernah sedikitpun tersenyum padanya. Aku tak pernah memahami perasaannya. Dan kebencianku ini memang sedikit membuatku tak nyaman saat didekatnya meski kami bertahun-tahun tinggal dalam satu atap. Bahkan dia selalu tersenyum padaku, menyambutku dengan hangat setiap kali aku pulang kerja, membuatku sarapan setiap pagi, mengkhawatirkanku setiap waktu, bahkan setelah apa yang aku lakukan padanya. Aku memang egois